
Raline terbelalak melihat seorang pria yang kini tengah menggenggam pergelangan tangannya dan menahannya untuk mencabut pecahan gelas itu. Mengapa dia ada di sini bersamanya? Dimana ini? Beberapa pertanyaan berputar di dalam pikirannya, seakan melupakan rasa perih pada telapak kakinya.
Tiba-tiba Kendrick membopong tubuh Raline, Raline terhenyak, Ia sempat berontak dan tidak mau Kendrick menyentuhnya. Namun rasa sakit pada telapak kakinya begitu mencekam, membuat Raline seketika pasrah dengan perlakuan Kendrick kepadanya. Seandainya Ia bisa berjalan sendiri, maka Ia akan menolak di perlakukan seperti ini.
Kendrick menurunkan tubuh Raline di atas ranjang, Raline duduk pada pinggiran ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah. Hal yang membuat Raline semakin terkejut, ketikatiba-tiba Kendrick bersimpuh di hadapannya untuk melihat kondisi kaki Raline.
“Ah, sedang apa kau? ” Raline terhenyak, Kendrick mengalihkan pandangannya lalu menatapnya tajam, membuat Raline menelan ludahnya susah payah.
“Dasar ceroboh! ” Kendrick mengalihkan pandangannya kembali ke arah kaki Raline. “Cepat panggilkan Nathan kemari! ” ujarnya memerintah.
Raline mengeryitkan keningnya, pandangannya mengedar ke setiap sudut ruangan. Siapa yang tengah di ajaknya berbicara? Bahkan di dalam kamar ini hanya ada dirinya dan Kendrick. Apakah pria di hadapannya itu berbicara dengan dirinya sendiri? Apakah dia sudah gila? Raline menipiskan bibirnya, di tatapnya Kendrick dengan begitu lekat.
“Tuan, ”
Raline langsung menatap ke arah seseorang yang baru saja datang, seorang pelayan dan satu pria tampan itu memasuki ruangan. Tidak memerdulikan hal itu, pandangan Raline malah semakin menyelidik ke arah Kendrick. Padahal jelas-jelas tadi Ia hanya berdua dengan Raline, tidak ada orang lain di dalam kamarnya. Namun tiba-tiba, pelayan itu membawa seseorang? Apakah Nathan?
Dia meminta seseorang untuk memanggilkan seseorang bernama Nathan, tapi dia tengaj berbicara dengan siapa? Apakah ada penyadap suara di ruangan ini? Aneh! Pikir Raline.
“Kau memanggilku? ” “Ya, obatilah. ” Kendrick beranjak dari tempatnya dan meminta Nathan untuk segera menangani kaki Raline, takutnya Ia akan mengalami infeksi yang parah jika tidak segera di tangani.
“Ah, apakah kau seorang dokter? ”
Nathan tersenyum tipis, “Tentu saja, Nona. Apakah kau seekor domba yang sedang sakit karena ulah si singa? ” Raline berkerut kening, pandangannya Ia arahkan ke arah Kendrick.
“Ck, singa? Hanya seekor kucing liar! ” ujar Raline dengan nada rendah, Nathan hanya menggelengkan kepalanya perlahan sembari tersenyum geli.
Raline tahu dari tempatnya duduk, Ia tengah di awasi oleh sepasang mata tajam dan mematikan. Siapa lagi jika bukan Kendrick? Ia bahkan tidak membiarkan Raline berada di dalam kamar sendiri ketika dirinya di obati. Malah dengan tenang Kendrick menyaksika. proses pengobatan Raline.
Nathan mulai menyiapkan peralatannya yang sebelumnya sudah di sterilisasi menggunakan cairan khusus, Ia juga mengenakan sapu tangan terlebih dahulu sebelum mengobati luka Raline.
“Aku akan menyuntikkan obatnya terlebih dahulu agar kau tidak merasakan sakit ketika pecahan kaca ini di cabut dari telapak kakimu. ” ujarnya sembari menyiapkan satu jarus suntik dengan obat khusus di masukan ke dalamnya.
“Tidak usah! ”
Refleks Raline dan Nathan memandang ke arah Kendrick, Raline berkerut kening malas ketika menatapnya.
“Tidak usah memberikannya obat terlebih dahulu! Dia adalah wanita yang kuat, buktinya tadi Ia hendak mencabut serpihan itu dengan tangannya sendiri. ”
Mata Raline membulat, Ia tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut singa itu. “Heh, kau bercanda? Sudahlah, lanjutkan saja, Dok! ” Raline menatap ke arah Nathan dan memintanya untuk melanjutkan pengobatannya, namun Ia kembali di buat terkejut ketika Nathan menyimpan kembali jarum suntik yang sebelumnya sudah Ia persiapkan.
Raline mengalihkan pandangannya ke arah Nathan, tatapannya seolah mengatakan 'tolong aku, dan jangan dengarkan dia!'. Namun Nathan, dokter tampan itu malah bersiap untuk mencabut serpihan itu pada telapak kaki Raline.
Raline meringis, merasakan benda itu tertancap pada kakinya saja sudah sangat sakit. Dan bagaimana rasanya jika benda itu tercabut dari kakinya? Hanya dengan membayangkannya saja, sudah membuat Raline nyaris pingsan.
“Bukankah tadi kau hendak melakukannya dengan tanganmu sendiri? Mengapa sekarang kau menangis? ” Kendrick masih dengan suara datarnya, membuat hati Raline terasa semakin teriris. Sakit! Tega sekali dia!
Raline meraih bantal di sampingnya, wajahnya Ia tenggelamkan dalam-dalam pada bantal tersebut. Air mata terus bercucuran membasahi wajah cantiknya. Rasanya frustasi sekali.
“Siapkan dirimu, Nona. ” Raline semakin kalut ketika mendengar ucapan dokter tampan di hadapannya.
Raline merasakan sesuati tengah menusuk telapak kakinya, Ia memejamkan matanya erat dan semakin menenggelamkan wajahnya dalam pada bantal yang di pegangnya. Sementara tangisnya terus terisak tak karuan, tidak sakit, maksudnya belum terasa sakit. Yang membuat Raline menangis adalah perlakuan kejam dari Kendrick. Pria itu ... begitu kejam dan membuatnya gila!
Selang beberapa menit, Raline tak kunjung merasakan sakit pada telapak kakinya. Kenapa lama sekali? Apa dokter itu sengaja mempermainkannya agar terasa lebih menyakitkan lagi?
“Baiklah, sudah selesai. ”
Raline mengerjapkan matanya, Ia langsung mengalihkan bantal yang sedari tadi sibuk menutupi wajahnya. Raline melihat kakinya sudah di perban dengan begitu rapih.
“Mengapa kau memperbannya? Kau bahkan belum mengeluarkan serpihan itu! ” protes Raline.
“Ck, kau terlalu sibuk menangis. Sehingga kau tidak menyadari bahwa prosesnya telah selesai. ” ledek Kendrick, dan Nathan hanya menggelengkan kepalanya sembari terkekeh pelan.
“Apa kau ... aah! Tega sekali kau! ” Raline melemparkan bantal yang tengah di pegangnya itu ke atas lantai. Bodoh! Kata yang sukses mewakili dirinya saat ini. Ya, Raline terlihat begitu bodoh di hadapan dua orang pria sekaligus. Mengapa bisa ... di bodohi seperti ini?
Kendrick beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Raline, “Istirahatlah dengan tenang. ” ujarnya sembari tersenyum simpul ke arah Raline. Setelahnya, Kendrick ke luar ruangan dan di ikuti oleh Nathan yang berjalan di belakangnya.
“Sialan! Jaga ucapanmu itu! Kau tidak sedang menghadiri upacara pemakaman! ” protes Raline dengan suara yang begitu lantang. Sementara Kendrick tersenyum puas setelah mengerjai gadis bodoh itu. Ya, gadis bodoh dan ceroboh.
***
Tawa Kendrick memecah keheningan, Ia merasa puas setelah mengerjai gadis itu. Gadis malang yang sudah dengan mudahnya Ia bodohi. Ck!
“Dimana kau mendapatkan gadis itu? ” tanya Nathan, lalu menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelasnya.
“Wanita yang tidak di harapkan, ” Kendrick menggelengkan kepalanya dengan bibir yang terus saja tersenyum lebar.
“Tidak sia-sia aku melewatkan pesta kepulanganmu, itu tidak akan sebanding dengan hari ini. ” ujar Nathan, wajahnya terus saja menampilkan tawa tak kalah dari Kendrick. “Gadis luar biasa yang mampu berkata kasar dan terang-terangan mengumpatmu seperti itu! Ck. ”