Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Saaahhhhh


" Kau sudah siap ? " tanya Green pada Elin yang kini sudah beranjak dari hadapan meja Rias. Perempuan itu mengangguk seraya menarik nafas.


Amel yang melihatnya, tertawa, " sekarang kau pasti sangat gugupkan ? " ujarnya, dan Elin mengangguk, " sangat " sahutnya.


" Ayo, ini sudah lewat dari lima belas menit " ajak Green, seraya mengulurkan tangannya pada Elin.


Amel mengambil sebelah sisi kanan Elin, mengaitkan tangannya di lengan perempuan itu, " ah rasanya aku ingin menangis lagi " gumamnya dengan bibir yang kembali mengerucut.


" Jangan gila Mel. Kita sudah akan turun " pekik Green, " jangan merusak riasan Elin lagi " sambungnya.


" Aku hanya bilang rasanya Green " timpal Amel. Padahal sesungguhnya setengah mati ia menahan buliran kristal yang kembali ingin mencair.


Elin menuruni anak tangga dengan hati. di iringi Green dan Amel yang terus memegang kedua sisi lengannya.


Suara gemuruh tepuk tangan kini semakin terdengar, dan Elin seperti tidak percaya diri untuk mengangkat kepalanya, " aku benar-benar gugup " bisiknya pada Green dan Amel.


" Tarik nafas lalu hembuskan " balas Green di sela langkahnya.


" Tentu harus di hembuskan Green, mana mungki... "


" Diam Mel " pekik Green menghentikan bicara Amel yang tidak pada tempatnya. Namun bukannya marah perempuan itu justru Menahan ttawa, " aku sengaja biar Elin tidak gugup Green " jelasnya.


" Justru kau membuatnya semakin gugup " ketus Green.


Elin berulang kali menarik dan menghela kembali nafasnya meredahkan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Tapi semakin dekat dirinya dengan meja tempatnya mengikrarkan janji suci, maka perasaan itu semakin tak bisa terkendali, " angkat wajahmu " pinta Green padanya.


Sekali lagi ia menarik nafas panjang, lalu mengangkat wajahnya.


Deg


Jantungnya berpacu semakin cepat, saat dari kejauhan matanya menemukan seseorang yang kini menunggunya dengan penuh senyuman di sisi sebelah kursi kosong yang akan menjadi tempat duduknya nanti.


Lelaki itu beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah puncak anak tangga yang akan menjadi langkah terakhir Elin sebelum ia duduk di singga sananya sebagai mempelai wanita malam ini, " Terimakasih Green, Mel " ucap Daniel tersenyum dengan tangan yang terulur menyambut jari jemari tangan Elin. Sebelum kembali membawa Elin ke pelaminan, ia masih sempat mengecup punggung perempuan itu dengan begitu lembut. Membuat Semua orang yang berada disana bersorak gemas, bagaimana tidak. Sikapnya yang demikian tidak tertulis dalam perbuatan yang akan ia lakukan malam ini.


Elin yang memang semula gugup kini menjadi tersipu malu. Ntah kenapa hari ini, ia seperti menghadapi sosok baru pada lelaki di hadapannya, padahal orang itu adalah lelaki yang sama, lelaki yang ia cintai dan mencintainya selama ini.


Daniel dan Elin telah duduk berdamping, dan selama itu Daniel tidak melepas gengamannya pada tangan Elin.


" Boleh lepas gengamannya dulu Tuan " ujar lelaki paruh baya yang bertugas sebagai pak penghulu di pernikahan itu.


Sorak semua orang semakin menjadi-jadi, terutama dari para Groomsmen dan Bridesmaid di pernikahan itu, " sabar Rem " teriak Nathan, membuat semua orang tertawa.


" Lepas dulu Rem, Elin tidak akan keman-mana lagi " sambung Alfin. Yang membuat suasana semakin riuh.


Daniel mengangkat pundaknya lebih tegap, dengan mengulurkan tangannya menjabat tangan pak penghulu.


Ijab Kobul akan benar-benar di mulai, di saksikan oleh Bimo yang berada di sebelah kanannya dan Reymond yang duduk di meja sebelah kirinya.


Dua lelaki paruh baya itu kini bertugas menjadi saksi janji suci dari pernikahan anak mereka.


Bimo mulai tertunduk sesaat, menyeka matanya yang sedikit mulai berair. Menarik nafas begitu dalam, lalu kembali mengangkat wajahnya. Tidak bisa di pungkiri ada rasa perih di lubuk hatinya saat ini. Bagaimana tidak seharusnya tangan dirinya lah yang akan di jabat oleh Daniel saat ini. Namun statusnya antara dia dan Elin. Tidak membuatnya sah menjadi wali dari pernikahan putrinya itu.


" Sudah bisa di mulai bapak ? " tanya pak penghulu pada Bimo dan ia mengangguk dengan tersenyum.


" Baiklah " balas pak penghulu, lalu menjeda sejenak, dan bersamaan Daniel kembali menarik nafas.


" Semangat Rem, jangan gugup " seru Alfin, membuat suara samar tawa kembali terdengar.


" Bismillahirohmanirrohim, " seru pak penggulu begitu lantang, " Saya nikahkan dan kawinkan Merlinda binti Gunawan dengan Engkau. Dengan walinya wali hakim. Dengar mahar sebesar Empat juta lima ratus sembilan puluh lima dolar di bayar tuuuuuuuunaaaaiiiii ".


" Saya terima nikah dan kawinnya Merlinda binti Gunawan untuk saya. Dengan mas kawin tersebut di bayar tuuunaaaiiii " sambung Daniel tak kalah lantang. Bahkan saat ini ia seperti tak percaya mengucapkan kalimat itu dengan sekali tarikan.


" Apa semuanya sah ? " tanya pak penghulu pada semua orang.


" Saaaaahhhhhhh " sorak semua orang bersamaan. Suara yang paling lantang terdengar adalah anak dan menantu keluarga Vernandes. Mereka seperti lupa bahwa bukan hanya mereka yang berada disana saat ini.


" Sah " kata pak penghulu mengulang seraya mengangguk.


" Alhamdulillah.... " ucap semua orang bersamaan.


Viona mendekap kedua telapak tangannya lebih lama di wajahnya, bersama nafas yang di hela begitu panjang. Lalu kemudian menyeka bulir air mata bahagia yang ingin mulai ingin terjatuh.


Begitu pun Mala, bahkan wanita itu tidak bisa lagi menahan untuk tidak menangis saat ini.


" Silahkan si pasangkan cincin pernikahannya ? " perintah pak penghulu pada Daniel, dan tanpa menunggu lelaki itu mengambil benda lingkaran bermata berlian yang sudah di siapkan tidak jauh darinya . Lalu memasangkan benda itu pada jari manis tangan kanan Elin.


Pengantin wanita silahkan cium punggung tangan suaminya " pinta pak penghulu kembali pada Elin dan perempuan itu langsung saja menurutinya, menyentuh begitu lembut tangan besar lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya saat ini. Dan Daniel membalasnya dengan mengecup puncak kepalanya dengan tak kalah lembut, " istriku " ucapnya, membuat Elin kembali tersipu.


Dan saat itu juga suasana kembali riuh, tepuk tangan tak berhenti terdengar. Suara tangis, tawa semua bergema di halaman rumah Bimo yang kini di sulap menjadi begitu indah oleh dekorasi pernikahan putrinya.


Sementara kembali lagi ke pelaminan, sebuah senyuman terpampang dengan begitu manis, wajahnya nampak semuringah menghadap ke dua tangan yang mengadah, menyambut doa yang tengah di lantunkan oleh pak penghulu.


Sedangkan Elin kini kembali tertunduk dengan berulang kali menyeka air matanya. Perasaan legah, bahagia, sedih semua bercampur aduk menjadi satu saat ini. Tapi tidak ada kebahagiaan yang lebih bahagia dari hari ini untuknya, meski kini ia harus menumpahkan air matanya.