Scandal

Scandal
S


happy reading genkssss!!


****


Hari ini Kai pulang kerja lebih awal, karena besok ia akan terbang menuju Makasar demi mengawasi pembangunan resort baru di sana. Awalnya Kai menyerahkan pembangunan ini pada Arkan, sepupunya dari pihak ayah.


Selain Kai, Arkan juga memiliki saham tertinggi di perusahaan itu. Namun, karena pihak Adyaksa menginginkan pembangunan itu di pimpin langsung oleh Kai, terpaksa ia menyetujui untuk pergi ke Makasar selama kurang lebih seminggu.


Kai tidak tega meninggalkan Krystal dalam keadaan seperti ini. Kesehatan papa Ryan belum juga membaik, dan istrinya itu pun sedang mengandung anak mereka. Usia kandungan Krystal sudah memasuki awal bulan ke delapan. Sudah terlalu mengkhawatirkan kalau di tinggal pergi jauh.


Tapi bisnis tetaplah bisnis, Krystal pun tidak masalah untuk itu. Semenjak menyandang status sebagai istri dari Kaisar Wira Atmadja, pemimpin perusahaan property terbesar, Krystal tahu kalau hidup suaminya tidak hanya di dalam rumah. Sewaktu-waktu ia juga akan ditinggalkan seperti ini.


"Udah, nanti aku aja yang beresin bajunya. Kamu istirahat sana, abis masak kan? Kamu itu udah susah jongkok loh, Krys." Kai berujar demikian setelah keluar dari kamar mandi dan mendapati Krystal sedang berusaha memasukan baju-baju Kai ke dalam koper. Kebiasaan yang selalu Krystal lakukan setiap sang suami akan melakukan dinas keluar kota.


Krystal menyunggingkan senyum simpul, menatap Kai yang kini mulai melanngkah ke arahnya. "Gak apa-apa kok, aku cuma takut ada yang ketinggalan kalo kamu yang nyiapain koper."


"Kalo memang ada yang ketinggalan, biar Dimas nanti yang ambil."


Krystal mencebik dengan bibir maju ke depan. "Dimas mulu deh yang kamu susahin, kasihan dia loh, Yah. Dimas kan juga butuh istirahat, apa lagi seminggu ini kalian selalu lembur." ujarnya memperingati.


Dimas itu tipe setia, apa yang Kai perintah nurut saja, meski tidak diluar pekerjaan. kapan coba waktunya lelaki itu berkencan kalau Kai membuatnya sibuk.


"Kasihan kan Dimas, gak bisa pacaran."


Kai terkekeh seraya membungkuk untuk mengecup kening Krystal yang sedang duduk di atas kursi meja rias. Benar kata Kai, ia sudah tidak bisa berjongkok, maka harus menggunakan kursi untuk merapihkan koper sang suami.


"Besok berangkat jam berapa?" tanya Krystal setelah menarik resleting koper tersebut. "Aku belum nyiapin alat mandinya."


"Besok siang kok berangkatnya, gak apa-apa nanti aku aja yang nyiapin. Kamu istirahat aja ya." Lagi, Kai mengecup kening Krystal, menahannya sedikit lama lalu mengusap wajah sang istri dengan lembut.


Krystal mendongak, dan mengu lum senyum manis ke arah Kai. "Kamu sama siapa aja di sana?"


"Sama Dimas—Angga."


Kepala Krystal mengangguk. Ia sudah mengenal dua asisten Kai itu sejak lama, namun Angga adalah karyawan baru yang sudah bekerja selama dua tahun.


"Gak ada sekertaris cewek-nya?"


"Ada, si Odel."


Odel ... Krystal juga sudah mengenal perempuan itu. Sekertaris Kai yang paling setia, yang dulu sempat ia cemburui karena terlihat cantik dan seksi. Krystal juga dulu sempat bertanya pada Kai, apa Odel juga salah satu teman one night stand lelaki itu. Dan Kai mengatakan dengan tegas kalau ia itu sangat profesional saat bekerja, maksudnya tidak dengan karyawannya sendiri.


Krystal tentu saja percaya, karena beberapa bulan kemudian Odel menikah dengan kekasihnya yang sudah ia pacari selama lima tahun, dan sekarang Odel sudah memiliki anak yang usianya hanya berjarak beberapa bulan dengan Kean.


"Nanti yang urusin makan kamu siapa? Odel?"


Kai mengernyit meledek saat mendengar pertanyaan itu. Bukan karena menganggap Krystal cemburu. Sumpah demi apa pun, Kai tahu Krystal tidak akan cemburu dengan Odel, hanya saja, tumben sekali ia bertanya seperti itu.


"Tumben kamu nanya soal makan aku?" kekehnya pelan.


Bibir Krystal lagi-lagi mengerucut lucu. "Tuh kan, aku perhatian malah dibilang tumben." gerutunya.


Kai malah semakin tergelak kencang. "Jangan bilang kamu cemburu sama Odel?"


Ya ampun, dari banyaknya karyawan perempuan di perusahaan Kai, Krystal malah lebih memilih cemburu pada Dimas dibanding karyawan perempuan yang lain. Gimana Kai tidak gemas melihat tingkah perempuan itu.


"Hahaha," Kai tergelak kencang. "Kamu yakin mau cemburu sama Dimas?"


"Iya, lama-lama aku sewa detektif nih buat ngikutin kalian berdua." kelakar Krystal, yang sesungguhnya hanya lelucon. Ia lalu menarik tangan Kai agar lelaki itu kembali menunduk, kemudian mempertemukan bibir mereka. "Udah lama nih kamu gak jenguk anak kamu yang di sini." ujarnya sembari mengelus perut.


Kai tentu saja mengerti apa maksud Krystal. Jika diingat-ingat memang sudah lama sekali ia tidak menyentuh Krystal. Entah antara sibuk mengurusi perusahaan hingga kemudian ia lupa, atau terlalu takut kalau Krystal kembali sakit.


"Ini kamu yakin gak apa-apa?" tanya Kai setelah mengangkat tubuh Krystal, dan merebahkannya di atas ranjang.


Krystal mengangguk yakin. "Kemarin pas abis jenguk papa, aku ke dokter lagi. Dia bilang gak apa-apa kok, udah kuat. Lagi juga, katanya memang harus melakukan itu biar lahirannya lancar."


Dikecupnya bibir Krystal pelan, lalu Kai membuka kaosnya sendiri dan membuangnya sembarang. "Nanti kalo sakit bilang ya?"


Satu senyuman dari Krystal membuka jalan persetujuan itu.


Semua berawal dengan sangat lembut dan pelan-pelan, mulai dari kecupan di bibir, lumatann manja, hingga pertemuan dua lidah yang saling berpangut di dalam sana. Kai memulainya dengan sangat hati-hati. Tidak ingin Krystal-nya terluka sedikit pun.


Kecupan yang semula terjadi antara dua bibir, kini turun menuju rahang Krystal, menyesapnya lama-lama di sana, memberi jejak kemerahan. Lalu setelah puas, ciuman itu semakin turun menuju tulang selangka. Melakukan hal yang sama, Kai meninggalkan jejak kemerahan di sana.


"Eunghh ..." desahan itu terdengar merdu sekali, menghantarkan kecupan Kai kian menggila.


Semakin panas ruangan, semakin Kai ingin segera menanggalkan seluruh pakaian Kystal. Tidak perlu susah payah, Krystal yang terbiasa tidur tanpa bra membuat Kai lebih mudah menelanjanginya.


Ditangkupan dada pertama, Krystal memnggelinjang geli. Hisapan penuh pada puncak dadanya menjadikan rambut Kai pelampiasan rasa membuncang itu.


Erangan, desahan, napas memburu, menjadi satu kesatuan dari kenikmatan malam panas mereka. Bibir Kai menelusuri semua titik sempurna yang ada di tubuh Krystal. Sesapan yang berakhir menjadi jejak-jejak kepemilikan, terlihat kontras di atas kulit Krystal yang putih.


Kai hampir menanggalkan pelapis terakhir di tubuh Krystal saat ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdering nyaring. Awalnya Kai ingin mengabaikan itu, tapi Krystal sepertinya tidak bisa melanjutkan kalau ponsel itu masih terus berdering.


"Angkat dulu deh, aku ganggu banget."


Kai terlihat menganggkat wajahnya, menatao Krystal tidak suka. "Biarin aja, lagian ngapain sih malem-malem nelpon."


"Siapa tau penting." bujuk Krystal. "Angkat dulu, Yah."


Mendengus tidak ikhlas, Kai beranjak dari tubuh Krystal, turun menelusuri lantai untuk mengambil ponselnya. Saat hendak mengangkat dan berniat memarahi si penelpon, Kai sontak terkejut dengan wajah bingung saat mengetahui siapa yang mengganggu aktivitasnya bersama Krystal tadi.


Devia.


Iya, Devia. Perempuan yang ia temui seminggu yang lalu karena urusan pekerjaan. Untuk apa wanita itu menghubunginya? Kalau masalah pekerjaan, tidak bisa kah bersama Dimas saja? Benar-benar mengganggu.


Kai menoleh pada Krystal sebentar, bermaksud meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut. Namun, saat mendapat izin, Kai malah keluar kamar dan meninggalkan Krystal di sana.


Dengan wajah bingung, Krystal bangkit, meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya. "Loh, tumben nelponnya sembunyi-sembunyi gitu?" gumamnya curiga.


****


Nikmatin aja ya genks hahaha apa pun yang ada di kepala kalian, plis lah jangan menerka-nerka wkwkwkwk ya gak apa-apa sih nerka-nerka, namanya kalian terbawa cerita, aku sih seneng. Tapiii, jangan nyuruh aku buat ikutin apa yang ada di dalam pikiran kalian yaaa. Semua sudah terangkai di kepala aku.