
Semua orang tersenyum, ketika pasangan pengantin baru ikut bergabung di Lobby hotel. Tidak akan ada , satu pun yang membantah jika mereka sepasang manusia yang baru menikah, sekali pun orang itu tidak mengenal mereka. Dengan melihat rona pipi kedua manusia itu saja, semua akan bisa menebak. Mereka saling melempar senyum, saling mengenggam dan sang laki-laki berulangkali mencium punggung tangan wanitanya.
Green menyandarkan kepalanya ke lengan Nathan, " Aku seperti ingin menjadi pengantin baru lagi ", katanya sedikit merengek, ketika memandang Elin dan Daniel dari tempatnya.
Nathan tersenyum mendengar itu, " bukankah kita seperti pengantin baru setiap hari " katanya . Green mendengus, " bukan seperti itu ! ".
" Kita sama sekali tidak pernah liburan berdua " sambungnya. Wajahnya cemberut. Dan Nathan menatap kasihan padanya setelah mendengar keluhan itu. Dan ia menyadari memang selama menikah, mereka tidak punya waktu untuk quality time berdua, terlebih ketika Naina sudah hadir. Ia terus sibuk dengan pekerjaannya dan Green sibuk menjadi mahasiswi dan juga seorang ibu.
" Tidak sekarang.. " ucap Nathan, menjeda sejenak, dan Green mendongak menatapnya, " kapan ? ".
" Aku akan mencari waktu luang " katanya lagi. mendengar itu, Green justru menghela nafas, " Sampai kapan pun, kau tidak akan punya waktu luang ", katanya lemah, tapi masih terdengar jelas di telinga Nathan. Tetapi Lelaki itu hanya diam, tanpa berani meyakinkan istrinya. Perempuan itu benar, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri saat , bahwa itu akan terjadi.
" Dimana Meili ? " tanya Viona pada semua orang. Semua mata kini saling mencari, dan memang tidak menemukan perempuan itu di antara mereka. Padahal beberapa menit lagi, mereka harus pergi menuju bandara.
" Aku akan melihat ke kamarnya " kata Elin, menarik tangannya dari genggaman Daniel, lalu bergerak cepat menuju kamar Meili, tapi baru beberapa langkah ia pergi, Viona memanggilnya, " biar Mami saja nak ", titahnya dan Elin tak mencegah. Ia membiarkan wanita paruh baya itu melewatinya.
~
" Hei, kenapa kau masih disini " seru Viona, saat melihat putri satu-satunya tengah duduk di atas tempat tidur, dengan pintu kamar yang terbuka.
Meili yang sedang menatap layar handphonenya, cukup terkejut dengan kedatangan Viona, tapi ia tak punya gairah untuk mengomel pada ibunya, karena telah melakukan hal itu, " apa semua orang sudah berkumpul ? " katanya pelan, nyaris sangat lemah.
Viona mengamati wajah putih yang terlihat begitu lesu, " are you oke ? " katanya bertanya, mendekati perempuan itu, lalu menyentuh dahinya.
" Aku tidak sakit mam ? " ujar Meili menghindar. Ia beranjak dari tempat tidur, dan menghampiri meja, dimana ia meletakan tas dan barang-barang yang akan menemaninya selama perjalan pulang ke Jakarta. Sejenak ia terdiam, ketika menemukan jas di dekat tasnya.
Lebih dari tiga puluh menit, saat ia membereskan semua barangnya. Ia hanya termenung ketika menyadari ada pakaian tebal itu padanya.
Beberapa kali ia mencoba ingin menghubungi pemilik pakaian itu, mencoba untuk memberitahunya kalau dia sudah meninggalkan barang itu padanya, atau minimal ia ingin bertanya, mau di apakan pakaian itu.
Tapi semuanya urung, tidak ada satu pun jarinya yang mampu bergerak untuk menulis kalimat pesan untuk lelaki itu. Yang terjadi malah dia termenung dan menatap lama pada layar benda pipihnya. Dan mengingat kembali yang terjadi tadi malam.
" Ayo Mam " ajaknya pada Viona, dengan membawa jas itu bersamanya. Ia sungguh tak terpikir untuk menyimpan pakaian itu ke dalam kopernya, atau mungkin meninggalkannya disana. Yang hanya ia pikirkan, bagaimana dia akan memberitahu pemiliknya, jika pakaian itu tertinggal bersamanya.
" hemm, semua orang sudah menunggu " balas Viona, dan ia melirik pada jas yang di bawa oleh putrinya. Tapi ia bungkam, hanya menatap sesaat, lalu melangkah beriringan menuju tempat semua orang.
Sementara di lobby hotel, Amel juga baru datang bergabung bersama Alfin, " dari mana saja ? " tegur Elin, menantu kedua keluarga Vernandes itu tersenyum cerah, sambil memperlihatkan satu gelas besar Jus Kiwi dengan gumpalan batu es di dalamnya.
" Jujur aku mulai mual, mencium aroma jus itu ", kata Green menimpali. Dan Elin ikut mengangguk. Tentu saja, selama beberapa hari di Bali, Amel tidak lepas dari minuman itu. Dimana pun ia berada, makan minuman itu akan ada bersamanya.
" Lihat ini ", kata Alfin menunjukkan botol termos berukuran dua liter.
Green dan Elin terperanga, " apa itu jus Kiwi ? " tanya Elin dan Alfin mengangguk. Sementara Amel tertawa, " itu stock selama di perjalanan nanti " katanya bangga.
" Apa itu tidak asam ?, membayangkannya saja air liur ku sudah menggumpal " ujar Elin sambil memegang wajahnya.
Amel menggeleng, " sangat menyegarkan ", katanya enteng.
" Sepertinya kau harus memberi nama anakmu Kiwi nanti " celetuk Green.
Amel terdiam sejenak, " tidak buruk ", katanya setelah memikirkan saran tak penting Green, " bahkan terdengar lucu " sambungnya.
" Ya lucu, kalau saja temannya tak iseng menambahkan huruf L di ujung namanya ", balas Green. Spontan semua orang tergelak mendengar itu, termasuk Amel sendiri," Kiwil " katanya memperjelas.
" Kau terlihat lebih baik Mel " kata Elin, Amel mengangguk, " berkat ini " balasnya, dengan kembali menunjukan gelas besar di tangannya. Elin bergidik melihat itu, wajahnya mengembang membayangkan rasa asam dari buah Kiwi, tapi Elin tak menampik, semenjak Amel meminum jus buah itu, keadaannya jauh lebih membaik. Wajahnya jauh terlihat cerah dan lebih bersemangat.
" Kau juga terlihat berbeda " celetuk perempuan itu. Green mengangguk, sambil tersenyum, " sejak kapan kau suka memakai rok seperti ini " tambahnya, sembari memperhatikan rok payung menggantung berwarna hijau avocado yang Elin gunakan.
Ia mendekat pada Elin, lalu mencondongkan sedikit tubuhnya, melihat itu Amel juga ikut mencondongkan tubuhnya" Apa tadi malam masih sakit ? " tanya pelan.
" Tidak lagi " reflek Elin menjawab. Alhasil jus yang berada di mulut Amel, muncrat seketika, sedangkan Green kembali tergelak, tanpa peduli suaranya akan mengganggu tamu lain.
" Enak ? " tanya Amel, dengan mengulum bibirnya menahan tawa.
" Hemm.. " balas Elin mengangguk, lalu ia juga ikut tertawa.
Semua orang menatap heran ke arah mereka, terlebih karena melihat Green yang tertawa terpingkal-pingkal, sambil memegangi perutnya.
Sedangkan Nathan, Alfin hanya menatap sejenak. Melihat pemandangan tiga perempuan itu tertawa, bukan lagi hal yang mengherankan untuk mereka.
Daniel yang baru saja selesai menerima telepon Reza, mendekat pada istrinya. " Ada apa sayang ? " tanyanya heran. Sesaat suara tawa itu senyap, lalu kemudian mata Amel dan Green bertemu, dan mereka mulai kembali tertawa.
" Tidak apa-apa sayang " balas Elin, sambil membesarkan matanya pada Green dan Amel, yang kini berusaha membuat mulut mereka tertutup, tapi setiap melihat Daniel, lalu melirik lagi pada Elin. Dua perempuan itu langsung terpingkal.
" Mel ingat Mel, kamu lagi hamil " titah Elin sengaja, dan berhasil membuat perempuan itu langsung menutup mulutnya, meski dengan setengah mati ia menahan untuk tidak terpengaruh dengan suara tawa Green.
" Hei ada apa ini ? " tanya Viona yang kembali bergabung bersama Meili, " suara kalian terdengar sampai atas " katanya memberitahu ketiga perempuan itu.
" pasti suara Green yang paling terdengarkan Mam " ujar Elin dan Viona mengangguk.
" ayo, kita harus sudah pergi sekarang " titah Viona, sambil melihat alroji di tangannya. Lalu bergerak cepat menuju tempat lelaki dan wanita paruh baya berkumpul di atas sofa.
Elin menghampiri Meili yang hanya diam sejak tadi, " Hei, kau sakit ? " tanyanya. Perempuan itu tersenyum hambar dan menggeleng.
" Kau yakin ? " tanyanya sekali lagi, dan Meili mengangguk. Tapi Elin masih tidak berhenti menatap padanya, ia ingin bertanya kembali, tapi urung.
" Apa Jerry sengaja meninggalkan jasnya ? " celetuk Green, memandang pada baju tebal yang di jinjing Meili di lengannya. Amel ikut melihat, begitu pun Elin, bahkan perempuan yang membawa benda itu.
" Sepertinya iya " sambung Amel, " biar apa coba ? " timpal Elin, dengan dahinya yang sedikit berkerut.
" Biar kalau Amel kangen, tinggal peluk bajunya " sahut Amel tertawa, dan Green ikut tertawa, " seperti orang jaman dulu " katanya.
Sementara yang membawa benda itu hanya diam, dan terus memandang pada pakaian itu, dan sesekali menarik pelan nafasnya. Dan Elin tak melewatkan hal itu.
" Papa Daniel " pekik putri Green yang baru saja datang bersama pengasuhnya.
" Hampir saja aku lupa dengan putriku sendiri " kata Green, setelah menyadari putrinya sejak tadi tidak ada, dan ia mendapatkan jari telunjuk Elin mendarat di dahinya, " dasar bodoh" umpat Elin, dan Green hanya tertawa cengengesan, " aku bercanda " katanya.
" Kita mau kemana papa ? " tanya Naina yang sudah berada di dalam gendongan Daniel.
" Mau kemana kita Mama ? "
" Kita mau ke.... " sahut Elin menggantung, " mau pulang " sambungnya lagi, bukannya senang wajah gadis kecil malah cemberut, " kok pulang " katanya polos.
" Ya harus pulang, Daddy Naina, Ayah sama Papa harus bekerja " kata Daniel menjelaskan, " tapi nanti kita kesini lagi kan papa, Naina suka main air laut ".
" Hemmm, nanti kita pergi liburan lagi, oke "
" Oke papa ".
" Jadi sekarang kita kemana ? "
" Pulaaaaaang " teriak Naina, mengeluarkan deretan gigi susu dan lesung pipi kecil di garis bibirnya.