
Reza menghela nafas saat menyadari ada hal yang harus ia selesaikan bersama tatapan mata semua orang yang terus melihat kearah dua orang yang baru saja pergi , " tolong semuanya bubar " pinta Reza membuyarkan semua orang.
" Reza , apa hubungan tuan Daniel dengan Karyawan magang itu ? " tanya Sam yang tidak kalah penasaran , " kau sangat tidak sopan Mr.Sam " ucap Reza membuat laki-laki paruh baya itu kembali terdiam.
Reza kembali menghela nafas , ia tidak mungkin meninggalkan semua orang dengan pikiran yang bukan-bukan tentang Daniel dan juga Elin , " emm.. tolong perhatian untuk semuanya " ucapnya lantang.
" Tolong jangan berasumsi yang tidak-tidak dengan apa yang baru saja terjadi , kalau kalian tetap ingin bekerja disini " ancamnya , karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meredahkan omongan semua orang nanti , dan ia tidak bisa menjelaskan lebih lanjut karena tidak ada perintah untuk melakukan itu.
~
"Daniel lepaskan tanganku "
" Daniel "
" Ada apa denganmu ? " tanya Elin , setelah tangannya terlepas oleh pegangan erat tangan Daniel ,
laki-laki itu tidak bicara , namun segera mengambil handphonenya dan mengarahkan benda itu ke telinga " hallo Reza , tolong bawa kotak obat keruangan saya sekarang juga " pintanya, lalu kemudian duduk di kursi kerjanya dan tanpa bicara sepatah kata pun , " hey apa kau marah ? " tanya Elin mendekat , namun laki-laki itu tetap diam dengan menyenderkan tubuhnya di senderan kursi , " maaf tuan, ini kotak obat yang anda minta " ucap Reza yang baru saja masuk kedalam ruangan yang nampak hening.
" Letakan disana ? " kata Daniel sambil menunjuk kearah meja soffa di ruangannya.
" Apa ada lagi yang anda butuhkan tuan ? " tanyanya , namun Daniel tidak menjawab dan ia cukup paham kalau keadaan di antara sepasang kekasih itu sedang tidak baik-baik saja, " anda bisa menghubungi saya jika ada yang di perlukan lagi " lanjutnya sebelum beranjak.
" Terimakasih" ucap Elin dan laki-laki itu mengangguk dan tersenyum dengan begitu ramah.
Elin terkejut saat tangannya tiba-tiba kembali di tarik , lalu tubuhnya di dudukan di soffa tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu,
dan matanya di buat terpanah oleh perlakuan laki-laki dingin yang sejak masuk ke dalam ruangan belum berbicara sepatah kata pun,
" ssshhhhh "
" Perih ? " tanya laki-laki itu dan ia mengangguk.
" Aku akan lebih hati-hati " ucapnya lembut namun masih terasa begitu dingin.
" Aku tidak apa-apa Daniel " ucapnya , sambil menarik kembali tangannya.
" Tidak apa-apa katamu " bentak Daniel yang kembali emosi , " kau lihat kulitmu sudah memerah seperti ini dan kau bilang tidak apa-apa " tambahnya dengan semakin meninggikan suaranya.
" ini sungguh tidak sakit Daniel , aku justru lebih sakit jika kau mendiamkan aku " ucap Elin , membuat raut wajah Emosi di wajah laki-laki itu memudar dalam sekejap dan berganti dengan senyum yang tertahan.
" Diamlah " ucapnya pura-pura kembali dingin.
" Apa kau marah padaku ? " tanya kembali Elin , saat yakin kalau emosi laki-laki itu sudah meredah , " tidak " jawabnya singkat.
" Kau berbohong " ujar Elin sengaja, namun laki-laki itu tampak tak merespon dengan terus mengobati luka lecet di tangannya , " Sayang " panggilnya dengan begitu manja dan untuk kali ini laki-laki itu bereaksi , terlihat dengan ia menarik nafas dan menatap kearahnya , " apa kau marah padaku " ulangnya dengan begitu pelan.
" Aku tidak bisa terus berdiam diri melihat kau terus di sudutkan disana , di tambah lagi dengan adanya super hero kesiangan itu " ujarnya kembali kesal dan Elin hampir saja tersedak saat Daniel menyebut Hero kesiangan dan ia tahu yang di maksud darinya adalah David.
" Aku akan memecat Sam dan anaknya " tambahnya , yang membuat Elin menjadi kalang kabut , " jangan lakukan itu "
" Kenapa , mereka telah menyakitimu dan aku tidak terima "
" Jangan membawa urusan pribadi di dalam pekerjaan sayang , pertengkaran aku dan Sharen tidak ada hubungannya dengan pekerjaan mereka "
" Kenapa kau begitu baik huh , dia sudah membuat kau terluka seperti ini "
" Orang lain akan curiga padaku jika kau melakukan itu " kata Elin berusaha menasehati laki-laki itu dengan tenang , " aku tidak peduli dan biarkan saja mereka tahu "
Elin menghela nafas , dan begitu bingung untuk berbicara seperti apa lagi untuk menenangkan laki-laki itu , " mereka tidak tahu aku kekasihmu " ucapnya.
" Kalau begitu biarkan mereka tahu "
" Daniel "
" Jangan membalasku seperti itu "
" Kau yang pertama kali melakukannya " sahut Daniel tak mau kalah.
" Sayang please , aku mau menikmati masa magangku disini dengan baik , semua akan berbeda jika mereka mengetahui aku kekasihmu "
" Apa kau tidak senang menjadi kekasih dari orang sepertiku Elin " ucap Daniel kecewa.
" Bukan seperti itu sayang , tolong dengarkan aku baik-baik "
" Apa yang sulit jika semua orang tahu kau kekasih Daniel Remkez dan cepat atau lambat mereka juga pasti akan tahu "
" Kalau begitu biarkan mereka tahu nanti , untuk sekarang aku ingin kita seperti orang asing di mata karyawan lain "
" Saat aku menarik tanganmu , aku yakin semua karyawan lain sudah curiga apa hubungan kita "
" Aku bisa berkilah dengan mengatakan kalau aku teman adikmu "
" Baiklah , terserah padamu " ucap Daniel yang terlihat begitu kecewa , " jangan marah " kata Elin yang langsung memeluk pingang laki-laki itu , " untuk kali ini saja , setelah itu aku tidak akan lagi berkilah jika mereka kembali curiga tentang hubungan kita"
" Apa kau menyembunyikannya karena laki-laki itu "
" Laki-laki " ulang Elin bingung , namun otaknya segera menangkap siapa yang dimaksud oleh kekasihnya ," jangan gila sayang , kau lihat mataku" pintanya sambil memutar tubuh laki-laki itu untuk kembali menghadap kearahnya , " kau lihat , apa mungkin aku melakukan itu " ucapnya begitu serius.
" Aku tidak tahu seperti apa isi hatimu "
" Tapi aku yakin , kau pasti tahu sebesar apa perasaanku padamu "
" Ceh , kau selalu saja bisa membuat aku mengalah " ujar Daniel lemah dan tanpa menunggu Elin kembali memeluk tubuh gagah itu dan merengkuhnya dengan begitu kuat , " untuk sekali ini saja " kata Daniel memberi peringatan dan Elin mengangguk setuju.
Cup " Daniel mencium dahi perempuan itu sedikit lebih lama dan membalas pelukannya dengan tidak kalah erat , " aku senang bisa bekerja dan terus bisa melihatmu " ucapnya sambil menatap dua bola mata yang mengadah kearahnya , " aku juga senang "
Klek " pintu tiba-tiba terbuka mambuat Elin segera berhamburan dari pelukan Daniel , " maaf tuan " ucap Reza menyesal dan mengutuk ke bodohannya sendiri yang masuk kedalam ruang kerja Daniel tanpa mengetuk terlebih dahulu , ia lupa kalau sekarang dirinya tidak lagi bisa seenaknya untuk masuk , apa lagi jika ada Elin disana.
" Maaf nona " ucapnya lagi pada Elin.
" Tidak apa-apa , silahkan lanjutkan urusanmu " sahut Elin , lalu kembali mendekat pada Daniel.
Cup " ia mencium singkat pipi laki-laki itu dengan malu-malu , " aku keruanganku " pamitnya.
" Tapi kakimu belum di obati "
" Kita bisa melakukannya nanti "
" Kalau begitu kita harus pulang bersama " ucap Daniel dan Elin mengangguk setuju ," asal kau tidak meminta aku menjemputmu di pintu lobby " ucapnya tertawa , lalu berjalan menuju pintu , namun sebelum itu ia masih menyempatkan menganggukkan kepalanya pada Reza.
" Bye " pamitnya , yang sengaja mengoda kekasihnya dengan tersenyum begitu nakal , membuat laki-laki itu harus melihat bibirnya untuk menahan diri agar tidak terus tersenyum , " maaf tuan , apa sudah bisa saya bicara " ucap Reza , yang sedikit jengah dengan suasan romantis antara tuan dan kekasihnya itu , yang membuat hatinya yang kesepian meringis.
" Kau juga harus punya kekasih sepertiku Reza " ucap Daniel tiba-tiba.
" Bagaimana aku bisa mencari kekasih , kalau siang dan malam aku terus di repotkan oleh pekerjaanmu " gerutunya kesal.
" Kau mengatakan apa Reza ? "
" Tidak tuan , hanya saja anda dan nona Elin terlihat begitu serasi " kilahnya ,
" terimakasih Reza " ucap Daniel yang tidak tahu jika asistennya itu sedang mengumpat padanya.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚