
Memang agak berlebihan saat melihat kumpulan orang kini tengah melingkup di hadapan salah satu pintu kamar pasien.
Bahkan hari ini Nathan dan Alfin kembali cuti dari pekerjaannya untuk ikut bersama semua orang.
Pintu ruang itu tiba tiba di buka. Dan semua orang yang berada di luar ikut mendekat, " bagaimana dokter, apa anak saya hari ini sudah bisa pulang ? " tanya Mala cemas dan semua orang menunggu jawaban dari lelaki yang menggunakan jas berwarna putih.
Dokter Bima tersenyum, " alangkah bahagianya jika saya menjadi Nona Merlinda " ucapnya sambil menatap pada semua orang. Bahkan ia merasakan kekhawatiran semua orang dalam menunggu jawabannya, " nona Merlinda sudah bisa kembali ke rumah hari ini " balasnya dan bersamaan semua orang menarik nafas legah.
" Keluarga yang hangat " ucapnya tersenyum hangat.
" Terimakasih telah menyembuhkan calon menantu saya dokter " ucap Reymond mendekat, serta mengulurkan tangannya pada dokter Bima.
" Beruntung sekali saya bisa bersalaman dengan anda Tuan " balas Dokter Bima bangga. Bagaimana tidak, Ia baru saja mengetahui kalau pasiennya satu ini adalah calon menantu orang ternama kota New York dan itu berarti di hadapannya saat ini adalah orang ternama itu, yang tidak lain ayah dari calon suami nona Merlinda sang pasien.
" Anda berlebihan. Tapi saya sungguh berterimakah pada anda Dokter ".
" Saya juga berterimakasih karena telah mempercayakan saya untuk menangai calon menantu anda. Bahkan ini suatu kehormatan untuk saya "
" Boleh saya minta foto bersama anda Tuan " ucap ragu dokter Bima. Mendengar itu semua orang tertawa dan Reymond mengangguk, " tentu " jawab lelaki itu dengan suara besarnya.
" Saya lebih bangga lagi jika kalian semua mau ikut berfoto dengan saya juga " pinta kembali dokter Bima pada semua orang.
Tentu Green dan Amel yang mendengar, sangat bersemangat untuk melakukan itu, " dengan senang hati kami melakukannya Dokter " ucap mereka senang.
Dokter Bima memberikan handphonenya pada asistennya, lalu kemudian semua orang berkumpul untuk masuk dalam satu frame foto bersama dokternya.
" Terimakasih " ucapnya tak berhenti tersenyum, di salamnya semua tangan semua orang disana, " saya benar-benar bangga telah menjadi dokter Nona Merlinda " katanya.
" Kami juga berterimakasih pada anda dokter, tapi kami tidak akan bilang sampai bertemu lagi. Karena itu terdengar seperti menyumpahi " ujar Alfin yang membuat semua orang tertawa
begitu pun lelaki dengan jas putih itu.
" Semua orang sudah bisa masuk ke dalam, Nona Merlinda pasti sudah menanti " ucapnya pada semua orang, " Kecuali Nona Green, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan sebentar " pintanya.
Semua orang kini menatap heran, " aku hanya ingin konsultasi tentang asam lambungku " seru Green berbohong, agar semua orang tidak menjadi panik.
" Kau yakin sayang ?, kalau begitu aku akan ikut " timpal Nathan.
Mendengar itu semua wajah cemas semua orang, kini berubah menjadi tawa, " katakan saja kalau kau cemburu membiarkan istrimu berdua dengan dokter Bima, Jo " seru Alfin dan Nathan berdelik padanya.
" Tidak apa apa dokter jika suami saya ikut ? " tanya Green pelan. Sementara semua orang sudah masuk ke dalam ruang rawat Elin.
" Tentu Nona " Balas Dokter Bima tersenyum. Lalu berjalan menuju ruangnya di iringi perempuan yang bekerja sebagai asistennya, " dok.. " panggil pelan perempuan itu di sela langkah mereka.
" Hemmm.. ".
" Memangnya siapa mereka ? "
" Hemm.. maksudmu ? " balas dokter Bima dengan terdiam sejenak.
" Kenapa dokter sampai minta foto bersama mereka ? " tanya perempuan itu heran.
" Oh itu. Itu karena aku begitu bangga bisa menjadi dokter dari calon menantu keluarga Remkez. Di tambah lagi keluarga Vernandes, kau pasti tahu keluarga Vernandes bukan ? "
Belum sempat asistennya bicara, dokter Bima mengangguk, " ya keluarga milyader negara ini dan kau harus search di google siapa keluarga Remkez. aku yakin setelah kau tahu, kau akan menyesal kenapa tidak ikut berfoto dengan mereka tadi " ujarnya tertawa dan dengan wajah berbinar ia melangkah menuju ruangnya, " suatu kehormatan bisa menjadi dokter untuk keluarga yang begitu terhormat " ucapnya bangga.
~
" Elin kau sudah sembuh dan sudah bisa pulang " teriak Amel seraya memeluk perempuan itu.
" Hemm.. Dokter Bima sudah memberitahuku " jawab Elin seadaanya.
" kenapa kau tidak bersemangat huh ".
" Aku masih harus menunggu air infusku habis. Sementara aku sudah muak disini Mel " keluh Elin mendengus.
" Sabar sebentar lagi ini akan habis. Lagi pula kita semua akan tetap menunggu disini, Bunda sudah memesan makanan untuk kita makan bersama " sambung Wilna.
" Memang seperti itu rencananya dan kau siap siap menjadi pemimpin doa nanti " balas Wilna, membuat semua orang tidak berhenti tertawa.
" Green dimana Mel ? " tanya Elin, saat menyadari perempuan itu tidak ada disana, " emmmm.. katanya dia sedang konsultasi tentang asam lambungnya pada dokter Bima ".
" Kau serius ?, aku tidak pernah mendengar dia punya sakit asam lambung "
" Ntahlah, aku juga baru tahu dia punya sakit seperti itu. Padahal jika di pikir pikir apa yang bisa membuat dia asam lambung ?. Makan tentu tepat waktu, jika karena setres sepertinya itu tidak mungkin " ujar Amel sambil berpikir dan Elin mengangguk membenarkan pikirannya.
" Kita makan " teriak Wilna tiba tiba, mengagetkan semua orang yang berada di dalam ruangan.
Alfin menghela nafas, " Sudahku duga " ucapnya. Ia menggelengkan kepala saat melihat beberapa orang masuk ke dalam ruangan dengan membawa hidangan makanan yang begitu banyak, "kita harus merayakan kesembuhan Elin dan Daniel, dan juga masalah yang akhirnya selesai " seru Wilna dengan begitu senang.
" Ah rasanya aku tidak sanggup jika kembali memikirkan beberapa hari kemarin " tambahnya prutasi sambil menghela nafas, dan semua orang setuju untuk itu.
Viona kini mendekat pada calon menantunya, " terimakasih karena sudah mau memaafkan Mami, nak " ucapnya begitu dalam. Lalu merengkuh tubuh Elin ke dalam pelukannya," Mam anggap semuanya sudah berlalu. Dan aku mohon jangan mengingatnya lagi " balas Elin tersenyum hambar.
Dan bersamaan pintu ruangan kembali di buka, " Meili " panggil Amel pada perempuan yang masih berada disisi pintu.
" Masuklah, kenapa kau masih di situ " ucap Daniel.
Perlahan kakinya melangkah dengan wajah yang menunduk.
" Kemana saja kau Meil ? " seru Elin menatap sendu padanya.
Meili hanya bisa tersenyum hambar, seraya perlahan kakinya bergerak menuju ranjang Elin, " aku tidak cukup berani menapakkan wajahku di hadapanmu Elin " ucapnya lirih.
" Nak semua sudah selesai. Kakak iparmu sudah memaafkan semuanya " timpal Wilna.
Meili menghela nafas dan memberanikan diri menatap wajah sorot mata Elin lebih dalam, " aku tahu sangat tidak mudah untukmu dan aku meminta maaf untuk itu Elin " ucapnya bersungguh-sungguh.
" Semua sudah berlalu. Kemarilah " pinta Elin, " kau satu-satunya orang yang belum memelukku " lanjutnya dengan sedikit tertawa.
Dan tanpa menunggu tubuh Meili segera merengkuh tubuh Elin, " Yang aku sesali adalah. Aku sudah menceritakan hal itu di hadapanmu tapi aku tidak menyadari bahwa kau orangnya Elin " ucapnya dengan menangis, " dari kemarin aku terus memikirkan ini dan mengingat bahwa aku sudah menceritakannya padamu ".
" Meil... "
" Tidak ada yang perlu di sesesali. Saat itu pun aku tidak tahu, kalau aku orang yang di maksud "balas Elin dengan santai.
Meili melepas pelukannya dan kembali menatap wajah Elin, " Please jangan menyimpan dendam pada kami " ucapnya bersungguh-sungguh. Sementara Elin langsung tertawa, " aku bukan tipe orang seperti itu Meil. Dan aku mohon jangan lagi mengungkit hal ini lagi. Anggap semuanya sudah berlalu. Bahkan bila perlu anggap semuanya tidak pernah terjadi " balas Elin. Nada bicaranya tegas dengan mata yang menatap pada semua orang.
" Aku mohon. Berjanjilah untuk tidak lagi mengungkit hal ini lagi " pintanya, bahkan lebih tepatnya ia memohon.
" Baiklah tuan putri. Kalau begitu sekarang waktunya makan " cercah Amel mendekat sambil membawa sepiring makanan kehadapannya.
" Aaahhh " serunya meminta Elin untuk membuka mulutnya, " buka mulutmu lebar lebar Elin. Anggap saja sendok makan ini lidah kak Daniel yang ingin masuk ke dalam mulutmu ".
" Amel " teriak Elin dengan mata membesar, " apa yang kau katakan huh " sergahnya dengan wajah yang sudah memerah karena begitu malu.
" Aku hanya bercanda Elin. Kenapa kau mengambil hati huh ".
" Bercandamu sungguh tidak lucu Mel "
" Siapa yang ingin melucu. Ayo cepat buka mulutmu "
" Kau.. " erang Elin begitu kesal. Namun, tetap membuka mulutnya untuk menerima suapan dari tangan Amel. Sementara perempuan itu kini melipat bibirnya karena menahan tawa.
" Kau gila Mel bisa bisanya kau bercanda seperti itu. Apa kau tidak lihat ada Ayah dan Ibu ku disini " cercah Elin dengan pelan. kini bahkan ia menahan diri untuk tidak memukul sahabatnya itu.
" Mereka pasti mengerti " bisik Amel dengan begitu santai, memperlihatkan wajah yang tersenyum dengan begitu manis pada Elin.
" Kau memang sahabat yang luar biasa. Ada waktunya aku akan membalas perbuatanmu "
" Sejak kapan seorang Elin menjadi begitu pendendam huh "
" Sejak hari ini " balas Elin tegas. Namun itu tidak membuat Amel takut, justru membuatnya semakin tertawa, " aku yakin kau tidak akan tega melakukannya ".