
" Kau terlihat begitu senang Elin " ucap Kasih karena melihat perempuan itu terus tersenyum sambil merapikan meja kerjanya ,
" Benarkah , mungkin karena aku terlalu bersemangat untuk pulang " jelasnya dan memang seperti itu yang terjadi , setelah beberapa jam menunggu dan tidak sabar untuk bertemu kekasihnya , yang pasti juga sedang menunggu kepulangannya.
Drrrrttt drrrttt " handphone yang berada di tangan Elin berdering , membuat senyum perempuan itu semakin merekah.
" Dia sungguh manusia yang tidak sabar " gumamnya saat melihat nama kontak kekasihnya tertera pada layar handphone , " tunggu sebentar " ucapnya pada Kasih sambil berjalan menjauh.
" Kau dimana ? , Apa sudah pulang ? " tanya tidak sabar dari balik telepon.
" Sebentar lagi aku akan pulang " jawab Elin dengan bibir tersenyum.
" Sungguh ? , aku baru saja akan memecat atasanmu jika seandainya kalau belum pulang dan masih bekerja "
" Kau bicara seolah kau pemilikinya " ucap Elin tertawa.
" Tunggulah , sebentar lagi aku akan pulang "
" Apa kau ingin aku bawakan sesuatu ? "
" tidak , aku hanya ingin kau cepat pulang " rengek Daniel yang tidak ubah seperti anak kecil.
" Baiklah , sampai bertemu "
" Hanya itu " ucap Daniel , membuat Elin mengurungkan niat untuk mengakhiri sambungan telepon itu.
" I love you " ucap Elin yang langsung mengerti.
" I love you somuch , bye " balas Daniel yang terdengar begitu senang.
" Aku seperti merasa menjadi seorang ibu , bukan seorang kekasih " gumam Elin yang masih menatap layar handphone dengan telepon yang baru saja berakhir.
~
" Elin cepat ambil tasmu , sedari tadi kami sudah menunggumu disini " ucap Bimo saat Elin baru saja kembali ke dalam ruang kerja mereka.
" Padahal kalian tidak perlu meninggalku " sahut Elin tersenyum dan segera mengambil tas yang sudah di letakan di atas meja kerjanya , " mana mungkin kami meninggalkanmu " sambung Kasih.
" Ayo " ajak Elin yang sudah ikut bergabung dan mereka berjalan beriringan menuju pintu lift untuk turun ke lantai lobby.
" Kapan kau punya rencana untuk menjenguk paman Larry dan Bibi Jamie ? " tanya pelan David pada Elin dengan posisi mereka yang sedikit berdempetan , maklum mereka sedang berada di waktu jam pulang kantor , membuat ruang kecil itu menjadi begitu mendesak.
" ntahlah , aku masih belum bisa mengatur waktuku tapi yang pasti akan kesana untuk melihat mereka " jawab Elin sambil menarik nafas karena udara yang mulai sesak.
" Apa kau ingin pulang bersamaku ? " ajak David dan belum sempat Elin menjawab pintu lift sudah kembali terbuka.
" Terimakasih David , mungkin lain kali " sahutnya tersenyum.
" Elin , kemana kau akan pulang ? " tanya Kasih yang memang belum mengetahui tempat tinggal perempuan itu , " Leonard Street " jawabnya tanpa sadar karena kembali sibuk dengan benda pipihnya untuk memesan jasa taksi online , " Waaww , ternyata kau orang tajir " ucap Kasih begitu kagum , karena tidak ada yang tidak mengetahui harga fantastic dari bangunan tempat tinggal teman kerjanya itu.
" Kau berlebihan Kasih " sahut Elin tersenyum , lalu kembali menatap layar handphonenya .
" Apa kau membawa mobil ? " tanyanya lagi.
" Tidak , makanya sekarang aku sedang memesan taksi online " jelas Elin tanpa melihat kearah temannya ,
" kalau begitu kau bisa pulang bersamaku Elin , karena tempat tinggalku melewati apartemenmu " sambung Bimo , membuat David melempar tatapan tajam pada lelaki itu dan tidak sabar menunggu jawaban Elin.
" Terimakasih Bim , tapi hari ini aku tidak langsung pulang ke rumah "
" Tidak apa-apa , aku bisa mengantarmu kemana saja "
" Kenapa kau begitu memaksa , dia sudah menolakmu " sambung David tiba-tiba dengan meninggikan suaranya.
" Kenapa kau yang harus keberatan ? , Apa sekarang kau sedang cemburu David ? " timpal Kasih dengan tertawa , membuat wajah laki-laki itu seketika memerah , " jangan terus menggodanya Kasih " ucap Elin yang merasa kasihan pada David yang terus menjadi bulan-bulanan ledekan teman kerjanya.
" Taksiku sudah di depan " ucapnya dengan begitu senang, " sampai bertemu besok " lanjutnya lagi pada semua orang , sambil bergegas dan berjalan dengan begitu cepat menuju keluar pintu lobby.
" Usahamu masih kurang David " goda Kasih.
" Maksudmu ? " tanya lelaki itu sambil mengalihkan pandangannya dari perempuan yang berjalan semakin menjauh , " saat di lift aku mendengarnya " sahut Kasih tertawa lalu segera berlari menuju pintu lobby , meninggalkan David dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
" Sampai bertemu besok semuanya " teriaknya lagi , sebelum benar benar menghilang dari pandangan semua orang.
" Menyebalkan , saat menyadari yang tersisa hanya kalian " ucap Bimbim pada Frans dan David , lalu segera berjalan menyusul Kasih.
" Aku pulang " ucap bersemangat Elin , sambil membuka pintu ruang rawat kekasihnya.
" Astaga " ucapnya begitu malu , saat melihat kekasihnya tidak sendiri ,
" kalian disini ? " tanyanya tidak sadar pada Mike dan Hannah.
" Apa kau tidak suka dengan kedatangan kami Elin " ujar Hannah tertawa ," tidak , aku hanya sedikit terkejut" jelasnya dan segera melipat bibirnya dan berjalan menuju ranjang dengan Daniel yang masih terbaring di atasnya.
" Bagaimana keadaanmu hari ini ? " tanyanya sambil duduk di sisi ranjang.
" Aku merasa begitu lemas " sahut Daniel lemah.
" Jangan percaya Elin , dia sedang berbohong " sambung Meili yang juga berada disana.
" Tidak , aku tidak berbohong , aku sungguh merasa tidak bertenaga hari ini " kata Daniel yang terus berusaha membuat kekasihnya percaya , " apa kau sudah makan ? , minum obat ? " tanya Elin sedikit panik dengan memegang bagian tubuh lelaki itu untuk memeriksa suhu tubuhnya.
" Aku sudah menjadi kekasih yang baik dengan melakukan semuanya , aku sudah makan , sudah minum obat , tapi semuanya seperti tidak beguna , tubuhku masih saja merasa lemah "
" Apa dokter Albert sudah memeriksa keadaanmu hari ini ? " tanya Elin dan Daniel menganggukkan kepalanya.
" Dia mengatakan keadaanku sudah jauh lebih baik "
" Lalu apa masalahnya ? , apa obatnya benar kau minum Daniel ? " tanyanya curiga , namun laki-laki itu tidak lagi menjawab , ia hanya mengambil tangan Elin dan meletakannya di bagian sebelah kiri dadanya.
" Separuh hatiku pergi , jadi anggota tubuhku tidak bisa bekerja dengan sempurna dan itulah yang membuat tubuhku begitu lemah " jelasnya , membuat semua orang yang berada di sana menjadi merasa geli setengah mati.
" Benarkah ? , pantas saja aku merasa begitu tidak bersemangat selama bekerja , ternyata karena aku terlalu mengkhawatirkan keadaanmu " sambung Elin dengan wajahnya begitu serius.
" Kenapa kalian berdua menjadi begitu. menggelikan huh " teriak Meili bergidik, sedangkan sepasang kekasih itu tertawa dengan begitu puas.
" Sebelum isi dalam perutku keluar , sebaiknya kita pergi dari sini " sambungnya pada Mike dan Hannah , dan sepasang kekasih itu pun menyetujui dengan segera beranjak dari duduk mereka.
" Mau pergi kemana kalian ? " tanya Elin cepat ,sambil mengatur nafasnya karena tertawa , " Kami sedang menjenguk orang sakit bukan menonton drama telenovela kalian " sahut Mike.
" Kau tidak bisa membanding tingkah menggelikan mereka dengan drama terbaik itu Mike , aku takut sutradara film itu akan menangis mendengarnya " sambung Meili dengan mendelikan matanya pada Daniel ,
" Kau benar-benar membuatku malu " ucapnya , dan berjalan dengan cepat menuju pintu.
" Hey , kenapa kalian begitu serius kami hanya bercanda " teriak Elin , berusaha menghentikan.
" Tidak Elin , kami hanya ingin membiarkan Daniel melepas rindunya padamu , sejak tadi dia memang terlihat tidak berdaya " jelas Mike , " aku rasa kau memang saudaraku " sambung Daniel tertawa.
" Aku memang saudaramu apa kau lupa ? " sahut Mike.
" Lupa , semenjak kau mengkhianatiku "
" Sepertinya kalian memang harus pergi Mike " sambung Elin dengan serius.
" Aku hanya bercanda " ujar Daniel yang masih tertawa.
" Tidak , aku yakin kau masih mempunyai dendam padaku " sahut Mike.
" Tidak aku sungguh sudah lupa , kalau masih seperti itu tentu kalian tidak akan aku biarkan berada disini"
" Benar juga " sahut Mike membenarkan dengan gerakan kepala yang menangguk.
" Sebaiknya aku yang pergi , karena disini yang terus di sindir adalah aku " timpal Hannah , membuat semua orang tertawa.
" Aku benar-benar sudah memaafkanmu Hannah , sungguh " ucap Daniel menatap serius dan bibir yang tersenyum dengan penuh damai.
" Jadi mulai hari ini kita berdamai " ucap Hannah sambil mengulurkan tangannya dan Daniel menyambutnya dengan begitu antusias ," Damai " balasnya tersenyum.
" Jadi jangan lagi ada salah paham antara kita " sambung Hannah sambil melirik kearah Elin
" Aku rasa sekarang aku yang sedang di sindir " ucap Elin yang cepat tanggap dan semua orang menjadi tertawa , termasuk Daniel.
" Ini benar benar lucu dan begitu rumit " ucap Mike di sela tawa mereka.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚