Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Ada Apa Ini ?


Viona mendahului langkah Wilna untuk masuk ke kediaman besannya. Wajahnya gusar, menghampiri Mala yang kini duduk di sofa dengan wajah yang lebih gelisah, " apa belum ada kabar dia kemana ? " tanyanya dan Mala menggelengkan kepala.


Viona menghela nafas panjang saat itu.


Disana sudah ada Seni, adik bungsu Elin, yang langsung di jemput pulang karena kabar ini.


Ia diam, dan duduk tidak jauh dari ibunya.


Green, orang kedua yang datang, setelah Viona dan Wilna.


" Dia sama sekali tidak ada menghubungimu, Green ? " tanya Mala, matanya menatap sendu.


" Tidak ada sama sekali bu " jawab Green. Ia sungguh panik saat ini, tapi mencoba tenang, dan bingung apa yang harus di lakukan. Tidak ada sesuatu yang bisa menunjukan perempuan itu pergi kemana, " ibu sudah menghubungi Tama ? " tanyanya lagi dan Mala mengangguk.


" Dia tidak menjawab teleponnya.Sepertinya dia sedang main basket " kata Mala menerka-nerka.


" Apa belum juga ada kabar ? " tanya seseorang yang masuk dengan tergesa-gesa.


" Mel pelan-pelan " seru Green, ia menjadi lebih panik karena menatap langkah cepat perempuan itu, tapi Amel hanya memperlambat langkah kaki tanpa peduli pada dirinya sendiri, " Jadi belum ada kabar juga ? " tanyanya lagi pada Green, dan perempuan itu mengangguk lemah.


" Kemana kira-kira dia pergi ya Green ? " ujar Amel, sambil mencoba berpikir saat itu.


Green menarik nafas, " dia tidak pernah pergi tanpa kita Mel, jadi aku sungguh tidak tahu dia pergi kemana sekarang " sahut Green. Ntah karena kelelahan dengan tugas kuliahnya, atau karena memikirkan dimana keberadaan Elin, tapi saat ini mata coklat cerah milik Green, berubah menjadi redup, sorotnya menatap sendu, " duduklah " pintanya, menarik tangan Amel untuk duduk di sampingnya.


" Aku benar-benar tidak bisa menebak kemana dia pergi " gumam Amel.


Meili memilih duduk di samping Viona. Mencoba menenangkan wanita paruh baya itu dengan menggenggam tangannya.


Beberapa saat kemudian, Alfin datang bersamaan, dengan Banyu, Reymond dan juga Bimo.


Bimo berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumahnya, " bu.. " serunya memanggil Mala, " apa yang sebenarnya terjadi bu ? " tanyanya panik. Mala menggeleng lemah, " ibu juga baru saja pulang Yah ", kata Mala, nafasnya meringis berat, karena perasaannya yang panik.


" Tadi dia menghubungi Ayah, tapi handphone Ayah di pondok " kata Bimo meratapi kecerobohannya.


Semua orang duduk gusar di dalam ruang tamu rumah itu. Tidak ada yang ingin bicara, terkecuali sesuatu hal yang begitu penting dan dari semua orang tidak ada bisa berpikir dengan benar, kemana perempuan itu pergi. dan Green, tetap terus mengulang panggilan teleponnya pada nomor Elin.


Suara mobil masuk ke halaman rumah,dan hampir semua orang beranjak dari tempat duduknya saat itu, untuk melihat siapa kali ini yang datang, dan mungkin-mungkin itu adalah mobil Elin.


" Nathan dan kak Daniel " kata Green memberitahu semua orang, meski dia sendiri belum melihat ke dua orang itu keluar dari dalam mobil. Tapi ia sangat mengenali kendaraan yang baru tiba itu.


" Belum ada kabar ? " tanya Nathan, yang berjalan cepat menghampiri istrinya. Green langsung menggeleng lemah.


Sementara Daniel tidak lagi berucap apapun. Melihat tatapan orang lain yang menatap ke arahnya saja, dirinya sudah langsung mengerti.


" Dasar bodoh ", pekik Amel tiba-tiba, dengan memukul kecil kepalanya sendiri. Green menoleh cepat padanya, begitu pun Alfin dan beberapa orang lainnya.


" ada apa ? " tanya Green heran.


Amel sudah mengotak-atik benda pipihnya, " aku baru tersadar, kenapa kita tidak mengechek keberadaannya dari benda ini ", katanya memberitahu. Membuat semua orang seperti tersadar bersamaan, tak terkecuali Daniel.


" Dimana dia ? " tanya Green penasaran, sambil ikut melihat pada layar benda pipih di tangan Amel, begitu pun Daniel, " apa handphonenya masih aktif ? " tanya Amel pada Green, dahinya mengerenyit saat itu. Dan Green mengangguk, " aku baru saja menelponnya dan masih tersambung ".


" Coba kau, coba lagi " pinta Amel. Tanpa menunggu Green langsung melakukannya. Ia terdiam sejenak sambil memandang layar handphonenya sendiri. Dan semua orang ikut memandangnya pada saat itu, hanya Mala ya g terdiam lemas, duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya.


" Nomornya sudah tidak aktif lagi " katanya memberitahu semua orang, nada bicaranya sangat lemah.


Mendengar itu, Daniel bergerak cepat membuka handphonenya. Perasaannya belum puas jika dia belum memastikannya sendiri, dan selang beberapa detik, ia menghela nafas berat," nomornya tidak aktif ", katanya semakin kalut.


Viona, Wilna menghela nafas bersamaan mendengar itu.


" Apa kita seharusnya menelpon polisi ? " ucap Wilna.


" Ini belum dua puluh empat jam Bunda, polisi tidak akan menerima laporan kalau belum satu hari " kata Alfin menjelaskan. Dan saat itu, sekali lagi Wilna menarik nafasnya, dan lebih berat.


" Kemana sebenarnya dia pergi " gumam Daniel, yang nyaris terdengar seperti mengerang.


" Bagaimana mungkin di antara kita semua tidak ada yang tahu kemana dia pergi ", sambungnya. Green langsung menggelengkan kepala, " kami benar-benar tidak bisa menebak dia pergi kemana" , katanya lemah.


" Yah tolong hubungi pihak operator telepon, suruh mereka periksa, siapa yang sebenarnya menelpon ke rumah kita tadi " pinta Mala pada Bimo. Lelaki paruh baya itu langsung bergegas memeriksa.


" Tama belum juga ada kabar bu ? " tanya Amel. Mala menggeleng, " dia belum menjawab teleponnya dari tadi ".


Dan bersamaan, suara mobil masuk ke halaman rumah.


~


"Yes aku pemenang " seru Tama begitu senang.


Ia tiba lebih dulu di gerbang rumahnya, dan beberapa detik kemudian Elin menyusul, " aku menang sister ", ulangnya, dan tertawa melihat wajah kesal Elin yang mengumpat di dalam mobil.


Kemudian, mobil mereka beriringan masuk ke halaman rumah.


Halaman rumah keluarganya tak sebesar halaman rumah keluarga Vernandes.


Dan sudah terhitung lebih dari tujuh mobil berada di sana, belum termasuk mobil Tama dan mobil yang dia kendarai saat ini.


" Ada apa ini ? "Kata Tama bergumam padanya.


Elin menggeleng dan mengangkat bahu, " kenapa hampir semua mobil keluarga Vernandes berada disini " katanya bergumam, memandangi satu persatu kendaraan mewah di hadapannya, " iya, itu mobil kak Green ", timpal Tama membenarkan.


" Ya ampuun Nona " pekik penjaga rumah, ia terburu-buru menghampiri keberadaan Elin dan Tama.


" Ada apa pak ? " tanya Elin cepat. ia menjadi panik karena melihat wajah lelaki paruh baya itu, begitu pun Tama.


" Untung Nona sudah pulang. Semua orang mencari nona " kata penjaga rumah. Mata Elin membesar mendengar itu, " mencari saya pak " ulangnya bingung. dan melihat sekilas pada Tama, yang saat itu ikut kebingungan.


Penjaga rumah mengangguk, " katanya Nona hilang.Jadi semua orang panik sekarang", jelasnya.


Jika sebelumnya mata Elin membesar, maka setelah mendengar itu, hampir organ tubuh itu keluar dari tempatnya, " hilaaaaang ", pekiknya tak percaya. Dan saat itu juga dia langsung berhamburan berlari menuju rumahnya.


" Pasti berabe ini urusannya ", gumam Tama. Ia lebih panik saat ini, dari pada saat tadi dia berada di kantor polisi.


" Ibu juga mencari Tuan " kata pak penjaga padanya. Tama hanya mengangguk lemah, lalu menyusul langkah Elin.


" Eliiiiin datang " seru Green,dan Elin pertama kali melihat perempuan itu berdiri di pintu rumahnya.


Ia yang masih bingung, menatap heran pada reaksi berlebihan Green dan beberapa orang yang langsung bermunculan di ambang pintu. Lalu selang beberapa detik Daniel menerobos semua orang-orang itu, dan berhamburan memeluknya yang masih berjalan, " kamu kemana aja sayaang " kata lelaki itu meringis, memeluknya begitu erat, sebelum dia sendiri sempat bertanya.


Tama yang berada di belakangnya, kini terdiam dengan memandang semakin bingung.


" Bu, itu Tama juga sudah pulang ", kali ini Amel yang berseru bukan Green.


Mala yang saat itu sudah legah karena Elin sudah kembali, kini beranjak dari tempatnya menghampiri Tama yang masih menatap kebingungan, " ada apa ini bu ? ".


" Kamu tuh nak. Kemana aja, dari tadi Ibu dan Ayah teleponin kamu, malah enggak di angkat " cercah Mala. Tama tak menjawab saat itu.


" Kakakmu tadi hilang " sambung Mala, dan Tama langsung bereaksi mendengar itu,menatap terkejut pada Ibunya," hilang bu" ulangnya. Dan Mala mengangguk. Selang beberapa detik, Tama hampir saja ingin tergelak. Namun, cepat-cepat ia dekap mulutnya, " kocak ", gumamnya dengan setengah mati menahan tawa. Tapi kemudian tawa itu langsung memudar ketika melihat Bimo ikut keluar dari dalam rumah.


" Sayang ada apa ini ? " tanya Elin yang masih bingung. Daniel kini sudah melepas pelukan eratnya.


" Kau pergi kemana. Semua orang disini khawatir padamu " sahut Daniel. Lalu membawa tubuhnya masuk ke dalam rumah.


" Syukurlah " ucap Viona yang terdengar di telinga Elin.


" Kau dari mana Lin. Kenapa tidak menghubungi aku dan Amel ,kalau ada sesuatu " sergah Green. Elin dapat melihat sorot panik dari mata coklatnya, yang kemudiaan bercampur kelegaan.


" aku tak sempat menghubungi kalian lagi " sahutnya masih bingung, dengan tatapan semua orang, " sebenarnya ada apa ini ? " tanyanya bingung.


Mata Amel menyala mendengar itu, " kau tanya ada apa ? " katanya berseru dengan tangan yang berkacak di pinggangnya, " kami semua panik karena kau tiba-tiba menghilang Elin ", sambungnya memberitahu.


Elin memandang ke semua orang, " aku tidak hilang,aku ada " ucapnya lemah.


" Memangnya kemana kamu huh ? " tanya Green tidak sabar, " kenapa tidak menjawab telepon kami semua ".


" Aku tidak sempat memegang hape lagi ".


Viona mendekat padanya saat itu, "jadi sebenarnya kamu pergi kemana nak. Kami semua panik karena kau menghilang dan tidak menjawab telepon kami " ucapnya. Nadanya begitu lembut.


" Kantor polisi " jawab Elin singkat. dan disaat itu di tempatnya, Tama sudah berdiri prustasi.


" Kantor polisi " ulang semua orang dengan terkejut. Terutama Daniel, yang langsung memandang lebih dekat pada wajahnya.


" emmmm ", balasnya mengangguk.


" Ada apa ?, siapa yang menyakitimu ? " cercah Daniel. laki-laki itu langsung bergerak memeriksa bagian tubuhnya, " aku tidak apa-apa sayang ".


" Aku ke kantor polisi karena polisi memberitahu, kalau Tama sedang disana " sambungnya menjelaskan, menunjuk ke arah Tama yang hendak kabur saat itu. Tapi semua orang menarik nafas sedikit legah saat itu.


" Apa yang sebenarnya terjadi ? " kali ini Bimo yang bertanya. Nadanya tegas dan kedua alisnya bertaut.


" Biar Ibu yang bertanya yah " ujar Mala menimpali.


" Kau ke kantor polisi Lin ? " tanya Green tiba-tiba. Di tengah keadaan serius Bimo dan Tama.


Elin mengangguk, " dengan pakaian ini ? " kata Amel menimpali dan nyonya muda keluarga Remkez itu kembali mengangguk.


" Eliiiiiiiin " teriak Amel dan Green bersamaan. Dan kedua mata biru kelabu Daniel sudah membesar, setelah menyadari pakaian yang di gunakan perempuan itu.


" Aku terlalu terburu-buru tadi " katanya dengan cengengesan, dan menelan ludah saat melihat sorot mata suaminya yang kini sudah menyala, memandang ke setiap jengkal kaki jenjangnya.