Scandal

Scandal
I


happy reading. di sini gak akan ada kemesraan kai dan krystal yaaa


****


Katanya hidup itu memang akan selalu beriringan, keadaan selaras dengan perasaan. Ada hitam dan putih. Ada baik dan buruk. Ada senang dan duka. Kenapa setiap manusia diminta untuk selalu bersyukur, karena kebahagiaan kadang tidak selalu bertahan lama kalau kita tidak menjaganya.


Garis takdir yang Tuhan cipta memang sangat luar biasa. Dan itu akan membuat kita takjub. Jangan terlena oleh takdir baik, bisa jadi di balik itu semua ada hal yang telah luput dari pandangan kita.


Krystal selalu merasa cukup untuk hidupnya yang sekarang. Memiliki rumah tangga yang bahagia, menjadi istri yang patuh untuk Kai, dan menjadi ibu yang baik untuk Kean. Tapi, bagaimana pun ia saat ini, Krystal tetap akan menjadi seorang anak gadis untuk ayahnya.


Pagi tadi, saat ia telah selesai melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu, ponsel Krystal berdering nyaring. Kabar yang dibawa dari orang di seberang sana cukup membuatnya terkejut, atau lebih tepatnya, membuat sebagian hati Krystal patah dan hancur.


Baru saja ia mendapatkan kabar kalau Papa Ryan dilarikan ke rumah sakit setelah mendapatkan serangan jantung dadakan saat di rumah tadi. Lelaki paruh baya yang sudah menikahkannya dengan Kai itu sedang terbaring lemah di ruang rawat VIP di salah satu rumah sakit.


Krystal dengan segala ketakutannya dan tubuh bergetar menghubungi sang suami. Kalimatnya tidak mampu di mengerti oleh Kai karena ada isak tangis yang keras di sana, namun terlepas dari itu semua Kai tahu kalau ada yang tidak baik-baik saja di sana.


***


Ada banyak penyesalah di hidupnya, salah satunya harus membuat papa Ryan malu atas apa yang telah ia lakukan dulu bersama Kai. Ayah bagi sebagian anak gadis adalah cinta pertama, begitu juga bagi Krystal. Saat melihat cinta pertamanya terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang pesakitan, Krystal merasa dunianya hancur. Hidup yang selalu berdampingan ternyata seperti ini, bahagia memang akan selalu sepaket dengan kesedihan.


"Pa ...," Krystal melirih.


Dulu saat ia tahu kalau dirinya hanyalah anak simpanan sang ayah, Krystal sangat membenci lelaki ini. Saat dirinya di asingkan, Krystal ingin menjauh dari ayahnya. Kenapa harus dirinya? Kenapa papa Ryan tega melakukan ini. Namun seiring berjalannya waktu, ia bisa menerima dengan ikhlas. Sadar kalau sang ayah hanya ingin yang terbaik untuknya.


Dan sekarang Krystal merasa dunianya benar-benar berubah.


"Papa harus bangun, ada banyak yang ingin Krystal bilang."


Iya, Krystal ingin mengatakan beribu-ribu kata maaf dan terima kasih untuk papa Ryan.


"Pa ...," air matanya tidak bisa berhenti mengalir, meski sejak beberapa jam yang lalu Kai sudah datang dan menenangkan dirinya, mengelus punggungnya dengan lembut.


"Papa pasti akan sadar kok, Krys. Kamu doa aja ya, kita harus banyak-banyak doa." ujar Kai menenangkan.


Mama Maria baru saja menceritakan tentang penyakit papa Ryan yang selama ini ditutupi dari anak-anaknya. Papa memang sudah memiliki penyakit jantung itu sejak lama, hanya saja ia meminta mama Maria untuk merahasiakannya.


Maka itulah Krystal sebagai anak merasa tidak berguna. Ia menyalahkan dirinya karena setelah menikah dengan Kai, ia seolah sibuk dan jarang mengunjungi papa Ryan.


"Kai, papa sakit, tapi aku gak tahu. Aku dimana saat papa sakit? Padahal dulu setiap aku sakit, papa pasti akan peluk aku, papa akan selalu ada di sisi aku." Lelehan cairan bening itu tidak berhenti menetes dari mata indahnya.


"Aku bukan anak yang baik, Kai."


"sst ..." Kai mengusap lengannya. "jangan bilang gitu."


"tapi aku memang gak berguna."


"Krys ...," kali ini bukan Kai yang menenangkannya, melainkan Airin. sang kakak yang terlihat sama hancurnya. "Lo istirahat dulu ya, kasihan anak yang di dalam perut lo."


Terlihat lebih tegar dari Krystal, begitulah Airin. Meski dari luar dirinya tampak terlihat tegar, tapi semua orang juga tahu kalau dari dalam anak gadis pertama Ryan itu sama rapuhnya dengan Krystal.


"Kak Airin, aku mau nungguin papa buka mata, aku mau minta maaf."


"Tapi lo harus inget, lo lagi hamil."


Krystal menggeleng seraya mendongak menatap sang kakak. "Aku kuat kok."


"Krys—"


Airin menahan Kai yang ingin mengeluarkan kalimatnya. Perempuan itu meminta sang adik ipar untuk keluar, meninggalkan dirinya dan Krystal di dalam ruang inap itu.


Sapuan lembuat ia berikan pada bahu Krystal. "Gue tahu perasaan lo," dan setetes air mata luruh dari matanya. "Gue juga anak papa, Krys, gue juga sedih lihat papa kayak gini. Apa lagi gue, ada banyak dosa yang udah gue lakuin sama papa. Gue pernah ngebenci dia karena bawa lo ke rumah, gue pernah ngacuhin dia. Tapi, Krys ... apa pun yang terjadi, itu memang sudah garis Tuhan. Kita gak bisa berbuat apa-apa selain berdoa."


"Aku gak mau kehilangan papa, Kak."


"Gue juga," dipeluknya Krystal dengan erat. Airin ingin menumpahkan rasa sesak di dadanya, tapi ia menahan itu karena tahu kalau Krystal melihatnya menangis, rasa bersalah perempuan itu akan semakin besar. "Sekarang lo istirahat dulu ya, jangan nangis lagi, papa bisa sedih."


Buru-buru Krystal menghapus air matanya, membalas pelukan sang kakak. "Aku minta maaf sama kamu, Kak. Maaf aku gak pernah bisa jadi adik yang baik."


"Lo baik kok, elo yang terbaik buat gue." Airin menguar pelukan itu. "Ingat Krys, papa bangga sama lo. Papa gak pernah nyesel elo lahir ke dunia ini. Lo bukan kesalahan."


Tangis itu kembali pecah. Jika di pikir-pikir, mereka sudah lama tidak pernah kumpul bersama sang ayah. Sudah lama sekali mereka duduk membicarakan banyak hal bersama papa dan mama. Dan saat ini, mereka seperti menyesalinya karena membuang banyak waktu itu.


Krystal hanya berharap, semoga masih ada banyak waktu untuknya bersama dengan papa Ryan dan mama Maria. Semoga Tuhan masih memberinya kesempatan untuk mengucapkan maaf dan terima kasih untuk kedua orang tuanya itu.


****


Ini tercipta karena aku lagi mellowwww hahah yang sedih-sedih aja dulu ya, aku mau nyeritain betapa indahnya untuk kalian yang masih bisa bilang sayang sama orang tua.