
Dengan langkah lunglai Meili kembali ke kamar tidurnya. Semua permasalahan yang sedang terjadi membuat energi di dalam tubuhnya seperti terkuras.
Langkahnya terhenti tepat di hadapan pintu kamar kakaknya.
Ia sempat terdiam sesaat, lalu kemudian bergerak mendekat pada benda penutup itu dan perlahan menekan knop pintu.
Pandangan Meili tertegun menatap ke dalam ruangan yang begitu gelap. Tidak ada satu pun benda penerangan yang menyala disana. Hanya bias cahaya dari luar jendela kamar yang akhirnya membuat mata Meili bisa melihat bahwa ada seseorang yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Dan iya yakin itu adalah kakaknya.
" Huhh " katanya bernafas legah. Setidaknya ia sudah memastikan kalau kakaknya masih baik baik saja dan tertidur. Meski ia tahu tidak dengan hati laki-laki itu.
" Tidurlah dengan nyenyak kak " ucapnya lemah dan perlahan kembali menutup pintu kamar Daniel.
****
Mala semakin cemas memikirkan putri sulungnya yang belum juga keluar dari ruang tidurnya semenjak dari tadi malam " mba tolong siapkan bubur " pintanya pada asisten rumah tangganya. Lalu ia berlalu menuju kamar Elin.
" Naak " panggilnya lembut, saat sudah berada di hadapan pintu kamar putri pertamanya.
" Nak.. " ulangnya lagi sambil mengetuk-ngetuk pintu di hadapannya.
" Apa kau masih tidur ?. Keluarlah nak kau harus sarapan " ucapnya lemah. Namun, tak juga ada jawaban dari dalam ruangan.
Perlahan tangannya mulai menekan knop pintu. dan saat itu ia menyadari bahwa pintu itu telah terkunci dari dalam, " Elin tolong jawab ibu. Jangan membuat ibu dan ayah khawatir nak " serunya begitu cemas.
" Elin. naaakkk " panggilnya semakin panik.
" Ada apa bu ? " tanya Tama dari pintu kamar tidurnya yang berada tidak jauh dari kamar tidur Elin. Lelaki muda itu memang tidak mengetahui apa yang sudah terjadi tadi malam.
Mendengar ibunya yang terus memanggil nama kakaknya dengan panik. membuat dia terbangun dan menjadi ikut penasaran.
" Tama, tolong panggil kakakmu. Dia belum keluar dari tadi malam dan belum makan apapun " jelas malah dengan wajah yang setengah ingin menangis.
Meski masih begitu bingung, Tama mendekat, " Elin, jawab panggilan ibu. Jangan membuatnya cemas. Apa kau masih tidur ? " serunya sambil menghimpitkan telinganya pada pintu.
" Eliiinn " ulangnya dengan lebih lantang.
" Aku baik baik saja ibu. dan aku juga tidak lapar " jawab lemah dari balik pintu.
Suara serak karena menangis terdengar jelas di telinga Mala dan Tama.
Membuat laki-laki yang berada disini pintu, menjadi begitu penasaran.
" Nak keluarlah sebentar, kau harus makan. Ibu sudah menyiapkan bubur untukmu "
" Nanti saja bu. Aku sungguh tidak lapar " sahut dari dalam.
Mendengar itu, Mala seperti putus asa. Ia tidak kembali mendesak putrinya, hanya terdiam dan menatap kosong pada pintu yang masih tidak ingin terbuka oleh pemilik ruangan.
Ia menarik nafas begitu dalam, " Nak ibu dan Ayah sangat khawatir padamu. Tolong jangan hukum kami juga dalam hal ini " ucapnya lirih.
" Ibu akan tetap disini sampai kau keluar " sambungnya.
Melihat situasi di hadapannya. Dahi Tama berkerut, " bu apa yang sebenarnya terjadi ? " tanyanya begitu penasaran.
" Bu " ulangnya. Karena Mala masih terdiam tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Mala kembali menarik nafas, " tadi malam kita semua baru tahu kalau calon mertuanya adalah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan dia dan orang tua kandungnya dulu " jelasnya.
Mendengar itu membuat Tama terdiam, tanpa bisa mengucapkan apapun lagi. Namun, tatapannya perlahan kembali melihat ke arah pintu, " Lin keluarlah. Semua orang mengkhawatirkanmu " ucapnya lebih lembut.
" Minimal kau harus bangun untuk makan. Walau hanya sedikit " sambungnya. Namun, itu tak membuat ada jawaban dari dalam ruangan.
" Kalau kau terus begini. Kau seperti sedang menghukum semua orang Elin " serunya lagi, " Mandilah segera, lalu keluar dan makan. Kalau kau seperti ini. Kau seperti bukan kakakku "
" Aku memang bukan kakakmu Tama " jawab lemah dari dalam, " aku hanya anak angkat disini. Dan tetaplah seperti dirimu, jangan pedulikan aku "
" Kata siapa aku tidak pernah peduli denganmu " balas Tama meninggi. Namun, tidak ada balasan untuk ucapannya.
Sementara Mala kini tersentak dan hati yang merasa begitu pilu, " nak apa yang sedang kau katakan " serunya tak berdaya.
" Pergilah ibu. Aku sungguh ingin sendiri. Aku pasti akan makan jika sudah lapar dan jangan terlalu khawatirkan aku " sahut Elin.
Baru saja Mala ingin kembali bicara, tapi Tama sudah lebih dulu menghentikannya, " jangan mendesaknya bu. Pikirannya pasti sedang kacau saat ini " katanya mencegah.
" Aku akan menghubungi ke dua sahabatnya. Mungkin mereka bisa membuat dia lebih baik " ucap Tama.
" Sekarang ibu kembalilah. Sementara biarkan dia sendiri " pintanya lagi pada ibunya. Dan Mala tidak ada pilihan selain menyetujui ucapan putranya. Karena sekali pun tetap berada disana, itu tidak akan membuat putri sulungnya keluar.
" Segera telepon Green dan Amel nak. Ibu tidak bisa melihat kakakmu terus seperti ini " serunya dan Tama mengangguk.
****
Green banyak termenung pagi ini. Membuat Nathan semakin heran dengan tingkah istrinya, " apa kau sudah tahu apa yang terjadi sayang ? " tanyanya, sambil membusungkan dada meminta untuk di pasangkan dasi.
Green tidak menjawab. Namun menghela nafas begitu dalam, sambil tangannya bergerak memasangkan dasi pada lehernya, " ceritakan padaku sayang " pinta Nathan semakin penasaran. Lebih penasaran karena tingkah istrinya yang tak biasa.
" Ntahlah. Semua menjadi kacau dalam sekejap " jawab singkat Green.
" Maksudnya. Aku semakin tidak paham sayang, tolong ceritakan dengan benar ".
Green menarik nafas, sebelum kembali membicarakan sesuatu yang akan menguras emosinya, " tiba tiba semua terungkat, kalau Mami Viona adalah penyebab dari kecelakaan pada kedua orang tua kandung Elin " jelasnya dengan penuh tekanan. Sementara Nathan kini sudah terperanga oleh cerita yang begitu membuatnya terkejut, " sungguh ? " tanyanya tidak percaya.
" Tentu aku tidak akan mengarang hal bodoh seperti itu Nathan " sahut Green.
" Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini. Di saat rencana pernikahan mereka sudah di depan mata " ucap Nathan tak habis pikir. Sedangkan Green hanya bisa kembali menghela nafas tanpa bisa berkata apapun lagi, " yang aku pikirkan sekarang, bagaimana kondisi sahabatku saat ini " ucapnya lemah.
Dan bersamaan handphone miliknya yang di letakkan di atas nakas tiba-tiba berdering, Dan itu berhasil membuat dirinya menjadi panik. Karena tidak biasanya handphonenya akan berbunyi di waktu pagi seperti ini.
Dadanya semakin berdebar saat melihat nama adik laki-laki Elin tertera di dalam layar handphonenya, " ya Tuhan semoga ini bukan sebuah berita yang buruk " ucapnya lemah.
" Siapa ? " tanya Nathan ikut penasaran.
" Tama, adik Elin " jelas Green dengan tangan yang sudah memegang handphonenya.
" Hallo " jawabnya pada panggilan telepon yang baru saja ia jawab.
" Kak Green "
" Iya Tama, ada apa ? " tanyanya langsung.
" Kak, bisa kalian datang kemari "
" Apa yang terjadi Tama ? " tanya Green yang menjadi semakin panik.
" Elin belum keluar dari tadi malam dari kamarnya dan dia belum makan sedikit pun. Mungkin dengan kalian dia mau " ucap Tama yang terdengar sangat cemas dari nada bicaranya yang normal.
" Kami akan kesana Tama " jawab langsung Green.
" Tapi apa kalian sudah mencoba memanggilnya ? "
" Sudah. tapi dia tidak ingin keluar dari kamarnya. Ibu sangat cemas kak Green. Jadi aku mohon tolong bantu kami " ucap Tama memohon, " Tunggu kami akan segera kesana Tama ".
" Baik kak. Terimakasih " ucapnya lalu menutup panggilannya pada Green.
" Apa yang terjadi ? " tanya Nathan. Setelah telepon berakhir.
" Aku dan Amel harus ke rumah Elin sayang. Dari tadi malam dia belum keluar dari kamarnya " jelas Green yang menjadi buru-buru.
" Astaga. Kenapa jadi semuanya seperti ini " erang Nathan yang menjadi ikut panik, " apa aku harus ikut sayang "
" Tidak sayang. Biar aku dan Amel saja " sahut Green.
" Kabari aku nanti "
" itu pasti "
Dan bersamaan tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk.
" Jo " panggil dari luar.
" Jo " ulang panggilan itu dengan panik.
Nathan dan Green berjalan dengan cepat menuju pintu, " ada apa fin ? " tanya Nathan yang menjadi semakin panik saat melihat wajah gusar saudaranya , " Daniel. Daniel menghilang. Dan handphonenya tidak bisa di hubungi jo " jelas Alfin ketakutan dan itu membuat jantung Nathan dan Green semakin berdebar tak menentu.
Lalu mereka keluar dari dalam kamar dan berlari menuju ruang tidur laki-laki yang kini menjadi kepanikan dari semua penghuni di dalam rumah.