
Kedua orang yang saling merindu itu kini duduk di salah satu kursi yang ada di taman yang letaknya tidak jauh dari kampus Lara. Sebuah taman yang sepi dimana hanya ada mereka berdua.
Baik Edgar maupun Lara masih saling diam dan hanya berani menatap tanpa ada satu kata pun terucap dari bibir mereka. Padahal keduanya sama-sama ingin memeluk untuk melepas rasa rindu di dada, namun kini hanya bisa menahan diri.
"Kak.. Lara ..." ucap Edgar dan Lara bersamaan, membuat keduanya tertawa namun air mata kembali menetes di pipi keduanya.
"Jangan menangis Lara..." Edgar mengusap air mata di pipi wanitanya.
"Kau melarang ku menangis tapi kau sendiri menangis." Protes Lara yang semakin terisak. Bukan karena sedih, namun bahagia karena akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan Edgar setelah satu tahun lamanya tidak berjumpa. "Bagaimana kabarmu kak?
"Seperti yang kau lihat." Edgar tersenyum sembari mengusap air matanya. "Kau sudah banyak berubah Lara, kau semakin dewasa."
Lara hanya terdiam lalu menundukkan kepalanya. "Terima kasih sudah menyelamatkan aku kak."
"Kau tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi kewajibanku melindungmu." Edgar terdiam sesaat untuk melepaskan sesak di dada yang semakin menghimpit. "Maaf karena tidak bisa menyelamatkannya." Ucapnya lagi dengan tersendu saat mengingat Lara yang keguguran karena kecelakaan yang di dalangi Mom Nela.
Lara yang menunduk kembali menangis mengingat kejadian setahun yang lalu, dimana harus mengalami keguguran di usianya yang masih muda. Juga harus berpisah dengan pria yang sangat dicintainya yang tengah koma.
"Kau tidak perlu meminta maaf kak, ini memang sudah jalannya. Justru aku yang harusnya meminta maaf karena tidak mendampingi di saat kau koma."
Edgar tersenyum sembari menghapus kembali air mata yang menetes dikedua pipi Lara. "Kau tidak ada di sampingku, tapi cintamu yang menguatkan aku Lara."
"Aku tahu Lara, meskipun ragamu tak di sampingku tapi kau selalu memantau keadaanku melalui Paman Nelson."
Ya, itu baru diketahui oleh Edgar saat Paman Nelson mengajaknya untuk kembali ke Jakarta. Nelson akhirnya memberitahu Edgar jika selama satu tahun ini Lara selalu berkomunikasi dengan Nelson untuk menanyakan kabarnya. Bahkan setiap harinya Lara selalu video call untuk melihat langsung dirinya yang pada saat itu masih koma. Dan kenapa Nelson baru menceritakan semua itu, karena untuk menyakinkan Edgar agar kembali ke Jakarta. Dan disinilah ia sekarang untuk mengejar dan memperjuangkan cintanya.
"Jadi Paman memberitahumu?" Tanya Lara dengan terkejut dan tak percaya. Karena Nelson sudah berjanji tidak akan memberitahu pada Edgar jika selama ini dirinya masih mencari tahu keadaan pria itu.
Edgar menganggukkan kepalanya. "Karena itulah aku kembali ke Jakarta, untuk meminta pada Miranda —"
"Mom..." Potong Lara dengan terkejut saat tersadar akan sesuatu. Tidak seharusnya ia bertemu dengan Edgar, dan tidak seharusnya ia berada ditempat tersebut. Karena apa yang dilakukannya saat ini sama saja melanggar janjinya pada Mom Miranda. "Tidak, ini tidak benar. Aku harus pergi kak."
"Tunggu Lara! Jangan pergi!" Edgar menahan langkah wanitanya.
"Kak aku bahagia bisa melihatmu sehat seperti ini." Lara memberanikan diri mendekat dan menyentuh wajah Edgar serta mengusapnya dengan perlahan. "Dan aku tidak pernah menyesal dengan apa yang terjadi pada kita dulu. Tapi mulai saat ini kita tidak bisa bertemu lagi, karena aku sudah berjanji pada Mom Miranda untuk tidak pernah menemuimu. Aku pergi kak." Lara hendak meninggalkan tempat tersebut. Namun lagi-lagi Edgar menghalangi dengan menarik tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.
"Tidak Lara, aku tidak akan pernah melepasmu lagi karena aku mencintaimu Lara Collins."
Deg.
Lara terdiam karena terkejut dengan pernyataan cinta dari Edgar. Pernyataan cinta yang sudah lama ditunggunya bahkan sejak mengandung benih dari pria itu.