
Lara pun akhirnya diam membiarkan Edgar memeluknya, karena ia pun begitu merindukan pelukan dari kakaknya sekaligus pria yang mungkin mulai dicintainya.
Lama keduanya berpelukan dengan posisi berdiri, sampai Edgar membawa adiknya untuk duduk di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Mulai besok aku akan pindah ke apartemen.'
Deg.
Lara yang terkejut sampai menatap Edgar dengan penuh tanya, karena ia tak menyangka pria itu memutuskan untuk pindah dari mansion Mom Miranda begitu mendadak.
"Kenapa?" Tanya Lara.
Edgar hanya diam sembari menatap kosong pada meja didepannya.
"Apa kau berubah pikiran dan ingin merebut posisi Kak Rose sebagai wakil CEO?" Tanya Lara dengan curiga karena Edgar diam saja.
"Kau itu!" Edgar reflek mentoyor kepala Lara. Bisa-bisanya adiknya itu curiga ia ingin merebut sesuatu yang tidak pernah ingin di milikinya. Bahkan menggantikan posisi Dad Robert saja Edgar tidak menginginkannya.
"Lalu kenapa?" Tanya Lara sembari mengusap kepalanya dengan kesal. Baru saja mereka berdamai saling berpelukan tapi Edgar kembali membuatnya kesal dengan mentoyor kepalanya.
"Ini demi kebaikan kita." Ucap Edgar dengan serius.
"Kak..."
"Ya Lara, aku sadar apa yang selama ini kita lakukan salah. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Julia, dan aku rasa kau tidak hamil jadi ada baiknya kita menjauh." Edgar mengucapkan semua itu walau dengan berat hati.
Karena jujur selama menjauh dari Lara dan tidak bisa mencium ketiak wanita itu Edgar sampai tidak bisa tidur, itu sebabnya ia tahu dan melihat saat Lara terbangun tengah malam makan mie instan yang dibuat oleh pelayan.
"Kondisi keluarga kita juga semakin rumit."
Lara terdiam tanpa mau menyahut perkataan Edgar, karena hatinya merasa sedih dengan keputusan pria itu yang ingin menjauh darinya. Mungkin karena Lara sudah terbiasa dengan kehadiran Edgar dan hatinya yang mulai mencintai pria itu membuat perasaan Lara tidak terima.
"Kau pasti sudah tahu Miranda mengajukan cerai pada Dad Robert."
Lara menganggukkan kepalanya, ia memang sudah mengetahui Mom Miranda mengajukan gugatan perceraian walaupun Robert bersikeras tidak mau menceraikan Mommy nya. Tapi keputusan Miranda sepertinya sudah final, dengan membawa sejumlah bukti diantaranya pernikahan Robert dan Nela yang secara tidak langsung membuat keretakan dalam pernikahan Mom Miranda dan Robert.
"Ya, aku tahu." Ucap Lara dengan lirih.
"Itu sebabnya aku memilih menjauh agar permasalahan yang ada di keluarga kita setidaknya berkurang satu."
Lara lagi-lagi menganggukkan kepalanya namun dengan air mata yang menetes dikedua pipinya.
"Hei jangan menangis." Edgar menarik Lara untuk ia peluk. "Jangan menangis lagi, dan maafkan apa yang pernah aku lakukan padamu." Ucapnya dengan tulus.
"Tapi kak, aku..." Lara ingin sekali mengatakan pada Edgar bahwa ia tidak bisa jauh dari pria itu, bahwa ia mencintai Edgar Collins. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan saat menyadari status mereka adalah kakak adik, terlebih sebentar lagi Edgar akan menikah dengan Julia. Dan yang penting dari semuanya, Edgar tidak mencintai nya dan kedekatan mereka sebatas tanggung jawab pria itu.
*
*
Setelah pembicaraan antara dirinya dengan Edgar dua hari yang lalu, Lara jadi tidak bersemangat untuk melakukan apa pun. Apalagi pria itu benar-benar pindah ke apartemen, dan mereka sudah tidak lagi berkomunikasi.
Dan saat ini Lara tengah berada di sebuah Cafe bersama Kak Lily setelah mengambil gaun mereka yang akan dikenakan di hari pernikahan Rose.
"Kak aku ke toilet sebentar."
Lily menganggukkan kepalanya. Lara pun segera beranjak dari tempat duduknya dengan terburu-buru karena sudah tidak bisa menahannya lagi sejak berada di dalam mobil.
Setelah selesai menuntaskannya, Lara yang hendak keluar dari ruang toilet tidak jadi melakukannya saat mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya di balik tembok luar.
"Sudah aku katakan jangan pernah datang menemuiku!" Ucap Nela dengan gusar pada pria yang dengan lancang menemuinya di tempat umum.
"Karena kau belum mengirim uangnya, ini sudah telat tiga hari." Ucap Fredy dengan tatapan mengintimidasi.
"Nanti aku transfer sekarang pergilah!" Usir Nela dengan kasar.
"Oke, tapi jangan sampai lupa. Kalau tidak aku akan—"
"Iya, sekarang pergilah!" Potong Nela dengan emosi karena Fredy selalu mengancamnya.
Fredy pun pergi dari tempat tersebut bertepatan dengan Lara yang keluar dari ruang toilet.
"Tante Nela." Sapa Lara dengan terkejut karena memang benar suara yang didengarnya adalah suara dari istri kedua Robert.
"La-Lara sedang apa kau disini?" Tanya Nela tak kalah terkejutnya saat melihat anak bungsu Miranda ada di tempat tersebut.
"Aku dari toilet, Tante sendiri sedang apa disini?"
"Aku.., tentu saja aku ingin ke toilet. Minggir!" Nela segera masuk ke dalam toilet.
Lara yang bingung dengan sikap Nela, mengangkat kedua bahunya dengan acuh. "Dasar aneh dan menyebalkan, sama seperti anak laki-laki dan suaminya!" umpatnya dengan kesal karena teringat kembali pada sosok Edgar.
Sementara itu di dalam ruangan toilet, Nela bergegas mengintip Lara yang terlihat sudah pergi dari tempat tersebut.
"Untung Lara yang melihatku, kalau anak Miranda yang lain habislah aku." Nela mengusap dadanya dengan bernapas lega.
Ya, sudah bukan rahasia umum Lara Collins anak bungsu Miranda adalah anak yang lemot, cuek, ceroboh, dengan segudang kekurangan lainnya. Jadi Nela tidak perlu khawatir kalau pun Lara melihat atau mendengar pembicaraannya dengan Ferdy.