
Hannah baru saja masuk kedalam ruang ganti pakaian setelah selesai melakuan fashion show di sesi terakhir.
" Berikan air minum padanya " perintah Vale pada salah satu orang yang tugaskan membantu segala kebutuhan Hannah ,
" Terimakasih " ucap Hannah setelah menerima sebotol minuman dan langsung meneguknya karena sudah begitu merasa haus.
" Pakai ini " kata Vale sambil memasangkan outer berbahan tebal pada tubuh Hannah yang hanya menggunakan bikini , kostum terakhir yang harus ia peragakan di depan semua orang.
" Terimakasih Vale , aku merasa seperti anak yang sedang di urus oleh ibunya " kata Hannah tertawa kecil ,
" ya , aku memang di datangkan untuk menjadi ibumu " balas Vale sambil mengikatkan tali penghubung pada outer yang akan menutupi tubuh Hannah dan membuatnya sedikit lebih hangat.
Klek " pintu ruangan terbuka dengan seseorang yang masuk dan berjalan dengan tergesa gesa menuju Vale , Hannah hanya melihat sekilas dan melihat orang yang tadi datang sedang membisikkan sesuatu pada Vale.
" Benarkah ? "kata Vale sedikit berteriak membuat Hannah ikut melihat ke arahnya.
" Hannah kau harus pergi sekarang " kata Vale yang tiba tiba menjadi panik , bahkan ia segera mengemasi barang barang yang akan di butuhkan oleh Hannah seperti tas , handphone dan dompet penyimpanan kartu berharga Hannah , " ada apa Vale ? " tanya Hannah kebingungan.
" Ada begitu banyak wartawan di sini , dan mereka sedang menunggumu " jelas Vale yang terus sibuk pada benda benda milik Hannah.
" Pergilah lewat pintu samping , dia akan menemanimu " kata Vale pada Hannah dan menunjuk orang yang tadi datang ,
" aku tidak akan pergi Vale " ucap Hannah lemah dan Vale menghentikan aktifitas tangannya,
" ada apa , sejak kapan kau ingin berbicara di hadapan media " kata Bale dengan kedua sisi alis yang ia tautkan.
" Ada yang ingin aku jelaskan pada mereka " kata Hannah dengan mata yang menatap begitu kosong ,
" ya kau memang harus melakukan ini , supaya semua orang tahu bagaimana sesungguhnya tingkah laku Tuan Muda yang selalu mereka banggakan " ujar Vale yang tiba tiba menjadi emosi.
" Vale jangan berbicara seperti itu lagi " sanggah Hannah ,
" kau selalu saja seperti ini , dia sudah menyakitimu Hannah dan kau masih saja ingin membelanya , aku sungguh tidak bisa berpikir terbuat dari apa hatimu " ucap Vale tanpa henti.
" Kau salah menuduh Vale , aku lah yang menyakitinya " ucap Hannah yang sudah menangis , Vale mengisyaratkan matanya pada semua orang yang berada di dalam ruangan untuk segera keluar.
" Aku menyakitinya Vale , aku berselingkuh dengan saudara sepupunya sendiri " jelas Hannah yang sudah terisak dan Vale hanya terdiam dengan mata yang menatap tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Hangan bercanda Hannah , ini tidak lucu " kata Vale.
" Sekarang kau sudah tahu Vale , aku lah wanita sampah yang begitu tidak tahu diri " lanjutnya dengan terus menangis,
" aku tidak percaya , kau tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu " kata Vale menolak kebenarannya.
" Tidak vale seperti itulah kebenarannya , semua yang aku katakan ini benar , akulah yang bersalah , aku telah mengkhianatinya " jelas Hannah supaya Vale mengerti ,
" dan sekarang aku ingin semua orang tahu , bahwa aku bukan lagi kekasih Daniel , dia harus bahagia Vale , selama ini aku sudah begitu menyakitinya " lanjut Hannah dan Vale masih terdiam dengan otak yang berusaha untuk menerima kebenaran.
" Bantu aku Vale , aku tidak ingin hidup dengan rasa bersalah , dia berhak bahagia " mohon Hannah dengan sisa tangisannya.
Klek " pintu kembali terbuka , dan Hannah segera menghapus sisa air matanya supaya tangisannya tidak di ketahui oleh orang lain.
" Hannah " panggil Caren sambil berjalan masuk ke dalam ruangan di ikuti beberapa orang kepercayaannya , Caren terdiam sejenak sebelum melanjutkan tujuannya datang ke ruang ganti Hannah " persiapkan dirimu " lanjutnya ,
Hannah tak menjawab ia hanya melirik ke arah Vale yang juga sedang menatap ke arahnya.
" Vale jangan biarkan Hannah keluar dengan seperti ini " perintah Caren , " apa ada acara yang penting ? " tanya Vale.
" Semua media sudah menunggumu " jelas singkat Caren.
" Sepuluh menit lagi kita bertemu di ruang aula " lanjutnya dengan begitu santai dan beranjak dari hadapan Hannah dan Vale.
" dan satu lagi , kau harus mengikuti apa yang aku katakan dan berbicara ketika aku sudah mengizinkan , selebihnya kau hanya perlu diam dan biarkan aku yang menjelaskannya " jelas Caren dengan mata yang menatap tajam pada Hannah , setelah merasa cukup Caren segere keluar dari ruangan dan tidak peduli dengan Hannah yang memberi tatapan marah padanya.
" apa yang sekarang sedang dia rencanakan ? " ucap Vale setelah Caren pergi ,
" ini pasti tentang aku dan Daniel " sambung Hannah dengan begitu lemah ,
" apa yang harus aku lakukan Vale , dia pasti akan memanipulasi semuanya , aku sudah menjelaskan pada Caren bahwa hubunganku bersama Daniel sudah berakhir tapi dia tidak peduli " kata Hannah begitu panik.
" Kasian Elin Vale , dia tidak bersalah " lanjutnya kembali menangis ,
" Siapa Elin ? " tanya Vale bingung.
" Dia sahabatku , perempuan yang sedang di beritakan bersama Daniel " jelas Hannah.
" Sahabat " ucap Vale mengulang perkataan Hannah,
" Kau bilang sahabat , sahabat seperti apa yang berkencan dengan mantan kekasih sahabatnya " ucap Vale tak habis pikir ,
" aku tidak tahu takdir apa yang sudah terjadi , tapi aku bertemu Elin setelah hubunganku bersama Daniel berakhir " jelas Hannah.
Brukk " pintu kembali terbuka.
" Ms.Caren sudah menunggu anda Nona Hannah dan kami di perintahkan untuk menjemput anda sekarang " ucap laki laki bertubuh besar yang baru saja masuk ,
" tunggu di luar , Hannah harus mengganti pakaiannya " ucap Vale.
" Anda tidak mempunyai banyak waktu Nona " sambung laki laki tadi dan kembali menutup pintu.
" Sekarang tidak ada yang bisa kamu lakukan Hannah selain mengikuti semua rencananya " jelas Vale , Hannah masih tidak bergeming bahkan saat Vale memakaikan Blazer panjang pada tubuhnya.
" Hannah sudah siap " kata Vale pada laki laki yang berjaga di sisi pintu " aku tidak bisa memberi solusi apapun , kau sendiri yang bisa menentukan apa yang harus kau lakukan " ucap Vale sambil membenarkan pakaian Hannah , sebelum ia di bawa pergi bersama orang suruhan Caren.
****
" Morning Mommy , Daddy " balas Naina yang sudah lebih dulu duduk di meja makan bersama Oma dan Opanya ,
" Dimana Amel dan kak Alfin bunda ? " tanya green pada Wilna karena tidak melihat sepasang pengantin baru itu.
" Mungkin mereka masih di kamarnya " jawab Wilna yang sibuk menyuapi cucu kesayangannya.
" Morning " sapa Alfin yang baru saja menyusul dan duduk dengan tergesa gesa ,
" Amel dimana kak " tanya Green karena tidak melihat sahabatnya yang kini sudah resmi menjadi adik iparnya itu,
" dia sedang tidak enak badan Green " jawab Alfin.
" Makanya jangan diforsir , mentang pengantin baru " ejek Nathan dan semua orang di meja makan ikut tertawa " jangan ngiri " balas Alfin cuek.
" Mba " panggil Wilna pada salah satu pelayan dirumahnya ,
" iya bu " kata pelayan yang datang menghampiri Wilna ,
" Panggil Nyonya Muda Amel , katakan padanya bunda menyuruhnya untuk turun dan sarapan bersama " jelas Wilna dan pelayan segera melakukan tugasnya sesuai perintah Yyonya Besar di rumah mewah itu ,
" aku sudah mengajaknya turun bunda , tapi dia tidak mau dan hanya ingin tiduran " jelas Alfin.
" Tapi dia harus tetap sarapan dan kamu juga jangan terlalu diforsir , kasian Amel jadinya kelelahan " kata Wilna memarahi Alfin yang terdengar seperti candaan.
" Namanya juga pengantin baru bun " sahut Alfin dengan begitu santai.
" Mel " panggil Green saat melihat sahabatnya itu turun dengan wajah yang terlihat begitu lesu,
" kau begitu pucat " kata Green khawatir yang langsung berjalan menghampiri Amel dan segera memeriksa dahinya,
" tapi suhu tubuhnya normal " lanjut green lagi.
" Aku tidak apa apa Green , aku hanya kurang tidur dan sedikit kelelahan " jelas Amel yang membuat semua orang di meja makan menjadi gaduh ," kau ini " omel Wilna pada Alfin , Amel segera tersadar dengan ucapannya, " aku kurang tidur karena tugas kuliah Bunda " jelas Amel supaya semua orang tidak menjadi salah paham.
" Tuh dengerkan bun " sambung Alfin.
" Apa masih pusing "? tanya Alfin dan Amel mengangguk, " makanlah setelah itu kembali istirahat " lanjut Alfin pada istrinya.
" Apa kamu ingin makanan yang lain nak ? " tanya Wilna dan Amel menggelengkan kepalanya karena memang tidak memiliki nafsu makan ," makan sedikit saja mel , supaya tubuhmu lebih bertenaga" lanjut Green dan Amel hanya mengangguk lemah.
" Apa kalian sudah mendengar berita terbaru ? " tanya Green dengan begitu bersemangat dan semua orang melihat ke arahnya terkecuali Amel yang sedang lesu dan menyenderkan kepalanya di pundak Alfin dan Naina yang memang tidak mengerti , namun sesekali menoleh ke arah mommynya .
" Berita apa ? " tanya Nathan penasaran karena melihat wajah semuringah dari istrinya , " ceh , kau benar benar kudet " ledek Green.
" Berita apa nak ? , cepat katakan " timpal Wilna yang tidak kalah penasaran , Green mengambil gelas berisikan air putih di hadapannya dan meneguknya terlebih dahulu sebelum melanjutkan bicaranya, " ada apa ? " tanya Nathan semakin penasaran ,
" kalian tahu , kemarin pagi aku dan Amel menghubungi Elin dan kita melakukan video call seperti biasa "
" Ya terus " sambung Nathan tidak sabar.
" Aku dan Amel di buat sangat terkejut , kalian tahu kenapa ? " kata Green menggantung dan ia kembali minum untuk mengurangi rasa nervous karena masih merasa begitu terkejut , sedangkan Amel terlihat tidak peduli karena sudah sibuk menikmati jeruk sunkist yang terasa begitu nikmat di lidahnya.
" Green cepat katakan " timpal Alfin yang sudah kesal karena merasa di permainkan oleh Green.
" Sayang , please " sambung Nathan yang juga sudah ikut kesal.
" Kalian pasti tidak akan percaya kalau kemarin ada kak Daniel di apartemen Elin " lanjut Green.
" Oh Daniel , bunda kira tadi apa " kata Wilna santai , " iya, aku pikir ada berita mengejutkan apa tadi " timpal Nathan dan aAlfin kembali menikmati sarapannya.
" Tunggu tunggu tadi kamu bilang siapa Green ? " kata Alfin tersadar ,
" kak Daniel " jawab Green santai dengan senyum yang tersungging di bibirnya ,
" Daniel " ulang Alfin , Nathan dan Wilna bersamaan sedangkan Banyu dia hanya menyimak tanpa berbicara dan menikmati kehebohan keluarganya.
Green mengangguk saat nama Daniel di sebut dengan begitu nyaring " kau sedang tidak bercanda kan nak ? " tanya Wilna tak percaya.
" Tidak bunda , bahkan kita berbicara pada kak Daniel , iya kan Naina " sahut Green dan Naina menganggukkan kepalanya ," kemarin Naina ngobrol dengan papa Daniel dan mama yin " kata Naina begitu lucu.
" Ternyata usahaku tidak sia sia " ucap Nathan tersenyum bangga.
" Apa mereka sudah pacaran ? " tanya Alfin dan Green menggelengkan kepalanya,
" untuk saat ini belum , sepertinya kak Daniel harus lebih berusaha untuk mendapatkan hati Elin " jelas Green.
" Ya , pasti sangat sulit untuk Elin kembali membuka hatinya " sambung Wilna,
" tapi bunda sangat mendukung hubungan mereka , Daniel pemuda yang baik dan sangat cocok untuk elin" lanjutnya.
" Ya bunda , aku juga sangat mendukung dan mereka terlihat begitu cocok " sambung Green ," kita tinggal menunggu kabar , setidaknya hubungan mereka sudah jauh berkembang " sambung Alfin yang ikut merasa bahagia dengan kabar kedekatan Elin dan Daniel.
" Mel , apa perutmu tidak sakit , ini masih pagi dan kau sudah makan jeruk sebanyak ini " kata Green , " tidak , ini sangat nikmat Green " jawab Amel yang terus memasukan buah asam manis itu ke dalam mulutnya , mendengar itu semua orang menatap kearahnya dan saling melempar pandangan.
" Ayah sepertinya kita akan kembali mendengar berita bahagia " ucap Wilna tersenyum pada Banyu , " iya bunda " sambung Green.
" Ternyata kau tak kalah top care brother " timpal Nathan tertawa pada Alfin , Amel yang memang tidak mengerti dengan apa yang sedang di bicarakan terus melanjutkan aktifitas makan jeruknya tanpa memperdulikan orang lain , sedangkan Alfin sudah terdiam dan menatap begitu lama pada istrinya .
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚