Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
ini yang terakhir


" Eliiiin " seru Hannah tersenyum lebar. Tangannya merentang untuk memeluk erat tubuh perempuan itu.


" Ah maaf Hannah, aku baru bisa menyapamu ? " kata Elin dengan mata yang sedikit menatap sendu. Sembari membalas pelukan Hannah tak kalah erat, " bagaimana keadaan kalian. Aku benar-benar cemas Hannah " katanya lagi sambil menarik diri dari pelukan itu.


" Ceh " decih Hannah tersenyum, " masih sempatnya kau seperti ini "


" Kami baik-baik saja Elin, seperti yang kau lihat... " sambungnya menjeda, untuk menghela nafas," ya walau itu memang sedikit menakutkan " katanya lagi dengan tertawa, berbeda dengan Elin yang kini menatap serius, " aku belum mengetahui apapun. Apa yang sebenarnya terjadi " serbunya dengan panik.


" Kita bahas ini setelah acara pernikahanmu selesai, oke "


" Tapi Hann... "


" Kami sudah baik-baik saja Elin. Aku rasa itu yang paling penting bukan ? "


" Emmm..., tapi "


" Tidak ada tapi tapi, sekarang peluk aku lagi.. " cercah Hannah lalu kembali menarik tubuh Elin ke dalam pelukannya, " selamat Elin. Aku benar-benar bahagia hari ini " ucapnya bersungguh-sungguh, bahkan mata berbinarnya kini mulai berkaca-kaca oleh perasaan haru, " aku benar-benar bahagia " ulangnya lagi, dengan mendekap tubuh Elin begitu erat.


" Hannah kau membuatku ingin menangis lagi " seru Elin sambil mengadah untuk menghentikan air matanya menetes. Mendengar itu justru membuat Hannah kembali tertawa, " kau selalu seperti ini " ucapnya sambil memeluk gemas tubuh Elin, lalu melepasnya, " terimakasih Hannah... " ucap Elin menatap serius, " Aku benar-benar sangat senang kau ada disini.. ".


" Kau membuatku seperti orang asing " potong Hannah merajuk.


" Bukan-bukan seperti itu maksudku... "


" Aku mengerti " balas Hannah tertawa, " kenapa kau menjadi serius huh ! "


" Tidak mungkin aku tidak hadir hari ini Elin " sambungnya dengan lembut, " aku akan menunda apapun untuk ada di hari bahagia ini " katanya lagi dengan tersenyum. Tanpa menunggu Elin kembali merengkuh tubuh Hannah, " terimakasih " ucapnya begitu dalam.


" Emmm.., Semoga kalian berdua di limpahkan kebahagian "


" Kau juga Hannah " balasnya.


" Boleh kita bergantian ? " pinta Vale mendekat dengan tertawa, membuat dua perempuan itu mengakhiri pelukan mereka, " Vale .. " seru Elin lemah.


" Nona... "


" Hentikan Vale. Panggil namaku ! " cercah menatap kesal.


" Eiiitt seorang pengantin tidak boleh cemberut " kata Vale menggodanya, " boleh say memeluk anda ? " pintanya dan Elin tentu mengangguk, " Terimakasih telah datang Vale "


" Saya yang berterimakasih karena anda mengundang saya kemari Nona.. "


" Vale berhenti berbicara formal padaku. Kita teman oke " pekik Elin, membuat Vale tertawa, " kau memang Nyonya muda yang ramah "


" Kau berlebihan " ketus Elin dengan bibir yang melengkung.


" Selamat untuk pernikahanmu dan Tuan. Aku berdoa untuk kebahagian yang tiada akhir dalam pernikahan kalian "


" Vale..., terimakasih. Kamu juga " balas Elin tersenyum penuh haru, sambil memeluk erat tubuh perempuan itu sebelum mengakhirnya.


Sementara, masih berada di tempat itu. Kini Meili tengah menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Daniel. Ia hampir seperti ibunya hari ini, terus menangis tanpa bicara apapun, " Meil, aku mohon berhenti. Bajuku akan basah kalau kau tidak juga berhenti menangis " kata Daniel dengan tertawa. Namun Meili tak peduli, ia kini justru semankin terisak, " kau harus berjanji akan membuatkan aku ponakan yang banyak Daniel " pintanya setelah bicara.


Mendengar itu Daniel justru semakin tertawa, " permintaanmu terlalu menyenangkan " sahutnya, membuat Meili menarik diri dari pelukan mereka, lalu menatap dengan lamat wajah kakanya itu, " kau benar-benar terlihat tidak sabar... " katanya, sementara Daniel yang melipat bibirnya menahan untuk tertawa, " jadi kau hanya ingin mengatakan itu saja. Kenapa harus menangis..."


" Dasar bodoh " potong Meili menjadi kesal, " tidak bisakah hari ini saja kau tidak menyebalkan huh " cercah Meili, Daniel kembali tertawa,lalu merengkuh kembali tubuh adik satu-satunya itu, " jangan menangis tapi tertawalah. Bukan kah hari ini, kita bahagia " katanya dengan begitu lembut.


" Aku terharu Daniel, dan sangat bahagia makanya aku menangis " balas Meili yang kembali terdengar parau, " selamat untuk pernikahanmu, jaga Elin dengan baik dan ingat buatkan aku ponakan yang banyak " katanya lagi. Membuat Daniel lagi-lagi tersenyum, " itu pasti " balasnya.


" Tapi sepertinya kau juga akan segera menyusulku " bisiknya pada Meili, membuat mata perempuan itu membesar seketika, " maksudmu ? " .


" Emm tidak tidak " kata Daniel sambil melepas pelukannya, " aku sedikit setuju dengan calon suami yang mami berikan padamu " sambungnya begitu pelan sambil bergerak menjauh dari Meili yang kini terdiam untuk mencernah ucapannya.


" Kenapa dia menjadi menyebalkan. Apa maksudnya sedikit setuju " gumamnya kesal. Namun dengan bersamaan matanya memandang kesana kemari, " kenapa dia tidak ada ? " ucapnya tanpa sadar.


****


Green dan Amel belum melepas pelukan mereka pada Elin, Seperti pembalasan dendam karena setelah mengikrarkan janji pernikahan, mereka menjadi orang terakhir yang bisa memeluk tubuh perempuan itu.


Dan Amel sudah mulai terisak, " selamat Elin, kau akhirnya benar-benar menikah " ucapnya.


" Emmm.., aku juga masih tidak percaya Mel ".


" Berbahagialah terus, buatkan ponakan yang banyak untuk kami " lanjut Amel, mendengar itu membuat Elin tertawa, " hampir semua orang meminta itu " ujarnya tak habis pikir.


Sementara Green masih diam dengan tangan yang terus merengkuh erat tubuhnya.


" Green kenapa kau terus diam ? " seru Amel.


" Aku sedang berdoa... " sahutnya menjeda, " dan aku tidak ingin menangis lagi " sambungnya dengan nada yang terdengar sedikit parau.


" Ceh, kenapa harus menahannya M "


" Karena.... " balasnya lagi sambil menarik nafas, " Karena kalau aku...me..nangis. Aku tidak akan berhenti " sambungnya dan seiring itu justru tangisnya menjadi pecah.


Dan bukannya ikut menangis Amel dan Elin menjadi tertawa, " kau lihat kadang dia terlihat begitu bodoh dan lugu " ujar Amel.


" Cup cup cup, jangan menangis Green, air matamu akan merusak riasanmu " seru Elin berusaha meredahkan tangis Green, " aku tidak perduli, lagi pula acaranya sudah hampir selesai " sahutnya.


" Siapa bilang " sambung Amel cepat, " justru hal paling terpenting yang belum selesai, kita belum berfoto Green.. " pekiknya ikut tersadar dan melepas diri dari pelukan lalu menepis cepat sisa air matanya.


" Astaga " sambung Green, " ya ya kau benar "


" Makanya jangan menangis dulu, nanti sambung lagi setelah berfoto " sahut Amel yang sudah sibuk dengan cermin kecil di tangannya dan Green sudah ikut berhamburan untuk membenahi make upnya, meninggalkan Elin yang kini berdiri dengan tertawa, " padahal harusnya yang panik aku " ujarnya tak habis pikir.


" Nyonya Muda Remkez " panggil seseorang tiba-tiba, membuatnya sedikit terkejut dan memutar tubuhnya, " kau memanggilku " katanya tersenyum malu.


" Ya memangnya siapa lagi Nyonya muda Remkez selain dirimu sayang " sahut Daniel yang tersenyum begitu lebar sambil berjalan ke arahnya, " aku tidak sabar ingin membawamu pergi dari sini " katanya setelah kembali mendekap tubuh Elin.


" Ceh, jangan gila Daniel " pekik Elin dengan mata yang membesar.


" Aku bercanda sayang "


" Tapi aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu " kata Daniel lagi.


Dahi Elin sedikit berkerut, " Apa... ? " tanyanya begitu penasaran.


" Ikuti aku " ajak Daniel sembari menggenggam tangan Elin, " kemana ? "


" Jangan khawatir jika itu bersamaku " jawab lelaki itu tersenyum. Membuat Elin ikut tersenyum meski kini perasaannya semakin penasaran.


" Apa yang mau kau tunjukan sayang ? " tannya lagi, sambil terus mengikuti tubuh Daniel yang terus berjalan di hadapannya, " ini " seru laki-laki itu dengan langkah yang sudah berhenti.


" Bibiiii, pamaaan " pekik Elin tak percaya saat melihat Larry dan Jamie, dan belum sempat ia memeluk tubuh dua orang paruh baya itu, matanya kembali membesar saat menemukan Bim-bim, David, Frans dan juga Sharen juga ada disana, " kalian juga datang " pekiknya dengan mata yang berkaca-kaca.


" Tentu kami datang Nyonya muda " balas Bim-bim mengangguk dengan tertawa, " sekarang siapa yang lebih dulu ingin kau peluk, cepatlah kami sudah mengantri sejak tadi " sambungnya lagi, membuat semua orang tertawa.


Sambil mengusap matanya Elin berjalan menuju Larry dan Jamie, " Aku sangat senang kalian datang " katanya dengan air mata yang sudah mengalir dan tanpa menunggu Jamie memeluk tubuhnya, " selamat nak, kau benar-benar terlihat bahagia hari ini " ucap Jamie dengan mata yang sudah ikut berkaca-kaca.


" Kedatangan kalian membuat aku semakin bahagia bibi " sahut Elin yang kini benar-benar menangis, " itu karena suamimu kami ada disini.. "


" Daniel ? "


" Hemm..., dia benar-benar membuat kami terkejut. Tiba-tiba datang di waktu tengah malam dan meminta kami untuk datang hari ini.. "


" Itu semua demimu " sambungnya tersenyum.


Elin mengusap air matanya, melepas pelukannya bersama Jamie lalu melihat ke arah Daniel yang kini tersenyum ke arahnya, " ceh " decih Elin.


Jamie menarik tangan yang di hiasi henna putih, di usapnya dengan begitu lembut, " selamat nak, semoga pernikahanmu berlimpah ke bahagiaan dan tidak akan terpisahkan oleh apapun kecuali maut " ucapnya pada Elin.


" Terimakasih Bibi " balas Elin dengan kembali memeluk tubuhnya, " terimakasih telah datang " sambungnya


" Aku tidak sabar ingin bergabung " ucap Larry mendekat dengan mata yang menatap sendu, " kemarilah " ajak Elin sambil membuka pelukannya bersama Jamie, " paman benar-benar senang karena bisa melihat hari bahagiamu nak "


" Aku lebih senang karena kalian ada disini paman " sahut Elin.


" Teruslah bahagia nak, dan jangan lupa perkenalkan kami pada anakmu nanti " ucap Larry dengan begitu terharu.


" Itu pasti Paman "


" Bisakah kita bergantian Bibi " ujar seseorang mendekat membuat pelukan itu terlepas.


" Sharen... " pekik Elin tersenyum dan tanpa menunggu perempuan itu merengkuh tubuhnya, " selamat atas pernikahanmu Nyonya Muda yang baik hati " ucapnya.


" Ceh menggelikan, panggil namaku dengan benar. Kita bukan lagi di tempat kerja sharen "


" Tidak, tidak. Tapi aku bekerja di kantor suamimu bahkan bersamamu juga "


" Kau benar-benar terlalu kaku " ujar Elin sedikit kesal. Namun kemudian kembali tertawa, " tapi terimakasih telah datang Sharen, aku sungguh senang kau juga ada disini ".


" Kau selalu berlebihan " kata Elin berdelik.


" Stop, waktu anda sudah habis Nona Sharen, sekarang giliran saya " seru Bim-bim, membuat semua orang tertawa tak terkecuali Daniel, " Tuan boleh aku memeluk Nyonya Muda ? " pamitnya pada Daniel dan lelaki gagah itu mengangguk, " untuk hari ini " katanya begitu tegas, Namun dengan bibir yang melengkung.


" Terimakasih Tuan " ucap Bim-bim lalu tanpa menunggu ia memeluk tubuh Elin, " suamimu memang menakutkan " bisiknya, membuat Elin tertawa.


" Terimakasih telah datang Bim "


" Aku yang berterimakasih karena telah kau undang "


" Tentu aku akan mengundangmu bodoh "


" Ya ya, aku sedikit terkejut karena begitu tiba-tiba. Kau tidak sedang hamil bukan ?, katakanlah aku sungguh akan menjaga rahasiamu "


Pluk " Elin menampar punggung lelaki kemayu itu, " jangan menfitnah orang yang bahkan belum tahu bagaimana caranya bercinta " ucap Elin, membuat mata Bimo membulat, " kau masih pera... "


" Oh astaga mengejutkan sekali. Ternyata secara keseluruhan kau memang lugu Elin " katanya tertawa sambil melepas pelukan mereka, " tapi selamat Elin, selamat atas pernikahanmu " ucapnya sekali lagi.


" Ah aku sedih, setelah ini ntah kapan lagi bisa berbicara denganmu "


" Memangnya kenapa, bukankah kita akan bicara setelah aku kembali bekerja "


" Kau akan bekerja lagi ? "


" Tentu "


" Kau yakin, mana mungkin kami akan berkerja bersama istri CEO, Elin " pekik Bim-bim tidak percaya, " bahkan aku merinding membayangkannya " sambungnya lagi.


" Di tempat kerja aku hanya karyawan magang. Jangan lupa itu " ujar Elin serius, sambil bergerak ke arah Frans.


" Kau memang keren Elin " puji Bimo takjub.


" Jelas " sahut Elin.


" Hai Frans, terimakasih telah datang. Aku benar-benar senang " ucapnya sambil menjabat tangan Frans.


" Aku yang senang karena bisa ada disini Elin emmm..maksudku Nyonya.."


" Elin.. " potongnya, " tetap panggil aku seperti itu, oke ".


" Emm ya oke. Selamat atas pernikahanmu " ucapnya dengan sedikit tersentak dan Elin mengangguk, lalu perlahan tubuhnya bergerak ke hadapan laki-laki yang kini berdiri dengan tertunduk.


" Ini yang aku tunggu " gumam Bim-bim tersenyum. Namun bersamaan kakinya di injak oleh Sharen, " kau jangan lupa ada suaminya disini " bisiknya sambil melirik ke arah Daniel.


" Kau juga tahu ? " tanya Bim-bim terkejut.


" Tentu, David lelaki kedua yang di gilai perempuan di kantor kita setelah Tuan Daniel, dan rumor tentang dia menyukai Elin juga sudah menyebar ke seluruh devisi "


" Benarkah ? "


" Hemm.., bahkan aku juga menyukainya, sebelum aku tahu dia menyukai Elin "


" Sepertinya sekarang kau punya kesempatan Sharen "


" Sepertinya " sahutnya tertawa.


Sementara Elin kini mengulurkan tangannya ke hadapan David, " Terimakasih telah datang David " ucapnya tersenyum.


" Emmm ya, aku yang bersyukur karena kau mengundangku kemari " sahut David dengan begitu kaku dan itu begitu nampak di mata semua orang, membuat Bim-bim yang terus mengamati kini harus mendekap mulutnya untuk menahan agar tidak tertawa.


Dan mata semua orang sedikit membesar saat Daniel ikut mendekat, " Terimakasih telah datang " katanya ikut mengulurkan tangannya ke arah David, lelaki itu terdiam sejenak, " saya yang berterimakasih tuan " katanya dengan membalas tangan Daniel.


" Dia keponakan Bibi Jamie dan Paman Larry Daniel " kata Elin menimpali, untuk menepis sedikit kekakuan di antara mereka, " oh ya, kalau begitu kita akan jadi saudara " sahut Daniel tersenyum, " jangan tegang David, kita harus berdamai " sambungnya dengan santai. membuat David sedikit terhenyak lalu tersenyum, " hemmm yaa tuan, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian " ucapnya lagi.


" Wah siapa ini Elin ? " tanya Amel yang tiba-tiba ikut bergabung, matanya berbinar menatap ke arah David, " apa ini juga kerabat keluarga Remkez ? " tanyanya lagi.


" Emm dia teman kantorku Mel "


" Benarkah " tanya tak percaya lalu merapat pada Elin, " dia sangat tampan Elin " bisiknya membuat matanya Elin membesar, " jangan ganjen, ingat kau sedang hamil "


" Justru mungkin ini karena aku sedang hamil, makanya aku begini "


" Ceh " decih Elin merasa geli, " kau memang ganjen dari dulu ".


" Amel " katanya memperkenalkan dirinya sendiri pada David.


" Astaga " pekik Elin tertahan dengan tingkah gila Amel.


" David " balas David menyebut namanya.


" Aku sahabat Elin " katanya menjelaskan siapa dirinya, " Kau sangat tampan tuan " sambungnya memuji David.


" Mel hentikan , jangan rusak acaraku dengan amukan kak Alfin " bisik Elin padanya.


" Boleh aku memelukmu "


" Mel... "


" Aku sedang hamil, dan sepertinya anakku menyukai anda " katanya lagi, membuat mata Elin yang semula membulat kini sedikit mengecil.


" Ya tentu " sahut David, dan dengan semangat Amel memeluk tubuh gagah itu, " terimakasih Tuan " ucapnya begitu senang, sementara Elin tengah menggelengkan kepala, " bisanya dia membuat alasan " gumamnya tersenyum dan tak habis pikir bersamaan,


" boleh aku berfoto denganmu " pinta Amel lagi, dan David kembali mengangguk, " kau memang baik sekali " katanya, namun tidak lama matanya sedikit membesar menyadari ia tidak membawa handphonenya saat ini.


" Tunggu sebentar tuan, aku hanya mengambil hapeku sebentar " pinta sambil ingin beranjak.


" Mau kemana Mel ? " tanya Elin


" ke kamarmu, sepertinya hapeku ketinggalkan disana "


" Tunggu disini biar aku yang mengambilnya "


" Mana mungkin, biar aku saja "


" Tidak apa-apa Mel, tunggu disini. Kau terlalu sering naik turun tangga " kata Elin sambil ingin beranjak.


" Biar aku saja " kata Daniel menimpali, " tidak sayang tetap lah disini, aku hanya sebentar dan ada sesuatu yang ingin aku ambil, dan kau tidak akan tahu dimana aku meletakknnya " bantahnya dengan tersenyum.


" Jangan lama "


" Tentu " sahutnya sambil berlalu menuju kamar tidurnya.


Sampainya disana Elin segera mencari benda pipih milik Amel, lalu mencari benda pipih miliknya sendiri, " dimana tadi aku meletakannya ya " gumamnya dengan tubuh yang kesana kemari, lalu mengamati ke atas meja yang di letakan di bawa jendela ke arah taman, " ini dia " katanya tersenyum saat menemukan apa yang ia cari. Dan baru saja ia ingin melangkah pergi tiba-tiba dirinya di buat terhenyak oleh matanya yang melihat pada seseorang yang kini tengah duduk di bangku taman.


Tubuhnya tiba-tiba bergetar, saat menyadari siapa yang kini tengah berada di dalam pandangannya, " kak Gery .. " ucapnya dengan tersendat dan mata yang membesar dengan sempurna.


Walau dengan jarak yang tidak begitu dekat tapi ia bisa memastikan dengan jelas apa yang sedang ia lihat saat ini. Kilauan lampu-lampu benar membuatnya menatap jelas pada wajah yang kini tersenyum ke arahnya.


Seketika saja air matanya mengalir tanpa permisi, saat ini ia seperti kembali pada beberapa tahun yang lalu, melihat lelaki itu dengan pakaian yang sama dan raut wajah yang sama seperti yang ia lihat terakhir kali dan bahkan di tempat yang sama di bangku taman.


Mulutnya tidak bisa berucap apapun saat ini, ia hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir menatap pada wajah yang kini masih terus tersenyum ke arahnya.


Sebenarnya ada banyak yang ingin ia ungkapkan tapi lidahnya seperti keluh untuk berbicara.


Lelaki itu terus tersenyum tanpa bicara, bahkan tersenyum dengan sangat manis, lebih manis dari yang pernah Elin lihat sebelumnya.


Baru saja Elin ingin mengucapkan sesuatu, pintu kamarnya tiba-tiba berbunyi, " sayaang.. " panggil dari balik pintu dan sangat jelas kalau itu suara Daniel.


" sayaang " ulang lelaki itu.


" Emm yaa.. " sahut Elin dengan menepis cepat air matanya.


" Boleh aku masuk ? "


" Emm yaa Daniel " katanya lagi dan bersamaan ia kembali melihat ke arah bangku taman, dan seseorang yang tadi ia lihat kini sudah tidak ada lagi disana, " dia sudah pergi... " katanya dengan bergetar dan tanpa bisa di tahan air matanya kembali lolos begitu saja, dengan bersamaan pintu kamarnya terbuka, " sayang.. " panggil Daniel dengan menatap cemas.


" Kau baik-baik saja ? " tanyanya panik sambil bergegas mendekat ke arah Elin yang kini tengah tertunduk.


" Kau baik-baik saja " ulangnya.


" Aku baik-baik saja " sahut Elin. Namun air matanya tidak berhenti mengalir.


Daniel tidak lagi mengatakan apapun, di dekapnya tubuh Elin dengan begitu erat, " menangislah sayang, curahkan apa yang masih tersisa di hatimu. Tidak apa-apa " katanya dengan begitu tulus, seolah ia mengetahui apa yang baru saja terjadi.


Dengan seiring ucapannya tangis Elin pun pecah, " menangislah " katanya lagi sambil mengusap lembut punggung istrinya, " ini yang terakhir " pintanya dengan tersenyum dan sedikit menghela nafas, dan Elin mengangguk di dalam pelukannya, " ini yang terakhir "ulang Elin dengan tersendat.