
Setelah selesai sarapan seluruh anggota keluarga bersiap untuk berangkat menuju hotel, namun saat Miranda hendak masuk ke dalam mobil ia melihat putri ketiganya itu hanya diam berdiri tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam mobil.
"Ayo Lara cepat masuk!"
"Mom duluan saja, aku menyusul bersama Gavi." Bohong Lara, karena sebenarnya ada hal penting yang harus dilakukannya terlebih dahulu tanpa bisa ditunda lagi.
"Baiklah Mom berangkat duluan, sampaikan salam untuk Gavi."
"Oke Mom."
Miranda pun masuk ke dalam mobil, meninggalkan Lara yang masih berdiri ditempatnya.
"Aku harus pergi sekarang." Lara bergegas mengambil ponselnya untuk memesan taksi online, karena rencananya ia akan pergi ke suatu tempat untuk memastikan keadaannya yang terlambat datang bulan.
Setelah sampai di tempat tujuan, Lara masuk ke dalam sembari menatap ke kiri dan kanan memastikan tidak ada orang yang mengikutinya.
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya pramuniaga apotek. Menatap pada seorang gadis muda yang menutup sebagian wajahnya menggunakan masker dan kaca mata hitam.
"Aku.., aku ingin membeli ini." Lara menunjuk layar ponselnya.
"Oh, test pack. Tunggu sebentar." Pramuniaga itu mengambil alat uji kehamilan yang diminta sembari menggelengkan kepalanya. "Pergaulan anak muda jaman sekarang." Cibirnya.
Lara yang mendengar perkataan pramuniaga itu hanya bisa diam tanpa mau berkomentar. Ia pun segera membayar barang yang dibelinya lalu pergi mencari tempat yang aman untuk mencoba alat tersebut, karena ingin secepatnya mengetahui apa benar ia terlambat datang bulan karena hamil.
"Garis satu negatif, garis dua positif." Lara terus bergumam dalam hati sembari menunggu hasil alat uji kehamilan yang saat ini tengah dipegangnya setelah digunakan sesuai petunjuk.
"What? Ini tidak mungkin?" pekik Lara dengan terkejut dan tak percaya saat melihat hasilnya, dimana ada dua garis merah terlihat jelas di alat tersebut.
Lara yang masih tak percaya dengan hasilnya sampai mengketuk alat tersebut pada dinding. Belum puas karena hasilnya tetap sama alat itu pun di goyang keatas kebawah.
"Tunggu dulu! Jangan-jangan tulisan ini salah? Dua garis merah itu pasti negatif dan garis satu itu positif." Lara berusaha menyakinkan dirinya kalau tidak hamil, sambil membuka ponselnya untuk mencari tahu arti dari dua garis merah.
Dan kini tubuh Lara terkulai lemas tak berdaya setelah mengetahui arti dari dua garis merah di sebuah artikel online pada ponselnya. Bagaimana tidak lemas karena dari apa yang dibacanya saat ini ia tengah hamil, diperutnya ada benih dari Edgar Collins kakaknya sendiri.
"Bagaimana ini?" Lara yang ketakutan sampai bingung harus melakukan apa. Ingin sekali ia mengadu dan menangis pada Mom Miranda, tapi Lara tidak berani melakukannya karena takut di pecat sebagai anak. "Kak Edgar, aku harus menemuinya dan memberitahukan ini semua."
Dengan segera Lara keluar dari dalam toilet yang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Ya, tadi Lara memutuskan untuk menggunakan alat itu ditempat tersebut, karena menurutnya tempat umum adalah tempat yang paling aman dan tidak akan ada orang yang curiga apa yang dilakukannya di dalam toilet tersebut.
*
*
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit akhirnya Lara sampai di depan apartemen milik Edgar Collins. Tanpa membuang waktu ia pun masuk ke dalam, namun sayang setelah mengetuk dan menekan bel pintu beberapa kali Edgar tidak membukanya, dan kemungkinan besar pria itu tidak ada di dalam.
Tidak kehilangan akal Lara pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Edgar, namun setelah beberapa kali mencoba sambungan teleponnya tidak juga diangkat oleh pria itu.
"Edgar kau dimana?" Lirih Lara dengan menangis.
Tangis yang sejak tadi ditahannya setelah mengetahui kalau saat ini dirinya tengah mengandung, dan wanita mana pun yang ada di posisi Lara pasti bingung dan ketakutan. Karena selain usianya yang masih muda untuk menjalani proses kehamilan, ia pun harus menerima kenyataan tengah mengandung benih milik kakaknya sendiri.