
Elin ikut beranjak dari dalam ruangan setelah melihat kekasihnya pergi dengan penuh kemarahan , " biar saya yang menenangkan tuan nona " ucap Reza begitu pelan , lalu segera berjalan untuk menyusul langkah Daniel.
Elin masih terus menatap pada punggung tegap yang hampir menghilang dari penglihatannya , " hei " sapa seseorang yang membuatnya tersentak.
" Kasih , kau mengejutkan aku " ucapnya sambil memegang dada sebelah kiri untuk mengatur deru jantung yang berdegub begitu cepat , " maafkan aku , tapi kau begitu fokus menatap kekasihmu " ujar Kasih dengan berusaha menahan untuk tidak terus tertawa , " pelankan nada bicaramu Kasih " ucap Elin sambil melihat ke sekelilingnya.
" Maafkan aku " ucap Kasih mengerti dan Elin kembali terdiam dan menatap kosong pada tubuh yang sudah menghilang dari pandangannya.
" Aku benar-benar tidak menyangka Mr.Sam akan melakukan ini " ujar perempuan itu lagi untuk kembali mengajak Elin berbicara , namun perempuan itu hanya diam dan tersenyum begitu singkat , " ayo " ajaknya menuju ruangan dan Kasih mengangguk lalu mengikuti langkahnya.
~
" Tuan " panggil Reza pelan pada Daniel yang terlihat kacau dengan dasi yang sudah melonggar dari kerah kemejanya , " tinggalkan saya sendiri Reza " pinta Daniel sedikit membentak.
" Baik tuan ,silahkan panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu " ucap Reza lalu berjalan mundur untuk meninggalkan ruangan yang terasa dingin oleh emosi.
~
" Maria " panggil Reza pada perempuan yang duduk di meja kerjanya yang berada tidak jauh dari pintu ruang kerja Daniel , " ya sir " jawab Maria sambil beranjak dari duduknya.
" Pastikan tidak ada yang datang ke ruang kerja tuan ,beliau sedang tidak ingin di ganggu "
" Baik sir "
" Dan pastikan kabar tadi harus masuk ke dalam pemberitaan " tambahnya dan Maria mengangguk.
Tidak lama telepon di meja perempuan itu berdering, dan Reza kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya sendiri setelah memastikan semuanya sudah ia sampaikan pada Maria.
" Hallo " jawab Maria pada teleponnya.
" Maria , ini saya Elin " ucap dari seberang dengan suara yang begitu pelan.
" Oh ya nona , apa ada yang bisa saya bantu ? "
" Bagaimana Daniel dan dimana dia sekarang ? " tanya Elin yang terdengar begitu cemas , " beliau ada diruangannya nona , dan sedang tidak ingin di ganggu " jelas Maria , lalu terdengar helaan nafas dari arah seberang , " pastikan dia tidak melupakan makan siangnya "
" Baik nona "
" Emm..tolong beri kabar padaku bagaimana keadaannya atau jika dia sudah mulai ingin beranjak dari dalam ruangannya "
" Baik nona "
" Terimakasih Maria ,maaf merepotkanmu "
" Nona " panggil Maria sebelum perempuan itu menutup sambungan telepon itu ,
" ya "
" Sepertinya tuan hanya butuh nona disini "
" Jangan bercanda Maria "
" Saya serius nona , mungkin perasaan tuan akan sedikit membaik dengan keberadaan nona disini " jelas Maria , sesaat tidak ada sahutan dari seberang , " siapkan makan siang untuknya Maria , jika sudah waktunya istirahat aku akan menemuinya "
" Baik nona " jawab Maria , lalu telepon itu berakhir.
****
" Ternyata perusahaan kita benar-benar sedang kacau " ujar Bimo dengan wajah yang begitu panik , semua orang melihat kearahnya termasuk Elin yang masih berdiri di sisi meja telepon , " benarkah ? " sambung Kasih yang ikut panik dan beranjak mendekat pada meja kerja laki-laki itu ,
" Kau lihat , semua perancang yang menggunakan produk kita menghentikan kontrak kerjanya " jelas Bimo kembali sambil memperlihatkan bukti laporan di layar komputer kerja miliknya.
" ah , aku tidak bisa bayangkan bagaimana menjadi Daniel Remkez saat ini " tambahnya , membuat Kasih langsung melihat pada Elin yang terlihat semakin cemas.
" emm..maaf aku harus ke toilet " pamit Elin tiba-tiba lalu segera meninggalkan ruangan itu tanpa peduli dengan semua orang yang menatap bingung pada tingkahnya kecuali Kasih yang memang sudah mengerti.
~
" Nona " panggil Maria terkejut , saat melihat perempuan itu berjalan begitu cepat menuju kearahnya , " apa Daniel ada di dalam ? " tanya nya begitu tergesa-gesa.
Maria mengangguk dan tanpa menunggu Elin kembali berjalan menuju pintu ruangan CEO perusahaan itu dan langsung masuk ke dalam ruangan .
Elin berdiri tertegun disisi pintu , saat menemukan kekasihnya sedang tersandar di sisi kursi kerjanya dengan penampilan yang begitu kacau , tidak ada lagi terlihat pakaian kerja dan rambut yang rapi , semua terlihat sangat berantakan , bahkan laki-laki itu tak menyadari kedatangannya.
" Bereskan barang-barangmu Daniel " perintahnya sedikit lantang , membuat laki-laki itu bergerak dan menatap terkejut kearahnya.
" Kau disini ? " tanya Daniel dengan mata yang masih sedikit membulat karena reaksi tekejutnya atas kehadiran tiba-tiba perempuan itu di dalam ruang kerjanya , " aku bilang bereskan semua barang-barangmu " kata Elin mengulang sambil mengambil jas kerja Daniel yang tercecer di atas soffa dan beberapa barang-barang yang ia yakini itu sangat penting untuk di bawa.
" Aku tidak mengerti maksudmu " ujar Daniel dengan dahi yang bekerut.
Elin menghelas nafasnya sedikit kesal , lalu beranjak menuju tempat duduk laki-laki itu , " ayo " katanya sambil menarik jari-jari besar milik Daniel , " kita mau pergi kemana ? " tanya Daniel semakin bingung.
" Jangan banyak bertanya "
" eh tapi apa kau punya rencana meeting setelah ini ? " tambahnya , lalu Daniel menggeleng pelan , " bagus " ujarnya begitu bersemangat dengan bibir yang melengkung dengan sempurna.
" Sayang jelaskan dulu kita akan pergi kemana ? " kata Daniel menghentikan gerak perempuan itu, " jalan-jalan " jawab singkatnya lalu kembali menarik tangan besar itu untuk beranjak.
" Jalan-jalan " ulang Daniel semakin bingung dan Elin mengangguk.
" Bukankah ini masih waktu jam kerjamu ? " tanya Daniel sambil melihat pada alroji di tangannya , " ya , tapi sekarang aku sedang ingin jalan-jalan dan aku rasa tidak akan ada yang berani memecatku " jawabnya begitu enteng , membuat bibir Daniel sedikit melengkung.
" Jangan lagi banyak bertanya " tambahnya lalu kembali menarik tangan itu menuju pintu dengan satu tangannya lagi membawa handphone dan jas kerja milik Daniel.
Daniel melonggarkan pegangan tangan Elin di jarinya ketika mereka sudah berada di luar ruangan , namun perempuan itu tampak santai tidak seperti yang biasa ia lakukan saat berada di gedung miliknya itu.
" Siang Nona , tuan " sapa Maria menunduk.
" Hai Maria " balas Elin dengan begitu bersemangat, bahkan benar-benar membuat Daniel tidak berhenti kebingungan.
Perempuan itu tetap menggenggam tangannya dan menariknya menuju meja Maria , " Maria tolong cancel semua rencana Daniel hari ini dan minta pada Reza untuk mengatur ulang jadwalnya dan emm..katakan juga padanya jika dia pulang untuk beristirahat " pinta Elin pada Maria dan itu tanpa pembicaraan pada Daniel terlebih dahulu.
" Baik nona "
" Dan..emm , kau punya nomor teleponku ? "
" Tidak nona " jawab Maria , " tunggu sebentar sayang " ujarnya pada Daniel, lalu ia mengambil secarik kertas di atas meja dan menulis nomor teleponnya disana " hubungi aku jika terjadi sesuatu disini " ucapnya sambil menyodorkan kertas itu pada Maria , membuat mata Daniel membulat dan bibir yang melengkung dengan sempurna.
" Baik nona "
" Ingat telepon ke nomor itu bukan nomor Daniel " jelasnya dan Maria kembali mengangguk.
" Dan emm.. boleh aku meminta bantuanmu Maria ? "
" Tentu nona "
" Tolong sampaikan pada Laurent untuk mengatakan pada orang-orang di ruanganku kalau aku sedang sakit dan harus pulang , dan minta padanya untuk mengambil barang-barangku di meja kerjaku "
" Baik nona , biar saya yang melakukannya "
" Apa itu tidak akan merepotkanmu ? "
" Tentu tidak nona "
" Baik terimakasih banyak Maria , dan ingat telepon aku jika terjadi sesuatu di kantor " ujarnya , setelah melihat Maria kembali mengangguk , ia kembali menggapai tangan Daniel dan tanpa banyak bicara segera menarik tubuh besar milik laki-laki itu menuju lift khusus CEO perusahaan.
" Sepertinya kau sudah cocok menganggantikan aku disini " ujar Daniel tersenyum di sela menuggu lift sampai di lantai tujuan mereka , " jangan bercanda sayang " sahutnya , sambil terus melihat pada angka yang terus bergantian di sisi atas pintu lift.
" Aku serius "
ting " pintu lift terbuka.
" Kemarikan kunci mobil " pinta Elin sambil berjalan keluar , namun tanpa melepas genggaman tangannya pada Daniel.
Laki-laki itu merogoh saku celananya , mencari benda yang di minta oleh kekasihnya dan setelah menemukan ia segera memberikannya.
" Sayang kita sedang berada di area parkir " ujar Daniel memberi peringatann sambil terus berjalan beriringan dengan tangan yang terus bergandengan , " emm ya , lalu "
" Apa kau tidak takut orang lain melihat kita "
Elin menghentikan langkahnya sesaat , dan matanya memperhatikan kesana kemari , " jika memang ada yang melihat , berarti memang sudah waktunya mereka tahu yang sebenarnya " ucap Elin begitu cuek , benar-benar bukan seperti dia biasanya.
" Kau yakin sayang ? "
" Ya , hari ini aku hanya ingin membuatmu senang , jadi aku sedang tidak peduli pada orang lain " jelasnya begitu santai , lalu kembali menarik tangan Daniel menuju mobil yang letaknya tidak jauh lagi dari mereka.
" Silahkan duduk di kursimu tuan , dan percayakan padaku untuk menjadi sopirmu hari ini " ujar Elin , setelah berada tepat di hadapan mobil sport berwarna merah muda miliknya ,
Daniel mencegah gerak Elin yang ingin melepas genggaman tangan mereka , justru ia membuat tubuh perempuan itu menjadi terhimpit pada tubuhnya , " Sayang apa yang kau lakukan , kita sedang berada di area parkir " ucap Elin begitu gugup , saat bibir seksi milik Daniel sedikit lagi menyentuh bibirnya.
" Bukankah kau tidak peduli pada siapapun dan ingin menyenangkan aku hari ini ? "
" Ya.. tapi... " kata Elin terpotong karena bibir yang sudah di serbu oleh bibir merah milik Daniel , dan kali ini ia benar-benar menyesali ucapannya.