
hollaaaaa....
happy reading!
••••
"Krys, aku laper."
"Kamu mau makan apa?"
"Em..." Kai berpikir sejenak. "Makan yang pedes-pedes gitu tapi ada kuahnya."
Krystal yang sedang berselonjor di atas ranjang segera menoleh ke arah sang suami. Kai duduk di sebelahnya dengan segelas teh hangat di tangan.
Beberapa menit yang lalu, lelaki itu baru saja memuntahkan semua isi perutnya setelah rasa mual menyerangnya. Morning sickness benar-benar menyiksa Kai.
"Loh ... tumben?" tanya Krystal mengernyit. "Bukannya kamu gak suka makanan pedes ya?"
"Gak tahu, kok tiba-tiba aja aku kepengen ya?"
Semenjak kehamilan Krystal yang kedua ini, Kai menjadi berubah, mulai dari selera makan sampai selera wangi parfum. Kai tidak bisa mencium bau amis dan memakan nasi. Jika dipaksa Kai pasti akan muntah.
"Kamu ngidam?" Krystal terkekeh geli. Astaga, kenapa kehamilan keduanya ini malah Kai yang kesulitan. Mulai dari mual-mual, ngidam, dan mood swing. "Ya ampun, kok jadi kayak kamu yang hamil sih?"
Kai merengut. "Jangan negeledek. Aku udah gak kuat nih muntah-muntah terus, mana gak ada makanan yang bisa masuk ke perut aku." keluhnya.
Krystal mengusap lengan Kai, lalu naik mengusap pipinya. "Jangan ngeluh dong ... katanya mau Kesya, kalo gitu kamu harus nikmatin prosesnya."
Kai mengangguk, menghambur memeluk perut Krystal, dan mencium baby yang masih ada di dalamnya. "Kamu dulu gini gak sih waktu hamil Kean?"
"Hm ... semua ibu hamil memang gitu."
Kepalanya mendongak, mempertemukan pandangan mereka. "Kasian ... berarti kamu ngelewatin ini sendirian dong."
Krystal membalasnya dengan senyuman. "Kan gak lama, kamu juga bantu aku saat itu."
"Iya." Pelukan tangan Kai di pinggang Krystal semakin erat. "Maaf ya sayang, aku gak masalah kalo sekarang aku yang kayak gini. Biar kita sama-sama ngerasain."
"Aku yang harusnya minta maaf, jadi kamu yang sekarang mual-mual."
Kai melepas pelukan itu, mengecup bibir Krystal sekilas. "Gak dong, aku kan kuat. Mual-mual aja gak masalah."
"Yakin?" Krystal mengerutkan sudut matanya. Tidak percaya dengan ucapan Kai.
"Yakin." jawab lelaki itu tegas.
"Awas ya ngeluh lagi." ancam Krystal sembari menjawil hidung Kai, lalu mengecup nya sekilas. "Kalo ngeluh nanti aku gigit."
Mendengar itu membuat otak kotornya bekerja cepat. Kai tersenyum penuh arti menatap Krystal. Bibirnya tertarik tinggi menyerupai seringai.
"Asik, gigit sekarang dong sayang." ujarnya seraya mendekati Krystal, menyudutkan perempuan itu pada kepala ranjang. "Gigit sampe kamu puas aku gak masalah."
"Jangan ngaco. Otak kamu tuh."
"Kata dokter gak apa-apa kok, asal pelan-pelan." Kai berujar sembari mengecupi leher Krystal.
Krystal mengerang pelan, seraya memejamkan matanya. "Tapi gak boleh sering-sering, semalem kan udah." lalu mendesah lembut.
Krystal tahu, tidak ada kata sebentar di dalam kamus Kai kalau mengenai urusan ranjang. Dengan cepat Krystal langsung menahan tangan lelaki itu dan menghentikannya agar tidak melanjutkan aksi mereka. Bukan hanya Krystal, pintu yang terbuka secara tiba-tiba juga menghancurkan imajinasi Kai saat itu juga.
Di depan sana, anak laki-laki mereka masuk ke dalam dengan suara tangis yang cukup nyaring. Keduanya terlihat bingung. Setahu mereka, Kean tadi sedang bermain dengan Naira, lalu kenapa sekarang menangis seperti itu
"Bundaaaaa."
Krystal segera mendorong dada Kai, menjulurkan kedua tangannya ke arah Kean. "Anak bunda kenapa?"
"Tobot x punya aku di rusak Naira." adunya dengan suara isakan.
Kai mendengus. Dasar little devil, ganggu banget.
"Oh anak bunda ..." Krystal memeluknya, membawa anak laki-laki itu ke atas pangkuannya. "Gak apa-apa, Naira kan masih kecil."
"Tapi Naira nakal, aku gak mau punya adik seperti Naira."
Baik Kai maupun Krystal, mereka langsung melemparkan pandangan kaget ke arah satu sama lain.
"Naira gak nakal, sayang. Semua anak kecil memang seperti itu." bujuk Krystal.
"Tapi aku gak mau. Aku gak mau punya adik, bunda."
"Gak bisa gitu dong." Kai menyela dan sedikit nyolot. Masa sama anaknya saja dia nyolot? "Di perut bunda udah ada adeknya Kean, jadi Kean harus mau punya adik."
Krystal dengan cepat mencubit perut sang suami. "Jangan gitu ngomongnya."
"Lagian—"
"Aku gak mau, ayah." Kean hampir berteriak mengatakan itu. Tangisnya tidak juga berhenti. "Aku gak mau punya adik."
Suara tangisan Kean semakin terdengar keras. Anak itu meraung sembari memeluk tubuh Krystal dengan erat. Terlihat sekali raut kesal dan sedih di wajahnya.
"Ya udah, nanti kita beli lagi tobot x nya, ya." bujuk Krystal, berusaha menenangkan sang anak.
Dan berhasil. Kean melepas pelukan itu, namun tidak menghentikan tangisnya. "Dua ya, bunda."
"Jangan dimanja, Krys." sahut Kai.
Krystal mendelik kesal. "Siapa yang suka manjain Kean?"
"Ya kan kamu bilang jangan suka manjain Kean."
"Awalnya karena siapa? Kamu yang mulai sampe Kean jadi manja gini." geram Krystal. "Coba dengerin aku dari kemarin-kemarin."
"Kan aku juga udah minta sama kamu kasih Kean adik biar dia gak manja." balas Kai tidak mau kalah.
"Sekarang buktinya dia gak mau adik."
Kean memandangi kedua orang tuanya dengan bingung. Bahkan tangisnya sampai berhenti. Jadi, sebenarnya mereka sedang berbicara apa? Kenapa mereka berdua malah sibuk berdebat?
••••
ini apa sih?? hahaha nikmatin ajalah yaaa. kalo bosen boleh out kok wkwkwk