
Holaaaaa ... selamat tahun baru ya.
Happy Reading!!
••••
"Kenapa lo?"
Adalah pertanyaan pertama Chandra saat mereka bertiga baru saja duduk di dalam ruangan VIP yang berada di Black Devil.
Sean dan Chandra terkejut begitu Kai meminta mereka untuk bertemu kembali di Black Devil setelah cukup lama mereka tidak pernah datang ke tempat itu lagi.
Hampir selama mereka menikah, ketiganya tidak pernah lagi datang ke Black Devil, apa lagi sampai mabuk dan melupakan istri mereka di rumah. Namun, kali ini sepertinya Chandra dan Sean terpaksa memasuki klab malam itu untuk menemani sang sahabat yang sepertinya sedang ada masalah.
"Berantem sama Krystal?" tanya Sean.
Kai masih bergeming sambil terus meneguk minumannya.
Chandra berdecak. "Udah punya buntut juga lo, berantem masih aja kayak anak kecil."
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Chandra, Kai membanting gelasnya ke atas meja. Matanya menyalak tajam dengan rahang mengeras.
"Gue kesel banget sama Krystal," ujarnya yang langsung mendapat serobotan dari Chandra.
"Gue juga kadang kesel banget sama bini gue."
Sean menoyor kepala lelaki itu dengan bibir terlipat gemas. "Diem dulu, nyet! Temen mau cerita juga."
Chandra meringis sambil mengusap kepalanya. "Iya-iya, cerita deh lo."
Kai kembali meneguk minumannya itu, dan mengernyit saat merasakan panas menjalar di tenggorokannya. "Krystal minum pil kontrasepsi." ujar Kai.
Lagi-lagi Chandra dibuat tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu. Ia pun mendengus. "Ya elah, bini gue juga—"
"Chan!" tegur Sean keras hingga membuat Chandra langsung mengantupkan rahangnya.
Kai menunduk, menatap botol minuman di depannya dengan nanar. Sekelebat ucapan Krystal terdengar nyaring di telinganya. Kai berdecih geli sebelum kemudian bersuara.
"Krystal gak mau hamil anak gue."
"Ha?" Sontak kedua lelaki itu terkejut dan membuka matanya lebar-lebar.
"Maksudnya gimana? Kan dia udah pernah hamil anak lo." tanya Chandra bingung. "Itu ... si Kean anak lo kan?" Dan satu pukulan mendarat tepat di kepalanya dari Sean.
Chandra meringis. "Sakit ******!" umpatnya.
"Dia bilang belum siap punya anak lagi karena sifat Kean mirip gue." lirih Kai.
Sean menepuk pundak sahabatnya itu. "Ya kalo dia belum siap mending lo kasih waktu dulu lah,"
"Masalahnya bukan itu, Yan! Gue cuma gak bisa terima kalo dia gak mau punya anak lagi itu gara-gara gak percaya sama gue! Dia ngeraguin gue dan takut gue gak bisa bertanggung jawab sama anak-anak gue nanti." Kai mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Dan dia juga bilang kalo Kean belum tentu tumbuh jadi anak yang baik karena dia mirip banget sama gue! Kan berengsek!"
Kai mengguyar rambutnya ke belakang. Mengingat itu membuat emosinya kembali terbakar.
"Yakin lo Krystal ngomong kayak gitu?" Kali ini Chandra yang bersuara, membuat Kai memicik tajam ke arahnya. "Yaaaa ... kali aja lo salah paham sama maksudnya Krystal, bisa jadi kan?"
"Gak mungkin gue salah paham, jelas-jelas dia minum pil itu tanpa ngasih tau gue, padahal udah lama gue minta adik buat Kean! Kenapa dia gak jujur coba?"
"Namanya perempuan, pasti ada banyak yang harus dia pikirin," sambar Sean. "Kai, bikin anak emang enak, tapi ngurusnya yang susah. Mungkin Krystal mikirnya juga demi kebaikan Kean. Kalo lo punya anak lagi, pasti kasih sayang lo sama Krystal bakalan kebagi dua. Bisa aja kan Krystal gak mau kayak gitu."
Kai bergeming, merenung dengan ucapan Sean barusan. Mungkin memang benar, kalau mereka memiliki anak lagi belum tentu mereka berdua bisa bersikap adil. Selama ini yang Kai tahu adalah bekerja dan membahagiakan keluarganya, tapi ia tidak tahu apa-apa tentang Kean, bagaimana anak itu tumbuh, apa yang disukainya. Krystal yang lebih memahami anak mereka.
"Udah, lo pulang sana, minta maaf sama Krystal." usul Chandra dan disetujui oleh Sean.
"Iya, lagian di omongin baik-baik, Kai. Pernikahan lo kan lebih lama dari kita berdua, masa masalah kayak gini butuh bantuan kita."
"Bener tuh. Kalo lo cerita sama Sean dia masih ngerti, elo berdua kan udah jadi bapak-bapak, cocok kalo ngomongin ginian." Chandra lalu menjentikan jarinya, membuat kedua lelaki itu mengalihkan perhatian mereka. "Gimana kalo anak lo berdua di jodohin, seru kali ya?" ujarnya dengan cengiran jenaka.
Baik Sean mau pun Kai, keduanya melemparkan tatapan mematikan pada lelaki itu.
"Harus banget ngebahas begituan di sini, Chan?" salak Sean.
Kai melempar bungkus rokoknya ke arah Chandra. "Buruan lo punya anak biar ngerti!"
"Kalo punya anak gak asik, nyet, gak bisa setiap hari olah raga di kasur gue." balasnya.
"******!"
Lalu gelak tawa memenuhi seluruh penjuru ruangan VIP itu. Terkadang bertemu dengan sahabat memang bisa membuat rasa galau Kai mereda, meski otak kedua sahabatnya tidak berbeda jauh dengannya, sama-sama gila.
••••
Jangan lupa poin sama koin buat yang masih punya yaaa. makasihhh ❤❤❤