Scandal

Scandal
Part 48


Entah sebuah kebetulan atau sebuah keberuntungan. Saat Lara hendak masuk ke dalam lift, pria yang tengah dicarinya setengah mati itu keluar dari pintu lift di sebelahnya.


"Kak Edgar."


"Lara?" Edgar menatap wanita yang sudah beberapa hari ini tidak ia temui.


"Kak akhirnya aku bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan tentang..." Lara tidak meneruskan perkataannya saat melihat Julia keluar dari lift yang sama yang digunakan Edgar tadi.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Edgar saat melihat Lara terdiam.


"Aku..." Lara menautkan kedua tangannya dengan wajah yang bingung.


Melihat sikap Lara yang berbeda dari biasanya, Edgar jadi khawatir terjadi sesuatu pada wanita itu. Seandainya saja tidak ada Julia sudah pasti ia akan membawa Lara ke dalam kamarnya, terlebih ia sangat merindukan wanita itu.


Ya, Edgar akui ia sangat merindukan Lara bahkan hampir nekat ingin menemui wanita itu jika saja akal sehatnya tidak kembali. Rasa rindu yang dirasakannya tentu saja membuat Edgar bingung, ia tidak tahu kenapa selalu merindukan dan ingin selalu di dekat Lara. Kalau karena cinta tidak mungkin, karena Edgar yakin dihatinya hanya ada nama Kaylin Meyer.


"Lara ada apa?" Tanya Julia sembari merangkul tangan Edgar dengan mesra karena melihat calon adik iparnya itu terdiam saat melihatnya.


"Tidak ada apa-apa, tadinya aku ingin meminta bantuan kak Edgar tapi tidak jadi. Kalau begitu aku pergi dulu." Dengan segera Lara masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka tanpa mau menatap Edgar atau pun Julia.


Setelah pintu lift tertutup barulah air mata menetes dikedua pipi Lara dengan perasaan sesak di dalam hati. Karena ia baru sadar pria yang menanamkan benih di perutnya sudah memiliki calon istri dan sebentar lagi akan menikah.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Lirihnya dengan terisak tanpa tahu harus berbuat apa. Rasa menggebu ingin memberitahukan Edgar tentang kehamilannya kini menghilang begitu saja saat melihat Julia. Sungguh Lara tidak tega menghancurkan pernikahan Julia dan Edgar karena kehamilannya yang tak terduga ini.


Lama Lara menangis sampai pintu lift terbuka, dengan terburu-buru ia keluar hingga tak sengaja menabrak sosok didepannya.


"Ma-maaf aku tidak sengaja." Ucap Lara dengan menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


"No problem." Ucap pria itu. Namun saat ia hendak masuk ke dalam lift, tangannya reflek menahan tubuh wanita itu yang hampir terjatuh entah karena apa. "Nona kau baik-baik saja?" Tanya Nelson yang kembali terkejut saat melihat dengan jelas wajah wanita tersebut.


Wanita itu ternyata gadis muda yang pernah bertemu dengannya di Club, dan gadis itu seperti habis menangis terlihat dari jejak air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.


"Aku tidak baik-baik saja." Lara menangis dan tanpa sadar memeluk pria tua dihadapannya tanpa rasa canggung sedikitpun, karena yang ia butuhkan saat ini sebuah sandaran untuk mengurangi beban pikirannya.


"Lara..."


Mendengar namanya di panggil, dengan segera Lara melepas pelukannya sembari menghapus air matanya.


"Robert.. Eh, Daddy." Lara mengumpat dalam hati karena keceplosan memanggil Daddy nya hanya dengan nama.


"Sedang apa kau disini?" Robert menatap tajam pada Lara dan pria tua yang usianya ia perkirakan sepantaran dengannya.


"Aku tadi..."


"Dia hampir terjatuh, dan aku kebetulan menolongnya." Sahut Nelson dengan datar.


Ya, datar karena itulah sosok Nelson sesungguhnya, pria dingin yang tak pernah tersenyum jika bukan pada orang terdekatnya.


"Maaf, sepertinya wajah Anda tidak asing. Apa kita pernah bertemu?" Robert mencoba mengingat pria tersebut.


Nelson sendiri hanya menarik satu sudut bibirnya, lalu menatap gadis muda yang tadi dipanggil dengan nama Lara.


"Jaga diri Anda gadis muda, jangan menangis lagi." Ucap Nelson dengan berbisik lalu masuk ke dalam lift.


Lara pun tersenyum, menatap kepergian pria tua yang masih terlihat tampan dan berwibawa diusianya yang tak lagi muda.


"Lara ayo ikut Daddy."


"Tapi Dad..." Lara tidak mau ikut bersama Robert yang ujung-ujungnya akan bertemu dengan Nela, karena wanita ****** perebut suami Mom Miranda itu bagaikan hantu yang selalu bergentayangan di sisi Robert.


"Dad akan makan siang bersama Mommy mu, jadi ikutilah!" Karena melihat Lara hanya diam berdiri ditempatnya, Robert pun menarik tangan putrinya dengan paksa.


Sedangkan Lara mau tidak mau mengikuti Robert. Ia berpikir tidak ada salahnya mengikuti pria tua itu karena siapa tahu rasa sedihnya menghilang saat melihat pertengkaran Mom Miranda, Robert, dan Nela tentunya. Karena sudah jadi rahasia umum jika ketiganya bertemu pasti terjadi keributan yang maha dahsyat.