
•••
Elin duduk di salah satu kursi taman dengan hembusan angin yang menerpa pada wajah halusnya , ia mengadahkan wajahnya ke arah langit dengan mata yang terpejam , udara yang menyejukan , suara hilir angin dan kicauan burung , benar benar membuatnya tenang , ia lupa kenapa bisa berada di tempat yang menyenangkan ini.
" Bagaimana kabarmu ? " ucap seseorang tiba tiba , dada Elin bergetar mendengar suara yang menyapanya , pelan pelan ia membuka mata dan menemukan tubuh seseorang yang sudah berada di sampingnya , ntah sejak kapan tubuh itu datang.
Elin menegakkan posisi duduknya dan menatap begitu lama pada tubuh yang juga berbalik menatap ke arahnya dengan senyum manis yang begitu ia rindukan , dan tanpa di sadari kedua mata Elin sudah mengeluarkan butiran crystal yang siap jatuh di pipi halusnya.
" Kau sudah berjanji untuk tidak menangis " ucap tubuh yang masih memandang lekat pada Elin , tangan dingin itu mengusap wajah halusnya , menghapus air mata yang tidak bisa tertahan untuk jatuh.
" Berhentilah menangis , aku datang karena ingin melihat kau bahagia " ucapnya lagi , Elin menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berusaha untuk menghentikan tangisannya .
" Ntah datang atau pergi , kau selalu saja tiba tiba " ujar Elin dengan berusaha mengatur nafasnya.
" Aku hanya datang untuk melihatmu tersenyum "
" Tapi justru kedatanganmu membuatku kembali menangis Gery " ucap Elin dengan suara begetar karena kembali menahan isak tangisnya.
" Kau tidak boleh seperti ini , aku tidak akan pernah lagi ada di hidupmu , dunia kita sudah berbeda Elin " ucap lirih tubuh Gery dengan tatapan senduh.
" Dunia kita sudah berbeda " ulangnya dengan penuh penyesalan.
" Aku mohon jangan lagi mengingatku , jangan lagi berpikir kalau aku masih ada , semua tentang kita hanya masa lalu dan tidak akan pernah kembali lagi "
" dan Takdir hidup tidak akan berubah meski kau menangis Elin " lanjutnya dengan wajah yang menunduk.
Tangisan Elin pecah , ia tidak lagi bisa menahan rasa sesaknya , kedatangan jiwa Gery benar benar membuatnya kembali mengingat kepedihan hampir 4 tahun yang lalu , " tidak mudah menjadi aku Gery , aku sudah berusaha untuk bangkit tapi untuk melupakanmu aku tidak bisa " ucap Elin di dalam tangisannya.
" Aku pun begitu , tidak mudah menjadi aku , tidak mudah untuk menerima kalau jiwa sudah berpindah dunia dalam sekejap , sangat menyakitkan saat menyaksikan tubuhku terbujur kaku dan kau menangis di hadapannya , itu sangat menyakitkan Elin , sungguh sangat menyakitkan " ucap Gery yang mulai menangis " tapi ini takdir kita , berakhir tanpa mengucapkan selamat tinggal " lanjut Gery dengan menyekah air mata yang mulai terjatuh.
" Kau harus bangkit , lupakan aku " katanya lagi yang kini menghadap pada Elin " Lupakan aku " ulang Gery.
" Biarkan dia sepenuhnya memiliki hatimu tanpa kau harus ragu untuk menerimanya , kisah kita telah usai dan kau harus memulai kisah cintamu yang baru " ucapnya lagi dengan menatap begitu dalam pada kedua bola mata Elin , " Percayalah aku sangat bahagia saat kau bisa tertawa karenanya , Dia datang bukan untuk menggantikan aku tapi karena Dia takdirmu , Dia Lelakimu yang sesungguhnya "
" Bahagialah Elin , hentikan kesedihan ini dan sekarang waktunya kau untuk bahagia "
" Daniel jodohmu , Dia yang akan meciptakan kebahagian pada hidupmu , jadi mulailah untuk menerimanya dan buatlah cerita cinta yang lebih indah bersamanya melebihi dari cerita kita "
" Kau mengenal Daniel ? "
" Tentu , bahkan aku sudah mempunyai firasat saat pertama kali bertemu dengannya , bahwa pertemuan kalian saat itu adalah awal cerita cinta yang sesungguhnya , makanya aku sangat cemburu waktu itu , tapi aku legah karena Dia orangnya " jelas Gery yang tersenyum begitu damai.
" Kau dan aku bertemu Daniel ? " ujar Elin dengan kedua alis yang saling bertautan karena memikirkan kapan pertemuan itu pernah terjadi.
" Bahagialah Elin , karena aku sangat bahagia bisa mengucapkan ini padamu " ucap Gery sambil mencium ujung kepala Elin , membuat pemilik tubuh memejam kedua matanya.
" Selamat tinggal Elin , Terimakasih telah hadir di cerita singkat hidupku " ucapnya lagi.
Elin segera membuka mata , namun ia tidak lagi menemukan sosok tubuh yang sejak tadi berada di hadapannya , hanya meninggalkan rasa hangat bekas bibirnya di dahi Elin yang masih terasa , namun tubuh itu telah menghilang , benar benar menghilang tanpa meninggalkan bukti apapun atas kehadirannya " jangan tinggalkan aku Gery " ucap Elin yang kembali menangis , dadanya semakin sesak setelah pertemuan singkat ini " Aku mohon jangan pergi " katanya lagi dengan begitu pilu , air matanya semakin tak terbendung untuk jatuh di wajahnya seperti air yang begitu deras mengalir , " kenapa kau begitu tega meninggalkan aku " ucapnya semakin terisak.
" Jangan lagi menangis aku mohon " ucap seseorang tiba tiba , Elin mengangkat wajahnya dengan mata yang masih berlinang air mata " Daniel "
" Ya ini aku , orang yang paling tidak ingin melihat kau menangis " ucap Daniel , tangis Elin kembali pecah dan memeluk tubuh Daniel begitu erat " untuk kali ini aku biarkan kau menangis , tapi aku mohon ini yang terakhir kalinya " ucap Daniel yang membalas pelukan bahkan tangannya tak berhenti mengusap pada rambut Elin " Aku mencintaimu , sangat mencintaimu Elin " ucapnya lagi dengan merengkuh tubuh Elin untuk lebih masuk kedalam dekapannya.
Elin melepas pelukan dan menatap begitu dalam pada wajah Daniel " Apa yang kau katakan itu benar ? " tanyanya dan Daniel mengangguk dengan sangat yakin " Aku sangat mencintaimu , tolong jangan pernah meragukan itu "
" Aku terlalu takut untuk kembali jatuh cinta Daniel , aku sangat takut jika harus kembali kehilangan orang yang aku cintai " ucap Elin kembali menangis.
" Aku mengerti perasaanmu , tapi tidak ada yang salah untuk kembali mencoba membuka hatimu untukku "
" Beri aku kesempatan Elin , buatlah cerita cinta baru bersamaku , aku janji , aku janji akan membahagiakanmu " ucap Daniel bersungguh sungguh bahkan itu sangat jelas terlihat dari tatapan matanya.
" Aku mencintaimu Elin " ucapnya lirih dengan menundukkan wajahnya.
" Aku juga mencintaimu Daniel " ucap Elin
Daniel mengangguk dan kembali memeluk tubuh Elin " Aku sungguh mencintaimu " ucap Daniel dengan senyum yang merekah dari bibirnya.
" Aku juga mencintamu Daniel "
Mata Elin terbuka , dan menemukan dirinya berada di dalam ruang yang begitu ia kenali.
" Apa tadi hanya mimpi " gumamnya sambil mengusap bagian mata yang terasa sedikit perih , ia menatap ke arah kaca besar di samping tempat tidur dan melihat matanya yang sedikit membengkak " Ternyata aku benar menangis " katanya lagi.
" Aku legah , karena kali ini kau pergi dengan mengucapkan selamat tinggal padaku dan ya kau benar Gery , cerita kita sudah usai , terimakasih telah datang untuk menutupnya dengan baik , walau itu hanya di dalam mimpi " gumam Elin tersenyum namun kedua matanya kembali mengeluarkan butiran crystal .
" Ternyata kau sudah bangun " ucap seseorang di balik pintu yang mengejutkan Elin.
" Oh kau Meili " kata Elin sambil mengusap wajahnya.
" Bangunlah Nona , aku sudah menyiapkan makanan untukmu "
" tidak salah saat aku bilang kalau kau yang terbaik , kau memang paling mengerti di kondisi yang tepat " ucap Elin dengan memegang pada perutnya yang mulai berbunyi karena lapar " ceh " desis Meili.
" Bangunlah , atau kau ingin aku membawanya kemari "
" tidak tidak Meili , menikmati makanan yang paling nikmat adalah di meja makan , jadi kau tunggu aku di sana karena aku harus mencuci wajahku sebelum menyantap makananmu " ujar Elin seraya berjalan menuju kamar mandi di dalam kamarnya.
~
" emm.. aku benar benar lapar , dan wangi masakanmu sudah bisa tercium dari sini "
" Berlebihan , cepatlah kemari , aku harap ini tidak mengecewakan dari ekspektasimu " ujar Meili tertawa.
Elin sudah duduk di meja makan , menunggu Meili menyiapkan soup cream jamur untuknya dengan mata yang memandang kesana kemari " apa yang sedang kau cari ? " tanya Meili sambil meletakan semangkuk soup cream di hadapan Elin.
" Tidak ada " bantahnya dan langsung mencoba hidangan buatan Meili .
" ini sangat enak Meili "
" Makanlah dan habiskan " ucap Meili tersenyum.
" Emm.. sejak kapan aku tertidur ? Bahkan aku lupa kapan kita tiba di sini " kata Elin berbicara di sela suapan sendok yang masuk ke dalam mulutnya , " Bagaimana kau bisa tahu kalau kau sendiri sudah tidur di perjalan pulang dari rumah sakit " jelas Meili tertawa.
" Benarkah , apa kau menggendongku "
" Aku memang menyayangimu tapi aku tidak akan mengorbankan tulangku yang hanya untuk mengangkat tubuhmu untuk sampai kemari "
" Lalu bagaimana bisa aku sampai di sini "
" Ya , siapa lagi kalau bukan Daniel yang membawamu " jelas Meili , Elin terdiam sesaat " Lalu dia dimana sekarang ? "
" Apa sejak tadi kau mencarinya " goda Meili , membuat Elin harus menyembunyikan wajah yang sudah memerah karena malu.
" Dia pergi , dan aku tidak tahu kenapa di belum kembali " jelas Meili sebelum Elin kembali berkilah.
" Pergi ? "
" ya , aku rasa kau masih menyimpan kontaknya , jadi tanyakan itu nanti dan sekarang lanjutkan makanmu "
" Aku baru menyadari kalau ternyata kau sangat cerewet Meili " ucap Elin.
" ya kau memang terlambat menyadari " kata Meili yang kembali tertawa , " Makanlah , katakan jika kau masih menginginkannya lagi " lanjutnya dan Elin mengangguk dengan bibir yang tersenyum.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚