
"Kak cepat keluar!" Lara mengulangi perkataannya karena Edgar diam saja tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
"Oke aku keluar, tapi kau harus janji besok dan seterusnya gunakan piyama saat tidur!" Karena Edgar tidak sanggup jika tiap malam harus melihat penampilan Lara yang sexy hanya untuk mencium ketiak wanita itu.
"Iya aku janji."
"Jangan hanya janji, tapi lakukan! Kemarin kau pun mengatakan iya tapi tetap saja memakai pakaian dalam."
"Kau juga sudah berjanji tidak akan masuk lagi ke kamar ku, tapi tetap saja kau masuk." Balas Lara tak mau kalah.
"Kau ini," Edgar yang kesal mencium bibir Lara. Bibir yang selalu memiliki jawaban dari semua perkataannya.
Dan seperti biasa ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi ciuman yang begitu menuntut, bahkan posisi mereka kini sudah berbaring dengan Edgar yang berada di atas tubuh Lara tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Bahkan keduanya hampir melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman kalau saja tidak mendengar suara pintu yang diketuk dari luar, yang membuat tautan bibir mereka terlepas.
"Lara..." Panggil Rose sambil mengetuk pintu kamar adiknya.
Edgar dan Lara saling menatap dengan wajah yang terkejut.
"Kak bagaimana ini?" Tanya Lara dengan bingung.
"Kau buka pintunya aku akan bersembunyi." Edgar bergegas lari menuju bathroom, namun langkahnya terhenti saat teringat sesuatu. "Ingat jangan mengatakan apa pun!" Karena ia tahu Lara selalu keceplosan dalam berbicara.
"Iya," Lara memberikan isyarat agar Edgar cepat bersembunyi karena melihat pintu kamarnya di buka dari luar.
"Lara kau sudah tidur?" Rose masuk ke dalam kamar adiknya sembari menyalakan lampu.
Lara pun dengan sigap turun dari ranjang dengan memakai outer berbentuk kimono sambil bernapas lega saat melihat Edgar sudah masuk ke dalam bathroom sebelum lampu menyala.
"Aku belum tidur, kenapa kak?"
"Tadi aku mendengar suara teriakan dari dalam kamar mu, kau baik-baik saja?" Rose menatap keseluruh sudut kamar.
Sebenarnya Rose mendengar suara teriakan Lara sejak tadi, namun ia baru bisa mengecek keadaan adiknya setelah selesai berbicara dengan seseorang yang penting melalui sambungan ponselnya.
"Oh.. tadi aku berteriak karena terkejut melihat ada kecoa di dalam bathroom." Bohong Lara dengan gugup.
Sementara Lara menepuk keningnya sendiri saat menyadari kebodohan yang baru saja dilakukannya. Ia lupa Rose adalah wanita yang menyukai kebersihan, jadi kakaknya itu tidak akan tinggal diam jika mengetahui atau melihat seekor serangga.
"Kak!" Dengan cepat Lara menarik tangan Rose yang sudah membuka pintu bathroom. "Tadi kecoa nya sudah aku injak dan aku buang ke dalam toilet."
"Benarkah?" Tanya Rose dengan tak yakin karena setahunya Lara begitu takut dengan kecoa. Apalagi adiknya itu terlihat gugup seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tentu saja." Lagi-lagi Lara berbohong.
"Ya sudah." Rose hendak masuk kedalam bathroom.
"Kak kau mau apa?" Lara menutup pintunya dengan cepat agar Rose tidak masuk ke dalam.
"Aku ingin cek, siapa tahu—"
"Kak malam-malam begini kau belum tidur pasti sedang menonton drama Korea?" Lara berusaha mengalihkan perhatian Rose.
"Oh my God, aku lupa meninggalkan oppa ku." Rose yang teringat pada film yang sedang ditontonnya segera keluar dari kamar adiknya.
Lara pun kini bisa bernapas dengan lega karena Rose tidak jadi memergoki Edgar yang bersembunyi di dalam bathroom. Dan setelah kejadian malam itu entah mengapa Edgar berubah seperti menghindarinya.
Flashback off.
"Lara ..." Panggil Julia sembari menepuk pundak adik iparnya, karena sejak tadi Lara diam saja padahal karyawan butik sudah memanggil nama gadis itu berulang kali.
"Iya kak," Lara yang terkejut menatap bingung pada sekitarnya.
"Cobalah gaunmu!" Ucap Julia.
"Gaunku?" ulang Lara dengan bingung.
"Iya, gaun yang akan kau kenakan dihari pernikahan kami. Aku sudah menyiapkan untukmu dan untuk kedua kakakmu, tapi sayang Rose dan Lily tidak bisa ikut untuk mencoba gaun mereka." Jelas Julia dengan tersenyum.
Berbeda dengan Lara yang justru terkejut karena ia dan kedua saudarinya ternyata sudah disiapkan gaun oleh Julia. Padahal dirinya tidak dekat dengan wanita itu, apalagi Rose dan Lily pun tidak pernah bertemu dan mengenal Julia jadi bagaimana bisa wanita itu mengetahui keberadaan ke-dua kakaknya.