
Setelah setengah jam menunggu kabar dari anak buah Robert. Akhirnya Miranda dan Robert harus gigit jari saat mengetahui putri tertua mereka sudah menaiki pesawat dengan tujuan Korea Selatan.
"Rose..." Teriak Miranda dengan menangis dan putus asa. Ia tidak menyangka putri kesayangannya justru melakukan hal kejam seperti ini dengan mempermalukannya di depan umum.
"Mom..." Lily yang merasa kasihan pada Mommy nya hanya bisa memeluk tanpa tahu harus berbuat apa.
"Bagaimana ini Robert?" Miranda bertanya pada suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantan suami.
"Aku tidak tahu." Robert memijat pangkal hidungnya dengan terduduk lemas. Ia takut jika permasalahan ini bisa merusak nama baik keluarga Collins tentu juga akan berakibat dengan menurunnya harga saham di perusahaannya.
Untuk Rose ia tidak khawatir karena Robert yakin putri tertuanya itu kini sudah terbang bebas menentukan kebahagiaannya sendiri, karena itulah yang diinginkannya. Robert tahu selama bekerja dengannya Rose selalu merasa tertekan karena pekerjaan tersebut bukan minatnya. Itulah mengapa ia ingin menggantikan Rose dengan Edgar, bukan karena ia pilih kasih tapi justru memberikan kebebasan yang diinginkan Rose meskipun pada akhirnya Miranda salah paham.
"Ck, kau itu Daddy nya seharusnya kau bisa membawa Rose kemari!" Teriak Miranda kembali sembari memukul suaminya. Kini rasa kecewanya semakin berlipat karena melihat Robert yang hanya diam tak memberikan solusi untuk permasalahan mereka.
"Hanya ada satu cara." Robert menahan tangan Miranda namun dengan tatapan yang tertuju pada putri keduanya.
Lily yang ditatap sedemikian rupa mulai merasakan hawa tidak enak yang akan terjadi padanya. Ia bahkan harus menelan salivanya saat sebuah pemikiran melintas dibenaknya.
"Tidak! Aku tidak mau." Ujar Lily lebih dulu sebelum Dad Robert menyampaikan idenya. "Aku tidak mau menjadi pengantin pengganti."
Miranda yang mendengar kata pengantin pengganti menatap pada Robert, yang di jawab anggukan kepala dari suaminya.
"Kau benar Robert. Dan kau harus mau Lily!" Ucap Miranda dengan penuh semangat karena permasalahan mereka kini sudah menemukan jalan keluarnya.
"Aku tidak mau Mom." Lily mulai beranjak dari tempatnya.
"Aku tidak mau Mom, jangan paksa aku. Meskipun Mom mengancam aku tidak mau." Gila saja jika ia harus menanggung perbuat Rose. Kakaknya yang hidup bahagia dia yang akan terkekang kebebasannya.
"Robert." Miranda meminta bantuan pada suaminya untuk membujuk putri kedua mereka.
"Lily, Daddy mohon. Kau boleh meminta apa pun asal kau bersedia menjadi pengantin penggantinya."
"Benarkah?" Tanya Lily dengan sedikit tertarik.
Robert dan Miranda menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. Karena akhirnya Lily mulai mau mengikuti kemauan mereka.
"Tapi sayangnya aku tidak menginginkan apa pun." Ujar Lily dengan sangat yakin, hingga membuat Robert dan Miranda menghela napas mereka. "Dengar Mom, Dad. Aku tidak bisa membantu kalian karena memiliki alasan yang kuat. Yang pertama calon kakak ipar ku itu pasti tidak mau memiliki istri sepertiku yang selalu terlibat scandal dengan banyak pria. Dan yang kedua aku sudah mempunyai kekasih. Bagaimana perasaan kekasihku saat tahu aku menikah dengan pria lain?"
"Kau memikirkan perasaan kekasihmu tapi tidak memikirkan perasaan kami." Ketus Miranda dengan kesal. Rasa sedihnya kini berganti dengan kekesalan yang teramat dalam pada kedua putrinya.
"Mom, Dad, dari pada kalian berharap padaku kenapa tidak dia saja yang menjadi pengantin penggantinya!" Tunjuk Lily pada sosok yang sejak tadi tertidur pulas tanpa terganggu sedikit pun oleh perdebatan mereka.
Robert dan Miranda pun menatap arah yang ditunjuk Lily dengan tatapan tak percaya.
"Lara?" ucap mereka bersamaan.
"Ya, Lara Collins." Lily tersenyum penuh arti. Karena kini ia bisa bebas tanpa harus menjadi pengantin pengganti.