Scandal

Scandal
Part 56


Setelah Robert keluar dari kamar. Miranda dengan dibantu Lily segera membangunkan Lara dengan paksa. Karena berulang kali dibangunkan putri bungsunya itu tetap tidak mau lepas dari selimut yang menutupi tubuhnya.


Lima belas menit pun berlalu akhirnya Lara sudah siap duduk didepan meja rias meskipun dengan wajah kantuknya. Entah putri bungsunya itu tadi malam tidur jam berapa, tapi yang jelas setelah membersihkan diri Lara masih terlihat mengantuk dengan sesekali menguap.


"Wah cantik sekali." Puji seorang Mua yang sudah selesai merias wajah mempelai wanita.


Lily dan Miranda pun mengamini perkataan MUA tersebut saat melihat wajah Lara yang terbiasa tanpa make up kini terlihat sangat cantik dan memukau. Siapapun yang melihat pasti tak akan menyangka gadis cantik tersebut adalah Lara karena tampak sangat berbeda.


Lara sendiri hanya diam menatap tampilan dirinya di depan cermin. Ia merasa tak tertarik mengomentari dirinya sendiri karena sejujurnya masih merasa mengantuk. Karena tadi malam setelah keluar dari kamar Edgar, Lara tidak bisa tidur hingga waktu menunjukkan pukul empat pagi baru ia bisa tertidur dengan pulas.


"Sekarang ganti pakaiannya cepat! Kita tidak punya waktu!" Perintah Miranda pada orang-orang yang bertugas mempersiapkan gaun pernikahan milik Rose.


Lara pun menurut saja ketika dirinya disuruh berganti pakaian. Baru setelah selesai mengenakannya dan menatap cermin ia menautkan kedua alisnya dengan bingung.


"Mom ini bukan gaunku?" tanya Lara masih dengan bingung. Terlebih lagi gaun yang dikenakannya tampak sedikit kekecilan membuat Lara sulit untuk bernapas.


"Sudah jangan banyak protes! Sekarang kita turun."


Miranda yang juga sudah siap segera membawa Lara keluar dari kamar dengan di dampingi Lily, karena mereka tidak punya banyak waktu terlebih acara pernikahan yang seharusnya dilaksanakan pukul sepuluh kini sudah terlambat hampir satu jam.


"Tapi Mom, bukankah ini gaun milik Kak Rose? Kalau aku menggunakan gaun ini, lalu kakak pakai apa?" Tanya Lara masih dengan bingung. Apalagi dirinya dibawa seperti seorang tahanan dengan Mom Miranda dan Lily mengapit kanan dan kirinya.


"Kakakmu memakai gaunmu." Jawab Miranda asal dengan tergesa-gesa.


"Oh..." Lara menganggukkan kepalanya meski merasa ada yang tidak beres tapi dia sendiri tidak tahu apa. "Kak Rose mana Mom?" tanyanya lagi.


"Sudah kau itu jangan banyak tanya." Gusar Miranda sambil memasuk ke dalam pintu lift menuju lantai dimana ballroom tempat acara pernikahan berlangsung.


Melihat Mom Miranda yang tampak kesal. Akhirnya Lara diam tak ingin bertanya lagi meskipun masih merasa sedikit bingung dengan apa yang tengah terjadi.


"Mom sebenarnya ada apa ini?" Tanya Edgar yang sejak tadi penasaran kenapa acara belum juga dimulai.


Nela tersenyum lebar lalu mendekat pada telinga putranya. "Rose melarikan diri."


"Apa?" pekik Edgar dengan terkejut dan tak percaya. Pantas saja sejak tadi acara belum juga di mulai, dan Dad Robert beserta keluarga dari mempelai pria tampak tegang. "Bagaimana bisa Mom?"


"Tentu saja bisa. Itulah putri-putri Miranda, ketiganya tidak ada yang benar dan selalu membuat masalah. Berbeda dengan kau yang selalu membuat bangga keluarga Collins. Bukankah begitu sayang?" Ucap Nela sambil menatap suaminya dengan senyum penuh kemenangan.


Robert sendiri tidak menanggapi perkataan istri keduanya, karena saat ini ia tengah cemas jika Miranda tidak bisa membawa Lara untuk melanjutkan acara pernikahan. Tadi saja ia berusaha mati-matian menyakinkan pada calon mempelai pria beserta keluarganya untuk mau menerima Lara, jadi jangan sampai putri ketiganya itu membuat masalah lagi.


"Lalu kenapa pernikahannya tidak dibatalkan?" Tanya Edgar semakin bingung.


"Karena pernikahan ini akan tetap berjalan dengan mempelai wanita pengganti." Jawab Nela.


"Wanita pengganti?" Edgar mengerutkan keningnya.


"Iya, Rose digantikan dengan dia!" Nela menunjuk pada pintu ballroom yang terbuka lebar.


Edgar pun ikut menatap kearah yang ditunjuk Mom Nela. Betapa terkejutnya ia saat menatap wanita yang sedang mengandung benihnya itu berjalan masuk ke dalam ballroom dengan mengenakan gaun pernikahan.


"Lara..." lirih Edgar dengan tak percaya.


"Ya, Lara Collins. Dia yang akan menggantikan Rose."


"What?" Teriak Edgar dengan menggelegar.


Hingga membuat perhatian para tamu undangan yang tadinya tertuju pada mempelai wanita, kini tertuju pada putra kebanggaan keluarga Collins.