
Mendengar teriakan Lara. Miranda yang sedang berdebat dengan Robert dan Nela tentang masalah pernikahan Rose, langsung menatap putri bungsunya.
"Kenapa sayang?"
Lara yang tersadar telah berteriak, menatap kedua orangtuanya juga Ibu tirinya dengan gugup.
"Aku..." Karena takut semua orang curiga. Lara pun menatap Edgar meminta pria itu untuk membantunya memberi alasan. Tapi yang ditatap justru terlihat santai tanpa rasa bersalah sedikit pun sudah membuatnya terkejut sampai kelepasan berteriak.
Miranda yang menunggu jawaban putrinya pun ikut menatap pada Edgar dengan kening yang berkerut.
"Hai anak ******, apa yang kau lakukan pada putriku?" Tuduh Miranda dengan emosi. Bagaimana tidak emosi, setelah Nela memprovokasinya kini putra wanita itu menganggu putrinya.
"Miranda tutup mulutmu! Berani sekali kau mengatai keturunan Collins!" Bentak Nela tak terima.
"Ck, kenyataannya memang seperti itu bukan? Kau lupa siapa dirimu?" Ujar Miranda dengan tersenyum sinis. "Wanita murahan yang mau ditiduri oleh pria beristri sampai hamil bukankah disebut *******?"
"Kau..." Nela yang emosi sampai hendak menampar Miranda kalau saja Robert tidak menghalangi.
"Cukup! Kalian tidak malu berdebat seperti itu di depan anak-anak kita?" Robert menatap Miranda dan Nela dengan emosi. Karena perdebatan kedua istrinya tadi membuka kembali kisah masa lalu mereka. Meskipun seluruh keluarga sudah mengetahui alasannya menikahi Nela karena wanita itu sudah hamil lebih dulu, tapi tetap saja Robert tidak suka jika ada yang mengingatkannya tentang kesalahan yang pernah diperbuatnya dulu.
Sementara itu Lara dan Edgar hanya duduk diam menikmati perdebatan kedua orang tua mereka yang sudah sering terjadi.
"Tidak perlu!" Miranda beranjak dari tempatnya lalu berjalan kearah Lara. "Biar kami yang pergi." Karena Miranda tidak ingin putrinya dekat-dekat dengan Edgar setelah apa yang terjadi. Dimana putrinya berteriak juga terlihat ketakutan saat menatap putra tersayang Robert.
"Tunggu Miranda! Pembicaraan kita belum selesai." Robert ikut beranjak dari tempatnya ingin menahan kepergian Miranda. Namun langkahnya terhenti saat Nela menghalangi.
Miranda yang melihat bagaimana Robert tak berkutik dihadapan Nela hanya tersenyum sinis. "Aku rasa pembicaraan ini sudah selesai." Ia pun berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan kesal. "Cih, penerus keluarga Collins? Kalau anak yang kau lahirkan bukan anak laki-laki kau tidak akan pernah dinikahi Robert." Umpat Miranda dalam hati sembari mengingat masa lalunya, di mana Robert di paksa oleh Tuan Collins untuk menikah lagi agar bisa memiliki keturunan anak laki-laki.
Dulu Robert sempat menolak karena sangat mencintainya, hingga entah bagaimana ceritanya Robert tergoda dan meniduri seorang wanita yang bernama Nela hingga membuat wanita itu hamil. Suaminya pun diminta untuk bertanggung jawab dengan menikahi Nela, namun Robert menolak dengan alasan akan menikahi wanita itu jika anak yang dikandung Nela anak laki-laki. Setelah beberapa bulan kemudian akhirnya suaminya menikahi Nela setelah wanita itu diketahui mengandung anak laki-laki. Dan Miranda harus bisa menerima pengkhianatan Robert, serta pernikahan pria itu hanya demi masa depan ketiga putrinya.
"Mom..."
"Diam Lara!" Ucap Miranda dengan terus berjalan tanpa menghiraukan sekelilingnya karena begitu emosi apalagi setelah mengingat masa lalunya.
"Tapi Mom, kita salah jalan."
Miranda menghentikan langkahnya, menatap pada sekelilingnya dengan bingung karena kini mereka berada di luar hotel.
"Kenapa kita disini?" Tanya Miranda.
Lara tak menjawab. Ia hanya menghela napas sembari berdecak dengan kesal karena lagi-lagi Mom Miranda hilang arah jika sedang marah. Untuk kali ini tidak separah seperti sebelum-sebelumnya, karena dulu Mommy nya pernah membawanya ke dalam toilet pria di pusat perbelanjaan, hanya karena marah pada salah satu pelayan yang melayani mereka.