
Raline menatap sumringah bangunan yang tengah berdiri kokoh menjulang tinggi dan menembus langit yang berada di hadapannya, bangunan itu tak lain adalah perusahaan milik keluarga suaminya, Daniel juga bekerja di dalam perusahaan tersebut. Seakan lupa dengan tujuan awalnya, Raline malah bersemangat memasuki perusahaan suaminya dan mencari Daniel.
Sesampainya di depan resepsionis, Raline bertanya mengenai ruangan Daniel. Bukannya memberitahukan dimana ruangan Daniel, tapi resepsionis itu malah menanyakan kepada Raline apakah dirinya sudah membuat janji atau belum. Raline berpikir keras, tentu saja dirinya belum membuat janji temu dengan Daniel, jika seperti itupun Daniel hanya akan memarahinya saja. Raline melamun dan memikirkan bagaimana caranya bisa mengetahui dimana ruangan Daniel.
Tiba-tiba, telepon yang berada di atas meja Resepsionis itu berdering. Sesaat setelah itu, Resepsionis langsung memberitahu keberadaan ruangan Daniel pada Raline. Raline berkerut kening, kenapa tiba-tiba resepsionis itu memberitahukannya. Tapi, Raline tak ambil pusing, Ia langsung berjalan memasuki perusahaan dengan senyum merekahnya mencari ruangan Daniel.
Sesampainya di ruangan yang tadi resepsionis itu tunjukan, Raline hendak masuk ke dalam ruangan tersebut namun di cegah oleh seorang wanita yang cantik dan elegan.
“Nona, Raline. ” Sapanya sopan sambil tersenyum ke arah Raline. Raline berbalik kemudian menatapya dengan heran, “Silahkan masuk, Nona. ” Wanita itu langsung membukakan pintu ruangannya, Raline semakin heran, apakah Daniel bisa menyambutnya seperti ini? Tapi, Raline tak peduli. Raline langsung memasuki ruangannya dan wanita tersebut langsung menutup pintunya kembali.
Raline melihat seorang pria yang tengah terduduk dengan posisi membelakanginya, Raline tersenyum. Mungkin saja itu Daniel, wajah Raline semakin terlihat gembira setelah Daniel memperbolehkannya masuk ke dalam ruangannya apalagi dengan menyuruh seseorang menyambutnya seperti itu. Raline langsung berjalan mendekati meja kerja Daniel, kemudian Ia memeluknya dari belakang.
“Daniel, aku senang kau membiarkanku masuk ke dalam ruanganmu. ” Ujar Raline dengan senyum merekah di bibirnya.
“Kau senang? ” tanyannya, Raline berkerut kening. Raline langsung melonggarkan kemudian melepaskan pelukannya pada Daniel, kursi itu berbalik dan menampilkan seorang pria yang tak asing bagi Raline tengah menyeringai ke arahnya. Raline tersentak, matanya terbelalak. Bagaimana bisa itu Kendrick dan bukan Daniel.
Raline mundur satu langkah dan berbalik hendak keluar dari ruangan itu, bahaya baginya jika terus berdekatan dengan Kendrick. Saat Raline akan berjalan keluar ruangan, tiba-tiba Kendrick menarik lenganya hingga Raline terjatuh ke dalam pelukannya. Raline meronta dan meminta untuk di lepaskan, tapi Kendrick malah terus memeluknya dengan erat.
“Kenapa kau terburu-buru seperti itu? Bukankah kau senang telah masuk ke dalam ruanganku? ” tanyanya, sementara Raline masih terus memberontak.
“Lepaskan! Aku mencari Daniel, bukan kau! ” pekik Raline,
Dengan tangan kokohnya Kendrick membalikan tubuh Raline, kemudian mendorongnya dan membaringkan setengah badanya di atas meja. Raline berontak, namun Kendrick terlalu kuat baginya. Sehingga dorongan demi dorongan yang Raline buat tidak bisa menggeser satu inci pun tubuh Kendrick yang tengah menindihnya.
“Lepaskan! ” Raline terus meronta,
“Kenapa aku harus melepaskanmu? Kau bahkan pernah mengajakku untuk tidur bersama. Ayo kita lakukan lagi, ” Ujar Kendrick enteng, Raline berkerut kening sembari tanganya terus meronta dan semakin menolak perlakuan Kendrick.
Kendrick melorotkan pakaian bagian atas milik Raline, membuat Raline semakin meronta-ronta. Saat Kendrick hendak memainkan squish lembut milik Raline, tiba-tiba telepon yang berada di atas mejanya berdering. Kendrick langsung menutup mulut Raline menggunakan sebelah telapak tangannya, mencegah agar Raline tidak berbicara ataupun berteriak.
“Kau selamat hari ini, tapi nanti aku pastikan kau akan menjadi milikku seutuhnya, Raline. ” Ujarnya kemudian berlalu pergi keluar ruangan.
“Hei, apa kesalahanku sehingga kau berbuat seenaknya saja kepadaku?! Kau dasar brengsek! ” pekik Raline, kemudian Ia merapikan pakaiannya kembali. Ini kedua kalinya dalam hari ini Kendrick memainkannya, Raline tak habis pikir. Malam itu saat dirinya tengah mabuk parah, malah dengan tidak sadar dirinya telah mengganggu pria brengsek seperti Kendrick.
Raline harus merapihkan pakaiannya kembali, penampilannya kembali berantakan akibat ulah Kendrick. Setelah selesai merapikan pakaiannya, Raline meraih tasnya yang berada di atas meja. Namun, Raline melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Yaitu, sebuah papan nama bertuliskan CEO dan ada nama Kendrick tertulis di sana. Raline terbelalak, ternyata Kendrick adalah CEO dari perusahaan besar itu.
Tapi, setahu Raline peeusahaan itu milik keluarga Daniel, bahkan Daniel adalah putra tunggal di keluarganya. Tapi, kenapa harus Kendrick yang menjadi CEO. Raline memang tidak terlalu tahu mengenai urusan keluarga mereka, walaupun Ia sudah lama menjadi istri Daniel. Raline bahkan merasa dirinya telah di asingkan oleh Daniel, dengan menempatkan Raline di sebuah mansion mewah di pinggiran kota.
Raline langsung keluar dari ruangan Kendrick, di dalam hatinya masih mengganjal sesuatu yang membuatnya kesal. Yaitu, Resepsionis yang telah menipunya. Sehingga dirinya bisa masuk ke dalam ruangan Kendrick. Sesampainya di depan resepsionis, perhatiannya teralihkan kepada seorang pria yang sedari tadi tengah di carinya, yaitu Daniel. Lagi-lagi Raline melupakan tujuannya, Ia malah berjalan ke tempat dimana Daniel berada. Daniel terlihat tengah berbincang dengan seorang pria, Raline berjalan mendekatinya perlahan.
“Daniel, ” Sapa Raline dengan senyum merekah di wajahnya, Daniel berbalik, Ia sedikit tercengang kenapa Raline bisa berada di tempat kerjannya. Daniel langsung mencengkran tangan Raline dan membawanya pergi sedikit menjauh dari teman kerjanya yang tadi tengah berbincang dengannya.
“Kau, sedang apa kau berada di sini? ” tanya Daniel dengan nada rendah namun penuh penekanan.
“Daniel, tentu saja aku ingin menemuimu. Kau sudah makan siang? Kita makan siang bersama, ” Ajak Raline, Daniel mendesis pelan.
“Kau pulanglah, kau hanya akan mempermalukanku! ” Raline menundukan kepalanya, lagi-lagi penolakan dari Daniel.
“Daniel, kenapa kau tidak pernah menganggapku sedikit saja? Aku adalah istrimu, Daniel. ” Ujar Raline dengan nada tinggi, membuat orang-orang di sekitarnya memperhatikan. Daniel mulai murka, namun Ia tetap menahan amarahnya karena Ia tidak ingin menarik perhatian teman sekantornya. Daniel menariknya kembali keluar perusahaan dan membawa Raline ke tempat yang sepi, agar tidak ada orang yang tahu pertengkaran mereka.
Daniel mengacak rambutnya karena kesal, kemudian menunjuk wajah Raline menggunakan jari telunjuknya, “Jika kau tidak terima di perlakukan seperti ini, kenapa kau tidak pergi saja dari dalam hidupku! Aku tidak pernah memaksamu tetap tinggal! Kau ingat aku tidak akan pernah mencintaimu! ” tegas Daniel dengan amarahnya.
Dari balik kaca mobil, seseorang memperhatikan pertengkaran mereka berdua.
Bersambung...