
#Flashback
Daniel terduduk di ujung sofa , dengan keringat yang tidak berhenti menetes.
Tenaganya seperti habis tidak bersisa setelah membawa tubuh Elin kesana kemari ,
namun bibirnya tersenyum saat melihat wajah perempuan yang sedang tertidur begitu pulas di atas tempat tidurnya.
Di sibakannya rambut Elin yang sedikit menutupi wajah,
" Kau benar benar membuatku takut " gumam Daniel menatap wajah tidur Elin , " selalu tidak menyadari kalau tubuhmu sudah di bawa kesana kemari , dan kau masih tertidur begitu pulas seperti ini " lanjutnya dengan perasaan sedikit kesal.
Daniel merasa begitu gerah , walau mesin pendingin di ruang kamar tidurnya sudah bekerja dengan optimal , tapi keringat masih saja bercucuran di sertai detak jantung yang masih berpacu lebih cepat , mungkin karena berlarian membawa tubuh Elin , membuat tenaganya terkuras habis , dan masih menyisakan rasa lelah , di tambah dia masih belum tertidur barang semenit pun dan waktu sudah menunjukan pukul 04.42 pagi.
Ia beranjak dari tempat tidur , sembari membuka jaket yang terus ia kenakan sejak tadi , " Mau kemana ? " tanya Elin yang tiba tiba membuka matanya dan memegang tangan Daniel.
" Kau sudah bangun ? " tanya Daniel terkejut , dan Elin hanya diam dan membalas dengan tatapan sendu.
" Apa kau mau minum ? " tanyanya lagi dan Elin mengangguk , namun matanya tidak berkedip menatap Daniel.
" Tunggu di sini " kata Daniel yang sudah beranjak , " Jangan pergi " rengek Elin dengan sangat manja , Daniel terdiam sesaat dan menatap wajah Elin sedikit lama.
" Aku hanya ingin mengambil air untukmu , tunggu sebentar di sini , oke " katanya menenangkan dan kembali beranjak karena Elin tidak lagi mencegah.
Dan beberapa saat Daniel sudah kembali dengan membawa satu gelas air putih , lalu kembali duduk di sisi tempat tidur dengan Elin yang sudah duduk menunggunya.
" Minumlah " katanya sambil mengarahkan ujung gelas ke bibir Elin.
" Maaf aku membawamu ke apartemenku , aku tidak tahu lagi harus membawamu kemana " jelas Daniel karena Elin terus diam.
" Aku merindukanmu " kata Elin tiba tiba , lalu memeluk lengan Daniel begitu erat dan menyederkan kepalanya di pundak kekar milik laki laki itu.
" Apa yang kau katakan itu sungguh ? " tanya Daniel , memutar tubuhnya menghadap Elin , dan membuat Elin melepas pelukannya.
" Ya , bahkan dadaku terasa sesak karena begitu merindukanmu " kata Elin lirih namun begitu yakin dengan menatap begitu dalam kedua mata Daniel.
Cup " bibir Daniel sudah menyentuh dengan lembut bibir Elin , ia tidak lagi bisa menahan hasratnya untuk mencicipi manis bibir Elin , setelah kata rindu yang terucap dari bibir kecil namun bervolume milik perempuan itu , di tambah tatapan sendu yang membuat lelaki manapun akan terbuai.
" Aku juga sangat merindukanmu , bahkan aku sangat tersiksa dengan perasaan ini " kata Daniel yang sudah melepas bibirnya dari bibir Elin , namun tidak dengan tatapan matanya.
Cup " bibir mereka kembali bersentuhan tapi bukan Daniel yang memulai , melainkan Elin.
Daniel benar benar di buat kalah oleh hasratnya , ia tidak lagi bisa menyianyiakan bibir manis Elin , dengan lembut ia melumatnya , membuat Elin memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir Daniel dan tanpa sadar ia sudah ikut membalas , bahkan mempersilahkan lidah Daniel mengabsen setiap isi dalam mulutnya.
Mereka terus ******* dengan mesra , saling bertukar air liur tanpa sadar apa yang sudah mereka lakukan sungguh di luar batasan untuk dua pasang manusia yang belum memiliki status yang resmi , terlebih untuk Elin , perempuan yang tidak pernah memiliki hubungan bebas dengan lawan jenisnya.
Ntah apa yang membuatnya begitu berani membalas dengan begitu nafsu ciuman Daniel , mungkin karena pengaruh alkohol , rasa rindu atau karena rasa cintanya yang memang begitu besar dengan lelaki berketurunan indo itu.
Begitu pun Daniel , ia yang memang miliki perasaan cinta yang besar pada Elin , serta perasaan yang teramat rindu membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih , dan yang terpenting dirinya masih laki laki yang normal.
" Maafkan aku " ucap Daniel melepas ciumannya dari bibir Elin dengan nafas yang memburu , beruntungnya ia masih tersadar sebelum melakukan perbuatan yang lebih jauh pada tubuh Elin.
" Maafkan aku " ulangnya , dan menatap dengan penuh penyesalan pada mata sendu Elin , " Kau tidak salah , aku memang menyukainya " kata Elin yang ntah sadar atau tidak saat mengatakannya , lalu menangkup kedua pipi Daniel , serta mendekatkan wajahnya dengan nafas yang masih memburu .
Daniel menelan ludah , saat hembusan nafas berbau alkohol milik Elin menerpa wajahnya , aliran darahnya benar benar di buat panas di tambah tatapan mata sendu Elin yang membuat hasratnya begitu memuncak.
Cup " Elin kembali mencium bibir Daniel , namun hanya sebentar dan ia kembali melepasnya.
" Apa kau sedang mengujiku ? " tanya Daniel dengan nafas yang kembali memburu dan Elin hanya membalasnya dengan tersenyum , Daniel yang sudah panas merasa begitu tergoda melihat mata sayu milik Elin , dengan wajahnya yang sudah memerah dan bibir yang mengkhilaf karena air liur.
Ia segera beranjak , namun tertahan karena tangan Elin lebih dulu menariknya , membuat mereka sama sama terhempas di atas tempat tidur , dengan tubuh yang saling menimpa ,
" Kau sedang mabuk , dan aku tidak akan bisa menahannya jika kita terus seperti ini " ucap Daniel menatap Dalam mata Elin.
Perempuan itu seperti tidak peduli dengan perkataan Daniel dan semakin mengeratkan pelukannya.
" Kau akan menyesali ini " ucap Daniel , yang tidak lagi bisa menahan aliran darah yang terus memanas di dalam tubuhnya ,
ia kembali ******* bibir Elin dengan lembut namun begitu nafsu , karena Elin memberikan peluang dengan membuka mulutnya , membuat Daniel tanpa terhalang untuk menyesap lembut bibir dan lidahnya serta air liur yang saling bertukar.
Elin terdengar mendesah , alkohol dan rasa cinta benar benar membuatnya lupa diri , Daniel tidak lagi sibuk dengan bibir Elin , ia sudah merubah aktifitasnya dengan mencium panas leher jenjang milik Elin dan sesekali memberikan gigitan kecil , yang membuat Elin semakin mendesah dan tanpa sadar tangannya ikut mengelus lembut punggung Daniel yang berada di atas tubuhnya , bahkan tanpa sadar tangannya sudah menarik ke atas pakaian Daniel dan pemiliknya ikut melepasnya tanpa sadar.
Mata Elin melebar tiba tiba dan mendorong begitu keras tubuh Daniel , membuat laki laki itu terduduk.
" Maafkan aku , aku sudah ... " ucap Daniel menggantung dengan wajah yang menunduk karena begitu menyesal.
Huueeekkk
Elin muntah tanpa sempat untuk berlari ke kamar mandi , Tube Top yang sedikit melorot dan Rok Tutu yang tersibak sudah terlihat begitu kacau di penuhi dengan mutahannya , ia sandarkan tubuhnya yang sudah lemas di sandaran tempat tidur , dan memejamkan matanya karena rasa pusing yang kembali muncul.
Suara dengkuran halus kembali terdengar dari hembusan nafas Elin , " Sayang apa kau tidur ? " tanyanya dan Elin menggeliat dengan tubuh yang masih di penuhi muntahan.
" Sayang bangun sebentar , kau harus mengganti pakaianmu dulu " katanya berusaha membangunkan Elin , namun perempuan itu kembali tertidur begitu lelap.
Daniel bingung apa yang harus di lakukan , Elin tidak bisa di bangunkan dan ia tidak mungkin membiarkan Elin tertidur dengan kondisi kacau seperti ini.
" Maafkan aku , aku terpaksa melakukannya " ucapnya sambil berusaha untuk membuka pakaian Elin dengan mendudukkan posisi tubuh perempuan itu , namun saat ingin membuka Tube Top yang Elin gunakan , tangan Daniel terhenti , " aku tidak bisa melakukannya , ini tidak boleh "
" Aku benar benar tidak akan bisa menahannya lagi " sambungnya , lalu beranjak menuju tempat telepon yang di letakan di atas meja kecil.
" Hallo selamat pagi , ada yang bisa di bantu " jawab petugas resepsionis dari seberang telepon yang tersambung pada Daniel.
" saya minta satu karyawan wanita kalian untuk datang ke apartemenku " pinta Daniel tanpa basa basi.
" Baik Tuan , apa ada lagi ? "
Daniel diam sesaat dan melihat ke arah Elin yang sedang tertidur , " Tidak , tolong lebih cepat " ucapnya , lalu segera menutup panggilan telepon.
Tidak lama bel pintu apartemen Daniel berbunyi , dan ia segera beranjak untuk membukanya.
" Apa yang bisa saya bantu Tuan ? " tanya petugas perempuan dengan tersenyum , ia begitu bersemangat saat di minta untuk datang ke apartemen Daniel dan menelan ludahnya saat melihat tubuh kekar Daniel tanpa baju dan ia sangat beruntung karena bisa menyaksikan pemandangan yang begitu langkah dan indah di waktu sepagi ini.
" Ikut saya " ucap Daniel yang berjalan lebih dulu , wajah perempuan muda itu bersemu merah saat mengikuti tubuh Daniel menuju kamar tidurnya .
" Bisakah anda mengganti pakaian calon istri saya , saya tidak bisa melakukannya " ucap Daniel , membuat garis senyum di bibir petugas perempuan itu meredup.
" Saya akan memberikan uang pada anda nanti " lanjutnya.
" Tidak Tuan , saya bisa melakukannya " kata petugas lalu berjalan mendekat pada Elin , matanya menatap lekat pada wajah Elin dengan dahi yang sedikit berkerut.
" Ternyata memang bukan Nona Hannah " gumamnya pelan.
" Maaf sedikit menjijikan " ucap Daniel mendekat.
" Tidak apa apa Tuan "
" Saya boleh meminta air Tuan , tubuh Nona harus sedikit di bersihkan "
" emm ya kamu benar , tunggu sebentar " kata Daniel yang segera beranjak menuju dapur apartemenya.
" ini " kata Daniel sambil memberikan mangkuk besar berisi air serta handuk kecil.
" Dimana pakaian gantinya Tuan ? "
" Tunggu sebentar " ucapnya lagi lalu kembali beranjak menuju ruang pakaiannya dan menemukan baju kaos berukuran besar yang bisa di pakai di tubuh Elin , walau akan menjadi dress longgar saat perempuan itu menggunakannya.
Setelah memberikan bajunya pada petugas perempuan itu , Daniel kembaki beranjak dari kamar tidurnya karena sangat tidak mungkin untuk melihat Elin yang sedang di gantikan pakaiannya walau sebenarnya dia ingin.
" Sudah Tuan " ucap petugas yang baru saja keluar dari dalam kamar tidur Daniel.
" Terimakasih , ini untukmu " kata Daniel sambil memberikan chek.
" Tidak Tuan , saya tidak bisa menerimanya "
" Terimalah , ini ucapan terimakasih saya karena telah membantu menggantikan pakaian calon istri saya yang penuh dengan muntahan " ucap Daniel sedikit tersenyum , walau hanya sedikit namun senyum itu begitu langkah dan sangat jarang di lihat oleh orang asing , terlebih hanya petugas apartemen seperti perempuan di hadapannya dan sekali lagi ia beruntung pagi ini.
" Terimakasih Tuan , saya permisi " ucap petugas sambil menerima chek dari tangan Daniel , matanya sedikit membesar saat melihat jumlah dalam kertas tipis , $ 10.000 , tentu bukan uang yang sedikit untuk pekerjaan yang begitu sepele.
" Apa ini tidak terlalu banyak Tuan ? "
" tidak , jumlah itu tidak seberapa dengan rasa terimakasih saya dan juga calon istri saya " ucap Daniel.
" Sekali lagi terimakasih Tuan , saya permisi " ucap petugas lalu beranjak menuju pintu apartemen Daniel.
" Beruntung sekali perempuan itu " gumamnya sambil terus melangkah , " Apa benar perempuan itu calon istrinya " sambungnya lagi dengan sedikit kesal , seraya terus melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Daniel.
Daniel sudah kembali masuk kedalam kamar tidurnya dan menemukan Elin yang tertidur begitu nyenyak dengan pakaiannya.
" Kau selalu saja tidak menyadari apapun kalau sudah tertidur " kata Daniel tersenyum dan menatap wajah Elin , " kalau saja kau tidak muntah tiba tiba , aku tidak bisa membayangkan apa yang sudah terjadi antara kita " sambungnya , lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Elin dengan tidak menyadari kalau dirinya masih belum kembali menggunakan baju.
Beberapa saat Daniel sudah terpejam , tubuhnya sudah terasa begitu lelah dengan rasa kantuk yang luar biasa karena sepanjang malam matanya terus terjaga , ia sudah mendengkur menyusul Elin kedalam mimpi , dengan tangan yang memeluk erat pada tubuh Elin.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚