
Dengan kedua tangan yang menopang pada dagu , dan bibir yang terus ia tahan untuk tersenyum , Elin menatap begitu kagum pada laki laki yang terlihat begitu mahir memegang spatula.
" Apa kau sungguh tidak ingin aku bantu ? " tanya Elin , Daniel tersenyum dan menatap sebentar pada Elin , lalu kembali dengan pekerjaan memasaknya.
Di letakkannya satu menu makanan yang sudah selesai ke atas meja " duduklah dengan manis Tuan Putri " ucap Daniel sambil menarik gemas hidung Elin , " awww " Elin meringis memegang hidung yang sedikit memerah ,
bukannya menjadi kasian Daniel malah tertawa dan kembali melanjutkan aktifitas memasak untuk menu makan kedua mereka.
" Karena kau tidak ingin aku bantu , sebaiknya aku mengganti pakaianku dulu " ucap Elin sambil turun dari kursi.
" Kau harus menutup pintu kamarmu dengan benar " goda Daniel , Elin membalikkan tubuhnya dengan mata yang menatap tajam pada Daniel.
" Just kidding baby " kata Daniel sambil mengulum bibirnya untuk tersenyum , Elin kembali melanjutkan langkahnya " tapi aku serius , kau harus menutup pintu kamarmu dengan benar " ulang Daniel tertawa.
Elin tidak lagi peduli , ia terus melangkah lebih cepat menuju kamar tidurnya.
" Kenapa menggodamu begitu menyenangkan " gumam Daniel dengan bibir yang tidak berhenti untuk tersenyum.
~
" Perfect " ucap Daniel setelah mencoba saus tomat yang ia tuangkan di atas sajian omelet " ternyata hasil masakanku masih yang terbaik " katanya lagi dengan begitu bangga.
" Aku harap aromanya sesuai dengan rasanya " kata Elin yang baru keluar dari dalam kamar dengan hidung yang mencium nikmat aroma masakan Daniel.
" Aku jamin kenikmatan rasanya melebihi dari ekspektasimu " ucap Daniel tertawa.
" Apa kita bisa menikmatinya sekarang ? " tanya Elin tidak sabar , ia sudah duduk di kursi dengan meja yang di isi beberapa menu makanan ,
" Maaf aku tidak pamit dulu padamu " ucap Daniel yang baru saja mengambil Juice Apple di lemari pendingin Elin dan menuangkannya ke dalam gelas.
" Apa kau juga menyukainya ? " tanya Elin, Daniel menautkan kedua alisnya " maksudku Juice Apple " jelas Elin.
" Tidak begitu " jawab Daniel sambil membuka kursi di hadapan Elin " tapi jika kamu suka , aku akan ikut menyukainya " lanjutnya lagi sambil membenarkan posisi kursi yang ia duduki.
" Jangan memaksa jika memang tidak suka " kata Elin menatap Daniel " aku tidak bilang tidak menyukai , aku hanya tidak begitu suka , yang berarti aku masih punya peluang untuk menyukainya " jelasnyal dengan membalas tatapan Elin.
" Apa kita sudah bisa makan ? " tanya Elin sambil menundukan pandangan matanya , ia tidak kuat jika harus menatap begitu lama pada wajah sempurna milik Daniel.
" Sure " jawab Daniel tersenyum.
Elin memotong bagian Steak dengan potong potongan yang begitu kecil " kau hanya perlu meminta bantuanku , tanpa harus membuat menu yang berbeda " kata Elin tersenyum sambil menukarkan hidangan Steak miliknya pada piring Spahgetti di hadapan Daniel.
" Terimakasih , ternyata kau mengingatnya , tapi sungguh aku memang sedang ingin makan Spahgetti " jelas Daniel , yang kembali ingin menukar menu makanan mereka " letakan kembali , kita bisa saling mencoba makanan kita " kata Elin yang siap memasukan pasta ke dalam mulutnya.
" Terbaik , buka mulutmu , kau harus mencobanya " ucap Elin yang begitu girang karena rasa Spahgetti yang begitu enak , Daniel tertawa karena tingkah Elin " buka mulutmu " pintanya lagi dan menyuapkan Spahgetti ke dalam mulut Daniel.
" Bagaimana enakkan ? " kata elin.
" Aku sudah bilang masakanku tidak mungkin mengecewakan " ucap Danie banggal , namun Elin sudah tidak lagi peduli , ia terus menyantap makanannya tanpa henti.
" Makanlah dengan santai , aku bisa membuatnya kembali jika kau mau " kata Daniel sambil mengusap lembut pada tumpahan saus pasta di dagu Elin.
" Kenapa aku selalu ceroboh " ucap Elin begitu malu.
" aaaahhh " ucap Daniel sambil menyodorkan satu potong Steak kedalam mulut Elin , tanpa sadar Elin langsung membuka mulutnya dan menerima suapan tangan Daniel " enak ? " tanyanya dan Elin mengangguk penuh bahagia , " Apa kau seorang Chef " tanya balik Elin dan Daniel hanya menanggapinya dengan tertawa " bahagia sekali jadi Meili , berada di keluarga yang bisa masak , ah aku masih tidak bisa melupakan lezatnya roti buatan ibu kalian " racau Elin sambil terus mengunyah sisa Steak di mulutnya.
" Apa kau sudah makan Sandwich pemberianku ? " tanya Daniel sambil menukar piring Spahgetti di hadapan Elin dengan piring Omelet saus tomat yang juga menu buatannya.
" Itu sungguh darimu " tanya Elin memastikan dan Daniel mengangguk " Kau juga harus mencoba ini " kata Daniel sambil menyendokkan Omelet kedalam mulut Elin " enak ? " tanyanya dan Elin kembali menganggukkan kepala, " tunggu , apa kau serius tentang Sandwich itu ? " tanya Elin yang dengan cepat menelan makanan yang masih tersisa di dalam mulutnya.
" Kenapa harus ada kata serius ? " tanya balik Daniel " aku kira Meili hanya bercanda saat mengatakan kalau Sandwich itu darimu " jelas Elin.
" Kau yang teristimewah , aku tidak pernah membagi Sandwich itu pada siapapun " jelas Daniel tanpa melihat ke arah Elin.
Deg " jantung Elin berdegub , matanya tidak berkedip menatap Daniel yang sedang meneguk air " ada apa ? " tanya Daniel yang menyadari mata Elin menatapnya.
" Tidak " kata Elin berkilah dan memalingkan wajahnya.
" Habiskan makananmu " pinta Daniel , Elin menggelengkan kepalanya " maaf , tapi aku benar benar sudah kenyang " kata Elin begitu sungkan.
" Baiklah " ucap Daniel yang langsung beranjak dari duduknya ,
" Apa kau marah ? "
" Itu sangat tidak mungkin " jawab Daniel tersenyum , ia mengambil beberapa piring sisa makanan untuk di bawa ke wastafel dapur , " biar aku bantu dan jangan menolak " ucap Elin yang langsung mengambil sisa piring bekas makan mereka di atas meja , Daniel yang semula tidak mengijinkan hanya tersenyum pasrah kembali melanjutkan langkahnya menuju wastafel.
" Apa ini juga di letakan disini ? " tanya Elin yang berjalan begitu hati hati dengan membawa beberapa piring kotor.
Bruukkk
" Maafkan aku " ucap Elin saat melihat baju Daniel yang sudah kotor dengan tumpahan saus tomat dan sebagainya.
" Astaga , maafkan aku begitu ceroboh " katanya lagi dengan wajah yang begitu panik , segera ia membersihkan baju Daniel dengan tissue yang memang di sediakan di sisi dapur.
" Ini bagaimana , nodanya tidak bisa hilang " lanjut eEin kebingungan , Daniel menarik tangan Elin yang masih terus membersihkan bajunya " ini bukan salahmu , aku yang ceroboh karena tidak tahu kalau kau sudah begitu dekat " kata Daniel menenangkan Elin " tapi pakaianmu kotor dan itu pasti sangat lengket Daniel "
" Aku tidak apa apa , jangan panik lagi , oke " ucap Daniel sambil mengusap lembut wajah Elin.
" Sungguh ? " tanya Elin memastikan dan Daniel mengangguk , meski kulit bagian perutnya sudah terasa sedikit panas karena tumpahan saus.
" Sebaiknya kau mandi " pintanya pada Daniel, " tidak ini tidak apa apa , aku bisa mandi di tempatku nanti "
" Jangan bercanda Daniel , kulitmu akan semakin lengket nanti "
" Aku tidak memiliki pakaian ganti " jelas Daniel , Elin diam sesaat.
" Sepertinya aku memiliki baju kaos yang berukuran besar , sekarang mandilah " kata Elin sambil menarik Daniel menuju kamar mandi yang terletak di sisi ruangan.
~
Drrtt drttt " berapa kali terdengar suara getaran pada handphone Daniel , namun Elin memilih mengabaikannya dan memilih membuat Capucinno di dapur.
Dan tidak lama terdengar pintu kamar mandi terbuka dengan Daniel yang keluar tanpa menggunakan baju.
" Astaga , pakai bajumu ? " teriak Elin histeris dengan kedua tangan yang menutup pada matanya.
" Aku bertanya dimana bajunya " ulang Daniel sambil menahan ketawanya karena tingkah Elin , " di sana " kata Elin menunjuk pada sofa.
" Apa sudah selesai ? " tanya Elin yang masih menutup mata.
" sudah "
" Kau membohongiku Daniel " teriak Elin lagi , karena kembali melihat Daniel tanpa baju.
" Sudah " kata Daniel lagi dan kembali menghampiri Elin " awas saja kalau kau kembali membohongiku " ancam Elin yang pelan pelan membuka matanya.
Sesaat matanya menatap tidak bekedip pada Daniel yang begitu tampan dengan rambut yang masih basah
" Terimakasih untuk bajunya " ucap Daniel sambil membenarkan baju yang sedikit sempit.
Elin mengulum bibirnya , merasa lucu melihat Daniel menggunakan baju bergambar Teddybear miliknya ,
" Apa ada yang salah ? " tanya Daniel.
Elin menggelengkan kepala " tidak ada yang salah , kau hanya terlihat sedikit lucu " jelas Elin dengan menahan senyumnya.
" Ya aku memang selalu menggemaskan " kata Daniel dengan begitu percaya diri.
" Minumlah " kata Elin sambil meletakkan Capucinno panas di hadapan Daniel ,
" Terimakasih " ucap Daniel tersenyum.
" emm.. aku lupa mengatakan , tadi handphonemu terus berdering "
Daniel menghentikan aktifitas menikmati Capucinno dan segera mengambil handphone yang di letakan di atas meja sofa.
" ya Reza " jawabnya setelah kembali menyambungkan panggilan telepon pada asistennya.
" Maaf mengganggu waktu anda tuan , apa kita bisa bertemu , ada sesuatu yang harus saya jelaskan " ucap Reza begitu serius , Daniel melirik ke arah Elin sebentar " baiklah , kita bertemu di apartemen tiga puluh menit lagi " kata Daniel lalu menutup sambungan telepon.
" Apa terjadi sesuatu ? " tanya Elin , karena melihat wajah Daniel yang terlihat sedikit panik " tidak , hanya masalah pekerjaan " kata Daniel tersenyum.
" Maaf aku harus meninggalkanmu " ucapnya begitu berat , sambil memasangkan kembali jaket hitam yang tadi ia gunakan.
" Tidak perlu meminta maaf , aku yang harusnya berterimakasih untuk makanan enak yang kau buat " kata Elin tersenyum.
" Ceh , kenapa harus ada masalah di hari yang indah seperti ini ? " gumam Daniel begitu kesal.
Ia berjalan menghampiri Elin yang masih berdiri menatapnya.
"Jjika terjadi sesuatu berjanjilah untuk menghubungiku " ucap Daniel yang memegang lembut pipi Elin.
" Ini sungguh menyebalkan " gumamnya lagi dengan menghela nafas , ia begitu tidak tenang untuk meninggalkan Elin sendiri.
" Pergilah , pekerjaanmu sudah menunggu " kata Elin tersenyum ,
dengan berat hati Daniel memutar tubuhnya untuk beranjak dari apartemen Elin.
Namun sesaat ia kembali memutar tubuhnya dan berjalan menuju Elin " apa ada yang tertinggal ? " tanya Elin bingung , karena melihat laki laki itu kembali.
Daniel mengambil gelas Capucinno yang berada di samping Elin dan meminumnya sampai habis " aku tidak ingin menyesal karena telah menyisakan minumanan buatanmu " kata daniel sambil meletakkan kembali gelas kaca yang sudah kosong ke atas meja.
Elin hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya karena tingkah Daniel , " bye " ucap Daniel sebelum pergi.
" bye "
" berjanjilah untuk menghubungiku " katanyal lagi , sebelum menghilang dari balik pintu.
Elin tersenyum kecut setelah laki laki itu benar benar pergi " bagaimana aku menghubunginya , sedangkan aku tidak memiliki kontak teleponnya "
Drrrttt drtttt " suara handphone Elin yang berada di atas meja tiba tiba berdering, " hallo " jawabnya langsung tanpa peduli siapa yang sedang menghubunginya.
" Simpan nomor teleponku , dan sekarang istirahatlah " ucap seseorang darii balik telepon , Elin menautkan alisnya dan dengan cepat ia memeriksa ke layar handphone.
" iya " jawab Elin dengan senyum yang tertahan , ia tidak perlu bertanya siapa yang sedang menghubunginya , karena ia sangat tahu dengan jelas suara berat yang kini sedang berbicara dengannya.
" Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu " ucapnyal lagi.
" Iya "
" dan jika kau rindu " sambung Daniel dengan menahan bibirnya untuk tertawa.
" Iya " jawab Elin tanpa sadar.
" emm.. tadi kau mengatakan apa ? " tanya Elin gelagapan.
" Istirahatlah , dan setelah ini jangan lagi menerima nomor baru yang masuk ke dalam handphonemu "
" Apa kau sudah mulai ingin mengaturku Tuan Daniel ? "
" Tidak tapi itu yang terbaik , aku tidak bisa menjagamu setiap saat , walau aku sudah berusaha semampuku " jelas Daniel , mendengar itu wajah Elin bersemu merah.
" Baiklah , Selamat malam " ucap Elin.
" emm.. dan hati hati " lanjutnya lagi.
" Tentu Tuan Putri "
" dan selamat tidur untukmu " balas Daniel yang kemudian menutup sambungan telepon mereka dengan bibir yang terus tersenyum.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚