Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Penyesalan ( Nathan )


Daniel tidak berhenti tersenyum, menikmati jalanan ibu kota bersama wanita yang ia cintai di sampingnya, " ini kali pertamanya aku membawamu " ucap Daniel pada Elin.


" Hemm.. Ya " sahut Elin bersama wajah yang terlihat cemas.


" Ada apa ? ".


" Aku sedikit takut karena kau yang membawa mobilnya " jelas Elin. Mendengar itu mata Daniel membesar, " apa kau sedang meragukan aku sayang ? ".


" Tidak meragukan. tapi memang kau kurang piawai membawa mobil disini Daniel ".


" Berpegangan sayang " seru Daniel seraya menekan pedal gas. Dan mobil yang ia kendalikan kini melaju dengan kencang membela jalanan kota Jakarta.


Sementara Elin kini diam mematung di sandaran kursi mobil, dengan jantung yang berpacu begitu cepat, " Daniel jangan gila. Ingat sebentar lagi kita akan menikah " teriak Elin.


Mendengar itu dengan cepat Daniel melambankan laju mobil, " maaf sayang aku lupa " ucapnya penuh sesal becampur takut. Karena memang itu yang paling ia takutkan saat ini, yaitu batal menikah.


" Dasar bodoh " geram Elin dengan nafas yang masih menderu.


" Kau menantangku "


" Siapa yang menantangmu. Kau saja yang terpancing ".


" Sama saja itu sayang " kata Daniel membela.


" Tidak. Jangan membela diri Daniel. Kau salah ".


" Ya ya aku salah. Maafkan calon suamimu ini ya sayang " ucap Daniel begitu lembut. Membuat Elin yang semula cemberut langsung tertawa, " ceh, pandai sekali kau merayu huh ".


" itu khusus untukmu "


" Menggelikan Daniel " cercah Elin, dan tanpa terasa mobil yang membawa mereka telah tiba di pekarangan rumah keluarga Vernandes.


" Ayo sayang " ajak Daniel sambil membuka pintu mobil.


" Sore " sapa Elin pada dua wanita paruh baya yang kini bersantai di taman belakang. Cuaca sore ini begitu cerah seiring suasana yang kembali menghangat, " menantuku.. " seru Viona dengan kedua tangan yang merentang ke arah Elin.


" Mam bagaimana kabarmu ? " tanyanya sambil merengkuh erat tubuh wanita paruh baya itu ke dalam pelukannya, " tentu baik-baik saja nak " balas Viona sembari terus mencium pipinya.


" Kalian seperti tidak bertemu berbulan-bulan. Padahal baru kemarin kita bertemu " timpal Wilna tertawa.


Elin ikut tertawa, " hari ini aku menjadi Elin yang baru bunda. Makanya aku sedikit menjadi asing " balasnya.


" Elin baru " ulang Viona dengan dahi yang sedikit berkerut, " ya mam " sahut Elin sambil mengangguk.


" Kau sudah sampai ? " tanya Green ikut bergabung.


" Baru saja " sahut Elin.


" Dimana kak Daniel ? "


" Di kamarnya, dia bilang ingin mandi "


" Hemm. Nathan dan Kak Alfin juga sudah di perjalanan pulang. Sebentar lagi mungkin sampai " jelas Green.


" Apa Amel juga ikut ? "


" Kau pikir, mungkinkah dia tidak ikut " sergah Green terkekeh.


" Memangnya mau kemana kalian nak ? " tanya Wilna, serta Viona yang memang ikut penasaran.


Green dan Elin saling bertatapan sesaat. Lalu Elin mengangguk, " kami ingin pergi ke makam Almarhum kak Gerry bunda " jelasnya hati hati, seraya melihat pada reaksi Viona.


" Daniel ikut ? " sambung wanita paruh baya itu, Dan Elin mengangguk, " ya mam ".


" Emmm.., baguslah " ucap Viona tersenyum.


" Kalau saja Bunda tidak ada urusan hari ini. Bunda pasti akan ikut " timpal Wilna. Wajahnya kini tidak lagi ceria setelah mendengar nama seseorang yang sudah pergi.


" Ya bunda. Kirimkan saja doa untuknya itu lebih baik " ucap Green.


Sepanjang perjalan Elin terus diam. Hanya sesekali tersenyum setiap kali mendengar Alfin bercanda. Begitu pun Amel, wanita itu seperti kehabisan kata katanya hari ini. Padahal biasanya dirinya lah yang paling aktif berbicara.


" Apa kalian akan ikut turun ? " tanya Green saat mobil berhenti di sebuah tokoh bunga.


" Hemm ya " sahut Elin tersadar dari lamunannya dan Amel yang ikut beranjak.


Sampai di tokoh bunga Elin langsung menghampiri tumpukan mawar putih, " Green aku akan membawa bunga ini " ujarnya dan Green mengangguk, " itu manis " sahut Green setuju.


Mata Elin sebenarnya melirik pada tumpukan mawar merah tidak jauh darinya. Bunga yang dulu selalu ia bawa setiap kali berkunjung ke makam lelaki yang sampai saat ini mengisi hatinya. Namun saat ini ,ia tidak mungkin lagi membawa bunga itu.


Lebih tepatnya bukan tidak mungkin, tapi karena ia harus menjaga hati seseorang. Sebenarnya mungkin dia akan mengerti, tapi kali ini Elin memilih untuk seseorang yang sudah tidak ada yang harus mengerti dan Elin yakin dia pasti akan mengerti.


Dan ternyata justru Amel yang mengambil mawar merah, " dia menyukai bunga ini " ucapnya lemah.


Mendengar itu Elin terhenyak sesaat, dan menatap pada Green yang kini memegang sebucket bunga Lily.


" Jika sudah selesai. Ayo kita pergi " ajak Green.


Dan beberapa menit kemudian mereka kembali ke dalam mobil dengan memegang sebucket bunga di tangannya masing-masing.


" Sudah selesai ? " tanya Nathan yang memegang kendali mobil.


" Hemmm.., ayo pergi. Langit sudah mulai gelap " ucap Green sambil melihat pada sekumpulan awan hitam, " selalu saja seperti ini " tambahnya, mengeluhkan cuaca yang selalu menjadi gelap setiap kali mereka berkunjung ke makam Gerry.


Mobil kini sudah berhenti di sisi jalan yang menjadi penghubung ke sebuah makam seseorang yang memang ingin mereka kunjungi saat ini.


Alfin dan Amel keluar lebih dulu dari dalam mobil, dengan sebucket mawar merah di tangannya.


" Ayo " ajak Daniel sambil mengulurkan tangannya ke arah Elin yang kini terlihat gundah, " aku sungguh tidak apa-apa " jelasnya tiba-tiba.


Bibir Elin sedikit melengkung, " Terimakasih karena sudah mau mengerti " ucapnya pada lelaki di hadapannya, seraya menyambut uluran tangan lelaki itu.


Langkah kaki Elin semakin melambat saat dirinya semakin dekat pada sebuah makam yang kini sudah di kelilingi oleh sahabatnya. Jantungnya kini berdebar tak menentu, seperti ada rasa bersalah yang sulit ia jelaskan.


Di pandangnya sesaat tangannya yang kini berada di genggaman Daniel, " Semoga kedatanganku bersamanya. Bukan menjadi kesalahan" batinnya.


Amel sudah berjongkok disisi makam kakaknya, sambil meletakkan bucket mawar merah yang tadi ia bawa, dengan Alfin yang ikut berjongkok di sisinya.


Di usapnya dengan lembut batu yang bertulis nama Gery Bianca. Dan tulisan itu terlihat sedikit usang saat ini, " Aku datang kak. Maaf karena tidak sering mengunjungimu " ucapnya lemah.


Ia terdiam sejenak, sambil terus melihat pada nisan di hadapannya.


Ada banyak yang ia rasakan setelah berada disisi makam lelaki itu. Sedih dan rasa sedikit kecewa kini berbaur menjadi satu.


Ntah apa yang membuatnya menjadi kecewa saat ini, " kau pasti sudah bahagia " katanya lagi, sembari menarik nafas begitu dalam.


" Kak hari ini aku merindukanmu lebih dari biasanya " ucapnya serak dan Matanya kini mulai berair.


" Aku tiba-tiba ingin kau disini " sambungnya, dengan tangan yang kini mulai bergerak untuk menyeka bulir kristal yang sudah terjatuh di pipinya.


" Sayang.. " panggil lembut Alfin.


" Jangan menangis. Dia akan sedih melihatmu seperti ini " sambungnya, sambil mengusap lembut pundak istrinya, " tapi aku rindu dia sayang ".


" Kami juga begitu " sambungnya.


Amel kembali menatap pada makam di hadapannya, " kak... " panggilnya lemah. " setelah kau pergi semua benar benar berbeda. Berkumpul di dalam keluarga terasa hambar karena kau tidak ada " sambungnya.


" Ada banyak orang merindukanmu dan begitu menginginkan kau masih disini bersama kami, tapi aku yakin sekarang kau pasti lebih bahagia kak " racaunya dengan suara yang semakin serak.


Ia mengibas air mata yang semakin deras mengalir, " aku sungguh merindukanmu, benar sangat rindu kak. Semua kenangan tentangmu hari ini memenuhi pikiranku dan membuatku begitu merindukanmu "


Alfin merengkuh tubuh Amel ke dalam pelukannya, " Hai brother, kau pasti kecewa karena melihat adikmu menangis saat ini. Tapi aku sudah berusaha mencegahnya. Jadi kau tidak bisa marah padaku " ujarnya bercanda. Namun, matanya yang mulai berair tidak bisa membohongi perasaannya. Kalau saat ini sebenarnya ia begitu sedih.


Tidak ada perasaan yang baik-baik saja setiap kali berhadapan dengan makam lelaki humoris itu, " kami semua merindukanmu Ger " ucapnya dengan suara yang mulai ikut serat. Tidak ada lagi tawa disana.


" Maaf belum bisa memenuhi keinginanmu yang ingin mempunyai banyak ponakan dari kami. Tapi sungguh aku masih berusaha Ger " katanya kembali tertawa, dan kalimat itu berhasil membuat Nathan menoyor kepalanya.


Namun senyum itu dengan cepat memudar saat ia kembali menatap nisan di hadapannya, di tatapnya ukiran demi ukiran yang tertulis di atas batu itu, dimana tertulis dengan jelas kapan waktu lelaki itu pergi meninggalkan semua orang untuk selamanya, " waktu begitu cepat berlalu ya Ger. Tapi kenanganmu seperti tidak ada habisnya dalam ingatan kami. Tempatmu tidak terganti, bahkan mungkin sampai kapan pun " ujarnya.


" Kita pasti akan bertemu suatu hari nanti. Dan aku harap saat itu kau masih memiliki selera humor yang sama " ucapnya.


" Sampai bertemu lagi nanti " katanya lagi, dengan kembali merengkuh tubuh Amel untuk membawanya sedikit menjauh. Namun, sebelum itu perempuan itu kembali mengusap lembut nisan di hadapannya, " sampai bertemu lagi kak. Aku sungguh merindukanmu dan masih menyayangimu seperti dulu. Sungguh tidak ada yang berkurang, walau tempat kita sudah berbeda, tapi semua masih sama " ucapnya bersama air mata yang kembali menetes.


" Sampai bertemu lagi " ulangnya. Lalu benar-benar menjauh dan kini berganti dengan Green dan Nathan yang mendekat ke sisi makam.


Green belum berbicara. Namun, air matanya sudah menetes. Bahkan bulir kristal itu sudah terjatuh sejak tadi.


" Apa kabar brother " sapa Nathan setelah ia terdiam sejenak untuk memanjatkan doa.


Green meletakan bunga Lily ke atas makam, sambil menyeka air mata yang tidak berhenti menetes, " maaf hari ini aku begitu cengeng kak " ucapnya.


" Kau pasti marah karena kami tidak sering mengunjungimu " tambahnya dengan nada yang semakin serak. Hari ini ia benar benar tidak bisa membendung tangisannya. Ntah apa yang sedang ia rasakan, tapi hari ini terasa begitu hampa, terlebih saat berhadapan di makam lelaki itu.


Ada rasa sedih yang tidak bisa ia jelaskan saat ini, " Kau pasti sudah bahagia kan kak " ujarnya.


" Sahabatku sudah bahagia kak. Pastinya kau juga sudah bahagia disana dan memang harus begitu" sambungnya dengan kembali menyeka air matanya, lalu terdiam sesaat untuk menghela nafas.


" Sekarang ponakanmu sudah besar Ger. Maaf tidak membawanya " sambung Nathan yang kini bergantian berbicara. Lalu ikut terdiam sejenak, " aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan padamu. Tapi sejauh ini semua baik baik saja Ger. Jadi kau tidak perlu mencemaskan apapun lagi. Dan seperti yang kau lihat, Elin juga sudah bahagia. Seperti apa yang kau inginkan dulu " lanjutnya.


Tidak jauh dari tempat itu,sebelah tangan Elin menggenggam erat ujung pakaiannya. Perasaannya menjadi begitu emosional setelah melihat sahabatnya berbicara di hadapan makam lelaki yang pernah mengisi hatinya itu.


Setengah mati ia menahan untuk tidak menangis. Di tengah tangan yang saling bergandengan pada calon suaminya.


" Sudah beberapa tahun berlalu setelah kepergianmu. Tapi tidak ada yang berubah Ger, hanya mungkin saat ini menjadi lebih menerima bahwa kau tidak ada lagi disini "


Green menyentuh nisan di hadapannya, " kami benar benar merindukanmu kak. Dan selamanya begitu " ucapnya, " aku yakin kau tahu, bahwa tempatmu tidak akan tergantikan sampai kapan pun ".


" Berbahagialah " tambahnya dengan nada yang begitu tenang.


Ia lebih dulu beranjak dari sisi makam. Sementara Nathan masih berjongkok disana dengan terus menatap pada batu nisan di hadapannya, berulang kali ia menghela nafas, " aku sungguh merindukanmu " ucapnya begitu dalam dan tangannya bergerak menyeka mata yang mulai berair.


" Kau tahu, sampai saat ini aku masih menyesali hari itu " katanya dengan tangan yang menggenggam erat jemarinya, " Aku sungguh mengira kau tertidur saat itu. Tanpa tahu, bahwa kau telah meninggalkan kami " lanjutnya dengan begitu sesak.


" Andai aku tahu hari itu yang terakhir Ger. Aku pasti akan melakukan sesuatu yang bisa membuat menunda kepergianmu . Aku bisa melakukan sesuatu yang masih bisa aku lakukan untukmu " cercahnya bersama air mata yang sudah mengalir. Hatinya hancur saat kembali teringat di malam dimana ia menyaksikan kepergian lelaki itu dengan tenang, dimana ketika itu, ia hanya berpikir kalau lelaki itu tengah tertidur. Sampai akhirnya mesin di dalam ruangan rawat itu berbunyi.


Air mata Nathan mengalir begitu deras. Tidak ada satu pun orang yang tahu kalau ia memendam rasa penyesalan itu selama ini.Tidak ada yang tahu bagaimana hancur hatinya setiap kali mengingat bahwa ia pernah menjadi seorang sahabat yang begitu tidak berguna. Namun, hari ini ntah mengapa, dimakam lelaki itu, ia ingin menumpahkan semuanya. Semua tentang penyesalannya yang terpendam, dan semua ketakutannya pada hari itu.


Ia menangis sejadi-jadinya di atas benda tak bernyawa. Benda yang terukir dengan nama seseorang yang begitu di cintai semua orang. Benda itu memang tak hidup. Namun seolah mampu membuat semua orang menangis saat menatapnya. Menangis dan berharap untuk seseorang yang berada di dalam benda itu kembali hidup.


" Ger.. " panggilnya tersendat.


" Kepergianmu seperti menghukumku. Aku bukan tidak menerima semuanya, hanya saja semuanya begitu sulit untuk di terima Ger" katanya di tengah air mata yang mengalir. Kini Alfin ikut mendekat, dan menepuk lembut pundak saudaranya. Ia mengerti apa yang kini tengah di rasakan oleh Nathan. karena ia sendiri juga begitu, tapi mungkin tak sedalam seperti apa yang di rasakan oleh saudaranya. Dan ia tak pernah tahu bahwa saudaranya merasakan penyesalan yang begitu dalam karena hari itu.


" Gery sudah bahagia Jo. Jangan menyesalinya " ucapnya pada Nathan.


Amel kembali menangis di tengah wajah yang tertutup oleh kedua telapak tangannya. Begitu pun Green yang kini kembali mendekat ke sisi Nathan dan tidak berhenti mengusap lembut lengan lelaki itu, " Kau tidak salah apapun.Memang sudah seperti ini jalannya " katanya, mencoba untuk menenangkan suaminya.


Nathan mengadah ke langit. Berusaha untuk menghentikan tangisannya, meski itu begitu sulit untuk di lakukan.


Karena setiap kali ia ingin melakukannya, bayangan wajah pucat lelaki itu kembali muncul di dalam pikirannya. Wajah yang ia sangka hanya tertidur. Namun, ternyata pergi untuk selama-lamanya.


" Maafkan aku yang menjadi begitu cengeng Ger " serunya tersendat di tengah air mata yang masih mengalir.