Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Urusan Perempuan


Suasana kini jauh terasa sepi. Tak cukup dengan kepulangan tamu dari New York, beberapa pasangan paruh baya juga ikut meninggalkan hotel tempat Daniel dan Elin mengadakan acara tadi malam. Meski hanya pergi untuk berbelanja, tapi berhasil membuat suasana semakin kian sepi.


Tidak ada yang bersemangat, terlebih untuk Amel yang terus bolak balik dari wastafel. Obat dokter seperti tidak bereaksi di tubuhnya. Hanya berhasil membuatnya tidak pusing, tapi tidak bisa terhindar dari rasa mual. Dan ia kini berakhir di kursi panjang di sisi pantai, sambil memegang sekotak tissue yang besar.


Menyaksikan Green dan Naina bermain air laut, jauh lebih baik, dari pada ia harus berdiam diri di dalam kamar hotel.


" Bunda, are you oke ? " ujar Naina sambil berjalan ke arahnya, menggunakan swimsuit berwarna hijau botol. Warna favorit Mommynya.


" Mel, kau masih pusing ? " tanya Green menimpali. Dengan air laut yang bercucuran dari rambut dan tubuhnya.


" Tidak lagi. Tapi rasa mualnya tidak ingin pergi " sahutnya lemah. Putri kecil Green mendekat, memegang dahinya, " Bunda demam ? ".


" Tidak sayang. Bunda hanya lemas " katanya menjelaskan. Mata bulat coklat yang di turunkan dari ibunya, kini memandang sendu padanya, " bunda tidak apa-apa, sungguh " katanya sekali lagi. Menyadari tatapan sedih gadis kecil di hadapannya. Tatapan yang sama persis dengan ibunya. Tatapan penuh khawatir, dan Amel mengetahui jelas hal itu.


"Naina masih ingin berenang ? " tanya Green. Gadis kecil itu menggeleng, " No Mommy. Naina ingin main pasir " katanya sambil mengangkut mainan pasirnya mendekat ke arah Amel. Dan Green membiarkan itu.


" Kemana orang-orang ? " tanya Green pada Amel, sambil mengeringkan tubuh basahnya dengan handuk besar yang sudah di sediakan.


" Ntahlah, Kak Nathan dan Alfin mungkin belum selesai. Jerry tadi juga berpamitan pergi sebentar " kata Amel menjelaskan.


" Meili ? "


" Dia pergi setelah menerima telepon. Mungkin di kamarnya ".


Mata mereka saling memandang, " jangan tanya dimana keberadaan pengantin baru padaku " pungkas Amel, yang langsung mengerti dengan tatapan Green. Dan setelah itu dia tertawa.


" Apa kau juga yakin, bahwa mereka sudah melakukannya ? " kata Green.


Amel mengangguk, " tentu, memang apalagi yang mereka lakukan sepanjang malam tadi. Apa kau percaya kak Daniel cukup sabar menahannya ".


Green menggeleng, lalu tertawa begitu kencang. Di otaknya membayangkan wajah polos Elin saat itu.


" Kalian membicarakan aku huh " sebuah kalimat yang berhasil membuat Green dan Amel tersentak. Dan saat itu justru mereka tertawa.


" Kau nampak terlihat sehat saat mentertawakan aku ya Mel " sergah Elin dan ibu hamil itu mengangguk tanpa bersalah, " darimana saja kau ? ", tanya Green, memandang penuh ingin tahu.


" Kau seperti tidak mengerti saja Green ", kata Amel menimpali, dengan lirikan mata yang menyebalkan di mata Elin yang melihat, " aku baru saja selesai membalas pesan e-mail yang masuk " jelas Elin memandang kesal.


Green kembali menatap penuh selidik, " Benarkah ? " katanya sambil tersenyum. Nadanya di buat sangat menyebalkan.


" Berhenti menggodaku " teriak Elin. Saat ini, iya benar-benar merasa habis kesabarannya. Tapi bukannya prihatin, justru kedua sahabatnya semakin tertawa kencang. Walau setelah itu Amel harus menutup mulutnya dengan tissue karena rasa mual yang kembali datang.


" Itu, anakmu menyuruhmu berhenti menggodaku " sergah Elin.


Green duduk disisinya, sambil medekap tubuh basahnya dengan handuk, " ceritakan bagaimana kejadianya tadi malam ".


" Kau pikir, ini waktu investigasi "


" Aku penasaran Elin " rengek Green.


" Tidak akan ada bedanya dengan waktu malam pertamamu..."


" Tentu Beda " kata Green memotong. Ia bahkan nyaris berteriak, " Yang kau dapat pisang cavendish ", sambungnya bersemangat. Amel kembali tertawa mendengar itu.


" Pisang cavendish " ulang Elin.


" Hemm.. ", balas Green mengangguk, " tentu pasti beda rasanya denganku waktu itu".


Elin masih diam terpelongo. Ia benar-benar belum paham dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Green.


" Kau membuatnya bingung Green " tukas Amel, yang langsung menyadari jika sahabatnya itu masih begitu polos.


Green mencodongkan tubuhnya ke telinga Elin. Dan beberapa saat wajah Elin sudah merona seketika, " jadi bagaimana ? ", tanyanya lagi.


" Sangat sakit " jawab Elin begitu polos. Wajah merahnya sedikit memudar saat mengenang rasa itu.


Mendengar dan melihat mimik wajahnya itu, tentu membuat Green dan Amel tidak bisa menahan untuk tidak tergelak. Bahkan kini Green memegangi perutnya.


" Apa yang lucu ? " tanya Elin kesal.


" Wajahmu " sahut Green dan Amel masih tertawa sambil mendekap tissue di bibirnya.


" Kau membuatku merasa ngilu Lin " ujar Amel, dengan masih terus tertawa. Sementara Green sudah terpingkal-pingkal.


" Mommy, are you oke ? " kata Naina bertanya. Mata coklatnya memandang heran pada ibunya.


" I'm oke, Baby " sahut Green di sela tawanya dan semakin tertawa ketika melihat Elin bergidik.


" Kau hanya belum tahu rasa enaknya " ucapnya.


" Sudah " sahut Elin lantang, " setelah aku merasa punyaku sudah robek, tidak lama setelah itu sedikit enak " katanya begitu polos.


Green dan Amel di buat tidak berhenti tertawa karenanya, " nanti akan lebih enak dari itu " timpal Amel.


" Aku masih takut, kalau ingat sakitnya "


" Itu hanya sementara Elin, setelah itu kau akan lupa diri ".


" Lupa diri katamu, tadi pagi aku hampir menangis karena begitu perih saat pipis ".


Green menepuk dahinya, " itu karena pertama kalinya Elin. Besok pasti tidak akan lagi " ia menerangkan lebih serius kali ini. Sementara Elin terdiam sejenak, " jadi malam ini harus melakukan lagi ? " tanyanya dan Green kembali tertawa, " tentu, apa kau pikir kak Daniel akan membiarkan kau tertidur pulas huh ".


" No, no no " ujar Amel menimpali, " kau masih beruntung. Dulu, satu minggu pertama setelah aku menikah. Tidurku tidak pernah di buat tenang oleh Alfin".


Elin bergidik mendengar itu. Membayangkan dirinya juga akan merasakan hal yang sama, " apa semua lelaki sama ? ".


" Tentu " kata Green menyahut, " kita juga akan sama seperti itu. Hanya saja sekarang kau masih merasa sakit. Tapi setelah besok kau tahu bagaimana nikmatnya. Meski tengah tidur nyenyak, kau akan rela bangun hanya itu melakukan itu ".


Elin terperanga mendengar itu. Dan bersamaan Nathan dan Alfin datang. Dan mereka bungkam seketika.


" Kau terlihat lebih baik sayang " ujar Alfin, memandang istrinya. Sambil membuka sekotak besar buah potong, dengan bumbu rujak yang sudah tersedia.


" Hemm, ini semua karena Elin " sahut Amel, seraya bangun dari posisinya. Ia mengambil tidak sabar potongan jamu jamaika.


" Elin " ulang Alfin, ikut melihat ke arah perempuan itu. Yang kini tengah menatap istrinya dengan mata yang membesar. Sementara Green kembali tertawa saat itu.


" Ada apa sayang ? " tanya Nathan. Meski tengah menghampiri putrinya, tapi ia mendengar jelas apa yang sedang di bicarakan.


" Ini urusan perempuan " sahut Green tertawa, sambil ikut mencomot potongan buah. Dan Elin merasa tergiur untuk ikut melakukannya.


Seketika suasana menghening. Hanya suara deburan ombak dan pekik suara orang di sekitar yang terdengar. Dan rasa penasaran Alfin dan Nathan yang melambung tanpa jawaban. Sementara ketiga perempuan itu begitu asik menikmati potongan buah segar dengan cocolan gula merah. Kalau saja saat itu Amel tidak terlihat lebih pucat, mungkin tidak ada satu pun orang yang bisa membedakan, siapa yang sebenarnya tengah hamil.


Green mendesis berulang kali, oleh rasa pedas yang membakar lidahnya. Tapi tidak dengan Amel, padahal dari ketiganya dialah orang yang paling tidak bisa menikmati rasa cabe. Tapi kehamilan, sepertinya merubah hal itu.


Sementara Elin. Perempuan paling polos dari ketiganya, justru dia yang tidak bisa makan, kalau makanan itu tidak tercium aroma cabe. Dan Green berada di antara kedua perempuan itu.


" Sayang, apa kau juga hamil ? " seru Nathan, yang merasa heran melihat istrinya tak berhenti mengunyah potongan buah. Yang kemudian tersedak, ketika pertanyaan itu di layangkan untuknya. Perempuan itu terdiam sejenak, dengan mulut yang berhenti mengunyah. Dan saat itu Daniel datang bergabung. Mendekat pada istrinya, dan tanpa canggung mengecup puncak kepala perempuan itu.


" Sayang kau benar hamil ? " seru Nathan sekali lagi. Ia berhambur mendekat pada istrinya


" Jangan membual. Aku menggunakan KB spiral lima tahun " balas Green.


" Tapi ada banyak orang yang kebobolan saat menggunakan itu Green " kata Amel menimpali. Green menelan ludah, melihat cepat ke arah Naina, " jangan gila, putriku masih kecil " ucapnya, menatap prihatin pada gadis kecil yang belum genap berusia lima tahun.


" Memangnya kenapa ? " sambung Nathan.


" Intinya aku tidak hamil sayang " balasnya berusaha tenang.


" Tapi kau makan buah sangat banyak ".


" Memangnya kenapa kalau aku makan banyak buah ".


" Kau tidak terlalu suka buah Green " timpal Amel. Sekejap Green menghening.


" Apa aku juga hamil. Aku juga tidak suka banyak buah " kata Elin tiba-tiba. Alfin dan Nathan sudah tertawa saat itu. Sementara Amel menarik nafas dalam-dalam dan Green sudah bersiap untuk meneriakinya, " kau pikir anak bayi seperti donat huh. Yang bisa di buat dalam satu malam " pekiknya.


Daniel menggeleng kepala, oleh tingkah polos istrinya.


" aku hanya bercanda Green " kata Elin. ia kemudian tertawa, karena berhasil membuat kedua sahabatnya merasa kesal.