
Perhatian : Untuk yang sedang berpuasa, Sebaiknya di baca setelah berbuka, Terimakasih🙏😊
Tama mulai panik saat pintu kamarnya di ketuk, " ini pasti Ayah ", gumamnya lemah. Dan ia bimbang untuk membukakan pintu kamarnya.
" Tama ", panggil suara Mala yang terdengar, dan sedikit merasa legah ketika menyadari Ibunya yang berada di balik pintu, " ya bu ", sahut Tama, dan akhirnya tanpa ragu untuk membuka pintu. Dan setelah benda itu terbuka, betapa terkejutnya dia, saat bukan Mala yang pertama kali ia lihat, melainkan Bimo, " Ayah ", ucapnya sedikit gelagapan.
Lelaki itu masuk ke dalam kamar tidurnya, yang kemudian di ikuti Mala.
" Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi ", kata Bimo, sorot matanya menatap serius pada putra satu-satunya. Dan Tama menelan ludah saat itu, " emmmm... ".
" Cepat ceritakan Tama, Apa yang sudah kau perbuat sampai kau berada di kantor polisi huh ", bentak Bimo.
" Sabar dulu Yah ", timpal Mala begitu lembut.
" Tidak ada, mobilku di tabrak orang. Tapi orang itu yang menuntut minta ganti rugi ", katanya menjelaskan dengan takut-takut. Bagaimana tidak, mobil yang dia gunakan saat ini, baru saja di belikan oleh Ayahnya satu bulan yang lalu, beberapa hari sebelum kakaknya pulang ke Indonesia.
Mendengar itu Mala mendekatinya, " kau tidak apa-apa nak ?, apa ada tubuhmu yang terluka ? ", cercahnya menjadi panik . Mengamati setiap inci bagian tubuh putranya.
" Tidak ada Bu, hanya ini ", sahutnya, sambil menyibak rambutnya dan menunjukan dahi bagian kanan yang memerah, bahkan kini terlihat mulai melebam.
" Besok kita periksa kepalamu ya ", kata Mala, dan Tama mengangguk.
" Dimana ? " tanya Bimo singkat. Tama menoleh dan belum mengerti maksud Ayahnya, tapi setelah menyadarinya, ia kembali menelan ludah.
" Dimana kau kecelakaan ? ", kata Bimo mengulang.
" Emm di area parkir. Mobilku baru saja mau keluar, tiba-tiba mobil orang itu datang dan menabrak ".
" Area parkir dimana ?, Tidak mungkin itu di kampusmu " ucap Bimo. Dan hal ini yang sebenarnya membuat Tama takut, jika kecelakaannya di ketahui Ayahnya, " emmm di PIM, Ayah ", sahutnya lemah. Mata Mala membesar mendengar itu.
" Kau lihat bukan ?, anakmu tidak sekolah dengan benar " ucap Bimo pada Mala.
" Tidak seperti itu Ayah, aku hanya mampir sebentar dan setelah itu akan langsung balik lagi ke kampus ", kata Tama membantah dan memberi alasan. Tapi Bimo seperti tidak peduli, " berikan kunci mobilmu ", pintanya.
Tama langsung panik, " Yah ini tidak seperti yang Ayah pikirkan. Aku sekolah dengan benar, kesana cuma ingin bertemu temanku sebentar Yah ", katanya mencoba melunakkan hati Bimo, " berikan kunci mobilmu Tama ", ulang lelaki paruh baya itu,dan kali ini nadanya lebih tegas dari sebelumnya.
Dengan berat hati, Tama mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana, " yah ", panggilnya pelan, berharap kali ini lelaki paruh baya itu sedikit melunak.
" Mobilmu Ayah tarik satu minggu ".
" Tapi yah, bagaimana aku mau pergi ke kampus, kalau tidak ada mobil ".
" Di antar sopir ".
" Atau pakai saja Grab online ", tambah Bimo.
" Grab online ", ulang Tama dengan mata yang membulat sempurna, " bu tolong bu, bujuk Ayah ", katanya meminta bantuan pada Mala. Tapi wanita itu hanya diam tanpa reaksi, " diam kalau kau tidak ingin ayahmu menarik mobilmu lebih lama ", kata Mala pelan.
Bimo sudah keluar dari dalam kamar Tama dengan membawa kunci mobil. Sementara Tama sudah mengerang prustasi dari tempatnya, " kenapa jadi begini sih ", gumamnya begitu kesal. Ia terdiam sejenak, lalu ikut keluar dari dalam kamarnya, tapi bukan untuk menyusul langkah Bimo.
" Kak ", serunya sambil berjalan menuju kamar tidur Elin, " Kak tolong aku, mobilku di tarik sama Ayah. Tolong bantu aku bujuk Ayah kak ", rengeknya di hadapan pintu kamar Elin. Mengetuk-ngetuk seperti anak kecil. Tapi tidak kunjung ada jawaban dari dalam, apalagi membukakan pintu untuknya.
" Hei Tama ", panggil Mala dengan mata yang membesar, ia berjalan cepat menuju putranya," jangan ganggu kakakmu ", katanya sambil menarik tubuh Tama dari hadapan pintu.
" Kenapa menganggu. Dia pasti tidak tidur bu ".
" Pokoknya jangan di ganggu kakakmu Tama. Kau lihat tadi Kak Daniel sangat marah pada kakakmu, dan itu gara-gara kau ", ucap Mala meninggi. Setelah mendengar itu, Tama tidak lagi bersikeras untuk tetap berada di hadapan pintu kamar tidur Elin.
Sementara sang pemilik ruangan, langsung mendekap mulutnya ketika merasa dirinya tengah di panggil, " sayang berhenti sebentar, please ", pintanya dengan tersengal pada Daniel. Tapi lelaki itu tak peduli, sekali pun Tama sudah berada di balik pintu kamar mereka, " sa..yaa..ng " kata Elin mengulang, dengan posisi tubuhnya yang baru saja di balik oleh Daniel, " aku sudah bilang, aku tidak akan menjeda sekali pun hanya untuk menarik nafas ", ucap lelaki itu di balik punggungnya, Nafasnya sama tersengal seperti dirinya, bahkan lebih.
Lelaki itu seperti tak peduli ketika Mala ikut berada di balik pintu. Padahal suara wanita itu terdengar dari tempat mereka, " sayang sebentar saja ", kata Elin memohon, tapi yang ia dapat justru hentakan yang semakin kuat pada tubuhnya. Dan itu membuatnya harus mendekap kembali mulutnya, bahkan lebih rapat dari sebelumnya.
~
Setelah ucapan Viona saat di rumah Elin, sampai saat ini, sudah tiba di kamar tidurnya, Meili tak berhenti memikirkan tentang Jerry.
Bahkan sepanjang perjalanan pulang, ia terus terpikirkan tentang kejadian malam itu, dimana lelaki itu pergi tanpa bicara sepatah kata pun, " apa dia sangat marah ? ", katanya bergumam sendiri, " seharusnya dia menunggu sampai aku selesai bicara dengan Brian ", katanya lagi. Dan ada kekesalan di kalimat ke duanya.
Matanya kini memandang pada jas yang tergantung di gagang pintu lemari. Ntah kenapa, dia tidak berniat untuk membuat pakaian itu bergabung dengan pakaiannya di dalam lemari pakaian. Yang tidak ia sadari adalah, bahwa setiap kali dirinya ingin terus memandang ke arah pakaian itu, tidak ada satu pun yang boleh membuat padangannya terhalang.
" Besok lusa aku akan pulang, kau serius tidak ingin bertemu denganku huh ", katanya bicara pada jas berwarna biru yang tergantung, " aku sungguh tidak akan kembali ", sambungnya, nadanya seperti mengancam, seolah memang sedang berbicara dengan pemilik pakaian itu, " kau dengar, jika kau tidak menemui aku sekarang, kau akan menyesal Jerry ", katanya semakin lantang, dan kemudian melipat bibirnya, ketika menyadari telah menyebut jelas nama pemilik pakaian itu, lalu menoleh ke arah pintu. Untuk memastikan tidak ada yang mendapatinya.
Amel terlonjak dari tempatnya, " Mam.. ", serunya kesal, " kenapa tidak mengetuk pintu lebih dulu ".
" Memangnya kenapa ? " balas Viona begitu santai, sambil berjalan ke arahnya. Dan Meili tidak bisa menjawab pertanyaan itu, " ada apa ? ", hanya pertanyaan itu yang bisa terlontar dari mulutnya.
Viona hanya tersenyum, " kita akan pulang besok lusa ", katanya menggantung.
" Ya aku tahu Mam, lalu ? ",
Semula Viona terdiam sejenak, " apa kalian tidak akan bertemu ", katanya memulai arah obrolan. Meili terkesiap dan menatap pada sorot mata Ibunya, " Jerry, apa kalian tidak akan bertemu sebelum kita kembali ke New York ", kata Viona semakin memperjelas.
Meili menelan ludah.
" Kau belum memutuskan ? ", tanyanya lagi, mendapati tidak ada jawaban dari anaknya. Sekali lagi kalimatnya berhasil membuat Meili melihat ke arahnya, " Mami sudah bilang, semua tergantung padamu ", sambungnya.
" Kau sendiri yang berhak menentukan, dan kau tidak boleh plin plan ", tambahnya dan Meili masih terdiam. Dirinya kembali teringat dengan kejadian yang terjadi malam itu.
" Apa lelaki itu mengetahui perjodohanmu ? " kata Viona kembali bertanya. Ia seperti tak membiarkan putrinya memikirkan satu persatu pertanyaannya. Meili kembali menatapnya diam, " siapa namanya ? ", katanya mencoba mengingat nama seseorang.
" Brian ", ucapnya setelah mengingat nama itu. Dan mata Meili membesar, " darimana Mami tahu ? ", tanyanya terkejut. dan Viona hanya tersenyum, " pertanyaan yang konyol ", katanya dengan mulai tertawa, dan Meili terdiam ketika menyadari, tidak ada yang tidan mungkin di ketahui oleh wanita di hadapannya, " apa dia mengetahui ? ", katanya kembali mengulang.
Perlahan Meili mengangguk, dan Viona ikut mengangguk-anggukkan kecil kepalanya, " dia pasti tidak menerima ", gumamnya, tapi masih terdengar di telinga Meili.
" Apa Jerry juga tahu, kalau kau punya kekasih di New York ? ",
Pertanyaan itu seperti petir di telinga Meili.
" Jerry tahu ? ", ulang Viona. Pupil matanya sedikit membesar saat itu.
Meili tidak mengangguk atau pun mengiyakan, tapi diamnya, membuat Viona bisa menebak, bahwa tebakannya benar.
" Bagaimana bisa dia tahu Meili ? ", kali ini pertanyaannya seperti mendesak putrinya, untuk menjelaskan.
" Aku juga tidak tahu, dia tahu atau tidak Mam ", sahur Meili, yang tanpa sadar meninggikan nada bicaranya, " saat itu aku menjawab telepon Brian di hadapannya, dan tiba-tiba dia langsung pergi dan tidak memberi kabar sampai saat ini ", sambungnya, yang akhirnya mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya. Mata Viona semakin membesar mendengar itu, " Dia mendengar pembicaraan kalian ? ".
" Mungkin ", sahur lemah Meili, dan sekali lagi dia menoleh pada jas yang tergantung," Padahal seharusnya dia menunggu", sambungnya lemah dan tanpa sadar. Dan untuk Viona yang masih mendengar kalimat itu, membuatnya menjadi tersenyum.
" Kau tidak mencoba menghubunginya ? ",
Meili menoleh padanya, " aku ? ", tunjuknya pada diri sendiri, " itu tidak mungkin Mam. Dimana aku akan meletakan muka-ku ".
" Kau yang bersalah ", sergah Viona, " berarti kau yang harus menjelaskan ", sambungnya.
" Kenapa aku harus menjelaskan, seharusnya dia yang tidak langsung pergi malam itu Mam ".
Viona menggelengkan kepalanya mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya, " kau memang masih begitu egois ", ucapnya, membuat Meili kini terdiam.
" Mami salah, seharusnya memang tidak mempertemukan kalian. Kenapa aku tidak berpikir, kalau putriku akan menyakiti hati orang lain ", kata Viona bergumam, sambil beranjak dari tempatnya, " biar Mami yang akan menghubungi Jerry dan meminta maaf atas perbuatanmu, dan juga mengatakan kalau perjodohan ini di batalkan ", sambungnya.
Mata Meili membesar, " siapa yang membatalkan ", balasnya tegas.
" Kau sendiri bukan ? ",
" Aku tidak pernah membatalkan perjodohan ", sahut Meili tanpa sadar. Dan saat itu, Viona menahan diri untuk tidak tersenyum.
" Lalu apa ?, kalau kau masih mempertahankan hubunganmu bersama Brian, untuk apa perjodohan ini di lanjutkan Meili ", bentak Viona, " kau hanya akan menyakiti Jerry, yang benar-benar menyayangimu ", katanya lagi.
" Aku butuh waktu Mam. Aku butuh waktu untuk memutuskan ", sahut Meili.
" Sampai kapan kau akan memutuskan, berapa lama waktu itu ?, Apa kau menunggu sampai ke dua pria itu sama-sama pergi huh. Apa begitu ?, atau kau memang hanya ingin menyakiti Jerry ? " cecar Viona tanpa henti. Membuat Meili kini terdiam tanpa bisa bicara lagi.
" Kau harus jadi perempuan yang tegas ", tambah Viona dan kali ini ucapannya sangat serius, " masalah yang kau hadapi bukan hanya tentang memilih siapa sebenarnya lelaki yang kau cintai, Meili. Kau penerus keluarga Remkez, ada banyak yang harus kau tentukan dalam hidupmu, dan salah satunya adalah memilih lelaki yang tepat untuk menjadi pandampingmu ".
" Tanpa Mami jelaskan, kau pasti sudah mengerti ", tambahnya, lalu keluar dari dalam ruang tidur itu. Meninggalkan Meili yang semakin tertegun di atas tempat tidurnya.
Sementara di balik pintu,Viona mengusap dadanya sendiri, " semoga ucapanku tidak keterlaluan ", gumamnya.
" Maafkan Mami Meili, tapi kau memang harus menjadi wanita yang tegas ", sambungnya dan sedikit lirih dalam nadanya saat itu, " jangan seperti Mami ", katanya lagi, dengan menghela nafas di ujung kalimatnya.