
Haiiiii.....akyuuu datang lagi. ejoy genks!
happy reading!!
••••
Krystal menepati janjinya. Ia akan memberi izin pada Kai untuk bertemu dengan sang buah hati, tapi harus di dalam rumah ini. Setiap pulang kerja Kai akan menyempatkan diri untuk datang ke rumah papa Ryan sekedar ingin bermain dengan Kean.
Meski lelah Kai dan jarak tempuh yang cukup jauh dari kantor dan rumah ini, Kai tetap memaksakan diri berkunjung ke sana. Ia sangat merindukan Kean, dan tentunya juga dengan Krystal. Sudah seminggu perempuan itu melarang dirinya untuk menemui mereka.
Hampir dua minggu Kai melakukan itu, bolak-balik dari kantor ke rumah papa Ryan, lalu tepat malam hari saat Kean sudah lelah dan mengantuk, Kai kembali ke rumah mereka. Rumah yang kini terasa kosong dan asing untuknya, karena rumah Kai yang sesungguhnya adalah Krystal.
Tidak ada kata lelah bagi Kai meski tubuhnya harus menempuh jarak yang cukup jauh, apalagi setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang membuat kepalanya pusing.
Hari itu Kai datang agak sore, rumah sedikit sepi karena papa Ryan dan mama Maria pergi keluar kota menjenguk saudara yang ada di sana. Seperti biasa, ia akan bermain bersama Kean di ruang tengah, hanya sebatas ruang tengah karena Krystal tidak mengizinkan lelaki itu untuk menemuinya.
Betapa tersiksanya Kai menahan diri untuk tidak naik ke atas dan melihat wanitanya. Ia rindu Krystal. Semenjak Kai datang ke rumah ini, tidak sekalipun ia menemui Krystal. Wanita itu seperti menghindarinya dan tidak ingin keluar kamar selama ia masih ada di sana.
Hukuman seperti ini benar-benar menyiksa Kai. Pernah suatu hari Krystal tiba-tiba turun dari lantai atas untuk mengusirnya pulang karena hari sudah hampir tengah malam dan sudah waktunya Kean tidur.
Kai kembali mengemis, meminta maaf dari wanita itu. "Pulang ya, Krys. Kita omongin baik-baik."
"Aku gak bisa, aku masih butuh waktu dan tempat yang nyaman untuk aku bisa menenangkan diri." balas Krystal.
Kai selalu akan membalas kata-kata itu dengan tatapan memelas dan helaan napas fruatrasi. "Harus kayak gimana lagi aku, Krys, supaya kamu mau maafin aku?"
"Aku juga gak tahu, untuk kesalahan kali ini, aku benar-benar butuh waktu yang cukup lama. Please ... ini keputusan aku."
Dan Kai hanya bisa meratapi nasibnya, kembali ke rumah yang membuatnya malah semakin merindukan Krystal.
Waktu sudah menjelang malam, biasanya Krystal akan mengintip dari tepi tangga dan memandangi apa yang sedang dilakukan Kean bersama Kai di bawah. Ia bersembunyi di sana agar tidak ketahuan oleh Kai. Sejujurnya, Krystal juga merasakan rindu yang teramat besar seperti lelaki itu. Hanya saja Krystal butuh waktu untuk berpikir. Ia tidak ingin secepat itu memaafkan Kai. Seseorang yang salah itu harus dihukum bukan? Biarkan Kai mendapatkan hukumannya saat ini.
"Kenapa gak turun?" Krystal tersentak saat suara Airin terdengar dari balik punggunya. Kedatangan perempuan itu membuat Krystal menjadi salah tingkah. "Krys, ada waktunya elo menghukum seseorang, ada waktunya juga elo memaafkan."
Krystal bungkam, ia sudah tahu kemana arah pembicaraan Airin.
"Terkadang, kita pernah merasa paling benar meski orang lain menganggapnya berbeda. Elo harus bertanya sama hati lo, merenung, memberi kesempatan. Saat lo mencintai seseorang, berarti lo udah siap dengan semua ketidaksempurnaan yang bersembunyi di balik kesempurnaannya. Jangan nyiksa diri lo."
Airin menghampiri, mengelus bahu tegang Krystal. "Elo mungkin lupa, ada waktunya seseorang melakukan kesalahan, kita kan bukan Nabi yang bisa sempurna untuk segala hal." Ia tersenyum hangat.
Kapan terakhir kali Krystal merasa benci dengan kakaknya ini? Mungkin ia tidak ingin mengingatnya. Airin benar-benar berubah, ia berubah menjadi dewasa dan lebih bijak—meskipun masih suka dengan kekerasan.
"Gue bukannya mau nyampurin masalah elo sama dia," mata Airin melirik ke bawah, di mana Kai berada. "Tapi semua orang juga pantas mendapatkan kesempatan, kayak elo yang mendapat kesempatan dari mama sama papa."
***
Krystal duduk sambil merenung di dalam kamarnya. Apa yang Airin katakan tadi seperti tamparan untuknya. Krystal tidak buta untuk semua perngorbanan Kai dalam mengais maaf darinya, tapi boleh tidak Krystal bersikap egois sekali saja setelah semua penderitaan yang ia terima?
Perdamaian kali ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Ia memiliki hati yang rumit untuk membawa kembali hubungan mereka ke tempat yang lebih baik. Pendiriannya terombang-ambing, rasa sakit itu masih terasa apalagi setiap ia membuka berita, skandal perselingkuhan Kai masih menjadi buah bibir.
Krystal tidak sekuat itu untuk bertahan.
"Bunda," panggilan itu membuat Krystal terhenyak, ia menoleh dengan senyuman.
"Iya sayang?"
Sang buah hati datang menghampiri. "Ayah tidur."
"Iya, di sofa. Tadi aku ajak main, tapi ayah malah tidur."
Krystal segera turun untuk melihat lelakinya. Benar saja, lelaki dengan stelah kusut dan wajah lelah itu tertidur di sana. Tubuhnya yang besar tidak menamoung sepenuhnya di atas sofa.
Krystal tidak tega untuk membangunkan lelaki itu dan mengusirnya pulang. Maka, ia membawakan satu selimut dan bantal untuk Kai tertidur di sana. Dengan perlahan Krystal mengangkat kepala Kai, menyelipkan bantal di bawahnya, lalu merentangkan selimut yang ia bawa tadi dan menyampirkan di tubuh Kai.
Ia amati wajah lelaki itu dengan senyum miris. Dasi hitam yang ia belikan saat ulang tahun pernikahan mereka yang ke tiga tahun masih terikat di kerah kemejanya, meski sudah tidak rapi. Wajah lesuh dan kerutan di dahi setiap Kai tertidur, pertanda kalau lelakinya sedang banyak pikiran.
Tanpa sadar jemari Krystal terangkat untuk menyentuh wajah sang suami. Menelusuri keindahan yang selalu ia puja. Krystal rindu wajah ini. Mata Kai yang selalu menatapnya penuh cinta, hidung Kai yang selalu mengendus wangi tubuhnya dan bibir Kai yang selalu mencium bibirnya.
Krystal rindu.
Buru-buru ia tersadar sebelum terlena dan malah melakukan sesuatu yang membuatnya mengutuki dirinya sendiri. Krystal hendak bangkit, namun tiba-tiba tangan Kai menahannya.
Mata yang tadinya terpejam itu terbuka. "Hai," sapanya dengan senyum tipis. "Aku kangen."
Krystal berpaling. Mengalihkan pembicaraan yang bisa menimbulkan kebodohan di dirinya. "Tadi aku gak tega mau bangunin kamu, jadi aku biarin kamu tidur di sini."
"Aku boleh tidur di sini?"
"Ya terserah kamu, mau pulang atau tidur di sini." jawab Krystal sedikit salah tingkah.
Bibir Kai tertarik lebar. Ia menarik tangan Krystal hingga perempuan itu jatuh di atas tubuhnya. Seketika ia bergerak gugup. "Kai....,"
"Kangen kamu di atas aku."
"Jangan gini." Krystal berusaha melepaskan diri, tapi kekuatan Kai menahan tubuhnya membuat usaha Krystal berakhir sia-sia. "Nanti ada yang lihat."
"Gak ada, mama sama papa lagi pergi kan?"
Meski tidak ada mama dan papa, tapi di rumah ini tidak hanya ada mereka. Ada Airin yang sedang menginap, ada pembantu, dan juga ada Kean yang....
"Ayah, bunda ... lagi apa?"
....tiba-tiba hadir di belakang mereka.
Dengan cepat Krystal menjauhkan tubuhnya. Berdiri dengan kikuk menatap sang buah hati. "Kean ngapain di situ?"
"Bunda ngapain sama ayah?" Dasar anaknya Kai, ada saja jawaban yang membuat Krystal salah tingkah.
"Itu ... bunda lagi ngecek detak jantung ayah." Alasan macam apa itu?
Kai tertawa geli di belakangnya. Bukannya membantu, lelaki itu malah semakin membuat Krystal panas dingin.
"Kean kok belum bobo?" Kali ini Kai yang bertanya, mengalihkan perhatian sang anak.
"Aku mau bobo sama ayah sama bunda di kamar." Anak laki-laki itu mendekat, duduk di atas pangkuan Kai yang sudah merubah posisinya. "Kita bobo bertiga terus cerita tentang Tobot X."
Lalu tatapan mata keduanya bertemu. Krystal tahu ia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan anaknya itu.
••••
Terima kasih banyak buat yang masih setia menunggu, aku gak tahu lagi mau bilang apa. pokoknya kalian harus sehat yaa ❤❤ masih boleh minta poin sama koin gak sih? hahahaha kalo yang punya aja yaaa, aku gak maksa. terima kasih genks, jangan lupa bahagia ❤❤❤