
"Apa kau merindukanku Lara? Karena aku sangat merindukanmu." Ucap Edgar kembali. Ya, pria itu adalah Edgar tanpa ada nama Collins lagi dibelakangnya.
Satu tahun yang lalu dia koma setelah tertabrak mobil demi menyelamatkan Lara, dan saat tersadar dari komanya ia mendapati kenyataan yang membuatnya sangat terkejut dan tak percaya. Kalau ia bukanlah anak kandung dari Robert Collins, setelah pengakuan dari ibu kandungnya sendiri dan diperkuat dengan hasil tes DNA yang dilakukan oleh Robert saat dirinya masih koma. Dan bukan hanya kenyataan itu saja yang membuatnya terkejut, tapi juga saat mengetahui siapa dalang dalam kecelakaan yang menimpa dirinya dan Lara yang tenyata perbuatan Mom Nela.
Sungguh saat itu juga Edgar ingin menemui Mom Nela untuk bertanya, kenapa bisa wanita yang melahirkannya ke dunia itu bersikap sangat kejam. Karena selain membuatnya koma selama hampir tiga bulan lamanya, ia juga harus kehilangan darah dagingnya. Karena kecelakaan tersebut sudah membuat Lara keguguran.
Dan dari mana Edgar mengetahui semua kenyataan itu, jawabannya hanya satu nama yaitu Nelson. Pria yang selama ini mendampinginya selama koma, yang ternyata Kakak dari Ayah kandungnya.
Jika kalian bertanya apakah Edgar terpuruk dengan semua kenyataan itu, maka jawabannya, iya. Apalagi setelah sadar dari koma orang yang begitu ingin ia lihat tidak ada disisinya, bahkan tidak pernah menjenguknya selama masa pemulihan. Namun Edgar sadar, Lara nya tidak akan mungkin bisa lagi disisinya setelah semua yang terjadi.
Itulah mengapa Edgar pun memilih tidak kembali ke Jakarta setelah sembuh total. Bukan karena tidak ingin bertemu dan merindukan Lara, namun karena ia sadar diri tidak pantas untuk menemui Lara setelah semua kejahatan yang dilakukan Mom Nela selama ini pada keluarga Miranda. Terlebih ada kesepakatan yang harus ia jalani dan tidak boleh dilanggar.
"Ini laporannya Tuan." Erik menyerahkan berkas yang diminta tuannya.
Erik menatap tuan Edgar dengan perasaan kasihan, karena pria yang kini lebih banyak diam dengan raut wajah dingin dan datar itu hanya bisa menerima kabar tentang Lara setiap harinya, tanpa bisa menemui wanita itu.
"Kabar Nona Lara baik, dan seperti biasa ada Tuan Gavi yang menemani." Jawab Erik dengan jujur.
Edgar yang sedang membaca berkas yang diberikan Erik, mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat mendengar nama Gavi disebut. Ingin rasanya saat ini juga ia pulang ke Jakarta untuk menjauhkan pria itu yang selalu berada di dekat Lara. Tapi sayang Edgar tidak bisa melakukannya, dan hanya bisa meredam kemarahannya.
"Tuan, kenapa Anda tidak pulang ke Jakarta untuk melihat langsung Nona Lara?" Karena yang dilakukan tuannya hanya mengirimkan anak buah untuk menjaga Lara selama ini, tanpa berani untuk datang sendiri. "Bukankah ini sudah satu tahun lamanya, dan aku rasa Nyonya Miranda —"
"Miranda tidak akan pernah menerimaku. Kesalahan yang diperbuat Mom Nela sudah terlalu besar. Dia bahkan merusak hubungan Miranda dan Robert selama bertahun-tahun dengan permainan kotornya, sampai membuat keluarga itu kini terpecah." Ya, dari berita yang ia dapat Miranda dan Robert kini sudah resmi bercerai bahkan saat ia masih koma dulu.
"Dan jangan lupakan perjanjian yang aku buat dengan Miranda, itu artinya sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menemui Lara." Lirihnya dengan perasaan sesak di dalam dada saat mengingat kejadian setelah dirinya sadar dari koma.