
" Kau tampak sibuk nona ? " ujar Kasih pada perempuan yang terlihat fokus pada layar computer di hadapannya.
" Ya , ada begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan " sahutnya , namun tanpa membalas tatapan teman kerjanya itu.
" Banyak pekerjaan ? , bukankah perusahaan kita sedang dalam keadaan krisis , bahkan tidak ada penjualan produk bulan ini " ucap Kasih yang nampak bingung ,
Elin menghentikan kesibukannya , lalu menatap kearah temannya itu.
" Apa dengan begitu kita harus bermalas-malasan , apa jadinya perusahaan ini kalau kita tidak bertindak apapun , sementaran saham kita semakin anjlok di pemasaran " ucap Elin yang terlihat begitu serius dan penuh emosi.
" Ada apa denganmu ? , kenapa kau begitu serius Elin " ujar Kasih tertawa , " seharusnya kau juga tak perlu repot-repot seperti ini " tambahnya , membuat Elin kembali menatap kearah perempuan itu lebih dalam.
" Maksudmu ? "
" Ya , kau terlihat begitu naif nona , jika aku menjadi kau , aku tidak mau bersusah paya bekerja disini, terlebih jika itu hanya menjadi karyawan magang , bahkan jika aku boleh berpendapat kau terlihat seperti merendahkan kekekuasan kekasihmu " .
Deg " jantung Elin berdegub bersama perkataan Kasih yang begitu menusuk.
" Maaf Elin , itu hanya pendapatku " ucapnya lagi.
" emm..tapi jika aku menjadi kekasih Daniel Remkez tentu aku tidak akan melakukan hal bodoh sepertimu "
Elin menarik nafasnya pelan , menahan kekesalan yang hampir saja meluap akibat perkataan Kasih yang terdengar semakin menghardik sikapnya, " ya kau benar Kasih aku memang nampak bodoh dengan melakukan hal yang tidak masuk akal sebagai kekasih pemilik perusahaan ini , tapi memang begitulah aku , karena rasa maluku lebih tinggi dan aku tidak terbiasa bersenang-senang dengan harta orang lain " ucapnya membuat wajah Kasih meredup seketika.
" Ya aku memang sangat bodoh , seharusnya juga aku tidak perlu repot-repot datang ke kota ini hanya untuk sekolah , karena aku yakin harta orang tuaku masih cukup untuk aku gunakan sampai aku tua nanti "
" Tapi yaitu , sayangnya memang gengsi hidupku terlalu tinggi untuk bersenang-senang dengan harta orang lain " tambahnya dengan berkata begitu santai , membuat Kasih tidak lagi bisa bersuara bersama wajah yang terlihat begitu kesal.
" Ada apa ini ? " tanya Bimo menghampiri.
" Ah tidak , kami hanya sedang beradu pendapat ,bukankah begitu Kasih ? " sahut Elin , dan Kasih hanya mengangguk pelan.
Drrrtttt drrrttt
Suasana dingin itu di buyarkan oleh suara getaran handphone yang berada di atas meja kerja Elin , dan tanpa menunggu perempuan itu segera menjawab panggilan teleponnya setelah melihat nama kontak penelepon yang sekarang cukup penting baginya , " maaf aku harus menerima teleponku " ucapnya pada Kasih dan Bimo.
" Ya Sharen " ujarnya sambil terus berjalan keluar dari dalam ruangan.
" Kau dengar Bimo ? " ujar Kasih.
" Apa ? " tanya balik laki-laki itu.
" Dia mengucapkan nama Sharen "
" Memangnya kenapa ? "
" Ceh kau ini , apa kau lupa siapa Sharen dan emm..apa kau tidak curiga , bagaimana bisa perempuan itu masih berada disini setelah apa yang di lakukan oleh ayahnya "
" Ada apa dengan pikiranmu Kasih ? " ucap Bimo dengan dahi yang sedikit berkerut.
" Kenapa kau begitu peduli dengan urusan orang lain , kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan ini , dan aku rasa memang seharusnya Sharen tidak di bawa-bawa dalam masalah ayahnya "
" Ternyata kau sama naifnya " ucap Kasih begitu ketus , lalu segera kembali ke meja kerjanya mm, meninggalkan Bimo yang masih menatapnya dengan bingung.
~
" Ya sekarang kau bisa lanjutkan bicaramu " ucap Elin yang sibuk dengan panggilan teleponnya.
" emm.. aku sudah menyelesaikan beberapa desain nona , aku ingin kau segera melihatnya " ucap Sharen dari balik telepon.
" Benarkah ? , waw.. kerjamu benar-benar mengagumkan Sharen "
" Bukan menganggumkan , tapi aku sudah berjanji untuk bekerja keras " jawab perempuan itu , yang terdengar tertawa ,
" ceh ,kau seperti sedang menyindirku "
" Tentu tidak nona ,emmm..maafkan aku , aku sungguh tidak bermaksud seperti itu.. "
" Aku hanya bercanda Sharen " ucap Elin yang sekarang ikut tertawa.
" dan emm..bisa kau tidak memanggilku nona , aku sedikit canggung untuk panggilan itu , terlebih itu darimu "
" Untuk kali ini sepertinya anda yang sedang menyindir saya nona, dan sepertinya anda masih menaruh dendam untuk masa lalu kita" ucap Sharen tertawa , membuat Elin tidak bis menghentikan bibirnya untuk terbuka , " ceh , aku bukan orang seperti itu "
" Baiklah setelah makan siang temui aku di ruangan Daniel "
" Baik nona "
" ooohh Sharen , please hentikan memanggilku seperti itu " keluh Elin.
" Maaf tapi sepertinya tidak bisa , karena dengan memanggil anda seperti itu , aku merasa jauh lebih tahu diri dan akan sangat tidak sopan jika aku memanggil nama untuk calon istri CEO perusahaan ini , terlebih aku sudah berhutang budi pada anda"
" Kau benar-benar berlebihan Sharen "
" Tidak , bahkan apa yang aku lakukan tidak cukup untuk membalas kebaikan anda "
" Sharen hentikan " teriak Elin sambil tertawa.
" Baiklah , sampai bertemu nanti siang nona "
" Ya Sharen " jawab Elin , lalu menutup panggilan telepon dan kembali ke dalam ruang kerjanya.
~
" Apa semua baik-baik saja Elin ? " tanya Bimo saat perempuan itu telah kembali duduk di kursi kerjanya.
" Maksudmu ? "
" tentang perusahaan ini , aku merasa begitu cemas memikirkan saham kita "
Elin terdiam sejenak , ia tidak mungkin menceritakan apa yang sedang terjadi pada perusahaan itu , mengingat dirinya hanya sebagai karyawan magang disana dan semua orang akan curiga jika melihat dia mengetahui semuanya , " aku juga tidak tahu seperti apa yang terjadi Bimo, tapi ada baikanya kita banyak berdoa untuk perusahaan ini " sahutnya , dan laki-laki itu mengangguk.
" Ceh menggelikan " ujar Kasih yang tiba-tiba beranjak dari meja kerjanya.
" Ada apa dengannya ? " tanya Bimo dan Elin mengangkat kedua bahunya bersama mata yang ikut melihat pada perempuan itu , " mungkin dia sedang datang bulan " ujarnya bercanda dan menghilangkan pikiran buruknya tentang temannya itu.
Drrrtttt drrrttt " handphone yang masih berada di tangan perempuan itu kembali bergetar.
" Kau terlihat benar-benar sibuk " ucap Bimo tersenyum dan Elin hanya bisa tersenyum lalu melihat ke layar handphonenya.
" Meili " gumamnya dengan dahi berkerut dan segera menjawab panggilan perempuan itu.
" Ya Meil "
" Kau dimana ? " tanya perempuan itu yang terdengar begitu cemas dari balik telepon.
" tentu aku sedang di kantor Meil , ada apa ? "
" Datang ke kantor pengadilan kota sekarang " ucapnya lagi dan berhasil membuat mata Elin membulat bersama jantung yang berpacu begitu cepat.
" Apa yang sudah terjadi Meili ? " tanyanya semakin panik.
" Aku lupa memberitahumu , kalau hari ini adalah hari sidang Hannah "
" Astaga , kenapa kau baru mengatakannya sekarang "
" Aku benar-benar lupa , sekarang kemarilah dia sungguh membutuhkan dukungan kita"
" Ya tunggu aku disana " ucap Elin yang langsung bergegas , membuat semua orang menatap kearahnya.
" Apa yang terjadi Elin ? , kau terus terlihat panik sejak tadi " ucap Bimo bersuara.
" Maafkan aku , aku akan menjelaskannya nanti , tapi sekarang aku harus pergi "
" Kau harus meminta izin terlebih dahulu pada Ms.Laurent "
" emm..ya aku akan meneleponnya nanti " ucapnya begitu tergesa-gesa.
" Aku pergi dulu "
" Ya berhati-hatilah " ucap Bimo , dan David yang terus memperhatikan gerak perempuan itu.
" oh Kasih aku harus pulang , ada sesuatu yang mendesak terjadi " ucap Elin saat bertemu peremuan itu di ambang pintu ruangan kerja mereka , " ya kau memang bebas melakukan apapun di kantor ini nona " ucap Kasih begitu ketus membuat Elin terdiam sesaat , namun kembali melanjutkan langkahnya saat menyadari urusannya jauh lebih penting dari pada membalas ucapan perempuan itu.