
Suasana malam itu terasa begitu panjang bagi seluruh anggota keluarga Collins, karena semua orang yang ada di dalamnya tidak ada yang bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Baik Robert, Miranda, Nela, Edgar, Lara, dan Lily sibuk dengan pikiran yang ada di benaknya masing-masing.
Robert yang bingung harus berbuat apa meskipun dia belum tahu kenapa bisa Edgar dan Lara terlibat Scandal bahkan sampai menghasilkan sebuah janin. Miranda yang terus menangis memikirkan nasib Lara kedepannya. Sedangkan Nela memikirkan bagaimana caranya membuat Edgar tetap menikah dengan Julia, dan memikirkan bagaimana melenyapkan janin yang ada di kandungan Lara. Karena setelah dipikir-pikir lebih bagus membuat janin itu mati agar Edgar dan Lara tidak memiliki ikatan.
Sementara Edgar, dia merasa bingung dengan pilihan yang diberikan Mom Nela, antara menikah dengan Julia agar darah dagingnya bisa lahir ke dunia dengan selamat, ataukah memperjuangkan Lara yang sampai kapan pun tidak akan bisa bersama karena terikat hubungan darah kakak dan adik, belum lagi resiko kehilangan darah dagingnya.
Lara sendiri yang biasanya malas untuk berpikir, kini merasa pusing dengan nasibnya kelak jika Edgar pergi, belum lagi memikirkan janin yang ada dikandungnya. Sementara Lily yang biasanya tak pernah peduli pada apa pun, sekarang ikut memikirkan nasib adik bungsunya.
Hingga matahari terbit, keenam orang tersebut tak ada yang tidur sama sekali. Mereka mulai berkumpul satu persatu dengan saling diam tanpa ada yang bersuara, menunggu sang pemimpin keluarga untuk memulai pembahasan yang kemarin sempat tertunda.
"Sekarang jelaskan apa yang terjadi sampai kalian bisa melalukan hal memalukan seperti itu? Bahkan sampai menghasilkan..." Robert tak sanggup meneruskan perkataannya. Menatap pada Edgar dan Lara bergantian.
"Apa yang sudah terjadi tidaklah penting Dad, disini aku lah yang bersalah dan lebih baik kita cari jalan keluarnya." Edgar tidak ingin menambah masalah dengan menceritakan awal terjadinya scandal antara dirinya dengan Lara.
"Bagaimana mencari jalan keluarnya kalau aku tidak tahu bagaimana ini sampai terjadi!" Ucap Robert dengan suara yang meninggi menahan amarah.
Melihat bagaimana marahnya seorang Robert sampai menyebut aku bukan Dad, ke-lima orang yang ada di ruangan tersebut kembali diam.
"Aku..." Lara menundukkan kepalanya.
"Biar aku yang menjelaskan." Miranda membuka suara, karena yakin putri bungsunya tidak akan mengatakan yang sebenarnya.
"Aku tidak bertanya padamu Miranda." Ucap Robert tanpa menatap istri pertamanya. Tatapan matanya masih tertuju pada Edgar dan Lara yang masih diam dengan kepala tertunduk.
"Karena aku yang menyebabkan semua ini terjadi." Sahut Miranda dengan memberanikan diri.
"Apa maksudmu?" Robert mengerutkan keningnya dengan bingung.
Miranda pun menarik napas dan mengeluarkannya dengan perlahan, bersiap menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi meskipun tahu Robert pasti akan sangat marah dan Nela akan mencaci makinya. Namun Miranda tak peduli, ia harus menceritakan semuanya dengan jujur agar permasalahan Lara cepat mendapatkan jalan keluarnya.
"Semua bermula saat aku mengirim Lara pergi ke Singapura..." Miranda menceritakan semua yang terjadi pada Robert tanpa ada yang ditutupi.
Sementara itu Robert yang mendengar cerita Miranda, terlihat begitu marah. Sungguh ia terkejut dan tak menyangka semua itu terjadi karena rencana Miranda untuk menjebak Edgar bersama wanita bayaran, dengan tujuan merusak nama Edgar agar pernikahan putranya bersama Julia gagal sehingga Edgar tidak akan punya kesempatan untuk memiliki saham mayoritas di perusahaan Exxon.