
" Astaga Daniel " teriak Viona, " Ini bukan New York nak. Ya ampun pak, bu maafkan putra saya " racaunya seraya membungkuk pada Bimo dan Mala.
Meski cukup malu melihat putrinya berciuman di hadapan mereka. Namun, Bimo tetap terlihat tenang dan tersenyum, " sepertinya memang mereka harus segera di nikahkan Nyonya. Tuan Daniel sepertinya sudah tidak sabar " ucapnya sambil tertawa. Di ikuti semua orang.
Di tempatnya kini Daniel hanya bisa tersenyum kaku, dengan Elin yang kini berdelik ke arahnya.
" Maaf ya pak, bu " ucap Elin begitu polos. Membuat semua orang kembali tertawa.
" Ini salahnya kalau membesarkan anak dengan budayabarat " cercah Viona tiada henti. hari ini ia cukup di buat malu oleh tingkah putra semata wayangnya.
" Sudah Viona.Memang seperti itu anak muda. kita juga dulu begitu.. " timpal Wilna tersenyum.
Viona menghela nafas, " Tapi Reymond tidak pernah menciumku di hadapan orang tua ku. Jadi aku heran dari mana asal tingkah gila putra ku ini " sambungnya. Padahal saat di rumah sakit, ia tahu Daniel berciuman dengan Elin. Namun, ia tidak seperti itu. Karena saat ini bukan tentang ciuman mereka, tapi etika di hadapan kedua orang tua Elin.
" Masih beruntung orang tua Elin, tidak membatalkan pernikahanmu pada putri mereka " cercah pada Daniel, sementara semua orang terus tertawa. Tak terkecuali Bimo dan Mala, " tidak akan sampai begitunya Nyonya " ucap Bimo.
Sementara Elin, kini masih diam mematung dengan pipih yang merona karena malu. Bahkan saat ini, ia tidak berani mengangkat wajahnya kehadapan semua orang.
" Maaf " ucap Daniel pelan. Namun, setelah itu ia tersenyum, seperti tidak ada penyesalan yang begitu berarti padanya.
Sementara Green dan Amel tidak berhenti membuka mulutnya, mentertawakan raut wajah Elin yang memerah.
Di tengah pandangan yang tertunduk, Elin melihat sesuatu yang tertambat di tubuhnya, " apa ini ? " tanyanya pada selempang berwarna merah bertuliskan Bride to Be.
" aaaah, untung kau mengingatkan. hampir saja aku lupa " serunya Green, lalu beranjak mengambil sesuatu dari tempat tidak jauh dari mereka.
Membuat Elin kini terdiam dan semakin kebingungan, sambil mengamati suasana di sekitarnya.
Bibirnya tersenyum saat melihat begitu banyak bunga mawar bertebaran disana, serta cahaya lampion yang terus berbinar, membuat taman rumah keluarga Vernandes terlihat begitu indah malam ini.
" Apa ini sebabnya kau tidak memberi kabar hari ini " gumamnya pada Daniel dan laki laki itu hanya tersenyum hambar, " apa kau senang ? " tanyanya dan Elin mengangguk, " sangat senang " balasnya.
" Terimakasih " bisiknya begitu lembut pada Daniel, membuat garis bibir lelaki itu merekah seketika, " aku sangat senang mendengarnya " ungkapnya begitu bahagia. dan itu dari hatinya, setelah sebelumnya ia cukup takut membayangkan suprisenya akan menjadi gagal, karena Elin yang tidak suka dengan hari ulang tahunnya.
Meili berhamburan berlari ke arah Elin, memeluk tubuh wanita itu dengan begitu erat, " selamat ulang tahun kakak ipar. Aku baru menyadari setelah bertahun-tahun kita berteman, ini pertama kalinya aku merayakan hari ulang tahunmu " katanya di dalam pelukan.
" Karena selama ini aku memang tidak pernah ingin merayakannya Meil. Jadi jangan merasa bersalah " balas Elin tertawa.
Meili belum mengakhiri pelukannya, " semoga kau selalu bahagia kakak ipar " ucapnya dari hati.
" Terimakasih Meil. Semoga kau pun begitu " balas Elin, " dan tolong jangan memanggilku seperti itu " tambahnya dengan tertawa, sembari Meili melepas pelukannya.
" Kakak ipar ? " ulang Meili.
" Hemm.. "
" Mana mungkin aku tidak memanggilmu seperti itu, sementara sebentar lagi kau sungguh akan menjadi kakak iparku " cercah Meili, " jangan protes Elin " sambungnya sambil menggerakkan jari telunjuk kehadapan wajah Elin.
" Memang susah bernegosiasi denganmu ini " gumam Elin sedikit kesal. Namun setelah itu dia tertawa, dan sesaat matanya melihat pada Amel yang kini yang berdiam diri di tempatnya.
Dan bersamaan Green kembali dengan mahkota di tangannya.
" sudahku bilang di larang protes " cercah Green.
" Mel kemari, saatnya kita balas dendam malam ini " serunya sambil melempar kotak lipstik ke arah Amel. Dan Amel terlihat begitu bersemangat menyambutnya, lalu ikut mendekat kehadapan Elin.
Green dengan begitu bahagia mencoret wajah Elin dengan lipstick di tangannya, bergantian dengan Amel yang kini tengah mengukir ukuran bibir Elin dengan Volume yang begitu besar, " kau seperti Kylie Jenner Elin " serunya sambil tertawa. Sementara Elin hanya bisa mendengus kesal, " Kylie Jenner dari hongkong, seperti orang gagal operasi sih iya ini " protesnya pasrah.
" Meili, apa kau mau ikut bergabung ? " ajak Green.
" Boleh ? " sahut perempuan itu.
" Tentu. Sekarang saatnya kau mengerjai calon kakak iparmu " ucap Green begitu senang. Seperti tidak punya perasaan pada Elin yang kini tidak lagi jelas seperti apa bentuk wajahnya.
" Apa seperti ini wanita yang ingin menikah ? " seru Daniel disisi, Nathan dan Alfin. Ia begitu merasa kasihan melihat calon istrinya yang di kerjai oleh adik dan dua sahabatnya.
" Ntahlah. Aku juga tidak paham ini adat atau budaya yang mereka buat sendiri " sahut Alfin, " setiap mereka ingin menikah selalu terjadi sesuatu seperti ini " sambungnya dengan kepala yang menggeleng. Namun, setelah itu ia tertawa begitu kencang saat melihat wajah Elin.
" Sayang. Apa kalian sedang balas dendam pada Elin ? " serunya pada Amel dan wanita itu mengangguk dengan senyum kemenangan.
" Harusnya juga kalian membuat kak Daniel seperti ini sayang " kata Amel tertawa.
" Jangan Gila Jo. Fin " ucap Daniel dengan mata yang membesar.
" Kau harus menurut Rem. Demi kelancaran pernikahanmu " ucap Nathan menatap serius. Namun, bibirnya terlipat menahan tawa.
" Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan kelancaran pernikahan "
" Ada Rem. Sepertinya aku baru menyadari kalau ini budaya Indonesia yang harus di ikuti. Kau juga tidak ingin pernikahanmu terhalang hanya karena kau tidak mengikuti hal seperti ini kan " kata Alfin menimpali. dan Daniel kini terdiam, " apa iya ada adat seperti ini ".
" Ada. Dan jangan mengambil resiko untuk menolaknya. Dulu aku dan Nathan juga melakukan ini " ucap Alfin. Daniel menghela nafas, " baiklah " jawabnya pasrah.
" Sayang lempar salah satu lipstick kalian " seru Alfin dan Amel bersemangat melakukannya.
" Kami hanya mencoret sedikit saja Rem. hanya membuat Love di bagian pipimu " ujar Alfin dengan tertawa, sementara Nathan sudah tertunduk menahan setengah mati tawanya saat melihat wajah Daniel yang sudah di bingkai dengan tanpa rasa bersalah oleh Alfin.
" Rasanya ini tidak adil. Padahal dulu waktu kalian menikah aku tidak melakukannya pada kalian " ungkap Daniel.
Alfin semakin tertawa, " mungkin ini rezeki kami " ucapnya.
Gambar hati sudah menghiasi kedua pipi Daniel, serta bulatan di bagian hidung mancungnya, " apa kau ingin menambahkan Jo " seru Alfin.
" Sedikit saja " kata Nathan sembari mengambil alih lipstik di tangan saudaranya.
" aku hanya menambahkan di bagian bibirnya. Biar dia semakin terlihat adil dengan Elin " katanya sambil melakukan aksinya mencoret bibir Daniel dengan lipstik di tangannya, " beres " katanya setelah selesai. dan bersamaan ia tertawa begitu keras bersama Alfin, lalu di ikuti semua orang.
" Di buat seperti ini pun. Dia masih terlihat tampan " serunya.
" Tampan. Aku yakin sekarang aku tak ubah seperti seorang badut " potong Daniel begitu kesal.
" Eiiitt calon pengantin tidak boleh marah. ini demi kelancaran pernikahanmu Rem " seru Alfin menahan tawa, sementara Nathan kini semakin terkekeh dengan wajah yang sudah memerah karena menahan tawa, " kapan lagi bisa mengerjai milyader New York " gumamnya.