Scandal

Scandal
Part 88


Lara yang mulai tersadar, menatap ke sekeliling ruangan yang berwarna serba putih itu dengan bingung.


"Akh..." Ia meringis kesakitan saat berusaha menggerakkan tubuhnya.


"Lara.., sayang." Miranda yang melihat putri ketiganya sudah sadar langsung menyuruh Lily untuk memanggil dokter.


"Mom..." lirih Lara masih dengan bingung. "Aku dimana?"


"Kau jangan banyak bicara dulu sayang." Ucap Miranda dengan tersenyum bahagia bahkan sampai menangis terharu karena putrinya sudah sadar.


Lara terdiam tidak lagi bertanya, sambil mengingat apa yang sudah terjadi padanya hingga ia bisa berada di rumah sakit. Ya, Lara kini sadar berada di rumah sakit karena mencium bau karbol yang cukup menyengat dan ruangan yang serba putih.


"Kak Edgar!" teriaknya dengan panik setelah mengingat apa yang terjadi. "Mom dimana Kak Edgar?" tanyanya sambil menangis. Lara ingat betul bagaimana Edgar mendorongnya agar tak tertabrak mobil.


"Lara sayang, kau jangan banyak bicara dulu, tenanglah!"


"Tapi Mom..." perkataan Lara terhenti saat melihat dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan, bersama Lily tentunya.


Ia pun akhirnya memilih diam, membiarkan dokter memeriksa keadaannya hingga menunggu dokter itu keluar dari ruangan.


"Mom bagaimana keadaan kak Edgar?" tanya Lara dengan tidak sabaran karena begitu mencemaskan keadaan pria itu. Karena ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, setelah terdorong dengan cukup keras hingga tak sadarkan diri.


"Edgar baik-baik saja, dia hanya mengalami luka ringan dibeberapa tangan dan kakinya." Bohong Miranda. Karena tidak punya pilihan lain selain berbohong.


"Syukurlah, apa aku boleh melihatnya?" Lara ingin melihat Edgar untuk memastikan kondisi pria itu.


"Lara, disana ada Julia yang menjaga Edgar. Lebih baik sekarang kau pikirkan kesehatanmu sendiri, terlebih kau baru saja mengalami keguguran."


Dengan cepat Miranda memeluk putri bungsunya dengan erat. "Sabar sayang, Tuhan lebih sayang dengan janin itu sehingga mengambilnya kembali."


Lara terus menangis dalam pelukan Mom Miranda tanpa bisa berkata-kata. Sementara Lily yang melihat bagaimana kesedihan adik dan Mommy nya, memutuskan keluar dari ruangan tersebut karena tidak sanggup menyaksikan kesedihan itu.


"Kak, kau dimana? Kami membutuhkanmu." Lirih Lily dengan perasaan sesak. Seandainya saja ada Rose, setidaknya ia bisa membagi kesedihan yang dirasakannya itu. Tidak memendamnya sendirian seperti saat ini.


"Sekarang katakan ada hubungan apa kau dengan Nela?"


Langkah kaki Lily terhenti saat melihat Dad Robert berbicara dengan teman Mom Miranda. Dia melihat sekitarnya sudah tidak ada keluarga Philip, itu sebabnya Dad Robert berbicara dengan kasar dan suara yang meninggi.


"Kau tanyakan saja padanya siapa aku." Sahut Nelson dengan dingin, tidak terpengaruh sama sekali oleh sikap suami Nela.


Robert pun menatap istri keduanya. "Katakan ada hubungan apa kau dengannya?" Sungguh ia tidak bisa lagi menahan rasa emosi dan penasarannya, hingga memutuskan untuk bertanya saat ini juga setelah keluarga Philip pulang.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, kami hanya saling kenal saja." Jawab Nela dengan ketakutan. Rasanya ingin sekali ia lari dari tempat itu sekarang juga, jika tak mengingat di dalam sana putranya sedang berjuang untuk hidup.


"Benarkah?" Kini Robert bertanya pada Nelson.


"Kami memang tidak ada hubungan apa-apa." Jawab Nelson. "Tapi dia memiliki hubungan dengan pria yang bernama Elliot."


Deg.


Baik Lily mau pun Robert terkejut, keduanya kini bertanya-tanya siapa Elliot.