
" Bibi Jamie " panggil Elin sambil berjalan keluar dari dalam kamar tempat ia tidur tadi malam , " Good morning cantik " ucap Larry yang sudah duduk di kursi meja makan dan Jamie terlihat begitu sibuk di dapur.
" Hay , kau sudah bangun " ucap Jamie tersenyum dan terlihat begitu bersemangat.
" Duduklah " sambungnya lagi.
" Maaf aku terlambat " ucap Elin begitu sungkan dan bergabung dengan Jamie di dapur.
" Tidak apa-apa , aku memang sengaja tidak lagi membangunkanmu "
" Apa sebelumnya bibi telah membangunkan aku ? " tanya Elin begitu malu dan Jamie mengangguk dengan tersenyum , " kau tertidur begitu nyenyak " jelasnya.
" Seharusnya bibi tetap membangunkan aku "
" Aku tidak setega itu ,duduklah "
" Aku begitu tidak tahu diri " ucap Elin dan berjalan menuju meja makan karena Jamie juga sudah selesai dengan pekerjaannya di dapur.
" Apa paman sudah mau berangkat kerja ? " tanyanya pada Larry ," ya nona "
" Apa aku boleh ikut pulang bersamamu ? "
" Tentu "
" Apa ada yang ingin kau lakukan hari ini ? " sambung Larry , " tidak paman , bahkan aku begitu tidak bersemangat untuk pulang ke apartemenku "
" Kalau begitu tetaplah disini " sambung Jamie.
" Jika kau tidak keberatan , apa kau mau menemani bibi kepasar " ajaknya lagi.
" Tentu , itu pasti akan sangat menyenangkan " ucap Elin tak kalah bersemangat , " tapi disana sangat kotor" ujar Jamie.
" Kotor itu lebih baik " sahut Elin tertawa.
" Darimana kau mendapatkan kalimat kiasan itu Nona " sambung Larry yang merasa tidak masuk akal , " lupakan , itu hanya promosi iklan deterjen dari negaraku " jelasnya tidak berhenti tertawa.
" Kau begitu lucu " ucap Larry , " jadi apa kau akan pulang ? " tanyanya lagi.
" Tidak , penawaran bibi lebih menggoda dari tempat tinggalku " sahut Elin.
" Berhenti mengajaknya bicara Larry , sejak tadi dia belum menyentuh sarapannya karenamu " ucap Jamie , membuat Larry melipat bibirnya dan Elin segera melahap Sandwich di hadapannya.
Namun tiba tiba ia terdiam dan menatap begitu berarti pada Sandwich yang baru saja tergigit oleh giginya , dan membiarkan potongan makanan itu tanpa terkunyah dari dalam mulutnya , " ada apa ? " tanya Jamie melihat Elin terdiam , " tidak bibi , aku hanya menjadi teringat seseorang " ucap Elin tanpa sadar.
" Emm ..maksudku hanya.. " lanjutnya begitu gugup setelah menyadari apa yang baru saja ia pikirkan , " Apa dia orang yang begitu spesial ? " tanya Jamie tersenyum , namun pertanyaan itu justru membuat Elin terdiam dan menghela nafasnya.
" Kau terlihat begitu mencintainya " sambung Jamie dan Elin mengalihkan tatapannya pada wanita paruh baya itu , " Benarkah , apa itu begitu terlihat ? " sambung Elin tersenyum kecut.
" Tidak , aku hanya pernah mendengar seorang inspirator berkata seperti ini , jika kau mengingat seseorang karena suatu hal dan kemudian kau bersedih , itu berarti dia begitu berharga di hatimu , dan apa yang dia katakan itu benar , setiap aku melihat benda yang bersangkutan dengan kenangan puteri-ku , aku selalu saja menjadi sedih dan ya dia juga benar karena puteriku memang sangat berharga " ucap Jamie dengan tersenyum begitu teduh.
" Ya dia memang begitu berharga untukku tapi aku tidak tahu seperti apa aku baginya " gumam Elin lemah.
Jamie dan Larry saling melempar pandangan , saat melihat Elin menundukkan wajahnya , " Hari ini Sandwichmu begitu Enak " ucap Larry tiba tiba , " Maaf nona sepertinya aku juga harus mengambil bagianmu " sambungnya mengambil bagian Elin.
" Larry , kenapa kau begitu rakus " teriak Jamie pada suaminya.
" Kau dengar ,dia mengatakan tidak apa-apa " ucap Larry membela diri , padahal yang ia lakukan hanyalah untuk mengalihkan situasi yang mulai terasa sedikit menyedihkan.
" Tapi dia baru saja mengambil satu gigitan "
" tidak apa-apa bibi , kita bisa membuatnya lagi " ucap Elin ," ya dia benar Jamie , dan lagi Sandwich ini telah membuatnya sedih jadi aku harus melenyapkannya " ucap Larry membuat Elin menjadi tertawa dan Jamie hanya bisa menggelengkan kepala karena tingkah konyol suaminya.
~
" Apa ini persediaan untuk makan satu pekan bibi " ucap Elin saat menyadari begitu banyak kantong yang mereka bawa , " kau tidak tahu seberapa banyak pamanmu makan setiap hari , mungkin ini hanya cukup untuk tiga hari " jelas Jamie sambil menurunkan belanjaannya dari dalam taksi yang membawa mereka pulang dari pasar kota ,
" Benarkah ? " tanya Elin begitu terkejut.
" Terimakasih pak " ucapnya pada sopir taksi yang membantu menurunkan semua belanjaan mereka , " ini begitu menyenangkan " ucap Elin tersenyum sambil menikmati langit sore dan pohon yang begitu rindang di halaman rumah Jamie dan Larry.
" Apa kau tidak lelah ? " tanya Jamie yang merasa kasihan melihat Elin yang kerepotan karena harus mengikutinya kesana kemari dan membawa begitu banyak belanjaannya.
" Tidak ini menyenangkan bibi " sahutnya.
" Benarkah , padahal aku yakin kau tidak pernah melakukan ini " ucap Jamie dan Elin hanya tersenyum sambil terus menikmati udara sore kota New York , " bibi sepertinya ada yang datang " ucap Elin saat melihat seseorang sedang duduk di anak tangga pintu rumah Jamie.
Bibir Jamie tersenyum dan berjalan begitu cepat menuju rumahnya , " kenapa kau baru datang hari ini huh ? " ucapnya saat berada begitu dekat pada pemuda yang memang sedang menunggunya sejak tadi , " maafkan aku bibi kemarin aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku " jelas pemuda itu berjalan mendekat pada Jamie , " aku sudah menunggu bibi sejak tadi " lanjutnya mengambil alih barang belanjaan yang berada di tangan Jamie.
" Bukankah ini masih jam kerjamu ? "
" Ya , aku meminta pulang lebih awal "
" Dasar anak nakal " ucap Jamie kesal , namun ia terlihat begitu senang.
" Oh maafkan aku " ucapnya lagi saat tersadar ia hampir saja melupakan keberadaan Elin ,
" Kemarilah nak , kau juga harus berkenalan dengannya " ucap Jamie menarik tangan Elin yang sudah tertegun.
Jamie sedikit kebingungan saat melihat Elin dan pemuda di hadapannya saling bertatapan tanpa bicara , " Apa kalian sudah saling kenal ? " tanyanya.
" Emmm..ya , kita teman satu kantor bi " jelas Elin begitu gugup , karena tidak akan menyangka jika akan bertemu David dirumah Jamie.
" Oh astaga, ternyata kota ini begitu kecil " ujar Jamie tertawa dan Elin hanya bisa tersenyum kecut karena David tidak berhenti menatap kearahnya.
" ini sangat baik jika kalian sudah saling mengenal " ucap Jamie sambil membuka pintu rumahnya.
David masih tidak kembali bicara walau ia sudah berada di dalam rumah Jamie dan duduk tidak jauh dari dua wanita yang sedang sibuk dengan barang-baranan belanjaan mereka dan matanya tidak berhenti menatap pada wanita yang hari ini cukup mengalihkan pikirannya dengan kabarnya yang sedang sakit.
" David bisa kau bantu bibi " panggil Jamie dan laki-laki itu berjalan mendekat kearahnya , " apa kau hanya akan diam melihat perempuan cantik yang sedang bersusah payah huh " ucap Jamie sambil menunjuk kearah Elin yang terlihat sedang kesulitan meletakan beberapa belanjaan mereka di tempat yang letaknya memang lebih tinggi dari tubuhnya.
David tidak berbicara namun ia sudah bergerak menuju Elin , " Aku pikir kau benar benar sakit " ucapnya sambil mengambil alih benda dari tangan Elin dan meletakkan di tempatnya ,
" Ya , aku memang sedikit tidak enak badan " ucap Elin memutar tubuhnya , namun ia begitu terkejut saat menyadari tubuhnya terkurung oleh tubuh David yang berada begitu dekat dengannya , bahkan aroma maskulin laki-laki itu bisa tercium dengan sempurna oleh hidungnya.
" Tapi kau terlihat baik baik saja " ucap David menatap begitu dalam mata Elin , membuat perempuan itu harus menelan paksa ludahnya karena merasa begitu nervous.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚