
Di dalam kamarnya, Raline merasa gelisah dengan apa yang Kendrick katakan barusan. Apakah benar bahwa dirinya sudah melakukan semua itu dengan paman suaminya sendiri. Kendrick memang tampan, namun Raline sendiri sudah mempunyai suami. Raline sungguh bingung, pikirannya berkecamuk tak menentu.
Daripada dirinya di rundung kegelisahan seperti ini, lebih baik Raline pergi untuk menemui spesialis guna mengklarifikasi semuanya. Raline tahu pasti dokter akan bisa memberikannya jawaban yang tepat. Raline bersiap-siap untuk segera pergi menemui spesialis, Ia mengganti pakaiannya dan berdandan lagi. Raline terlihat sangat cantik dan elegan.
Sebelum berangkat, Raline menghubungi salah satu temannya, Jenni. Raline memintanya untuk menemuinya di tempat biasa mereka bertemu. Jenni adalah teman karib Raline sudah sejak lama, pertemanan mereka sangat dekat dan akrab, sehingga Raline takan sungkan jika meminta bantuan atau saran dari temannya itu. Walaupun terkadang saran dari Jenni bisa saja membuatnya gila.
Raline berjalan cepat keluar mansion, di luar mansion sudah ada sebuah mobil mewah yang terparkir. Raline bingung, mobil siapa itu, karena Ia tidak mengenali jenis mobil dan plat nomornya. Tiba-tiba kaca pintu mobil terbuka, Raline tercengang. Ternyata itu adalah Kendrick, Kendrick tersenyum dan melambaikan tanganya pada Raline, mengisyaratkan kepada Raline agar segera masuk ke dalam mobilnya. Raline mengangkat sebelah bibirnya, memutar bola matanya dengan malas.
Raline melangkah menjauh dari hadapan mobil Kendrick, Raline memanggil supir pribadi yang biasanya mengantar kemanapun Ia pergi. Supir itupun mendekatinya, Raline meminta untuk segera menyiapkan mobil karena dirinya akan pergi sekarang. Namun, raut wajah supir itu mendadak gelisah. Raline bingung, bukannya segera menyiapkan mobil, tapi supir itu malah terdiam di tempatnya dan terlihat gugup.
“Ada apa? Cepat siapkan mobil, aku akan pergi hari ini. ” Ketusnya
“Maaf, Nona. Saya tidak di ijinkan oleh tuan untuk mengantar, Nona. ” Raline berkerut kening. Tuan yang di maksudnya itu apakah Daniel, tapi kenapa Daniel memerintahkannya untuk melakukan seperti itu. Padahal kemanapun Raline pergi Daniel tidak pernah melarangnya, karena Daniel memang tidak pernah memperdulikannya. Raline berpikir keras, apakah Daniel benar-benar yang memerintahnya. Jikalau itu benar, maka Raline tidak bisa berbuat apapun.
Raline berjalan menuju gerbang mansion, namun mansionnya berada di pinggiran kota, mustahil untuknya bisa mendapatkan taxi. Sebelumnya Raline sudah membuat janji dengan dokter tersebut, jika seperti ini terus Ia akan terlambat. Jika memesan taxi online pun akan memakan waktu yang lama, mengingat jarak mansionnya yang terlalu jauh dari perkotaan.
Hari sudah semakin siang, terik matahari pun menjadi terasa semakin menyengat. Berulang kali Raline melirik arloji pada pergelangan tangannya, kakinya juga sudah pegal karena berdiri terlalu lama di pinggir jalan.
Tiba-tiba sebuah mobil mendekatinya, kaca pintu mobil pun terbuka. Kendrick kembali tersenyum kepada Raline, dan menawarkan dirinya untuk mengantarkan Raline. Raline malas berurusan dengannya, tentu saja Ia langsung menolak ajakan Kendrick. Namun, Raline akan terlambat terlebih Ia juga sudah membuat janji temu bersama Jenni. Raline serba salah, Ia terpaksa mau di antarkan eg Kendrick. Raline memasuki mobilnya, dengan raut wajah yang malas. Kendrick tersenyum simpul.
“Tuan, ” Tanya Red, yang tak lain adalah asisten atau tangan kanannya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kaca sepion, menanyakan kemana Tuannya akan pergi,
“Perusahaan. ” Raline terkejut, Ia mengerutkan keningnya dan menatap tajam Kendrick.
“Turunkan aku di persimpangan jalan, di depan sana. ” Tunjuk Raline, Ia bisa mendapatkan taxi di sana. Red menatap Kendrick kembali lewat kaca spion, Kendrick menggelengkan kepalanya pelan. Red mengangguk dan mengerti isyarat dari tuannya itu.
Sesampainya di persimpangan jalan, mobil yang tengah di tumpangi oleh Raline itu tidak berhenti, mobil itu malah semakin melaju dengan kencang. Raline terbelalak dan kembali menatap Kendrick dengan tajam, Raline meminta Kendrick untuk menurunkannya sekaranf juga. Namun, Kendrick hanya menatap lurus dan sama sekali tidak memperdulikan perkataan Raline. Raline berbicara terus-menerus dan sesekali Ia berteriak agar Kendrick dapat mendengarnya, namun itu sia-sia.
Kendrick menarik lengan Raline kuat, hingga Raline terjatuh dan tak terkendali. Kendrick terduduk di pangkuan Kendrick, membuatnya semakin bergerak tak terkendali guna menghindari Kendrick. Namun, Kendrick malah mendorong tubuh Raline hingga terbaring di atas jok mobil, tubuhnya bergerak cepat lalu menindih tubuh Raline. Membuat usaha Raline untuk menjauh menjadi sia-sia. Raline mendorong dada Kendrick beberapa kali guna menyingkirkan badanya yang kini tengah menindihnya. Namun, Kendrick segera menghentikannya, dengan sigap sebelah lengan lelaki itu mencengkram tangan Raline dan menekuknya ke atas kepala hingga memaku tubuhnya.
Raline sudah tidak bisa memberontak, tubuhnya kini memaku di bawah tubuh kekar Kendrick. Raline menatapnya tajam, begitupula sebaliknya. Kendrick mendekatkan wajahnya kepada wajah Raline dan hendak menggapai bibirnya, namun Raline mengalihkan pandanganya guna menghindari ciuman Kendrick. Namun, sebelah tangan Kendrick yang lain mencengkram kuat wajah Raline membuat Raline tidak bisa bergerak.Dengan cepat, Kendrick langsung mencium setiap sudut bibir Raline.
Tiba-tiba mobil berhenti melaju, menandakan sudah sampai pada tujuan. Red melirik aktivitas tuannya itu lewat kaca spion. Badannya menjadi panas dingin dengan jantung yang berdegup dengan sangat kencang, tuannya itu melakukan aktivitas panasnya di hadapan dirinya.
Kendrick menghentikan aktivitasnya menciumi bibir Raline, Ia beranjak menjauh kemudian merapikan pakaiannya. Dengan cepat Raline beranjak bangun, duduk sedikit bergeser dan menjauhi Kendrick.
“Sialan! ” gunamnya sembari merapikan wajah, rambut dan pakaiannya. “Kau! Berani sekali kau mempermainkan diriku! ” Raline menunjuk ke arah Kendrick menggunakan jari telunjuknya. “Cepat buka pintunya! ” sambungnya dengan nada tinggi.
Kendrick memberi isyarat kepada Red agar membukakan kunci pintu mobilnya, dengan raut wajah kesal Raline langsung turun dan menutup pintunya dengan sangat kasar. Kendrick terkekeh melihat tingkahnya itu, Red terus memperhatikannya lewat kaca spion.
“Jaga matamu, atau aku akan mengasingkanmu ke ujung dunia. ” Ujarnya dingin, Red langsung mengalihkan pandanganya.
Raline keluar dari mobil Kendrick dengan raut wajah kesal, Ia sungguh tidak menyangka Kendrick berani mempermainkannya. Padahal, jelas-jelas Raline adalah istri dari keponakannya sendiri. Raline merogoh isi tasnya dan mencari bedaknya di dalam sana, setelah menemukannya Raline langsung membenarkan make up nya yang terlihat tidak rapih karena tadi bibirnya di cium oleh Kendrick.
“Sialan, ” Umpatnya kesal,
Setelah selesai membenarkan riasan pada wajahnya, Raline terburu-buru memanggil taxi untuk segera menemui dokter spesialis. Namun, ketika Raline melihat gedung di hadapannya tiba-tiba langkahnya tercekat.
“Kantor , Daniel. ” Gunam Raline, tersenyum lebar.
Bersambung...