
Elin kini terduduk di kursi kerjanya dengan perasaan yang begitu sesak , namun tetap ia tahan untuk tidak menangis setelah meluapkan kekesalannya pada Cussy.
Sementara Bimo dengan cepat beranjak menuju kerja Cussy , mengambil kertas yang tadi di lemparkan oleh Elin dan membukannya , matanya terbelalak saat melihat tulisan yang terlihat begitu mengerikan untuk di tulis oleh seorang teman dekat , " aku tidak menyangka jika Cussy mempunyai hati yang begitu jahat " ujarnya seraya menggelengkan kepala karena tak percaya , kemudian David dan Frans ikut mendekat dan sama halnya mereka juga memberikan reaksi yang sama untuk tulisan yang baru mereka baca.
Elin bangun dari duduknya dan mendekat pada tiga laki-laki yang kini menatapnya dengan penuh prihatin , " aku tidak apa-apa " jelasnya dengan sedikit tersenyum , " dan tolong rahasiakan ini " pintanya lagi seraya mengambil dua kertas di tangan David untuk kembali ia simpan.
" Mau kau apakan kertas itu Elin ? " tanya Bimo penasaran saat melihat Elin melipat kertas itu dengan begitu rapi lalu menyimpannya kembali ke dalam tasnya , " tentu akan aku simpan Bim , biar aku selalu ingat bahwa tidak semua orang akan baik kepadaku " jelasnya sedikit tertawa , namun tawa itu justru memperlihat kekecewaannya saat ini.
" Ya kau memang harus mengingat itu "
" Hemm.. tapi aku percaya kalau Cussy juga orang yang baik "
" Ceh masih saja kau berpikir baik pada orang yang telah menyakitimu "
" Dengan begitu aku tidak akan begitu membencinya Bimo , mungkin dia begitu jahat hari ini tapi kemarin dia juga pernah begitu baik padaku , jadi aku tidak berhak untuk menghardiknya terlalu jauh "
" Ya kau benar , mungkin saat ini dia hanya sedang iri padamu " balas Bimo tertawa dengan Elin yang akhirnya juga ikut sedikit tertawa.
" Kau yakin tidak apa-apa ? " timpal David mendekat dan Elin mengangguk dengan tersenyum hambar , " ya David , aku baik-baik saja " sahutnya sambil sedikit menghela nafas lalu kembali duduk di kursi kerjanya.
~
" Nona " panggil Maria saat melihat Elin sedang berjalan kearahnya atau lebih tepatnya sedang berjalan menuju ruang kerja Daniel yang berada di dekat mejanya.
" Ya Maria " balas Elin tersenyum kaku karena ia tidak bisa menutupi perasaan kecewanya dengan sempurna , " apa tuan ada di dalam ? " tambahnya dan Maria mengangguk dengan sorot mata yang menatap lamat padanya.
" Anda tidak apa-apa nona ? " tanya Maria tiba-tiba membuat Elin menghentikan langkahnya lalu melihat pada Maria yang masih menatapnya , " maaf nona aku telah begitu lancang untuk melihat lebih jauh "
Elin kembali menghela nafas , " tolong rahasiakan ini dari Daniel "
" Baik nona " jawab Maria ragu , namun ia memilih menghargai keputusan Elin meski sebenarnya ia begitu ingin melaporkan semua itu pada Daniel dan melihat Cussy mendapatkan balasannya , " anda memang wanita yang begitu baik " ucapnya seraya sedikit menggelengkan kepalanya.
" Tidak juga Maria , hanya saja aku tidak ingin memperbesar masalah ini dengan Daniel mengetahuinya "
" Ya ya anda benar , jika tuan Daniel mengetahui ini pasti..."
Klek " tiba-tiba saja pintu ruangan CEO terbuka memotong pembicaraan Maria dan Elin , dan kini kedua mata perempuan itu membesar dengan saling berpandangan tak kalah seseorang yang sedang di bicarakan tiba-tiba telah berada disana , " apa yang tidak aku ketahui hemm.. ? " tanya Daniel seraya memandang bergantian pada Elin dan Maria.
" Tidak ada apa-apa sayang , ini hanya obrolan antar perempuan yang tidak boleh kamu tahu " sahut Elin menjelaskan dengan tersenyum dan berusaha untuk tetap tenang.
Namun usahanya seperti sia-sia saat melihat Daniel kini tengah menatapnya tak percaya dan memintanya untuk jujur , " ada dua pilihan , kau ceritakan atau aku yang mencari tahu " ucap Daniel dan Elin sangat tahu lelaki itu tidak pernah main-main dalam ucapannya.
Elin melirik pada Maria sesaat , sebelum akhirnya bergerak mendekati tubuh Daniel , " kita bicara di dalam hemm " ucapnya lembut sembari menyelipkan jari jemarinya di telapak tangan lelaki itu , saat ini tidak ada pilihan lain selain menjadi begitu lembut pada calon suaminya itu , " ayo " ajaknya sambil menarik tangan besar itu untuk kembali masuk ke dalam ruangan.
" Cepat ceritakan " kata Daniel tidak sabar dan sedikit dingin.
Di sela langkahnya menuju soffa , Elin masih mengambil kesempatan menarik nafas supaya memiliki keberanian untuk menjelaskan dengan baik tanpa berunjung kemarahan dari Daniel , " duduk " pintanya dengan begitu tenang seraya ikut duduk di hadapan laki-laki itu.
" Dengarkan aku baik-baik " ucapnya pelan dengan kembali menarik nafas.
" Pertama-tama aku tidak apa-apa dan baik-baik saja jadi kau tidak perlu marah saat aku menceritakannya nanti "
Daniel masih diam dengan tatapan dingin yang tidak sabar ingin mengetahui apa yang telah terjadi , " tergantung seperti apa dulu yang telah orang itu perbuat padamu " ucapnya arogan membuat lidah Elin sedikit tercekat untuk kembali berbicara ," tidak , tidak ini masalahku Daniel dan aku sudah memutuskan untuk tidak memperbesar masalah ini dan aku ingin kau menghargai ke putusanku ".
" Masalahmu berarti masalahku " sahut Daniel dan lagi-lagi Elin menarik nafas , " Sayang dengarkan aku " ucapnya kembali lembut.
" Dia hanya sedang iri padaku karena mempunyai kekasih sepertimu... "
" Apa dia teman satu kantormu itu ? " potong Daniel.
" Emmm ya dia " jawab Elin ragu, namun tetap dengan santai.
" Apa yang memang sudah dia lakukan hingga kau harus merahasiakannya dariku ? "
" Makanya dengarkan aku dulu " pint Elin , setelah melihat laki-laki di hadapannya sedikit tenang barulah ia kembali berbicara , " seperti yang aku bilang dia hanya sedang iri padaku , lalu menerorku dengan memintaku meninggalkanmu "
" Ceh , dia benar-benar mengkhayal " ujar Daniel tertawa dingin.
" Ya aku juga berpikir demikian " balas Elin setuju dan berhasil membuat Daniel tersenyum , namun berusaha untuk ia tahan , " sudah sejak lama dia mengetahui kalau aku adalah kekasihmu dan dulu dia tahu kalau aku begitu takut orang lain mengetahui tentang hal itu "
" lalu dia mengambil kesempatan itu untuk mengancammu bukan "
" Yap , kau memang begitu pintar menebak "
" Tidak tapi temanmu yang begitu bodoh "
" Ceh " desis Daniel yang akhirnya tidak bisa untuk tidak tersenyum karena tingkah Elin ,
" apa sekarang kau tidak lagi marah ? " tanya Elin dengan wajah memelas.
" Masih , tapi aku tahan karena melihatmu baik-baik saja "
Mendengar itu Elin langsung berhamburan memeluk tubuh Daniel dengan begitu erat lalu melayangkan kecupan di pipi halus laki-laki tampan itu , " aku suka kau seperti ini " ucapnya begitu manja sembari meletakan kepalanya di dada bidang Daniel.
" Tapi aku yang tidak suka "
" Emmm aku tahu , tapi kau terlihat lebih keren sekarang "
" Ceh " decih Daniel yang lagi-lagi di buat tersenyum dan kali ini di tambah dengan pipinya yang sedikit bersemu merah , " kenapa kau menjadi begitu pintar merayu hemm.. " ucapnya dengan tangan yang menangkup gemas ke dua pipi kekasihnya.
" Aku memang sengaja belajar merayu untukmu "
" Sayang stop "
" Kenapa ? memang seperti itu , sekarang apa yang aku lakukan semua untuk mencoba menjadi yang terbaik untukmu " ucap Elin dengan wajah yang memelas dan puppy eyes yang di buat segemas mungkin.
" Sayang stop sebelum aku benar-benar menjadi gemas denganmu " sahut Daniel dengan sedikit menggigit bibir bawahnya hingga membuat Elin tertawa begitu keras , " jadi bagaimana temanmu ? " tanya Daniel yang kembali ke awal topik permasalahan.
" Aku sudah mengusirnya dari sini " jawab Elin santai sembari menyenderkan tubuhnya di sisi soffa , mata Daniel sedikit membesar lalu kemudian tersenyum , " sekarang kau terdengar menyalah gunakan statusmu " ujarnya dengan sedikit tertawa.
" Memang siapa yang berani protes pada calon nyonya muda " balasnya sombong , namun setelah itu ia tertawa begitu keras sambil mengusap ujung mata yang mulai berair lalu kembali menghela nafas dengan begitu dalam , " sebenarnya aku marah padanya dan ingin sekali mengadu padamu " ucapnya yang kali ini terlihat begitu jujur dengan apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini.
" Tapi ? " potong Daniel.
" Tapi aku tahu kalau calon suamiku ini begitu arogan dan pemarah jadi aku mengurungkan itu " katanya yang kali ini kembali tersenyum sembari mencubit gemas pipi Daniel , " jelas aku akan marah jika ada orang yang menyakitimu "
" tapi semua ini terjadi karenamu "
" Karena aku ? " ulang Daniel dengan dahi yang sedikit berkerut.
" Hemmm.. dia melakukan itu karena iri padaku karena menjadi kekasihmu "
" Ceh , itu berlebihan "
" Tidak , dia benar mungkin aku juga akan melakukan itu jika menjadi dirinya " katanya kembali tertawa dengan Daniel yang sudah melebarkan matanya , " apa kau juga begitu jahat "
" Itu bukan jahat tapi usaha untuk mendapatkanmu , tapi beruntungnya aku mendapatkanmu dengan mudah tanpa harus meneror orang lain "
" Sekarang kau benar-benar sangat pintar merayu "
" hemm.. karena kau seorang yang pemarah jadi aku harus menjadi pintar merayu "
" sayang ... " lanjutnya kembali memanggil Daniel dengan begitu lembut.
" Apa hemm ..? aku sudah tidak lagi marah sekarang "
" bukan itu "
" Lalu ? "
" Aku senang saat kau tidak langsung marah dan mendengarkan penjelasanku dulu , mulai sekarang cobalah seperti itu "
" Aku tidak berjanji dan aku tidak bisa diam ketika orang lain menyakitimu "
" Ya aku tahu , tapi saat aku mengatakan aku baik-baik saja berarti aku tidak ingin masalahnya menjadi lebih besar "
" Kau bukan baik-baik saja tapi hanya berpura-pura baik-baik saja" balas Daniel yang justru membuat Elin kembali tersenyum , " sayang aku bukan orang yang begitu baik , seperti yang tadi kau lihat aku bisa begitu jahat dengan menyalah gunakan statusku dan jangan khawatir aku pasti akan mengadu padamu jika aku sudah tidak bisa lagi mengatasinya "
" Jadi jika aku tidak mengadu berarti calon istrimu ini sudah berhasil menanganinya sendiri " sambungnya dengan begitu bangga.
" Kau memang keren "
" Yap aku juga menyadari itu dan itu sebabnya kenapa aku begitu percaya diri untuk menjadi kekasihmu "
" Kau " geram Daniel sambil mengacak gemas rambut Elin yang berunjung protes dari perempuan itu , " kau merusak rambutku Daniel " geram Elin yang kembali ingin membalas perbuatan kekasihnya , namun terhenti oleh handphone yang tiba-tiba berdering.
" Ayah " ucap Elin sedikit panik saat melihat nama itu di layar handphonenya.