Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Lelaki Normal


Reza sudah berada di depan pintu apartemen Daniel , setelah pagi ini sudah begitu sibuk mengubungi tuannya itu namun tidak ada jawaban , teleponnya tidak tersambung dan tidak memberi kabar sama sekali setelah terakhir kali menelepon tadi malam membangunkannya dari tidur untuk meminta mencari dimana keberadaan Meili.


Reza menghela nafas sebelum menekan tombol bell pintu apartemen Luxury itu , karena masih tidak ada jawaban ia kembali menekannya dengan kaki yang sengaja ia getarkan untuk mengurangi rasa cemas.


" Oh kau " ucap suara berat di balik pintu yang terbuka , " maaf mengganggu anda Tuan , tapi ini begitu mendesak " ucap Reza hati hati.


" Masuklah "


" Ada apa ? " Tanya Daniel setelah mereka duduk di sofa besar di dalam apartemennya ,


Reza mengerutkan dahi dan menghela nafasnya begitu pelan , ia begitu kesal mendengar pertanyaan Daniel yang terdengar begitu santai , seolah ia lupa kalau hari ini , hari kerjanya dengan jadwal meeting yang sudah menunggu namun ia tidak datang dan tidak memberi kabar sama sekali yang akhirnya membuat Reza begitu repot.


" Saya datang untuk memastikan keadaan anda Tuan , sejak tadi pagi saya sudah mengubungi anda , namun tidak tersambung " jelas Reza menahan kesalnya.


" Oh ya , bahkan aku lupa dimana letak handphoneku sekarang " kata Daniel begitu santai membuat Reza kembali menghela nafas.


" Apa anda lupa Tuan ? , kita memiliki pertemuan yang penting hari ini dan klien kita sedikit kecewa karena anda tidak hadir dan memberi kabar "


" Sampaikan maafku , dan kau bisa mengatur ulang semuanya "


" Sudah saya lakukan Tuan "


" Kau memang bisa di andalkan Reza " puji Daniel bangga , Reza kembali mengerutkan dahinya tapi bukan karena kesal melainkan bingung dengan tingkah Daniel , sejak kapan laki laki itu memujinya dengan wajah semuringah seperti ini.


" Apa ada lagi ? " tanya Daniel membuyarkan tatapan Reza.


" Apa anda tidak akan datang ke kantor hari ini ? "


" Tidak , bahkan aku tidak ingin beranjak kemana pun hari ini " jawabnya dengan tersenyum , sempurna sudah kerutan dahi Reza karena tingkah Daniel yang begitu aneh.


" Aku percayakan semuanya padamu , kau atur segalanya dan kirimkan pemberitahuannya lewat emailku " lanjut Daniel.


" Sayang apa ada baju yang lain ? , ini sangat kebesaran " kata perempuan yang tiba tiba datang dan memotong pembicaraan Daniel dan Reza.


Mata Reza membulat sempurna menatap perempuan yang sedang berdiri di depan pintu kamar Daniel dengan menggunakan kemeja biru langit yang kebesaran , memperlihatkan kaki mulusnya , serta rambut yang terpelin berantakan oleh sumpit namun terlihat begitu seksi dengan anak anak rambut yang terurai di leher jenjangnya.


" Sayang kembali masuk " ucap Daniel setengah berteriak , ia begitu kesal melihat Reza menatap ke arah Elin tanpa berkedip.


" Oh maaf , aku tidak tahu jika ada tamu " ucap Elin yang baru menyadari kehadiran Reza di dalam apartemen Daniel dan segera kembali masuk ke dalam kamar.


" EHemmm " Daniel berdeham , untuk membuyarkan Reza yang masih menatap kearah pintu kamarnya.


" Maaf Tuan " ucap Reza yang begitu menyesal.


" Pergilah , hubungi aku jika terjadi sesuatu " kata Daniel begitu dingin.


" Ba..baik tuan " sahut Reza dan segera beranjak dari duduknya.


Belum ada dua detik Reza keluar , Daniel sudah kembali menutup pintu apartemennya tanpa kembali basa basi pada Reza.


" Apa dia marah karena aku menatap kearah perempuan itu ? " gumam Reza yang masih berdiri di depan pintu apartemen Daniel.


Dahinya kembali berkerut setelah teringat siapa perempuan yang berada di dalam apartemen Daniel , ia tidak pernah melihatnya dan selama ini Daniel tidak pernah membawa sembarang perempuan masuk ke dalam tempat tinggalnya , hanya Hannah dan itu hanya terhitung beberapa kali.


bahkan ia tidak pernah melihat Daniel begitu cemburu dan memperlakukan perempuan secara begitu pribadi seperti hari ini.


" Apa karena perempuan itu yang membuatnya tidak ingin beranjak ? " gumamnya lagi , " ceh , ternyata kau bisa juga seperti ini Tuan " lanjut Reza tersenyum geli.


" Aku begitu penasaran siapa perempuan itu ? " lanjut Reza , lalu berjalan pergi meninggalkan pintu apartemen Daniel.


~


Daniel berjalan begitu cepat menuju kamarnya dengan wajah yang sedikit memerah karena cemburu .


" Sayang " panggilnya setelah masuk ke dalam kamar , " Emmmm .. " sahut Elin yang sedang sibuk dengan benda pipihnya tanpa melihat ke arah Daniel.


Daniel menelan ludah , melihat Elin yang duduk di sisi tempat tidur dengan menyilangkan kedua kakinya , memperlihatkan sempurna paha mulus dan kaki jenjangnya yang membuat darah Daniel berdesir , karena ia masih lelaki yang normal.


" Siapa tadi ? " tanya Elin mengalihkan tatapannya pada Daniel.


" Emmmm , rekan kerjaku " jelas Daniel gugup , " kenapa masih berdiri di situ ? , kemarilah ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan " kata Elin sembari menepuk tempat di sampingnya.


Daniel berjalan dengan jantung yang berdegub begitu cepat dan sesekali kembali menelan ludahnya karena pemandangan indah yang masih terpampang di hadapannya.


" Sayang tutup pahamu , darahku akan benar benar memanas jika kau terus membiarkan aku melihatnya " ucap Daniel , Elin menunduk dan melihat kearah paha dengan baju yang tersibak , " astaga , maafkan aku " ucap Elin.


" Kenapa harus meminta maaf , aku justru menyukainya hanya saja aku takut tidak bisa mengontrolnya lagi " kata Daniel tertawa ,


" Kenapa sekarang otakmu menjadi begitu kotor ? "


" Aku lelaki normal sayang " jawab Daniel membela.


" Termasuk saat melihat paha perempuan lain ? " tanya Elin menatap begitu tajam pada Daniel , Daniel berdesis dengan bibir yang terlipat karena menahan senyum melihat wajah Elin yang begitu menggemaskan " Tidak , hanya pahamu "


" Siapa yang mau kau bohongi , lelaki normal akan selalu tergoda dengan perempuan seksi " jawab Elin begitu ketus.


" Apa kau sedang cemburu ? " goda Daniel.


" Tidak , kau bisa melihat paha perempuan manapun " kata Elin dengan santai namun wajahnya begitu kesal , " Benarkah ? " tanya Daniel yang sengaja menggoda kekasihnya itu.


" Ya silahkan , lakukanlah " sahut Elin sambil beranjak dari duduknya , " mau kemana ? " tanya Daniel menarik tangan Elin.


" Pulang " sahut Elin begitu ketus dan mengibas tangan Daniel yang memegang pergelangan tangannya.


" Kenapa ? "


" Supaya kau bisa puas melihat paha perempuan lain " jawabnya seraya berjalan menuju letak tasnya , " Dimana bajuku tadi malam ? " tanyanya.


" aku membuangnya " jawab Daniel begitu santai , Elin memutar tubuhnya " membuangnya ? " ulangnya dengan mata membesar dan Daniel kembali mengangguk dengan santai.


" Kau gila , aku sangat sulit mendapatkan pakaian itu , edisinya begitu terbatas dan kau membuangnya dengan begitu gampang , astaga Daniel kenapa kau begitu menyebalkan " ucap Elin begitu kesal , " aku akan menggantinya dengan yang baru ? " ucap Daniel.


" Kau kira mudah mendapatkannya ? "


" Tentu , sangat mudah bagiku , bahkan aku bisa meminta mereka berhenti memproduksi terkecuali untukmu " jelas Daniel membuat Elin terperanga namun di ikuti tawa kecil.


" Kau bertingkah seolah presiden negara ini "


" Pengaruhku lebih dari itu " jawab Daniel santai seraya berjalan menuju Elin , namun langkah Elin lebih cepat , ia segera mengambil tasnya dan berjalan keluar dari dalam kamar Daniel.


" Mau kemana ? " kata Daniel mengikutinya.


" Aku tidak peduli Tuan Daniel " sahut Elin semakin dekat dengan pintu.


" Sayang " panggil Daniel dan berjalan semakin cepat karena Elin sudah keluar dari pintu apartemennya.


" Daniel lepaskan " teriak Elin ketika tubuhnya sudah di angkat oleh Daniel .


" Aku sudah bilang aku tidak mengijinkan kau pulang "


" Lepaskan , aku ingin pulang Daniel " teriak Elin memberontak , Seorang pelayan cleaning service yang sedang membersihkan lorong depan pintu apartemen Daniel , menjadi terperanga melihat tingkah sepasang manusia di hadapannya.


" Maaf " ucap Elin mengangguk pada pelayan dengan posisi tubuh yang sedang di pikul seperti karung beras oleh Daniel.


" Masuk " kata Daniel setengah kesal setelah menurunkan tubuh Elin dan segera mengunci pintu apartemennya , " Aku mau pulang " teriak Elin.


" Oke kita pulang , tapi tunggu aku bersiap dulu "


" aku mau pulang sendiri "


" Ada apa denganmu ?, kenapa tiba tiba ingin pulang huh ? " tanya Daniel begitu prustasi.


" aku sudah bilang Supaya kau bisa puas menatap paha perempuan lain " jelas Elin kesal , " astaga sayang " erang Daniel dan berjalan mendekat pada Elin.


" Jangan mendekatiku " kata Elin menjauh.


" Aku bukan laki laki seperti itu sayang "


" kau masih laki laki normal "


" Tapi tidak seperti itu juga sayang , aku tidak akan melihat wanita manapun ketika aku sudah memiliki wanitaku sendiri "


" Aku tidak percaya , kau masih laki laki normal seperti katamu yang tentunya akan tergoda dengan wanita cantik manapun " kata Elin yang terus menjauh ketika tubuh Daniel terus mendekatinya.


" Biarkan aku pulang Daniel " ucapnya lagi.


" Dengan pakaian ini ? "


" Ya , apa kau ingin aku membuka bajumu ini dan pulang telanjang " sahut Elin.


" Ternyata kau lebih gila dari yang aku bayangkan " ucap Daniel , membuat Elin yang mendengar menjadi begitu kesal , " kau atau aku yang gila ? "


" Kau " jawab Daniel yang ikut menjadi kesal.


" aku "


" Ya , kau marah padaku dan ingin pulang hanya karena paha sialan , lalu kau , kau ingin pulang dengan pakaian seperti ini , apa kau juga ingin memperlihatkan paha mulusmu ini pada laki laki lain huh ? " kata Daniel tanpa ampun , Elin terdiam dengan menurunkan tatapannya ke arah bawah , dan melihat hampir setengah kakinya terpampang.


" Ceh " desis Daniel kesal , lalu berjalan meninggalakan Elin yang masih terdiam.


" Terserah apa katamu tapi aku bukan perempuan seperti itu , kau yang membuang pakaianku Daniel dan sekarang aku tetap ingin pulang " ucapnya bersikukuh namun langkahnya terhenti karena tidak ada tanggapan dari Daniel , laki laki itu terus diam sambil berdiri menghadap keluar gedung apartemen.


" Kau dengar aku ingin pulang " ulang Elin.


" Terserah apa yang ingin kau lakukan " sahut Daniel tanpa melihat kearah Elin.


Elin semakin kesal mendengar ucapan Daniel yang terdengar seperti mengabaikannya.


" Baiklah " jawabnya menantang dan kembali berjalan menuju pintu.


Namun tidak lama pintu itu kembali terbuka dengan tubuh Elin yang kembali masuk , " kau menyebalkan Daniel " teriak Elin memanas karena Daniel benar benar tidak mencegahnya.


" Daniel " panggilnya lagi dan berjalan mendekat kearah laki laki yang masih berdiri.


" Ternyata kau tidak mencintaiku " ucapnya lagi.


" Jangan berbicara bodoh " sahut Daniel dingin ,


" Kenapa bodoh , memang seperti itu kenyataannya , kalau kau benar mencintai aku seharusnya kau mencegahku tadi "


" aku sudah mencegahmu dan kau tetap ingin pulang dan memperlihatkan pahamu pada laki laki lain "


" Siapa yang ingin memperlihatkan pahaku , kau juga tidak mencegahnya berarti memang itu keinginanmu "


" Nona Merlinda " geram Daniel menghela nafas dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Elin.


" Ya , i'm here "


" Sekarang aku tanya kau ingin tetap tinggal atau pergi ? "


" tetap tinggal " jawab Elin tanpa sadar dan segera menutup mulutnya.


" Maksudku pergi " sambungnya , Daniel duduk di kursi yang terletak di sampingnya , dan menarik tangan Elin untuk lebih dekat.


Dengan posisi Elin yang masih berdiri di hadapannya , Daniel menatap lekat ke arah wajah wanita yang tidak lagi memberontak ,


" Bisakah jangan membantah ucapanku , aku sungguh tidak menyukainya " ucap Daniel lemah namun begitu serius.


" Aku sungguh tidak suka saat laki laki lain menatapmu , terlebih pada tubuhmu , aku sungguh tidak menyukainya "


" aku juga tidak ingin memperlihatkannya pada orang lain " sahut Elin , namun tidak berani manatap kearah Daniel , ia terus mengalihkan tatapan matanya .


" Kalau begitu tetaplah disini , kau hanya boleh pulang jika aku mengantarnya "jelas Daniel.


" Kau begitu posesif " gumam Elin namun terdengar di telinga laki laki itu.


" Itu karena aku begitu mencintaimu "


Blussh " wajah Elin merona seketika , jantungnya masih saja berdegub lebih cepat saat mendengar kata cinta dari laki laki yang baru saja menjadi kekasihnya itu.


" Apa sekarang kau mengerti Nona Merlinda ? " tanya Daniel dan tanpa sadar Elin menganggukkan kepalanya.


" Aku benar benar tidak suka ketika kita berdebat " katanya lagi sambil menarik tubuh Elin dan menyandarkan kepalanya di perut dengan tangan yang memeluk erat pinggang ramping milik perempuan itu.


" Kau persis anak kecil " ucap Elin tertawa sambil mengusap lembut kepala Daniel.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚