Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Keluarga Baru


Daniel menekan begitu cepat tombol pasword pintu apartemen Elin , ia sudah begitu tidak sabar untuk berbicara dan menjelaskan atas semua yang terjadi pada kekasihnya


" Sayang " panggilnya melemah , apartemen mewah itu terlihat begitu sunyi dan tidak ada sedikit pun tanda tanda kalau pemiliknya sedang berada di sana.


Daniel berjalan begitu cepat menuju ruang kamar tidur Elin , namun tidak juga menemukan perempuan itu , beralih memeriksa ke segala ruangan dan ia hanya menemukan kekecewaan karena perempuan itu benar benar tidak berada disana.


Drrrttt drrrtt


Handphone yang berada di dalam genggaman tangan Daniel berdering , ia melihat begitu cepat , memastikan jika kabar baik yang akan ia dengar namun kembali ia menghela nafas saat melihat nama kontak adiknya di layar handphone , " Ya Meili ".


" Kau dimana ? , apa sudah bertemu dengannya ? , aku sudah menunggu kabarmu sejak tadi " tanya Meili yang terdengar begitu tidak sabar dari balik telepon.


" Dia menghilang Meili " jawabnya begitu lemah , " maksudmu ? , Daniel jangan membuatku takut "


" Aku tidak lagi bisa mengejarnya dan dia tidak ada di apartemen " jelas Daniel begitu prustasi bahkan ia tidak bisa bersuara seperti biasanya , " Apa yang kau katakan ini benar Daniel ? " tanya Meili tidak percaya dan penuh ketakutan.


" Kau dimana sekarang ? " tanyanya lagi setelah tidak mendengar jawaban dari kakaknya itu , " di apartemennya "


" Tunggu aku disana , aku yakin dia pasti akan pulang " ucap Meili yang berusaha untuk tetap tenang dan menenangkan kakaknya.


" Apa kau tahu dimana tempat dia biasa pergi ? " tanya Daniel cepat sebelum adiknya menutup panggilan itu.


" Tidak , dia tidak memiliki tempat persinggahan dimana pun selain apartemen dan tempat perbelanjaan dan aku sangat yakin itu "


" Tapi dia tidak ada disini Meili " ucap Daniel begitu lemah , lidahnya seperti keluh karena perasaan dan pikiran yang begitu panik , " Tetaplah menunggu disana , dia pasti akan pulang " kata Meili lalu menutup panggilannya.


~


Untuk hari ini masalah Hannah sudah selesai , ia tinggal harus mempersiapkan dirinya untuk menunggu hari persidangan atas penuntutan yang dilakukan oleh Caren.


" Bagaimana Meili , apa Daniel sudah menemukan Elin ? " tanya Hannah saat mereka sudah berada di area parkir mobil dan beruntung media belum mengetahui kabar ini , membuat geraknya sedikit lebih aman tanpa kerumunan wartawan yang membutuhkan klarifikasi darinya ,


Meili menggelengkan kepala " bahkan dia tidak ada di apartemennya " jawabnya lemah dan helaan nafas yang begitu pelan.


" Sungguh ? " tanya Hannah yang ikut panik.


" Tenanglah Hannah , kau tidak perlu memikirkan ini , mungkin dia masih singgah di suatu tempat untuk sedikit menenangkan pikirannya "


" Tapi Meil , aku penyebab kesalah pahaman ini "


" Bukan hanya kau tapi aku juga , ini tidak akan terjadi jika sejak awal aku sudah bisa memahami sorot matanya saat Daniel menenangkanmu "


" Kita terlalu menyepelehkan perasaannya " sambung Meili.


" Aku akan membantu mencarinya " sambung Mike , " ya , aku juga akan berusaha membantu sebisaku " timpal Vale.


" Terimakasih banyak , tapi Hannah harus istrihat dan kau harus berada di sampingnya dan kau Vale , kau sudah cukup lelah untuk hari ini , jadi istirahatlah , biar ini menjadi urusanku bersama Daniel "


" Tidak Meili , dia temanku dan aku juga penyebab semua ini terjadi , aku harus menjelaskan padanya " ucap Hannah begitu panik dan merasa tidak akan adil jika dia hanya akan berdiam diri dengan situasi seperti ini , " tenanglah , masalahmu lebih besar dari ini , aku yakin Elin hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya " jelas Meili.


" Pulanglah " sambungnya lagi.


" Katakan jika kau membutuhkan bantuanku " ucap Mike dan Meili hanya mengangguk dengan bibir yang tersenyum kecut sambil berjalan menuju letak mobilnya.


****


Bibir Elin tersenyum saat memasuki halaman rumah yang terlihat begitu asri oleh tanaman yang tertata begitu rapi serta lampu lampu taman dengan penerangan sederhana , " rumahmu terlihat begitu nyaman Paman " ucap Elin , yang masih menatap kagum pada rumah sederhana yang berada di tengah kota New York dengan halaman yang cukup luas ,


" Ini harta kedua yang aku miliki setelah istriku " ucap Larry tersenyum , lalu segera mematikan mesin mobilnya setelah tepat berada di depan pintu rumahnya , " Kenapa kau datang terlambat Larry , aku begitu khawatir menunggumu " ucap perempuan paruh baya yang berjalan begitu cepat menuju pintu mobil yang baru saja di buka oleh Larry.


" Maaf , itu karena aku memiliki pekerjaan tambahan hari ini " jelas Larry tersenyum dan mencium puncak kepala istrinya , " dan ini untukmu " sambungnya lagi sambil memberikan satu kotak Pie yang ia sempatkan untuk membelinya di dalam perjalan pulang , " apa begitu banyak penumpang hari ini ? " tanya kembali istrinya saat melihat kotak kue itu bukanlah berasal dari tokoh kue dengan harga yang murah.


Duukkk " suara pintu mobil yang kembali tertutup membuat istri Larry terkejut dan menatap begitu bingung pada perempuan muda yang baru saja keluar dari dalam mobil suaminya , " perempuan itu yang membelikannya untukmu " jelas Larry , namun istrinya masih terdiam dan bingung bersamaan , " Selamat malam Mrs.Larry " ucap Elin begitu sopan dan sedikit menundukkan tubuhnya untuk mencium punggung tangan wanita paruh baya itu , ia tidak ingin mengubah budaya kesopanan dari negaranya , terlebih untuk orang yang jauh lebih tua darinya.


" Apa yang dia katakan itu benar Nona ? "


" Ya , dia merayuku dengan mengatakan kalau masakanmu sangat Enak " sahut Elin sedikit tertawa , " ayo masuk " ajak istri Larry padanya.


" Boleh aku tahu nama anda Nona ? "


" Ya kau benar sayang , sejak tadi aku juga belum mengetahui siapa namanya " sambung Larry , " Aku tidak akan menyangkalnya karena kau memang begitu bodoh , tanpa tahu siapa namanya namun sudah begitu berani membawa dia kerumah ini "


" Maafkan suamiku " sambungnya pada Elin yang sedang tersenyum karena tingkah sepasang suami istri di hadapannya itu.


" emm.. aku sampai lupa dengan namamu " ucap lagi , " Merlinda , kau bisa memanggilku Elin Nyonya "


" Jamie , bisakah kata Nyonya itu kau ganti dengan Bibi " ujar Jamie keberatan , " tentu aku memang sudah memanggil paman pada Mr.Larry " sahut Elin tertawa.


" Ayo Masuk " ajaknya lagi , mata Elin semakin di buat terpanah dengan dekorasi rumah yang begitu rapi walau bangunannya sudah terlihat sedikit lusuh namun cukup tertata dengan sangat baik .


" Inilah tempat tinggal kami nona " ucap Jamie pada Elin , " ini sungguh sangat nyaman Nyo..emm maksudku bi "


" Kau hanya sungkan Nona , bagaimana mungkin kau bisa mengatakan itu untuk rumah yang hampir roboh seperti ini " sambung Larry tertawa.


" Tapi ini sungguh sangat nyaman , dan aku begitu menyukai gaya classic "


" Gaya Classic kuno maksudmu " sambung Jamie , dan suami istri itu saling tertawa karena merasa begitu lucu dengan ucapan Elin , " duduklah nona " sambung Jamie lalu berjalan menuju dapur yang letaknya tidak jauh dari tempat Elin.


" Apa aku boleh membantumu ? " ujar Elin sambil berjalan menghampiri Jamie yang terlihat sedang sibuk dengan benda benda dapurnya , " tentu , jika tidak merepotkanmu " sahut Jamie tersenyum dan Elin segera mengenakan apron yang di letakan di ujung dapur.


" Apa yang bisa aku bantu bi ? "


" Kau bisa mengupas kulit Bombai ? " tanya Jamie membuat Elin tertawa , " apa aku terlihat tidak meyakinkan ? " tanya baliknya.


" Ya , aku tahu pakaian yang kau gunakan bukanlah barang yang murah " ucap Jamie tersenyum , " tapi ini sangat mudah " kata Elin yang berhasil mengupas kulit bombai lebih cepat "


" Ternyata aku salah " ucap Jamie tertawa.


" Ya , anda tidak bisa menilai sesuatu hanya lewat cover " sambung Elin dengan ikut tertawa.


" Kau benar benar menyenangkan nona "


" begitu pun bibi dan paman " sahut Elin yang memperlihatkan senyum bersyukurnya.


" Apa orang tuamu tidak mencarimu ? " tanya Jamie , membuat Elin terdiam sesaat , " aku hanya anak rantau , dan tinggal sendiri disini " katanya menjelaskan.


" Maafkan aku " ucap Jamie yang merasa begitu tidak sopan atas pertanyaannya , " itu bukan sesuatu kesalahan bi "


" Kau sungguh hanya sendiri disini tanpa keluarga ? " tanyanya lagi dan Elin kembali menganggukkan kepalanya, " mulai hari ini kau bisa menganggap kami keluarga barumu disini , tapi itu jika kau tidak keberatan " sambungnya lagi.


" Tentu aku tidak akan keberatan dan terimakasih bibi Jamie , aku sungguh begitu senang karena telah mengenal kalian " ucap Elin begitu terharu karena merasa begitu bersyukur karena telah kembali di pertemukan dengan orang yang baik , walau hari ini nampak mengecewakan namun selalu ada kebaikan darinya.


" Kalau kau juga tidak keberatan , tidurlah disini nona " ucap Jamie saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam , " supaya kau bisa menikmati hasil masakan ini tanpa tergesa gesa untuk pulang " lanjutnya lagi.


" Aku begitu banyak merepotkanmu "


" Tidak , aku sungguh sangat senang kau berada disini "


" jadi apa kau akan tidur disini ? " tanya Jamie tidak sabar dan Elin menganggukkan kepala , " cepat kita selesaikan ini , aku begitu tidak sabar untuk membuka lemari pakaian anakku dan memberikannya padamu " kata Jamie begitu bersemangat , " Apa ukuran tubuhnya sama denganku ? " tanya Elin sedikit bingung karena yang ia tahu anak mereka sudah begitu lama pergi.


" sepertinya , aku tidak tahu tapi aku membeli ukuran yang sama dengan ukuran tubuhmu " jelas Jamie dan Elin hanya mengangguk tanpa berani kembali untuk bertanya.


jangan lupa vote , like dan coment🤗


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚