Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Masih Elin yang Dulu


Green melepas pelukannya dan menatap begitu hancur pada perempuan yang kini tertunduk dengan tangan yang terus begerak menyeka air matanya" Kau harus masuk sebelum kak Daniel mengetahui semuanya. Kau juga harus memikirkan perasaannya Lin " ucapnya pelan.


" Hemmm.. " balas Elin sembari menegakkan kembali kepalanya. Kemudian ia menarik nafas dengan begitu dalam, " ayoo " ajaknya memberanikan diri.


" Kau yakin !" tanya Green dengan masih menatap lamat padanya, " harus yakin " ucap Elin sungguh lalu langkah kakinya mulai bergerak melangkah masuk ke dalam Resort.


Green kembali melihat ke wajah sahabatnya dan benar saja mata perempuan itu kembali memejamkan matanya , " kau harus membuka matamu Lin. Kau harus berani " katanya sembari memperat gengaman tangannya pada tangan Elin.


Mata Elin mulai terbuka dan pandangannya menerawang pada setiap sudut resort yang sepertinya tidak ada berubah dari dulu. Tata letak semua barang masih sama. Bahkan hembusan angin pantai di dalam ruangan itu terasa masih sama tidak ada yang berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Yang berbeda hanya ia tidak datang dengan orang yang sama.


Deg


Jantungnya semakin berdetak tak menentu. Ia memperat genggaman tangannya pada tangan Green, dengan tubuh yang mulai bergetar dan tentunya Green bisa merasakan itu , " aku bisa meminta Nathan untuk pindah ke resort yang lain" ucapnya, yang tak kuasa melihat keadaan sahabatnya saat ini.


" Tidak Green, Tidak perlu. Aku hanya butuh untuk beradaptasi sebentar saja" sahut Elin dengan seutas ujung bibir yang melengkung dengan kaku.


" Hei, Apa kalian sedang latihan berjalan" seru Amel yang datang mendekat dengan terkekeh, Ia merasa amat lucu saat melihat kedua sahabatnya kini berjalan dengan bergandengan.


Mata Green berdelik ke arahnya, membuat ia segera menutup mulutnya yang tadi terbuka lebar, " ada apa ? " tanya Amel dengan bingung.


Elin tersenyum " Tidak ada apa-apa Mel " sahutnya pelan.


" Aku akan mengantarmu ke kamar kita "kata Green sambil kembali menarik tangannya.


" Kamar kita ? " ulang Elin.


Green mengangguk , " Hemm.. "


" Kita akan tidur bertiga. Hannah dan Meili " jelasnya.


" Kenapa begitu ?, Kenapa kalian tidak tidur dengan suami kalian masing-masing "


" Ini bukan honeymoon Elin. Dan jangan memikirkan hal yang tidak penting. Pikirkan lebih dulu keadaanmu "bentak Green.


" Tapi Green "


" Jangan membantah. Aku sudah memikirkan semuanya sejak tadi " balas Green tidak mau kalah.


" Ayo " ajaknya lagi dan kembali menarik tangan Elin menuju lantai dua di dalam resort. dan Amel mengikuti dari belakang.


" Lin kau ingat ini kamar yang kita tempati dulu " kata Amel tersenyum saat mereka telah berada tepat di depan pintu kamar yang akan mereka tempati , " itu kamar Green dan kak Nathan dan itu kamar Alfin dan kak Ge.... " lanjutnya dan terhenti tiba-tiba. Lalu dengan cepat melihat ke wajah Elin , " Ayo masuk " ajaknya tiba-tiba dan wajahnya tidak lagi seriang tadi.


" Sekarang kau mengerti kan ! " ucap Green padanya dan ia mengangguk.


" Maaf aku benar-benar lupa " ucapnya sedikit lirih dan begitu merasa bersalah. Terlebih saat kembali melihat pada wajah Elin yang kini terlihat murung.


" Harusnya kita enggak kesini Green "


Green mengangguk " Hemm.. aku juga sangat menyesalinya " sahutnya, serta kembali menarik nafas saat kembali melihat pada Elin.


~


Sinar matahari mulai merunduk saat beberapa orang yang berada di dalam Resort mewah di salah satu pulau lombok itu terbangun dari istirahat mereka masing-masing.


" Apa semua orang masih tidur ? " tanya Alfin sambil berjalan menuruni anak tangga. dan ia berbicara pada Daniel yang kini tengah duduk di sofa besar di dalam ruangan itu dengan menghadap ke arah laut. " Mungkin" sahut laki-laki itu dengan seutas senyum kaku dari bibirnya.


" Kau tidak istirahat Rem ? " tanyany lagi dan Daniel menggelengkan kepalanya.


" Kenapa ? "


" Ntahlah. Mungkin karena aku tidak lelah " sahutnya kembali tersenyum.


Mata Alfin menatap lekat padanya ," aku tahu ada yang sedang kau pikirkan Rem. Apa pun itu tolong lepaskan sesaat. Kau harus menikmati liburan ini tanpa beban apapun " ucapnya begitu hati-hati.


Daniel terdiam tanpa berkata apapun. Dan matanya tak beralih dari menatap debur ombak di hadapannya, " kadang kita perlu untuk hanya memikirkan apa yang harus kita jalani hari ini , dan untuk hari esok biar besok lagi baru kita pikirkan" tambah Alfin dengan sedikit terkekeh dan Daniel juga ikut terkekeh, " dari mana kau dapat kata-kata yang tidak mengandung arti seperti itu al " katanya tertawa.


" Tapi itu sebuah kalimat yang realistis untuk kita menjalani hidup Rem , kadang kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana nanti lalu kita lupa untuk menikmati hari ini " katanya begitu tegas," sejak kapan kau menjadi pintar bersajak seperti ini " ucap Daniel kembali tertawa.


" Padahal aku sendiri tak paham betul dengan maksudnya " sambungnya tertawa keras di ikuti Daniel, yang menjadi merasa di bodohi, " tapi kata-katamu juga ada benarnya ".


" Sepertinya aku sudah bisa menjadi motivator untuk orang lain " ucap Alfin bangga.


Dan tidak beberapa lama obrolan mereka terusik oleh suara langkah kaki yang sedang menuruni anak tangga, " sayang mau kemana ? " tanya Daniel dengan mata yang membesar dengan tubuh yang reflek bangun dari duduknya, " ia kalian mau kemana sayang ? " timpal Alfin pada istrinya.


" Kita hanya mau renang " jelas Amel sambil berjalan mendekat pada suaminya. Sementara Elin hanya tersenyum kaku dengan perasaan yang tidak nyaman saat mata Daniel menatap ke arahnya tanpa berkedip, " apa tidak ada pakaian renang lain ? " tanya Daniel padanya.


" Yang ada hanya ini " jelasnya singkat sambil kembali melihat pada bikini yang kini tengah melilit di tubuhnya.


Tiba-tiba saja Daniel bergerak membuka kemeja yang ia gunakan lalu memasangkannya di tubuh kekasihnya, " pakai ini " katanya sambil mengancingkan kemejanya di tubuh Elin.


" Sayang mana mungkin aku renang dengan seperti ini " kata Elin merengek.


" Jangan membantah. Tolong hargai aku "


" Hargai ? "


" Emmm.. aku ini lelaki normal. Bagaimana bisa kau begitu jahat menantang aku dengan pakaian seperti ini. Sementara aku harus menahannya karena belum bisa menyentuhmu " kata Daniel menjelaskan.


Amel dan Alfin yang sejak tadi menyimak tingkah sepasang manusia di hadapan mereka , begitu saja langsung terkekeh," untung saja kita sudah halal ya sayang " ucap Alfin menyombong, membuat Daniel berdelik ke arahnya.


" Memangnya apa yang salah dengan baju renangku Daniel. Bahkan seperti ini kau sudah menyentuhku " ucap Elin kesal.


" Seperti Ini bukan menyentuh sayang "


" Apanya yang bukan menyentuh. Tanganmu sejak tadi terus mengenai kulitku. Apa itu bukan menyentuh namanya" katanya semakin tidak terima.


" Kenapa idiotnya mendadak kumat sih " ucap Amel menahan tawa, lalu mendekat pada Elin , " maksud kak Daniel itu, dia takut tidak kuat menahan nafsunya kalau terus melihat kamu pakai bikini " katanya menjelaskan.


" Gitu aja tidak paham " gerutunya. Sementara Elin terlihat sedikit membesarkan matanya , " apa memang begitu sayang ? " tanyanya begitu polos.


" Pake di tanya lagi " ujar Amel kesal.


" Lin semua lelaki normal itu bernafsu, Kenapa jadi begok banget sih huh " katanya menggerutu. Sementara Alfin dan Daniel sudah terkekeh oleh tingkah Elin yang kadang memang tidak masuk akal, " jadi aku tidak boleh pakai bikini ? " tanya Elin yang semakin bingung.


" Engga ,makanya di pakein kak Daniel kemejanya "


" Tapi kamu boleh Mel "


" Ya allah Eliiiiiiinnnn " teriak Amel yang semakin emosi.


" Ada apa ? " tanya Green yang baru saja bergabung bersama Hannah dan Meili.


" Ini temenmu begoknya mendadak kumat " jelas Amel dan Green hanya menatap tidak mengerti," intinya kamu tidak di bolehin pake bikini doang sama calon suamimu. Jadi jangan membantah " jelas Amel pada Elin.


" Sayang apa aku tidak terlihat aneh seperti ini ? "


" Tidak " balas Daniel dengan mengangguk yakin.


" Sudah Elin nurut saja sama calon suamimu. Kalau tidak boleh berarti tidak boleh " timpal Amel tertawa.


" Ayo kita renang sebelum semakin sore " ajak Meili tidak sabar dan semua orang setuju dengan begitu bersemangat berjalan menuju kolam renang di belakang resort, kecuali Elin yang menjadi kesal karena pakaiannya yang menjadi berbeda dari orang lain.


" Memangnya apa yang terjadi Mel ? " tanya Green yang masih penasaran.


Amel menggelengkan pelan kepalanya dengan kembali terkekeh, " kak Daniel tidak mau Elin menggunakan bikini karena dia takut tidak bisa menahan nafsunya saat melihat Elin begitu seksi tapi sahabat kita yang bodoh itu tidak paham" jelasnya, membuat Green akhirnya ikut tertawa.


" Aku kira dia tidak lagi bodoh seperti dulu Green " lanjut Amel menahan tawa sambil sedikit melihat kepada Elin.


" itu berarti dia masih Elin yang dulu Mel. hidup di kota New York ternyata tidak merubah apapun darinya"ucap Green


" Padahal aku melihat dia begitu keren sekarang "


" Apa kalian tengah membicarakan aku huh " ucap Elin menyambung. sementara Green dan Amel langsung saja tertawa begitu keras, " giliran seperti ini, otaknya menangkap dengan baik " ucap Green. membuat Elin melengos dan melanjutkan langkahnya menuju kolam renang.