Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Kau Harus Di Hukum


Semua orang tidak lagi gaduh pada pasal Elin yang tadi sempat hilang, tapi kini berganti menjadi gaduh karena pakaian yang di gunakan perempuan itu. Bahkan mereka sampai lupa, kenapa sebab perempuan itu datang ke kantor polisi. Dan Tama mengambil kesempatan itu untuk kabur dari semua orang.


" Maaf sayang aku sungguh buru-buru tadi ", ucapnya Elin pada Daniel,wajahnya di buat sememelas mungkin. Menyadari sorot mata lelaki itu memandang tajam padanya. Dan semua orang ikut terdiam setelah menyadari itu. Green nyaris merasa bulu kuduknya berdiri ketika ikut melihat pada sorot mata Daniel.


" Kau ", erang Daniel, tanpa peduli dengan kehadiran semua orang, bahkan dengan mertuanya sendiri. Dia mengangkat tubuh Elin, lalu membawa perempuan itu pergi dari ruang tamu, dan tak peduli perempuan itu mengerang di balik punggungnya, " kau harus di beri pelajaran ", ucapnya marah.


Sementara semua orang yang semula sedikit ketakutan melihat wajahnya yang kesal, kini menjadi tersenyum, " dahlah ", ucap Nathan tertawa. Kemudian di ikuti istrinya, " Elin Elin, untung saja ini bukan di New York ", katanya tak habis pikir dengan perbuatan sahabatnya sendiri, tapi setelahnya dua tetap tertawa.


" Kau baik-baik saja ? " tanya Alfin panik. Semua orang yang baru saja merasa legah, menoleh saat itu.


" Ada apa ? " timpal Wilna mendekat pada Amel, yang kini sudah memucat dengan wajah yang menahan mual. Yang membuat orang menjadi kembali panik, tangan perempuan itu memegang bagian bawah perutnya, " jus kiwi ku habis ", balas perempuan itu lemah, sambil mengangkat botol besarnya yang sudah kosong.


Green menarik nafas, untuk tidak mengumpat pada perempuan itu, " bisakah kau tidak ikut seperti Elin huh ", katanya pelan, tapi sangat di tekankan, dan Amel tersenyum, meski setelahnya dia berlari menuju wastafel terdekat yang berada di dalam rumah keluarga Elin.


" Kalau begitu, ayo kita pulang ! " , ajak Banyu. Wilna mengangguk, " Amel juga harus segera minum jus kiwinya ", katanya memikirkan menantunya, " Naina juga sendiri di rumah ", sambungnya lagi. Dan semua penghuni rumah keluarga Vernandes, beranjak dari tempatnya masing-masing. Termasuk Meili, Viona dan Reymond.


" Maaf sudah membuat kalian panik ", ucap Mala tiba-tiba.


Semua orang terdiam sejenak mendengar itu, lalu kemudian tertawa. Ucapan Mala berhasil memecahkan pikiran semua orang, yang kini menjadi sedikit kesal dengan Elin. Namun, juga legah bersamaan.


" Kami menyayanginya ", ucap Viona dan Wilna mengangguk, " dia sudah seperti anakku, jadi tentu kami semua akan panik saat mendengar berita begini ", katanya menimpali.


" Sebenarnya yang membuat gaduh itu bukan Elin, tapi suaminya ", ucap Meili menyambung, " kita panik, karena dia panik ", katanya lagi. Meski tak bicara, Nathan mengangguk saat itu, dan kemudian tertawa, " hari ini Daniel membuatku seperti bintang film Fast&Furious ", ucapnya dan semua orang ikut tertawa.


" Sebenarnya tadi juga aku lebih khawatir dengan Amel yang membawa mobil ", kata Green menimpali. Meili mengangguk, " hari ini, dia juga hampir seperti bagian bintang film itu".


" Untungnya aku selalu mengingatkan dia untuk pelan ", sambungnya.


" Perempuan itu memang selalu tidak sadar diri ". umpat Green.


" Ini semua karena Daniel ", kata Meili lagi, nampaknya dia orang yang paling kesal dengan kakaknya itu.


" Kalian membicarakan aku ya ", kata Amel yang sudah kembali bersama Alfin.


" Ya karena kau tidak tahu diri ", sahut Green, matanya menatap kesal pada perempuan itu.


" Sudah sudah ", seru Wilna melerai," semua sudah aman, " Elin sudah kembali dan Amel juga baik-baik saja, cuma kehabisan jus kiwinya" sambungnya.


" Memangnya tadi aku kenapa ? ", tanya Amel tak mengerti, " nanya kenapa lagi ",timpal Green yang tidak berhenti kesal, " padahal aku sudah bilang, jangan bawa mobil kenceng-kenceng Mel ", lanjutnya memperjelas, dimana letak kesalahan perempuan itu.Dan hanya tawa cengengesan yang keluar dari mulut Amel, " namanya juga panik Green ", kata membela diri.


" Pak Bimo, Bu Mala, kalau begitu kita pulang dulu ", kata Banyu memulai untuk berpamitan. Dan semua orang kembali beranjak saat itu.


" Tunggu ", kata Green tiba-tiba. Memang selalu seperti itu, perempuan itu selalu menjadi orang pertama yang menyadari sesuatu. Semua orang menatap penasaran padanya, " ada apa lagi sayang ", ujar Nathan, yang nyaris terdengar mengeluh karena semua kejadian yang terjadi hari ini, " apa lagi ? ", katanya lagi.


" Jadi ngomong-ngomong, kenapa Elin ke kantor polisi ", kata Green, yang kemudian kembali menyadarkan semua orang, bahwa ada sesuatu yang belum selesai disana.


" Astaga iya. Kita belum tahu alasan kenapa dia ke kantor polisi ", sambung Viona.


" Daniel sih, belum sempat Elin menjelaskan, sudah di bawa pergi ", kata Meili mengeluh.


" Kau sepertinya sangat kesal dengan kakakmu Meil ", kata Green menimpali, dengan tertawa.


" Karena dia kita semua menjadi panik seperti tadi ",


" ssstttt, itu karena kakakmu panik ", timpal Viona, " nanti kau juga akan seperti itu, kalau tiba-tiba jery tidak ada kabar ", sambungnya lagi. Wajah Meili langsung memerah saat itu juga, " apa sih Mam ", katanya kesal, dan hampir semua orang tertawa, " sekarang aja dia sudah tidak ada kabar ", gumamnya pelan, bahkan sangat pelan sampai tidak ada satu pun orang yang bisa mendengar ucapannya, dan saat itu dia teringat pada lelaki itu.


Mala dan Bimo sedang mencari-cari dimana keberadaan anak kedua mereka.


" Tama dimana ? " ujar Green, yang juga sedang mencari keberadaan lelaki itu.


" Dia sudah kabur ", seru Amel tertawa, " pasti dia penyebab Elin ke kantor polisi ", sambungnya lagi.


" Dia juga anak kami pak ", timpal Viona, dan Bimo tersenyum menanggapinya.


" Kami pulang dulu, kabari kami apa yang sebenarnya terjadi pada menantu ", ucap Reymond begitu kaki, bahkan Amel selalu menahan tawa setiap kali mendengar lelaki paruh baya itu bicara.


" Itu pasti ", balas Bimo.


Semua orang berpamitan untuk pulang, tak menunggu sampai sepasang pengantin baru di rumah itu kembali, " katakan pada Daniel dan Elin, kami pulang ", ucap Viona pada Mala.


" Maaf sudah membuat anda repot ", ucap Mala, wajahnya begitu merasa bersalah,tapi dengan senyum teduhnya, Viona menggeleng, " tidak sama sekali ", sahutnya, sebelum kemudian dia benar-benar pergi dari rumah keluarga besannya itu.


Bimo sudah bergerak menuju tangga di dalam rumahnya, ketika semua orang sudah pergi.


"Ayah mau kemana ? " tanya Mala heran.


" Mau nyari anak lanangmu ", sahutnya dan Mala langsung panik saat itu, dan dengan cepat mengejar langkah Bimo.


~


Sementara di dalam kamar sepasang pangantin baru. Elin sudah terhempas di atas tempat tidur, bulu tubuhnya masih bergidik setiap memandang sorot mata Daniel.


" Aku sungguh buru-buru sayang ", katanya kembali menjelaskan, berharap amarah lelaki itu sedikit meredah.


" Itu kesalahanmu, kau terlalu memikirkan orang lain, sampai tidak sadar dengan keadaan dirimu sendiri ", balas Daniel membentak, bahkan Elin tersentak karena nada bicaranya itu, " aku benar-benar lupa sayang ", katanya lagi.


Daniel menghela nafas Dalam, " coba kau lihat dirimu di cermin ", pintanya pada Elin, nada kerasnya tidak berkurang saat itu. Dan Elin mulai merasa takut. ini untuk pertama kalinya ia melihat lelaki itu sangat marah padanya, " coba lihat ke cermin ", ulang Daniel.


Elin menurut dan mulai bergerak menuju cermin, dan sesampainya, dia menelan ludah, " maaf sayang, sungguh " katanya memohon, bahkan dirinya sendiri malu melihat keadaanya, " aku sungguh terburu-buru ".


" Aku tidak terima alasan itu ", balas Daniel bersungguh-sungguh. Dan Elin terdiam dengan melipat bibirnya.


" Setiap kali kau terburu-buru, apa akan terus seperti ini huh".


" Aku janji, ini tidak akan terjadi lagi ", balas Elin meyakinkan, dan saat ini, dia cukup dewasa untuk memposisikan dirinya. Dan Daniel belum meredah saat kembali melihat ke arah pangkal pahanya, bahkan ia kembali mengerang saat itu, " kau lihat ", katanya menunjuk pada bagian itu, " kau pergi dengan keadaan seperti ini, lihat Elin ". katanya kembali membentak


" aarrrgggh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang saat melihatnya ", katanya lagi, nafasnya mulai tersengal karena menahan emosi, terlebih saat membayangkan tubuh istrinya di lihat semua orang.


" Tidak banyak yang melihat kok ", kata Elin kembali membela diri, " lagian ini juga masih tertutup ", sambungnya.


" Tertutup kau bilang. Kain tipis ini kau bilang penutup ", pekik Daniel, menunjuk pada kain menewarang yang tertambat di pangkal paha Elin.


" Aku tidak bisa membayangkan kalau ini terjadi di New York ", katanya lagi. Mata Elin membesar mendengar itu, " jadi itu yang sebenarnya kau pikirkan ", kali ini bergantian dia yang membentak, membuat Daniel menoleh padanya, " jadi yang kau pikirkan adalah harga diri Daniel.. ",


" Ya harga dirimu ", potong Daniel, sebelum Elin selesai bicara.


" Aku memikirkan harga dirimu bukan diriku " katanya lagi,dan nadanya tidak kalah dari nada bicara Elin," harusnya kau sadar harga diriku ada padamu ", sambungnya lagi. Elin terdiam saat itu juga.


" Kau bukan lagi wanita lajang Elin. Kau seorang istri saat ini ".


" Kau malu karena memperistri perempuan sepertiku ", ucap Elin lemah. Daniel mengerang tertahan mendengar itu, " bisa kau pahami baik-baik ucapanku. Saat ini bukan itu permasalahannya ".


" Lalu apa lagi ?, saat ini kau malu bukan ?. Kau malu karena memperistri perempuan ceroboh seperti aku. Aku tahu Daniel, yang ada di pikiranmu adalah bagaimana kalau ada media New York yang mendapati keadaanku seperti ini, itu yang kau pikirkan. KAU, MEMIKIRKAN HARGA DIRIMU BUKAN HARGA DIRIKU ", teriak Elin.


Mata Daniel membulat sempurna, " kau.. "katanya begitu geram, lalu menyergap bibir Elin, ******* kasar bibir perempuan itu, " Daniel hentikan ", teriak Elin yang tertahan, nafasnya tersengal karena tidak bisa menerima masuk oksigen ke tubuhnya, " please hentikan Daniel ", katanya memohon.


Daniel menurutinya saat itu, dengan melepas lumatannya. Sementara Elin mengambil kesempatan itu untuk menarik dalam-dalam nafasnya, " aku mengigit lidahku Daniel ", pekiknya kesal, matanya memandang tajam pada lelaki itu.


" Lidahmu terlalu banyak bicara yang tidak-tidak ", sergah Daniel yang kembali menyergap bibir Elin dengan kasar, " kau harus di hukum ", ucapnya, dengan ke dua tangannya yang sudah bergerak mengangkat ujung sisi kain hoodie yang Elin gunakan.


" Aku tidak akan menjeda sedetik pun untuk kau menarik nafas ", katanya begitu beringasan, meski sedikit ketakutan, tapi Elin memilih pasrah setiap kali Daniel mengigit-gigit kecil bagian tubuhnya.