
Elin baru saja selesai menerima panggilan telepon Meili dan kembali duduk di meja makan bersama Hannah .
" Elin maafkan aku , sepertinya aku harus pergi sekarang " ucap Hannah tiba tiba " ada apa ? " tanyanya menjadi panik.
" Aku melupakan sesuatu pada pekerjaanku "
" Benarkah , bukannya hari ini kau sudah meminta libur ? " kata Elin menatap Hannah
" iya , tapi aku lupa ada sesuatu yang harus aku selesaikan " kata Hannah berkilah.
" Baiklah , padahal aku baru saja ingin memperkenalkanmu pada temanku " kata Elin sedikit sedih " itu bisa di lakukan nanti Elin " katanya tersenyum.
" Apa kau akan pergi sekarang " tanya Elin lagi , karena melihat Hannahsudah beranjak dari duduknya.
" ya , aku harus pergi sekarang , maafkan aku harus meninggalkan waktu sarapan kita " ucap Hannah dengan merasa bersalah , mata Elin menatap pada Hannah yang terus ke sana kemari mengambil barang barangnya ,
" Apa kau sungguh tidak ingin sarapan dulu ? " tanya Elin dan Hannah menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
" aku sudah mencobanya tadi dan menyiapkan ini untukmu " jelas Hannah.
" Apa kau akan kembali ? " tanyanya lagi , Hannah terdiam sesaat dengan jantung yang berdebar.
" Kembalilah jika kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu " sambungnya.
" Aku akan menghubungimu nanti " kata Hannah dengan bibir yang bergetar.
" Baiklah , berhati hatilah " ucap Elin dan Hannah segera keluar dari dalam apartemen tanpa kembali menoleh padanya.
" Apa ada sesuatu yang begitu mendesak ? " gumam Elin sambil menatap pintu yang baru saja tertutup bersama Hannah pergi .
Drrttt drrtttt " hanphone Elin berdering.
" Aku sudah berada di lobby " ucap Meili saat telepon sudah tersambung pada Elin " ya aku akan segera turun " jawab Elin dan segera beranjak menuju pintu untuk menjemput Meili
.
~
Setelah sambungan telepon berakhir pada Elin , Meili duduk di sofa yang sudah di sediakan di lobby sambil menunggu sahabatnya itu datang " Hannah " ucap Meili tanpa sadar , saat melihat perempuan yang baru saja keluar dari pintu lift dengan wajah yang tertunduk , walau tidak melihat jelas wajahnya tapi Meili sangat yakin dan mengetahui dengan jelas kalau itu adalah Hannah .
Perempuan itu terus melewatinya dengan tangan yang terus mengusap bagian mata " ada apa dengannya ? " tanya Meili pada dirinya sendiri , ia bahkan lupa untuk menyapa perempuan yang pernah menjadi kekasih kakaknya itu.
" Meili " panggil Elin sambil berjalan ke arah Meili duduk " apa yang sedang kau lihat ? " tanyanya, karena melihat Meili menatap begitu fokus ke arah luar apartemen " tidak , ayo " ajak Meili dan sekali lagi menoleh pada tubuh Hannah yang sudah menghilang.
~
" Padahal kau tidak perlu menjemputku " ucap Elin ketika sudah berada di dalam apartemennya " kita satu arah Elin , kau tidak perlu merasa sungkan padaku " sahut Meili.
" Ada siapa di apartemenmu ? " tanya Meili saat melihat dua piring yang di letakan di atas meja makan " temanku , tapi sudah pergi " jelasnya.
" Apa kau sudah sarapan ? , makanlah bersamaku " ajak Elin , dan tanpa menjawab Meili langsung duduk di kursi yang berhadapan dengannya " Teman " kata Meili mengulang ucapan Elin.
" Ya , aku memiliki satu teman lagi selain dirimu " kata Elin tertawa " lalu dimana dia sekarang ? " tanya Meili begitu penasaran.
" Bukannya aku sudah mengatakan kalau dia sudah pergi , sepertinya ada sesuatu yang mendesak pada pekerjaannya " jelas Elin.
" Makanlah , ini buatannya " pinta Elin , Meili menautkan kedua alisnya saat melihat bentuk pancake di hadapannya " ada apa ? , Apa kau tidak suka ? " tanya Elin karena melihat Meili hanya menatap pancake tanpa menyentuhnya.
" Apa kau mau yang lain ? " katanya lagi.
" Apa temanmu sudah lama pergi ?" tanya mlMeili " tidak , sepertinya kalian bertemu di lobby " jelas Elin.
" Benarkah ? , sayangnya aku tidak menyadari " kata Meili tertawa namun dengan pikiran yang tidak menentu , ia masih berusaha menyangkal saat melihat pancake di hadapannya , pancake dengan gambar senyuman yang di buat dari pewarna makanan , yang sama persis dengan buatan Hannah yang berapa kali ia coba ketika berada di apartemen Daniel , namun ia berhenti menyangkal saat menyadari kalau tidak ada orang lain yang ia temui di lobby selain Hannah .
" Kalau benar itu dia , kenapa dunia begitu sempit " gumam Meili pelan.
" Kau mengatakan apa Meil ? " tanya Elin yang mendengar dengan samar gumaman Meili , " tidak , selesaikan makanmu kita harus segera berangkat ke kampus " kata Meili dan Elin dengan cepat mengunyah makanannya karena menyadari jarum jam yang memang sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi .
****
Hannah tidak bisa lagi melangkahkan kakinya untuk lebih jauh , air mata yang terus ia tahan sejak di hadapan Elin , sudah tidak bisa lagi ia cegah untuk menetes.
Di dudukan tubuhnya yang sudah begitu lemah pada kursi taman , Hannah terus menangis bahkan tangisannya terdengar begitu pilu , beberapa kali ia menepuk dadanya berusaha untuk berhenti menangis namun air matanya semakin mengalir begitu deras.
" berhenti Hannah , berhenti menangis , ini karmamu sendiri , sekarang kau tahu bagaimana rasanya menjadi Daniel " ucapnya pada diri sendiri di dalam tangisannya.
" Mengapa harus seperti ini Tuhan , apa ini hukuman untukku ? "
" iIni sungguh menyakitkan " ucapnya lagi dengan memegang dadanya.
Hannah terus menangis dan membenamkan wajahnya pada kedua kaki yaang bertumpu pada kursi " sekarang apa yang harus aku lakukan ? " ucapnya , rasa marah , kecewa , dan rasa bersalah begitu memenuhi pikiran dan hatinya sekarang .
Keadaan menjadi begitu rumit dan Hannah bingung apa yang harus di lakukannya , ternyata tidak mudah menerima kenyataan bahwa lelaki yang ia cintai sekarang sedang mencintai sahabatnya sendiri .
" Berhentilah menangis , semua orang sedang menatap ke arahmu " ucap seseorang yang tanpa Hannah sadari sudah berada di hadapannya sejak tadi .
" Pergilah " ucap hannah tanpa melihat.
" Aku bilang pergi " teriak Hannah dengan menatap begitu marah pada laki laki di hadapannya " aku hanya ingin melindungimu " ucap Mike yang membuka lebar ke dua sisi jaket yang ia pakai untuk menutupi wajah Hannah.
" Aku tidak butuh perlindunganmu , pergilah Mike "
" Aku akan pergi , asal kau berhenti menangis " kata Mike begitu tenang , " ceh , kau begitu naif Mike , semua ini kesalahanmu , kau penyebab tangisan ini " kata Hannah yang kembali menangis karena rasa sesak di dadanya.
" Seandainya kau tidak hadir , hubunganku bersama Daniel masih akan baik baik saja , tapi kau datang dan merusaknya , kau merusaknya Mike " teriak Hannah dengan terisak.
" Maafkan aku Hannah , tapi semua sudah terjadi dan aku tidak akan masuk jika kau sendiri yang tidak membukakan pintu untukku "
" Ceh , itu semua terjadi karena kau datang , kau yang memaksa untuk terus masuk , kau penyebab segalanya , sekarang pergilah , aku benar benar tidak ingin melihatmu lagi " kata Hannah yang begitu emosi.
" Aku bilang pergi Mike " teriak Hannah dan manajamkan tatapannya pada Mike " tidak ada lagi gunanya untuk saling menyalahkan Hannah , aku dan kamu sama sama salah karena telah mengkhianati Daniel "
" Kau yang berkhianat , kau yang tega menghianati saudaramu sendiri hanya untuk mendekatiku , kau yang terus memaksa untuk berada di sisiku meski kau sendiri tahu bahwa aku hanya mencintai Daniel , kau penyebab semua masalah ini "
Mike tidak lagi bisa berbicara , Hannah memang pantas menyalahkannya , ia menyadari sikapnya selama ini , yang selalu mengambil kesempatan untuk mendekati Hannah , meski dirinya tahu kalau perempuan yang ia cintai sudah menjadi milik saudaranya sendiri.
" Aku sangat menyesali ini Hannah , bahkan aku sangat menyesal setelah melihat Daniel begitu membenciku , aku di butakan oleh rasa cinta , tanpa bisa berpikir kalau perbuatanku adalah kesalahan yang fatal " kata Mike begitu lemah dan ikut duduk di samping Hannah.
" Tapi semua sudah terjadi , Daniel tidak akan memaafkan aku dan juga tidak akan kembali padamu "
" Kau bicara begitu mudah Mike , kau tidak tahu bagaimana menyakitkannya di posisiku sekarang "
" Aku harap ini pertemuan kita yang terakhir , dan jangan lagi datang kehadapanku " ucap Hannah yang beranjak dari kursi taman dan meninggalkan Mike yang masih duduk dengan mata yang terus menatap ke arahnya .
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚