Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Cemas ( Elin )


Semua orang telah berkumpul dalam satu ruangan yang cukup lebar , tidak ada yang ingin melewatkan hari menakjubkan ini termasuk kedua orang tua Daniel , Viona dan Reymond yang ikut hadir disana.


" Dimana Daniel ? " tanya Meili karena melihat laki-laki itu tak kunjung hadir disana , sementara wanita yang di cintainya terlihat begitu gugup dengan tangan yang terus meremas telapak tangannya sendiri , " tuan mungkin sedang ada urusan nona " jawab Sharen mengambil alih penjelasan , karena Elin terlihat tidak lagi peduli dengan hal apapun selain tidak sabar menunggu Hannah keluar dari dalam kamar ganti pakaian.


" Bagaimana bisa dia masih begitu sibuk , sementara acara sudah di mulai " gerutu Meili , sambil berjalan menghampiri teman sekaligus calon kakak iparnya yang sedang duduk , namun terlihat tidak tenang.


" Are you oke , Elin ? " tanyanya , lalu duduk di samping perempuan itu.


Elin tersenyum kecut , rasa gugupnya benar-benar tidak bisa ia sembunyikan.


Meili yang melihat hal tidak biasa itu segera mencari keberadaan ibunya , " Mam " panggilnya pada Viona , dan wanita paruh baya itu segera beranjak dan berjalan mendekat ke arahnya , " ada apa ? ".


" Calon menantumu terlalu cemas , jadi berikan dia pelukan " ujarnya begitu santai dan berhasil membuat pikiran Elin teralihkan dan membulatkan bola matanya setelah mendengar permintaan Meili pada Viona.


" Aku baik-baik saja mam " ucapnya cepat pada Viona , namun wanita paruh baya itu hanya tersenyum lalu perlahan duduk di sampingnya , " kemarilah " ucap Viona dengan merentangkan kedua tangannya.


" Aku sungguh tidak apa-apa mam , Meili sungguh sedang mengada-ada " katanya berkilah , walau sebenarnya dia memang sedang membutuhkan pelukan hangat itu , namun ia cukup malu untuk memperlihatkan kelemahannya.


" Tidak Meili benar , saat ini kau sedang sangat cemas " kata Viona sambil menarik tangan Elin dan meremas lembut telapak tangan yang terasa lembab oleh keringat dingin , " kemarilah " pintanya lagi dan menuntun tubuh Elin untuk masuk ke dalam pelukannya.


" Semua akan baik-baik saja nak , hasil akhir tidak menentukan apapun karena yang terpenting kau sudah sangat berusaha dan kami semua tahu itu " ucapnya memberi ketenangan dengan tangan yang mengusap lembut punggung calon menantunya.


" Mami benar Elin , kau tidak seharusnya cemas seperti ini , karena apapun yang terjadi kami akan tetap berterimakasih padamu " sambung Meili , sambik memberikan tepukan semangat pada pundaknya.


Dada Elin benar-benar di buat menghangat oleh dukungan ibu dan anak itu , rasa cemasnya menjadi memudar berganti semangat dan rasa syukur yang luar biasa karena telah menemukan keluarga yang benar-benar menyayanginya , dan tanpa sadar ia sudah menyandarkan kepalanya di pundak Viona bersama perasaan tenang yang baru saja ia dapatkan , " terimakasih mam , di saat seperti ini pelukanmu benar-benar sangat berguna " ucapnya penuh haru.


Viona semakin merengkuhkan pelukannya , perasaannya ikut menjadi tenang saat memeluk tubuh Elin yang seperti energi dan memberi kenyaman pada orang lain , " aku bukan hanya menganggapmu calon menantuku , tapi aku juga sudah menganggapmu seperti putriku sendiri nak"


" ntah mengapa setiap kali melihatmu atau memelukmu seperti ini , rasanya seperti aku melakukannya pada kedua anakku sendiri , terasa damai dan begitu tenang " sambung Viona yang tanpa di sadari perkataan itu menimbulkan buliran kristal dari matanya ,


" oh mam ,aku meminta kau menenangkannya bukan membuatnya terharu " ucap Meili yang sengaja ingin mengakhiri pelukan yang terlihat semakin mengharukan.


" Kau selalu saja merusak moment orang lain " geram Viona pada tingkah putrinya , namun bibirnya segera kembali melengkung seraya melepas pelukan eratnya bersama Elin , " aku tidak tahu seperti apa pelukan seorang ibu yang sebenarnya , tapi aku tidak pernah merasakan pelukan yang lebih hangat dari ini " ucap Elin tersenyum, namun dengan bibir yang bergetar.


Viona terdiam sejenak , hatinya terenyuh saat mendengar kalimat yang begitu menyedihkan keluar dari mulut perempuan muda di hadapannya , matanya tak berkedip menatap dua bola mata berwarna coklat yang sangat indah milik Elin , yang terasa meneduhkan namun tersirat kekosongan dan ia cukup tahu dengan arti tatapan itu.


" Please akhiri ini , atau aku akan benar-benar menangis " ujar Meili dengan mata yang sudah berkaca-kaca , hatinya ikut terenyuh oleh perkataan Elin yang terdengar begitu menyentuh dan menyakitkan bersamaan.


" Kau ini " geram Viona pada tingkah putrinya , namun berhasil membuat Elin akhirnya tertawa , " jangan merusak riasanmu " ucapnya sambil mengusap cepat air mata yang sedikit lagi menetes dari mata abu-abu milik Meili.


" Kau yang membuatku seperti ini " gerutu Meili yang terlihat semakin lucu dengan wajah yang ingin menangis namun tertahan.


" Ada apa ini ? " tanya Reymond menghampiri dan tiga wanita itu langsung membenarkan keadaannya , " ayo katakan pada papi , ada apa ini ? " paksa Reymond karena terlihat ada yang berbeda dari wajah istri , anak dan juga calon menantunya itu.


" Tidak apa-apa pap , kami hanya menenangkan calon menantumu yang begitu cemas " jelas Viona.


Kali ini jantung Elin kembali berdebar dan gugup , ia masih begitu canggung saat berhadapan dengan ayah kekasihnya itu , " calon menantuku tidak boleh lemah dan pesimis , dan papi yakin kau bukan orang yang seperti itu " ucapnya dengan memegang pundak Elin , dan sentuhan itu seperti energi yang langsung memberi kepercayaan diri pada dirinya.


" Terimakasih pap " balasnya tersenyum.


" Kami yang harusnya berterimakasih nak , dan semua orang yang berada disini karena ingin memberi dukungan padamu , jadi percaya dirilah dan jangan pikirkan hasil akhirnya nanti, karena yang terpenting kau sudah berusaha " ucap Reymond , yang membuat perasaan cemas di dalam tubuh Elin benar-benar memudar.


" Apa kalian semua sudah siap ? " ucap lantang Vale dari balik tirai , semua orang mengalihkan pandangannya pada suara perempuan itu , dan Elin dengan reflek beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah dimana Hannah akan keluar dengan gaun rancangannya.


" Vale jangan membuat kami penasaran , cepat keluarkan Hannah " ucap Meili tidak sabar dan perempuan itu tertawa melihat wajah tidak sabar semua orang untuk melihat modelnya keluar , sebelum kembali ke dalam tirai ia menyempakan untuk tersenyum dan menatap sedikit lama pada Elin , " kau benar-benar hebat nona " ucapnya memuji dan terdengar begitu tulus dan Elin hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum , bibirnya sudah tidak sanggup untuk berbicara karena persaan gugup yang kembali hadir , dan itu sangat wajar karena ini adalah moment pertama baginya.


" Nona Hannah keluarlah , semua orang sudah begitu penasaran dengan hasil desain kekasih tuan Daniel yang berada di tubuh mantan kekasihnya " ucap Vale , membuat semua orang di dalam ruangan tertawa , termasuk Elin , walau bibirnya tidak terbuka lebar , namun senyum manis hadir di wajah cemasnya.


Elin meremas tangannya semakin kuat , saat menanti Hannah keluar dari balik tirai , berulang kali ia menelan paksa ludahnya untuk mengurangi perasaan gugup dan tubuh yang terasa dingin , ia pejamkan matanya karena perasaan khawatir yang tidak bisa ia redam , " genggam tanganku " ucap Viona tiba-tiba.


Elin tersentak , namun senyum teduh Viona benar-benar membuatnya sedikit lebih tenang dan tanpa menunggu ia segera menggenggam tangan yang memang sudah bersedia untuk menjadi genggamannya , " terimakasih mam " ucapnya dan Viona mengangguk.


" Tegakkan kepalamu nak , bagaimana pun hasilnya kau harus tetap bangga karena itu hasil kerja kerasmu sendiri " ucap Viona , dan perlahan Elin benar-benar mengangkat kepalanya seiring tirai yang terbuka bersama keluarnya Hannah dengan gaun bertema floral hasil rancangan tangannya sendiri.


Deg " jantung Elin berdebar , matanya tak berkedip dan menatap tak percaya dengan hasil desainnya sendiri yang terlihat begitu sempurna di tubuh Hannah.


" ini luar biasa " ucap Meili , dan semua orang menyetujui ucapan itu.


" Kau benar-benar seorang perancang Elin , aku percaya suatu hari nanti kau akan menjadi penerus Ralph Lauren " tambahnya, yang tak henti menatap takjub pada hasil karya dari kekasih kakaknya itu.


" Kalau begitu aku akan menjadi penerus Adriana Lima " sambung Hannah tertawa.


" Kau bahkan lebih dari dia , hannah " balas Meili , membuat ruangan di penuhi gelak tawa ,


" kau sangat hebat Elin , dan sepertinya kita akan menjadi partner kerja yang cocok " ucap Hannah bersungguh-sungguh ,


" kau berlebihan Hannah " ,


" Tidak , aku sungguh menganggumi hasil tanganmu " jelasnya begitu yakin.


Dan tidak lama pintu terbuka oleh seseorang yang datang untuk memberitahukan kalau sudah saatnya hasil rancangan dari perusahaan Daniel tampil di atas panggung.


" Kau siap ? " tanya Elin dan Hannah menganggukkan kepalanya dengan yakin ,


" aku pasti akan tampil percaya diri , karena ini hasil dari rancangan tanganmu " ucap Hannah tersenyum , lalu bergegas menuju pintu keluar di dampingi Vale yang akan mengiringinya menuju gerbang panggung.


" Semangat " teriaknya pada semua orang , sebelum akhirnya menghilang dari balik tembok pembatas ruangan.