Scandal

Scandal
N


happy reading yaaa genks!!!


****


Kai memejamkan mata seraya menyandarkan punggunya pada dinding rumah sakit. Di sebelahnya sudah ada Rendi yang duduk di sana sambil menatap ke arahnya dengan wajah cemas. Suara Kai yang tadi berteriak di dalam kamar inap Krystal berhasil membuat ia yang sedang menubggu di depan pintu mendengar semuanya.


Sejujurnya, Kai tidak ingin memperlakukan Krystal seperti itu, tapi ia juga bukan manusia sempurna, ia tidak sehebat itu yang bisa menahan amarah di dadanya, terlebih dua kabar buruk langsung ia terima di saat yang bersamaan.


Kandungan Krystal itu lemah, mungkin karena ia terlalu stres dan kurang nutrisi. Hampir saja mereka kehilangan bayi yang ada di dalam perutnya. Entah seperti apa jadinya kalau itu benar-benar terjadi, mungkin Kai akan semakin tidak waras saja.


"Nih, coba lo minum dulu." Rendi mengangsurkan satu cup kopi yang ia beli tadi di kafetaria.


Mata Kai langsung terbuka, dan menerima sodoran cup kopi tersebut dalam diam. "Makasih, Ren." Ia menyesapnya sedikit. "Gimana kondisi papa Ryan?"


Ada hela napas pelan sebelum Rendi menjawab. "Belom ada kemajuan ... mungkin itu yang ngebuat Krystal jadi makin stres."


Kai mengangguk singkat, tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering. Ia teguk habis minuman berwarna pekat itu hingga tandas, lalu mencengram cangkir plastik di tangan. "Gue salah gak sih, Ren, marah-marah kayak tadi?"


"Kalo lo berpikir untuk kebaikan keluarga lo, ya tentu aja gak salah. Tapi, sebenarnya lo masih bisa menahan emosi lo untuk gak ngebentak-bentak Krystal kayak tadi. Mau gimana pun, dia juga butuh lo, Kai."


"Gue kalut banget, Ren." Kai membungkuk, meletakan sikunya di kedua paha dengan telapak tangan menutupi wajahnya. "Tadi gue lagi nunggu rapat untuk tanda tangan kontrak penting, dan denger kabar ini seketika gue langsung ninggalin rapat begitu aja, sampe tadi gue dapet kabar kalo kontrak dibatalin." Lalu ia mendesah kasar. "Kepala gue rasanya mau pecah, Ren."


Rendi menepuk-nepuk pelan bahu Kai. "Gue paham gimana pusingnya kepala lo saat ini."


Iya, sesama pemimpin di sebuah perusahaan besar memang hal seperti ini sering terjadi, begitu pun pada Rendi, jadi ia bisa menebak seperti apa perasaan Kai saat ini.


"Gue rasanya mau ngacak-ngacak nih rumah sakit!" keluhnya seraya menegakan tubuh, dan kembali menyandarkan kepalanya pada tembok di belakang.


Bertepatan dengan Kai mengatakan itu, pintu ruangan Krystal terbuka dari dalam, dan Airin keluar dari sana. Ia menatap kedua lelaki yang sedang duduk di kursi tunggu dengan hembusan napas lelah. Kalau boleh jujur, Airin juga lelah seperti ini terus.


"Krystal udah tidur," katanya, kemudian bersidekap di depan Kai. Ia menyoroti lelaki yang pernah menjadi calon suaminya itu. "Lo kelewatan."


"Sorry, Rin."


"Tapi, Krystal memang harus digituin."


Kening Kai mengkerut tidak mengerti.


"Adek gue emang ngenyel banget kalo di suruh istirahat, dari dulu gak berubah. Lo tahu kan gimana nyokap gue ngelarang dia buat keluar, ujung-ujungnya dia ngeyel untuk keluar rumah sampe akhirnya hamil sama lo."


Uhh, Kai meringis dalam hati. Kenapa coba Airin harus mengungkit kelakuan bejatnya itu. Bikin ia jadi salah tingkah saja. Tidak ingatkah mereka dulu pernah punya hubungan.


"Sekali-kali Krystal memang harus di gembleng! Dari tadi dia nangis, terus merenung sama kesalahannya dia. Tapi gue bilang, jangan cuma di renungin, tapi di pahami sama di aplikasikan! Ish, kalo gak lagi hamil gue juga rasanya mau ngomelin dia, tapi lihat kan gimana ringkihnya badan dia." cerocos Airin membuat kedua lelaki yang ada di depannya sedikit terperangah.


"Gue gak tega sih, Rin, sebenernya." sahut Kai, setelah menarik napasnya dalam. "Gak tega gue lihat dia nangis."


"Kalo gitu gak usah dilihat." saran Airin lagi. "Gimana dia mau berubah kalo lo terus baikin dia Kai, udah sekarang mending lo gak usah nemuin di dulu, buat jadiin pelajaran."


"Rin, gak gitu dong, nanti Krystal makin stres." salak Rendi.


Airin mendengkus masam pada sang suami. "Gini nih, ini yang buat Krystal gak pernah mikir apa konsekuensi dari apa yang udah dia lakuin. Kamu tuh, mas, belain Krystal terus tahu gak, dari dulu."


"Gak gitu, Rin." Rendi menghela kasar. "Krystal lagi hamil, mau gimana pun dia butuh Kai."


"Aku tau, tapi kita juga gak bisa ngebiarin Krystal gak mikir sama apa yang dia lakuin. Aku tau, mas, dia sedih dengan masalah papa, tapi gak **** juga sampe harus ngorbanin anak sama suaminya."


"Duh, woi ...," Kai menyela perdebatan suami istri itu. "Ini yang lagi lo berdua perdebatin adalah istri gue, rumah tangga gue. Prihatin dikit kek sama gue."


Kai mencibir. "Lo juga kepala keluarga, tapi kalo gue lihat lo selalu ngalah sama Airin."


Sialan! Rendi mendengkus dalam hati. Memang iya sih, Airin seolah menjadi dominan di dalam rumah tangga mereka. "Ah kampret lu, kita lagi ngomongin elo sama Krystal, jangan melebar kemana-mana deh."


Kai terkikik geli, sementara Rendi merengut masam. "Gue bakalan jagain Krystal sampe dia bangun, lo berdua tenang aja. Gue akan bikin dia sedih kok. Gue bakalan pake cara gue sendiri."


****


Kata orang, kehidupan itu selalu berdampingan dengan kematian dan Krystal baru menyadarinya saat ini. Baru saja ia hampir kehilangan anak yang berada di kandungannya karena keteledorannya sebagai seorang ibu. Padahal kemarin ia sudah menyadari apa kesalahannya, lalu di hadapi dengan keadaan ayah yang tak kunjung membaik, pikiran warasnya mulai hilang.


Ya ampun, ia sudah kelewatan kali ini.


Ia hampir membunuh anaknya sendiri.


Dan tanpa sadar ia mengelus lembut perut itu.


"Maafin bunda, sayang." gumamnya pelan, bersamaan dengan tebukanya pintu kamar itu.


Seorang suster masuk dengan membawa makanan, waktu kini sudah menunjukan pukul tujuh malam, dan Krystal terbangun tanpa siapa pun di sisinya.


"Selamat malam, bu." sapa suster tersebut


"Malam, sus."


"Ini makan malamnya ya bu, sekalian sama obatnya. Ibu sendirian di sini? Pendampingnya dimana?" Sang suster bertanya seraya meletakan piring makanan Krystal di meja. "Mau saya yang bantu aja, bu?"


Krystal segera menggeleng. "Gak usah, sus, saya bisa sendiri kok."


"Oh, baiklah kalau begitu, saya tinggal ya, bu."


Tak lama setelah kepergian perawat wanita itu, pintu kamarnya dibuka lagi, dan kali ini yang membukanya adalah Kai. Lelaki itu melangkah mendekati ranjang Krystal dengan wajah lelah. Tanpa suara, tanpa kata. Kai langsung mengambil duduk di sebelah ranjang kemudian mengambil peralatan makan malam Krystal.


Ia membuka plastik wrap sebagai pembungkus makanan itu. "Mau aku suapin apa makan sendiri?" tanya Kai dengan nada dingin, ia bahkan tidak mau susah-susah menatap ke arah Krystal.


"Aku makan sendiri."


"Oke," Kai segera menaikan meja makan di ranjang, lalu meletakan semua menu makan malam itu di sana.


Krystal tidak mau sedih, karena ia tahu lelaki itu masih marah padanya. Lagi pula, ini setimpal dengan kesalahan yang sudah ia buat.


Sementara Krystal sibuk memakan makanannya, Kai malah asik memainkan ponselnya. Padahal Krystal sudah berharap kalau Kai mau menyuapinya. Ia melirik ke arah sang suami sesekali, lalu matanya berubah jadi pedih.


Ia tidak boleh menangis, tidak boleh stres, itu semua demi kebaikan anak yang ada di dalam kandungannya. Krystal lantas menghabiskan makan malam itu dan meminum obatnya.


Setelah selesai, yang ia tahu Kai langsung keluar kamar tanpa mengucapkan apa pun kepadanya.


Ya, setidaknya dengan menemani makan saja itu sudah cukup.


****


duhh, akutuh mau buat mereka berantem-berantem unyu gitu, eh kok malah begindang yay?? haha


enjoy genks, makasih yaaa buat dukungannya. terima kasih ❤❤