
helaawwww ... seperti judul, Z (1) nanti bakal ada Z (2) nya ya hihi ini karena belom kelar ternyata ceritanya di dalam satu part jiahahaha
oke deh, happy reading yayy
****
Sudah tiga bulan pasca Krystal melahirkan Kalan, perempuan itu tidak merasakan kerumitan saat pertama kali memiliki Kean. Bahkan dulu ia sempat mendapatkan baby blues setelah kelahiran anak pertamanya itu.
Kai sendiri, meski ia sibuk bekerja, ia tetap membantu Krystal mengurus kedua anaknya. Hampir tiga bulan ke belakang, Kai selalu bangun malam saat Kalan terbangun. Ia juga sudah bisa mengganti popok, meski kadang masih perlu bantuan Krystal.
Oh iya, mengingat sekarang mereka sudah memiliki dua anak, maka Kai menyarankan Krystal untuk manambah satu asisten rumah tangga lagi untuk membantu dirinya di rumah dan beruntung Krystal menyetujui itu.
Kebahagian mereka menjadi dua kali lipat rasanya. Dulu saat mendapatkan Kean, mereka mengerti seperti apa rasanya menjadi orang tua. Dan ketika mendapatkan Kalan, Kai dan Krystal jadi lebih memahami apa itu tanggung jawab.
Drttt
Getaran ponsel Kai yang tergeletak di atas kasur membuat pandangan Krystal yang sedang menyusui Kalan di atas ranjang teralihkan. Sejak tadi ponsel itu terus begetar, tadinya Krystal ingin membiarkan saja. Namun, rasa keingintahuan yang sudah tersemat saat ia mulai menjadi seorang ibu tiba-tiba muncul.
Ia raih benda berbentuk persegi itu dengan susah payah, menjaga tubuh agar Kalan tidak terbangun karena gerakan sang bunda. Lalu, jarinya membuka kunci layar, menggeser bar notifikasi ke bawah untuk melihat pesan yang masuk ke dalam.
Devia : Besok weekend, kita makan siang bareng yuk. Di restoran dekat apartemen aku.
Demi seluruh hewan melata yang ada di kebun binatang, Krystal ingin sekali meneriakan satu nama hewan itu ke muka Devia saat ini juga. Bukan hanya satu pesan, tapi ada banyak pesan serupa yang masuk ke dalam ponsel Kai, yang beruntungnya tidak pernah mendapatkan tanggapan dari suaminya.
Krystal kira wanita ulekan itu sudah tidak pernah lagi mengganggu suaminya, tapi ternyata ... ck, sepertinya Krystal harus memberi pelajaran pada wanita itu. Berhubung dia sudah melahirkan, berarti boleh kan kalau ia melemparkan bara api pada perempuan itu.
Lihat saja, Krystal akan membuat wanita ulekan itu malu.
Kaisar : Oke, jam dua. Kamu yang reservasi.
Tak lama wanita itu membalas.
Devia : Ya ampun, Kai. Akhirnya kamu balas pesan aku. Tenang aja, aku udah siapin semuanya. Sekalian ke apartemen aku, ya? Aku mau kasih kamu hadiah.
Krystal menarik napas dalam-dalam, membuang perlahan. Berusaha tidak terpancing meski sebenarnya tangannya sudah gemetaran dan ingin segera membalas pesan tersebut dengan makian kasar.
Dasar wanita sundel!
Ia lantas meletakan kembali ponsel tersebut setelah sebelumnya men—screen shoot isi pesan Devia dan menghapus itu dari sana. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, dan Kai keluar dengan handuk yang menggantung di lehernya.
"Kalan udah tidur, bun?"
"Hem," balas Krystal seperlunya. Mau gimana pun, hatinya masih sakit sekali membaca pesan itu.
Ini sebenarnya yang Kai takutkan, kenapa lelaki itu memintanya untuk tidak meladeni Devia. Karena Kai tahu Krystal pasti akan merasa sakit dan tidak mempercayainya.
"Kenapa, bun?" tanya Kai lagi yang kini sudah duduk di tepi ranjang dan mengamati wajah Krystal. "Kamu sakit, kok mukanya merah gitu?"
"Ngak," elak Krystal dengan pandangan turun ke bawah menatap Kalan yang ada di gendongannya.
Kai tahu ada yang terjadi pada sang istri saat ia sedang berada di dalam kamar mandi tadi. Tapi, ia tidak ingin mencari tahu, biasanya Krystal akan bercerita dengan sendirinya kalau sudah tenang.
"Ya udah, sini Kalan-nya, biar aku pindahin ke box."
Krystal menyerahkan anak keduanya pada Kai. Ia masih bungkam, bahkan saat Kai mematikan lampu kamar mereka, dan Krystal sudah bergelung di dalam selimut. Oke, lupakan tentang pesan tersebut, yang harus ia pikirkan adalah bagaimana membuat Devia jera dan tidak lagi mengganggu suaminya.
***
Seperti yang pernah ia katakan sebelumnya, dirinya bukan lah Krystal yang dulu. Bukan Krystal yang lemah dan mudah menangis, yang akan memilih menyerah saat ada pengganggu di kehidupan rumah tangganya.
Krystal akan melindungi sumber kebahagiaannya. Akan menjauhkan orang-orang yang mencoba masuk dan berniat menghancurkannya. Maka, di sini lah ia berada. Di sebuah restoran mewah yang sudah Devia janjikan akan bertemu dengan Kai, tapi bukan Kai yang akan datang, melainkan dirinya.
"Hai."
Devia mengangkat wajah, mengalihkan tatapannya dari buku menu di tangan dan menatap seseorang yang baru saja menyapanya. "Ck," ia tersenyum tipis demi menyamarkan rasa terkejutnya melihat Krystal berdiri di samping meja.
"Apa kabar?" tanya Krystal masih mencoba basa-basi, padahal ia sudah muak sekali. Dengan tangan terlipat di depan dadanya, Krystal menyeringai tipis. "Lagi nungguin .... suami aku, ya?"
Devia tergelak perlahan, menyamarkan rasa kesalnya karena merasa dibodohi oleh Krystal. "Jadi kamu udah tahu kalau aku sama Kai sering bertukar pesan?" Serangan pertama yang coba Devia lemparkan.
"Bukan bertukar pesan, tapi tepatnya kamu yang mengirimi pesan, dan suami aku tidak pernah menanggapi." balas Krystal telak.
"Oh ya?" Devia menyunggingkan senyum di satu sudut bibirnya. "Kamu yakin kalo suami kamu gak pernah angkat telepon dari aku?"
Oh, Krystal mulai geram. Wanita ini ternyata bebal juga ya, tidak tahu malu.
"Jangan kepedean kamu, Kai melakukan itu hanya sebatas untuk pekerjaan."
"Ck, naif banget sih kamu."
"Aku minta sama kamu untuk jauhin suami aku! Jangan menjadi murahan untuk berusaha merebut milik orang lain."
Devia mendesis dengan tampang meremehkan. "Coba kamu tanya sama suami kamu, apa dia punya kunci akses apartemen aku? Ck, Krystal ... Krystal, kamu tuh terlalu naif. Gimana kalo kamu tahu ya, Kai lebih menyukai ada di atas tubuh aku dibanding tubuh kamu?"
Tangan Krystal meraih gelas berisikan air putih yang ada di atas meja, menyiramkan ke wajah Devia yang sekarang sedang melemparkan tatapan mencemooh padanya. Ia merasa sudah tidak tahan lagi meladeni kelakuan wanita itu. Devia itu bebal, tidak tahu malu, dan harus dikasih pelajaran.
Wajah wanita itu basah, dan sebagian mengenai rambutnya. Posisi tubuhnya yang sedang duduk saat Krystal menyiramkan air putih itu membuat tubuhnya basah hingga menyentuh ujung dress berwarna merah yang ia kenakan. "Sialann!" Devia memeki, ia refleks berdiri dan hendak membalas Krystal dengan sebuah tamparan.
Sesaat Krystal begitu terkejut, namun ia bisa menghindar lebih dulu dengan mendorong tubuh Devia. Keduanya saling melemparkan tatapan sengit. Bahkan kini mereka sudah menjadi tontonan bagi para pengunjung restoran itu.
Merasa tidak terima Devia pun menjambak rambut Krystal yang dibalas dengan perlakuan yang sama oleh perempuan itu. Sesaat aksinya itu langsung menimbulkan kericuhan di antara pengunjung lainnya.
Krystal tidak terima, jelas-jelas yang bersalah itu Devia, kenapa ia yang harus dijambak. Dengan amarah yang sudah memenuhi isi kepalanya, Krystal menambah satu tangannya lagi untuk menjambak rambut wanita itu.
"Gue bisa rebut Kai dari—akh!!!" pekik Devia saat Krystal menarik turun rambut panjangnya itu, hingga ia bisa merasakan beberapa rambut yang copot dari kulit kepalanya.
"Kamu pikir aku takut! Aku bisa hajar kamu—aduh!" Krystal ikut terpekik saat Devia membalasnya.
Saat mereka sedang sibuk saling menjambak, dan pengunjung lainnya sibuk mengabadikan pertengkaran heboh itu dengan ponsel mereka. Krystal mendengar suara Kai berteriak di belakangnya.
"Ya Tuhan, Krystal!"
Benar, itu suara Kai. Ia hafal suara itu, dan terlebih kini ia merasakan sebuah tangan yang menarik perutnya menjauh.
"Lepas, Krystal. Ya Tuhan. Apa-apaan sih kamu."
Tidak merasa peduli, ia tidak akan melepaskan cengkraman tangannya apda rambut Devia sebelum wanita itu yang melepaskannya terlebih dahulu.
"Aku bilang lepas!"
"Gak mau!" sahut Krystal dengan geraman.
Merasa tidak sanggup melerai kedua wanita itu sendirian, Kai dibantu oleh pelayan restoran di sana. Ia menarik tubuh Krystal ke belakang, dan menjauhi dari Devia.
Wanita itu ... ya Tuhan, ia terlihat snagat berantakan. "PULANG!" tukas Kai yang membuat Krystal merinding.
****
ya gitu deh Krystal, kalo jiwa bar-bar nya udah keluar gak nanggung-naglnggung hahaha
terima kasih udah baca