
"Mau apa lagi kau kemari?"
Miranda menatap sengit pada sosok pria yang berdiri dihadapannya, sosok yang entah mengapa membuatnya kesel setelah kejadian kemarin. Dimana pria itu membawa dua orang yang paling dibencinya, dan berakhir dengan kekacauan. Dan sosok itu siapa lagi kalau bukan Nelson, pria yang berstatus sebagai paman Edgar.
"Aku kemari karena ingin mengunjungi kawan lama, apa tidak boleh?" Nelson mencoba mengajak Miranda untuk berbicara santai, meskipun wanita itu terlihat menolak kedatangannya.
"To the poin. Apa yang ingin kau sampaikan? Karena aku tidak punya banyak waktu." Karena Miranda tahu kedatangan Nelson pasti akan membahas tentang kejadian kemarin.
Nelson terdiam sesaat sembari menghela napas. Kini ia tahu perjuangan untuk menyatukan Lara dan Edgar akan sangat susah melihat bagaimana Miranda yang begitu membenci Nela dan Edgar.
"Boleh aku duduk? Rasanya tidak nyaman berbicara dengan berdiri."
Dengan terpaksa Miranda mempersilahkan Nelson untuk duduk. Kalau saja tidak mengingat pria itu telah membantunya pasti saat ini juga ia akan mengusir Nelson.
"Cepat katakan!" Ujar Miranda setelah mereka duduk.
Nelson lagi-lagi menghela napasnya. "Miranda aku tahu kau membenci Nela..."
"Iya, aku sangat membencinya." Sela Miranda dengan ketus.
"Aku paham itu, dan kau berhak untuk membencinya. Tapi aku mohon jangan membenci Edgar. Keponakanku itu tidak bersalah karena dia juga korban dari kejahatan Nela." Jelas Nelson.
"Siapa bilang Edgar tidak bersalah? Keponakanmu itu ikut bersalah karena telah merusak masa depan putriku. Kau tidak lupa bukan putriku pernah dihamili Edgar." Ucap Miranda tak terima, meskipun ia tahu kesalahan Edgar karena kesalahannya juga.
Kalau saja Miranda tidak menyuruh Lara ke Singapura maka kejadian tersebut tidak akan pernah terjadi. Dan kesalahan Edgar itu kini dijadikan senjata utama oleh Miranda untuk tidak merestui hubungan mereka.
"Oh, jadi sekarang kau menyalahkan aku?" Miranda semakin tidak terima.
"Bukan begitu maksudku, hanya saja —"
"Cukup Nelson! Waktu mu sudah habis, sekarang keluarlah!" Miranda beranjak dari duduknya dengan tangan menunjuk pintu utama. "Dan jangan lupa sampaikan pesanku pada Edgar, dia secepatnya harus pergi dari Jakarta! Ingat surat perjanjian itu masih berlaku." Ucapnya dengan penuh penekanan.
Melihat Miranda yang keras kepala bahkan tidak bisa diajak bicara baik-baik. Nelson pun beranjak dari duduknya. "Kau tahu Miranda, aku kira selama satu tahun ini kau berubah dan menjadi ibu yang baik bagi putrimu. Tapi aku salah, tenyata kau begitu egois sampai mengorbankan kebahagiaan Lara hanya karena kemarahanmu pada Nela. Sungguh sangat miris, karena kau membuat Nela kembali menang secara tidak langsung."
"Apa maksudmu?" Miranda mencegah kepergian Nelson.
"Kau tidak mengerti?" Nelson tersenyum tipis. Akhirnya Miranda berhasil kemakan oleh perkataanya. "Coba kau pikir, Nela melakukan semua kejahatan itu untuk merusak kebahagiaan keluarga mu terutama ketiga putrimu. Dan sekarang Lara menderita karena tidak bisa bersama dengan orang yang dicintainya, bukankah secara tidak langsung itu membuat Nela merasa menang karena lagi-lagi putrimu menderita."
"Tidak...." Miranda menggelengkan kepalanya. "Kau sengaja menghasutku?" ucap Miranda dengan curiga.
"Terserah kau mengatakan aku menghasutmu, tapi itulah kenyataannya. Bagi Nela, Edgar tidak berjodoh dengan putrimu bukan masalah karena banyak yang menginginkan Edgar. Contohnya Julia. Sedangkan Lara, aku yakin dia pun bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Edgar. Tapi apakah pria itu mau menerima semua masa lalu Lara."
Deg.
Miranda mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Ini jaman modern, dimana keperawanan sudah bukan menjadi tolak ukur seorang pria menjadikan pasangannya sebagai istri."
"Ya, mungkin kau benar. Tapi kau jangan lupa seorang pria meskipun menerima kekurangan itu, tapi akan menjadi ganjalan yang akan diungkit terus jika terjadi masalah dalam pernikahan tersebut."
Telak, Miranda tidak bisa lagi membalas semua perkataan Nelson. Memang benar semua pria akan menerima jika istri mereka tidak lagi perawan, tapi kata yang lebih tepat terpaksa menerima. Dan jika terjadi masalah di kemudian hari maka sang pria akan menjadikan kekurangan wanita itu sebagai senjata mereka.