Scandal

Scandal
Part 65


Setelah mencapai kenikmatan yang diinginkan masing-masing, tanpa tahu alasan apa yang membuat keduanya kembali melakukan hal terlarang tersebut dalam keadaan sadar. Baik Edgar maupun Lara sama-sama diam menatap langit-langit kamar dengan tubuh polos yang hanya tertutup selimut. Keduanya bahkan tidak mempedulikan suara telepon yang berdering sedari tadi, setelah bunyi ketukan pintu berhenti.


"Kak kenapa kita melakukannya?" Tanya Lara tanpa mengalihkan tatapannya pada langit-langit kamar. Ia malu untuk menatap Edgar setelah apa yang mereka lakukan tadi. Bayangkan saja selama percintaan mereka, ia terus memanggil nama Edgar bahkan tanpa malu menatap seluruh tubuh polos pria itu.


Edgar sendiri hanya diam tak mampu menjawab pertanyaan Lara. Karena ia sendiri pun tak tahu kenapa melakukan hal tersebut, apalagi ini bukan kali pertama dirinya menginginkan Lara. Jika karena cinta tidak mungkin karena yang ia tahu masih ada nama Kaylin dihatinya, terlebih Lara adiknya sendiri meskipun sudah ia klaim sebagai miliknya. Tapi satu yang pasti, Edgar merasa bahagia di dekat Lara dan rasa ingin memiliki wanita itu begitu kuat. Dan ia akan mempertahankan apa yang dimilikinya meskipun seluruh dunia menentang.


"Kak..." Lara menatap Edgar, karena pria itu tidak juga menjawab pertanyaannya.


"Kalau kau?" Edgar balik bertanya sembari mengusap wajah Lara yang dipenuhi keringat sisa percintaan mereka tadi. Jika boleh jujur bercinta dengan Lara adalah percintaan terhebat yang pernah ia rasakan.


Lara terdiam sesaat, menelisik wajah Edgar untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut karena ia sendiri pun tidak tahu kenapa mau melakukannya. Yang Lara tahu ia mau bercinta karena merasakan debaran di dadanya setiap melihat Edgar. Dan apakah itu bisa dikatakan cinta, karena Lara sendiri tidak tahu mencintai pria itu seperti apa.


"Sudah jangan dijawab." Edgar tahu Lara juga bingung sama seperti dirinya. "Kau ingin makan apa?" Edgar hendak turun dari atas ranjang, karena jika terus berada di dekat Lara maka ia akan melakukannya lagi dan lagi apalagi mereka masih polos tak mengenakan apa pun selain selimut yang menutupi tubuh mereka.


"Tunggu kak!" Lara menyentuh tangan Edgar dan membawanya ke dada. "Disini kak. Karena di sini rasanya berdebar setiap melihatmu."


Deg.


"Apa itu artinya aku mencintaimu?" Tanya Lara dengan bingung. "Dan apakah kau mencintaiku?" Lara masih menatap wajah Edgar yang hanya diam saja, padahal ia ingin sekali mendengar jawaban dari pria itu.


Edgar langsung menarik Lara ke dalam pelukan, karena lagi-lagi tidak bisa menjawab pertanyaan wanita itu. Baginya apa pun perasaan yang dimiliki oleh mereka saat ini tidak lah penting. Tapi ia akan berkata jujur pada Lara bahwa ia sangat menyayangi Lara dan darah daging mereka.


"Dengar Lara, aku —" belum sempat Edgar berkata, telepon yang berada diatas nakas kembali berdering. Ia pun segera mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari pihak keamanan. Mereka mengatakan ada beberapa orang yang menerobos masuk ke unit nya dan mengaku sebagai orang tua dan kerabatnya.


"Ijinkan mereka masuk." Ucap Edgar lalu menutup teleponnya.


"Siapa kak?" Tanya Lara.


"Mereka datang. Kau diam di dalam kamar dan kunci pintunya, dan ingat jangan keluar sebelum aku yang meminta!" Edgar mengecup bibir Lara lalu dengan cepat mengenakan pakaian tanpa membersihkan diri terlebih dulu.


Sementara itu Lara yang masih berada di atas ranjang, hanya diam menatap Edgar yang keluar dari kamar setelah mengingatkan kembali dirinya untuk mengunci pintu.


"Mereka datang? Mereka itu siapa?" gumam Lara dengan bingung. Namun karena tubuhnya terasa lelah, ia pun memilih tidur kembali tanpa mengunci pintu terlebih dulu. Lara berpikir siapa pun tamu yang datang tidak akan mungkin berani masuk ke dalam kamar pribadi sang tuan rumah.