
****
" Ceh , aku sudah yakin ini pasti akan terjadi " ucap Meili tersenyum saat menemukan dua manusia yang tertidur dengan saling berpelukan , " ternyata kehadiranku tidak berngaruh apa-apa " tambahnya , lalu berjalan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang lapar , dan membiarkan sepasang manusia itu tetap berpelukan karena waktu masih terlalu pagi untuk mereka bangun.
Meili mengambil satu buah Apel dan segelas susu cair untuk di bawanya kembali ke dalam kamar, karena jika ia menikmatinya disana , tidur Elin dan Daniel pasti akan terganggu , " ternyata juga menyenangkan memiliki tempat tinggal yang tidak begitu besar " gumamnya sambil terus berjalan menuju ruang tidurnya tadi malam.
" Apa aku menggangu tidurmu ? " tanyanya saat melihat mata Elin terbuka.
" Tidak " sahut perempuan itu , lalu kembali memejamkan matanya , " sepertinya pelukan Daniel begitu nyaman " ujarnya tertawa , lalu kembali melanjutkan langkahnya.
****
" Hai nona , apa keadaanmu sudah membaik ? " tanya Kasih saat melihat Elin masuk kedalam ruangan ,
" ya , seperti yang kau lihat " jawabnya , sambil melirik ke arah David yang tidak merespon kedatangannya..
" Kau membuat kami khawatir " tambah Bimo mendekat
" Aku baik-baik saja Bim "
" Ya kau mengejutkan kami , tiba-tiba saja mendengar kabar kau pulang Karena sakit " timpal Fans , laki-laki yang paling irit bicara di dalam ruangan itu.
" Maaf aku tidak lagi sempat berpamitan karena perutku tiba-tiba saja begitu sakit " jelasnya dengan penuh rasa bersalah karena telah berbohong.
" Ya , lain kali kau tidak perlu memaksakan diri Elin " ucap Bimo dan perempuan itu menganggukkan kepala
" Aku tidak percaya kau sakit " bisik Kasih tertawa dan membuat Elin berdelik kearahnya.
~
" ah kenapa tulang-tulangku terasa begitu sakit " gumam Elin yang tanpa sadar terus merenggangkan otot-ototnya.
" Ada apa ? , kau terlihat begitu kelelahan " ucap Kasih dan Elin segera menggelengkan kepalanya , " aku hanya merasa tulang-tulangku hampir remuk ".
" Mungkin karena kau melakukan aktifitas yang berlebihan , atau mungkin karena posisi tidurmu yang salah "
" aaah , kau benar " ucapnya setuju , karena kembali teringat dengan posisi tidurnya yang berada di dalam pelukan Daniel tadi malam , yang membuatnya tidak bisa bergerak , namun tetap merasa begitu nyaman,
dan tanpa ia sadari membayangkan kejadian itu membuat pipinya memerah , " kenapa kau menjadi salah tingkah huh " ucap Kasih yang memang terus memperhatikan tingkahnya sejak tadi.
" Bisakah kau lanjutkan saja pekerjaanmu Kasih " ucapnya kesal ,
" Baiklah nyonya " sahut perempuan itu tertawa dan langsung memutar posisi duduknya dengan benar.
****
" Aku akan segera menuju ruanganmu " tulis Elin dalam pesan yang ia kirim untuk kekasihnya dan ia begitu tidak sabar untuk menikmati makanan yang mereka buat tadi pagi.
" Ahhh..kenapa aku merasa begitu jatuh cinta " gumamnya begitu malu, namun ia di kejutkan oleh tatapan Kasih yang menatapnya dengan tertawa , " kau persis seperti orang gila " ucap perempuan itu.
" Ayo , semua orang sedang menunggumu " tambahnya , dengan langsung beranjak dari duduknya.
" Memangnya kita mau pergi kemana ? "
" Ke kantin Elin memangnya mau kemana lagi , apa kau tidak menyadari kalau sekarang sudah waktunya makan siang " jelas Kasih sedikit kesal , " emm..ya aku tahu , tapi aku tidak bisa ikut "
" Kenapa ? " sambung Bimo.
" emm..aku merasa masih begitu kenyang dan aku membawa bekal hari ini " jelasnya dan laki-laki mengangguk , " baiklah , kalau begitu kami pergi , kau tidak apa-apa sendiri disini ? "
" Ya Bimo , aku bukan anak kecil " ujarnya tertawa , dan kemudian semua orang pergi meninggalnya kecuali Kasih yang masih sempat mendekat padanya , " selamat menikmati makan siang Nyonya Remkez " bisiknya tertawa , lalu segera berlari menyusul ketiga temannya , meninggalkan Elin yang menatapnya dengan begitu kesal.
****
" Kenapa begitu sepi, dimana Maria ? " gumam Elin saat tidak menemukan siapa-siapa di meja kerja perempuan itu , yang juga biasanya ada Reza disana.
" Aaah , mungkin semua orang sedang makan siang " tambahnya menyakinkan , lalu segera masuk ke dalam ruang kerja kekasihnya , tanpa perlu mengetuk pintu terlebih dahulu , karena ia yakin laki-laki itu juga sedang menunggu ke hadirannya.
" saya..." ucapnya mengantung dan matanya membesar saat melihat kehadiran orang lain di dalam ruangan itu.
" Maaf aku tidak tahu jika ada orang lain disini " ucapnya dengan begitu malu.
" Mau kemana ? " tanya Daniel , yang terlihat begitu kesal , " aku akan menunggu di luar tuan " jawabnya karena menyadari ada orang lain disana.
" Ada apa ini ? " tanya pelan Elin yang belum mengerti dengan suasana ruangan yang terasa begitu dingin, namun matanya kembali membulat saat menemukan perempuan yang sedang bersimpu di hadapan kekasihnya dengan air mata yang bercucuran , " Sharen " ucapnya tanpa sadar dan begitu terkejut dengan kehadiran perempuan itu , yang terlihat begitu memprihatikan.
" Dia sedang berusaha meminta pengampunan pada tuan " jelas Maria berbisik.
" Tuan , aku mohon " ucap perempuan itu , membuat Elin yang melihat menjadi merasa begitu kasihan.
" Pergilah , aku benar-benar tidak akan memberikan pengampunan padamu dan keluargamu "
" Tapi aku sungguh tidak tahu apa-apa tuan ,aku sungguh tidak tahu apa yang di lakukan oleh ayahku "
" tapi intinya apa yang di perbuat ayahmu telah sangat merugikanku dan rasanya aku terlalu baik jika masih menerimamu disini " ucap Daniel tanpa ampun , " tapi tuan.."
" Pergilah , ini sudah menjadi hukuman untuk apa yang sudah ayahmu perbuat "
" Maafkan aku tuan , tolong kasihani aku , aku masih memiliki dua adik yang harus aku sekolahkan , dan mereka..".
" itu bukan menjadi urusanku " potong Daniel."
" Reza keluarkan dia dari ruanganku "
" baik tuan "
" Tuan , tunggu dulu , tolong beri aku kesempatan sekali saja , aku mohon "
" Apa kau bisa mengembalikan nama baik perusahaan ini huh ? " teriak Daniel yang tidak lagi bisa menahan kemarahannya , " apa kau bisa bertanggung jawab dengan kerugian yang sudah di buat oleh ayahmu " tambahnya, membuat Sharen terdiam dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain hanya menangis.
Melihat itu Elin segera mendekat , " nona biarkan saja " ucap Maria menghentikan , namun tidak ia hiraukan dan terus melanjutkan langkahnya menuju Sharen , " bangunlah " pintanya pada perempuan itu , " lepaskan aku , apa sekarang kau datang untuk mentertawakan aku huh " teriak Sharen bersama air mata yang terus mengalir di pipinya.
" Kau , beraninya kau membentak kekasihku " teriak Daniel , membuat semua orang terkejut ,terlebih Sharen.
" Aku benar-benar tidak akan memberikan pengampunan padamu " tambahnya.
" Sayang hentikan " pinta Elin tegas , namun berusaha untuk tetap lembut pada laki-laki itu .
" Sharen bangunlah " pintanya lagi dan merapikan pakaian yang terlihat begitu kacau , " sekarang pulanglah , aku akan mencoba membantu untuk meluluhkan hatinya " bisiknya pada perempuan itu dan memberikan senyuman yang begitu hangat.
" Jangan terlalu di pikirkan , semua akan baik-baik saja dan kau tidak memiliki kesalahan disini " tambahnya , membuat air mata perempuan itu kembali mengalir begitu deras , " terimakasih Elin, terimakasih " ucapnya penuh syukur dan langsung memeluk tubuh perempuan itu ,
ia begitu merasa terharu karena masih ada orang yang begitu baik padanya saat semua orang terdekatnya pergi ,
" sayang lepaskan dia , dia tidak pantas menerima perlakuan baikmu " ucap Daniel , membuat Sharen segera melepas pelukkannya , " kalau begitu kau membiarkan aku bersikap tanpa perasaan "
"Itu bukan sikapku Daniel , aku akan terlihat sama tidak baiknya, jika aku membiarkan orang lain menderita "
" Tapi itu akibat perbuatan mereka sendiri , apa kau lupa sayang dengan apa yang sudah ayahnya lakukan "
" itu kesalahan ayahnya Daniel , bukan kesalahannya , kau tidak bisa menghukum semua orang terdekatnya " ucap Elin ,namun dengan nada yang begitu lembut , " buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya " .
" Apa aku bisa mengatakan itu padamu ? " tanya Elin , membuat Daniel terdiam.
" Berikan kesempatan sekali saja padanya " tambahnya saat sudah berada tepat di hadapan laki-laki.
" Ini memang tidak mudah , dan aku tahu " ucapnya lagi sambil memegang kedua tangan Daniel dengan lembut , " tapi memaafkan adalah hal yang mulia , dan kau tahu sikap mulai akan membuat seribu kebaikan datang padamu "
" Aku pernah melakukannya dan itu benar-benar terjadi "
" Anggap saja ini teguran dan cobaan untukmu yang sudah begitu sempurna " tambahnya , membuat bibir Daniel akhirnya sedikit melengkung.
" Sharen berjanjilah untuk berkerja keras jika aku berhasil membuat kekasihku mengampunimu " ucapnya dan Sharen dengan cepat mengangguk , " anda bisa memengang janjiku nona dan kapan saja kau bisa memasukkan aku ke dalam penjara jika aku juga berbuat curang seperti ayahku "
" Apa kami bisa memegang ucapanmu ? "
" Tentu , bahkan kita bisa membuat surat perjanjian untuk itu "
" Apa kau mendengarnya sayang " ucapnya tersenyum pada Daniel , membuat laki-laki itu hanya bisa menghela nafasnya dengan emosi yang sedikit mencair , " sekarang pulanglah , aku akan memberitahumu jika hati kekasihku sudah mencair " ucap Elin , dan Sharen segera mengangguk.
" Terimakasih nona " ucapnya , dan itu membuat Elin sedikit merasa geli , mengingat sikap perempuan itu selama ini, " emm..bisakah kau merahasiakan tentang ini " tambahnya , " baik nona " ucap Sharen yang langsung mengerti maksud dari perempuan itu.
" Dan maafkan atas perbuatanku selama ini " tambahnya dengan sangat menyesal.
" Aku sudah melupakannya Sharen dan sekarang istrihatlah , mungkin besok atau lusa kau sudah bisa datang kemari " ucapnya , membuat mata Daniel membesar , namun ia tetap diam dan membiarkan perempuan itu yang mengaturnya.